
Disudut ruangan yang hanya tersinari sedikit cahaya. Seorang yang terduduk dengan tangan dan kaki terantai itu tengah memandang jendela ruangan dengan tatapan kosong.
Tubuhnya lemah dan otaknya tidak bisa untuk bekerja. Mengingat siapa namanya pun sulit. Ia menjelma seperti orang asing yang terkurung. Terkadang ia ingat sesuatu namun terkadang saat ia bangun dari tidurnya. Ia menjadi lupa dan linglung.
**Ceklekk
BLAMMM**
Terdengar suara pintu dibuka dan di tutup dengan kasar dan beberapa langkah kaki seseorang pun mulai ia dengar. Dengan tatapan kosongnya ia pun mengalihkan pandangannya kearah sumber suara.
"Sudah waktunya anda makan siang". Ucap seseorang dengan suara bassnya.
Terlihat lima orang lelaki berperawakan kekar tengah menghadap kearah lelaki yang terantai dengan tatapan kosong itu.
Salah satu dari mereka pun maju dengan membawa nampan berisikan satu piring makanan tak layak dan satu gelas air putih. Orang itu pun menaruh makananya didepan pria berantai dengan kasar.
"Makan ini sampai habis. Jika tidak, terima lah akibatnya". Ucap orang itu dengan garangnya.
Pria itu pun sedikit mengernyit dan merasa jengah akan makanan yang sungguh tidak bisa di katakan layak itu selalu masuk kedalam perutnya.
"Makan !!". Bentak seseorang itu seraya menjambaknya dengan keras.
Si pria yang dibentak itu pun hanya diam dengan tatapan kosong layaknya mayat hidup. Membuat yang menjambaknya pun menjadi tertawa mengejek.
"Oh my...Coba lihat lelaki ini. Sungguh menggelikan dan sangat memuakan".
Ucapnya dengan mengibas keras rambut yang ia jambak. Membuat si empunya rambut pun tertengok kesamping dengan kuat.
Kesemua orang yang berada disana pun tertawa dengan puasnya melihat kondisi pria yang dirantai itu tengah tak berdaya dan lemah.
"Uuuww dimana pengawal setiamu dan sahabatmu huuh. Apa mereka melupakan mu. Oh my....Kasihan sekali". Ucap salah satu orang yang berada di sana.
"Sudah cukup. Paksa dia untuk memakan makanannya dan berikan obatnya dengan segera. Kita tidak boleh lengah. Sebab jika kita terlambat untuk menyuntikannya akan fata bagi kita semua". Ucap salah satu orang yang bersuara bass.
Orang yang tadi menjambak pun berusaha menjejalkan makanan tak layak itu kedalam mulut pria berantai yang tengah berusaha untuk tidak membuka mulut itu.
Dan salah satunya lagi tengah mempersiapkan obat dan suntikan untuknya. Tanpa mereka sadari dus orang penyusup tengah melihat aksi penyiksaan yang mereka lakukan itu dengan tatapan membunuh.
"Pengecut sekali mereka. Menyiksa dan memperolok orang yang tengah tak berdaya. Bener-benar mental pengecut". Ucap batin Yash dengan kesal.
"Jika tuan Vikram tengah baik-baik saja. Tidak akan ada yang berani berbuat seperti itu. Mendengar nama Lathor bagi mereka yang tahu betull nama itu sudah pasti akan menciut". Batin Jio merasa miris dengan keadaan mafia besar tengah tak berdaya akibat kecurangan mereka yang menggunakan cara pengecut.
Ya seseorang yang tenga terantai dan di paksa untuk memakan makanan tak layak itu adalah Vikram D Lathore. Cucuk sekaligus anak dari Mafia besar di negara kelahirannya dan kelahiran Yash. Pria yang hobi dengan musik romantis dan bersuara emas, berumur tiga puluh tahun, berkulit eksotis dan berbadan kekar. Dia sangat jenius dan licin. Orang didunia gelap banyak menjulukinya si kancil mafia.
Saat pandangan Vikram bertemu dengan pandangan mata Yash dan Jio. Ia pun mengernyit merasa tak sing dengan kedua orang itu. Dan perlahan ingatannya pun sedikit kembali. Dia ingat akan masa remajanya dulu bersama dua orang itu dan dua orang lagi yang tidak terlihat keberadaaanya.
Dengan masih melihat kearah mereka sersya berusaha untuk tidak membuka mulutnya sembari terus mengingat sampai kepalanya terasa ingin pecah.
Namun saat Vikram lengah, seseorang itu menampar kuat pipi Vikram dan makanan tak layak itu pun masuk ke mulutnya.
"Bagus..Kunyah drngan benar jika tidak ku pukul kau". Ucap Orang itu dengan garang.
Vikram pun mengunyah makanan itu dengan perlahan dan lalu tersenyum senang dengan sendirinya seraya masih melihat Jio dan Yash yang masih setia berdiri tak jauh di belakang lima orang itu.
Si pria bersuara bass yang awas pun mulai menyadari tatapan Vikram yang mulai penuh kearah belakang mereka. Dan ia pun langsung membalikkan badanya. Terkejutlah ia saat melihat dua orang yang sangat ia kenal berada di sana dengan berdiri santai.
"KAU.....!". Seru peria bersuara bass itu dengan terkejut. Membuat keempat pria lainnya ikut berbalik menghadap kebelakang dengan awas.
Yash pun tersenyum dengan sopannya dan mengangguk sopan kepada mereka dengan tatapan bersahabat.
"Apa kabarmu Dariuz. Atau bisa ku panggil Dery". Ucap Yash dengan senyum mautnya. Membuat Dariuz atau Dery itu melotot nyalang.
Jio yang mendengar nama,Dery di sebut pun merasa jijik sekaligus muak bukan main. Bagaimana tidak muak jika tahu bahwa seseorang bernama Dariuz atau Dery itu adalah kekasih dari Pedro Paraze. Siketua gengster Black Araze.
"Bagai mana bisa kalian...". Ucap Dery merasa tak percaya.
"Jangan sekali pun kau meremehkan seseorang Dery. Akibatnya bisa fatal. Kau tidak akan pernah bahu. Jika mafia kancil itu". Tunjuk Yash kepada Vikram yang tengah terduduk lemah.
"Bisa menjadi singa lapar. Yang akan menerkam siapapun. Yang dirasa layak untuk dia makan". Ucap Yash dengan tersenyum.
"Omong kosong kau....Serang mereka !". Titah Dery kepada keempat orang-orangnya.
__ADS_1
Mereka berempat pun maju dan langsung di hadang oleh Jio dan berkelahila mereka menyisakan Yash dan Dery yang saling tatap sengit.
"Satu lawan empat. Heh benar-benar bodoh". Ucap Dery dengan jumawa.
"Satu lawan empat. Hehe benar-benar banci". Ucap Yash membalas dengan telak dan tersenyum sinis.
Membuat Dery yang mendengarnya pun langsung naik darah dan terpancing. Ia pun lalu mengambil balok kayu yang berada tak jahu dari sana dan langsung menyerang Yash dengan membabi buta. Sementara Yash meladeni dengan santai dan menghindar.
Jio pun berhasil melumpuhkan dua orang yang mengepungnya dan tinggal dua orang lagi. Namun dua orang itu mengeluarkan pisau lipatnya dan menyerang Jio. Dengan gerakan gesit dan penuh hati-hati Jio menghindar dan melawan.
Sementara Yash yang terpojok pun langsung mengeluarkan jurus ketangkasannya untuk menghajar Dery yang dirasuki amarah besar. Ia pun menendang balok kayu itu dengan sepatunya membuat Dery terjungkal ke belakang dan hampir terjatuh.
"Jangan harap kau bisa lolos dari ku YASH !". Ucap Dery dengan lantang membuat Yash tersenyum remeh.
"Jika kau bisa". Ucap Yash dengan santai.
Dery pun langsung meng ayunkan balok kayu itu kepada Yash dan Yash pun bersiap-siap melawannya. Balok kayu itu selalu Yash tangkis dan selalu gagal mengenainya. Membuat Dery semakin tak terkendali.
Jio pun berhasil melumpuhkan satu orang dengan menancapksn pisau milik orang itu kearah titik yang dianggap fatal. Menyebabkan orang itu terkapar di tempat. Dan langsung melawan satu orang lagi. Dan Jio pun melakukan hal yang sama dengan yang tadi dia lakukan kepada orang itu. Dan akhirnya Jio berhasil melumpuhkannya.
Saat ia berbalik kearah sang tuan mudanya. Betapa terkejutnya ia melihat Dery berhasil memukul punggung Yash hingga balok kayu itu patah di tempat.
"Tuan muda !". Seru Jio merasa was-was.
Sementara itu Yash yang terkena pukulan pun merasa sedikit nyeri di punggungnya namun ia tahan dan berbalik menghadap Dery dengan tajam. Yash pun tertawa dengan mengerikannta kepada Dery.
"Tidak semudah itu". Ucap Yash seraya meregangkan otot-otonya hingga berbunyi.
Dery yang melihatnya pun merasa terkejut dan tak menyangka jika Yash akan sekuat itu. Dan Jio pun melupakan sesuatu jika sebelum mereka menjalani aksinya Yash menyarankan agar mereka yang ikut masuk kedalam memamai baju anti peluru yang di desain apik dan bisa tertutupi oleh baju mereka masing-masing. Dan cara itu pun berhasil. Jika tidak, mungkin Yash sudah tersungkur kesakitan.
Yash pun maju menghajar Dery yang kala itu hendak kabur. Sementara Jio berusaha untuk melepaskan Vikram dari rantai yang mengikatnya. Yashvpun berhadil meringkus Dery dan mengambil kunci cadangannya dari saku celana Dery lalu melemparkan kunci itu kepada Jio.
"Jio...Tangkap ini !". Seru Yash seraya melemparnya dan lalu kembali menghajar Dery hingga pingsan tak berdaya.
Jio pun menangkap kunci itu dengan tepat dan lalu melepaskan belenggu rantsi yang mengikat tanfan dan kaki Vikram.
"Tuan Vikram ini saya Jio. Mohon bertahan lah. Kita akan keluar dari sini". Ucap Jio dan lalu langsung memapah tubuh Vikram setelah berhasil melepas belenggu rantai yang mengikat Vikram.
"Tuan Vikram sudah saya lepaskan tuan". Ucap Jio seraya berjalan mendekati Yash yang baru saja berhasil meng K.O Dery.
"Bagus, saatnya kita mengirim sinyal tanda keberhasilan kepada Ram". Ucap Yash dan langsung memencet tombol on pada remot kecil.
Sinyal itu pun sampai ke jam tangan Ram dan ia pun langsung bergerak cepat memasuki gedung setelah berhasil mengikat juga melumpuhkan orang-orang yang berada di luar.
Saat sudah nemasuki ruangan gedung dengan langkah hati-hati Ram dan Arnando serta orang-orangnya mengawasi sekitar.
"Mereka ada di ruangan itu tuan". Tunjuk salah satu orang Ram yang melihatnya.
"Tengah berpesta wine dan bermain dadu dan kartu". Lapornya lagi memberi tahu. Membuat Ram tersenyum picik.
"Ayo. Serang mereka". Ucap Ram seraya maju.
Semua yang tengah bersenang-senang itu pun tidak pernah menyangka akan penyerangan yang tiba-tiba itu.
Pedro pun merasa geram dan kesal mengapa penyerangan itu terjadi saat ia tengah mabuk berat. Dan dengan sempoyongan Pedro pun melawan namun sia-sia sebab ia dengan mudah di hajar hingga lemah dan diringkus oleh Ram.
"Ram !". Seru Yash memberi tahu keberadaanya yang tengah memapah tubuh Vikram dibantu dengan Jio.
Ram pun langsung menyerahkan Pedro yang terikat kepada Arnando. Dan berlari menuju Yash, Jio dan Vikram.
"Tuan Vikram". Ucap Raman dengan raut terkejutnya.
"Obat pelumpuh syaraf dan otak yang selalu mereka berikan kepada Vikram lah yang membuatnya menjadi seperti ini Ram". Ucap Jio memberi tahu. Saat mencium bau obat yang ia selidiki tadi.
"Akan saya pastikan. Pedro untuk menerima balasannya tuan. Saya berjanji anda akan merasa puas dengan balasan yang akan saya berikan kepadanya". Ucap Raman dengan penuh tekad.
"Antar Vikram kerumah sakit Jio. Dia butuh pertolongan medis dengan segera". Perintah Yash kepada Jio.
"Baik tuan muda". Ucap Jio seraya membawa Vikram di bantu oleh orang-orang Vikram.
Setelah itu mereka pun keluar membawa pedro dan beberapa orang-orangnya yang berhasil diblumpuhkan. Meninggalkan beberapa orang di dalam gedung yang tengah meregang nyawa termasuk Dery.
__ADS_1
"Tut..Tu..Tunggu. Dimana Dery ?". Ucao Pedro dengan terbata dan lemah.
"Dery...Kekasihmu ya ?". Tanya Yash dengan tersenyum santai.
Pedro pun mengangguk dengan segera membalas ucapan dari Yash.
"Ada di dalam. Tengah tertidur dengan puuulaaas". Ucap Yash dengan tersenyum senang. Memnuat Pedro bergidik ngeri melihat sisi lain dari Yash.
"Ap..Aaapa maksudmu". Ucap Pedro terbata.
"Semuanya sudah siap tuan. Kami sudah merusak jaringan listrik dan dalam waktu lima menit bangunan kumuh ini akan meledak". Lapor keempat orang yang sengaja Yash suruh sebelum misi itu berlanjut.
Yash pun kembali tersenyum senang dan melihat tajam kearah Pedro yang tengah menggeleng.
"Akan sangat cepat jika pemantik ini aku lempar". Ucap Yash sersya mengeluarkan pemantik itu dan menyalakannya.
"JANGAN...Ku mohon keluarkan dulu kekasihku. Aku tidak bisa hidup tanpanya. Tolong keluarkan ia ku mohon". Ucap Pedro seraya berlutut di hadapan Yash dan Raman.
"Apa ada yang mau menyelamatkan kekasih dari tuan ini ?". Tanya Yash kepada semua orang yang ada disana.
Semuanya pun menunduk acuh dan tak ada yang bergeming. Memang siapa yang mau mati konyol terbakar di dalam demi menyelamatkan seseorang yang tak berguna. Akan sia-sia saja.
"See...Tak ada yang berminat. Termasuk aku". Ucap Yash dengan dingin.
"Biar aku saja yang menyelamatkannya. Lepaskan aku LEPASKAN". Amuk pedro dengan meronta.
Membuat Yash kembali tersenyum akan tingkah bodoh si penyuka sesama jenis itu.
"Membiarkan mu mati didalam dengan cara yang mudah. Bersama kekadih mu itu. Sungguh sangat romantis sekali Pedro". Ucap Yash dengan tersenyum geli.
"Tetapi aku menginginkan penyiksaan untukmu. Sampai kau memohon kematianmu sendiri. Benar begitu kan Raman ?". Tanya Yash kepada Raman sang asisten Vikram. Dan Raman pun mengangguk dengan tatapan liciknya.
"So time Pedro. Look this". Ucap Yash dan lalu menyalakan pemantik itu.
CEkk CEKK
Bunyi pemantik yang terdengar mengerikan bagi telinga Pedro.
"TIDAK....jangan tuan ku mohon". Ucap Pedro dengan paniknya.
Tanpa memperdulikan apapun lagi, Yashvpun langsung membalang pemantik itu kedalam gedung dan beberapa detik kemudian.
BOOOMMMMMM !!!!!
Suara ledakan yang begitu dahsyat pun terjafi menimbulkan beberapa kobaran dan percikan api yang melahap seluruh bangunan itu. Membuat Yash dan Raman tersenyum senang. Sementara Pedro terduduk dengan lemadnya seraya menangis merasakan sakit dan duka mendalam.
"Saya akan membawanya kemarkas besar tuan". Ucap Raman kepada Yash.
Yash pun mempersilahkan Raman dengan tersenyum dan tangan terentang dengan sopan. Dan uapun berjalan menuju mobilnya bersama orang-orangnya yang datang menjempun dan lalu meninggalkan area itu dengan santai.
Sementara Raman pun juga meninggalkan area itu dengan menyeret Pedro bersama orang-orangnya yang kalah.
Sementara Yash membelokan mobilnya kearah rumah sakit yang di tujukan oleh Jio melalui ponselnya.
Ia pun memasuki rumah saki yang bertuliskan HARAPAN itu. Dan langsung di sambut oleh Jio di dalam.
"Tuan..". Sapa Jio dengan sopan.
Yash pun mengangguk singkat dan berjalan kearah ruang pasien disusul oleh Jio yang berjalan disamping Yash.
Saat memasuki ruang pasien nomor 2 Yash pun melihat Vikram yang telah ditangani dokter dan tengah terlelap dengan damainya.
"Bagaimana keadaanya Dok ?". Tanya Yash saat dokter selesai memeriksa Vikram.
"Pasien perlu dirawat lebih lanjut disini tuan. Kondisi tubuh dan sistem pencernaanya sangat buruk. Teralu sering mengkonsumsi makanan tak layak dan pemberian obat pelumpuh saraf secara berlebihan membuat kondisinya buruk. Beruntung ia cepat dibawa kemari". Jelas dokter itu.
"Lakukan perawatan yang terbaik untuknya Dok". Ucap Yash dengan tersenyum tulus.
"Kami akan berusaha tuan. Kami pamit dulu". Ucap sang dokter memohon izin.
Yash pun tersenyum seraya mempersilahkan sang dokter untuk keluar ruangan melanjutkan tugasnya.
__ADS_1
Setelah itu Yash pun duduk di kursi dengan rau lelah seraya merebahkan diri pada kursi panjang itu. Sementara Jio duduk di kursi ujung dengan bermain ponsel menemani sang tuan muda.