
Saat sedang menuju ke toilet yang berada jauh dari ruang kedua pada gedung. Samar-samar mira melihat seperti ada bayangan yang tengah menyeret sesuatu.
"Apa itu ?". Lirih mira dengan sedikit rasa takut.
Merasa penasaran mira pun mengikuti bayangan itu dengan langkah yang begitu pelan. Menginat tempat yang ia lewati memiliki gema suara yang bisa di bilang cukup kuat.
"Aku seperti melihat seseorang menyeret sesuatu". Lirih mira memastikan.
Mira pun mulai mengikutinya seraya mempertajam penghlihatannya untuk memastikan bayangan itu adalah halusinasinya atau bukan.
Sementara bayangan yang dilihat oleh mira pun mulai mempercepat jalannya dengan senyuman misterius. Bayangan itu seperti memakai pakaian hodie kebesaran yang menutupi kepalanya dan penampilannya yang seperti laki-laki namun tinggi badannya sama dengan tinggi badan mira.
BRAAAKKK
Suara tendangan pintu yang terbuka dengan kasar sampai ke pendengaran mira yang tak jauh darinya. Membuat mira sesikit berjengit kaget dan menyembunyikan dirinya pada balik tembok.
"Where are you stupid girls". Suara bayangan itu dengan aura membunuh.
"Suara itu....Seperti suara seorang perempuan". Lirih mira terkejut dengan apa yang ia dengar.
"Raina....Rain". Ucap suara itu lagi.
Mira yang mendengarnya pun mengernyit merasa nama yanng di sebutkan oleh pemilik suara itu adalah nama yang tak asing baginya.
Penasaran mira pun mengintipnya lagi dari balik tembok dan terkejutlah mira melihat sesosok bayangan tadi ia lihat tengah berdiri membelakanginya dengan membawa tongkat kayu seperti tongkat bisbol.
"Hah ya tuhan".
Lirih mira seraya membekap mulutnya sendiri dan menarik tubuhnya ke balik tembok lagi.
"Dia mau apa di depan toilet itu. Membawa sebuah tongkat bisbol. Apa yang dia cari". Ucap mira lagi dengan suara lirihnya.
Saat mira mencoba melihatnya lagi untuk mengetahui apa yang tengah dia cari di toilet itu ternyata seseorang itu sudah tidak ada lagi tempat.
Dan pintu toilet yang tadi ia dobrak dengan kakinya pun sudah tertutup rapih.
"Kemana dia ?". Ucap mira seraya berjalan menuju toilet itu.
Dengan bingung dan sedikit takut mira pun memcoba melihat keadaan dengan baik. Takut jika sewaktu-waktu orang itu tiba-tiba datang di hadapanya.
"Toilet rusak".
Ucap mira dengan raut heran. Membaca tulisan yang tertempel pada pintu kamar mandi yang tadi didobrak seseorang itu.
"Ada yang aneh disini". Ucap mira lagi.
"Toilet ini tidak mungkin rusak. Kalau rusak pasti ada kinci gembok dan palang pintu lainnya. Dan gedung yang dipakai ini masih terbilang baru". Ungkap mira dengan sedikit curiga.
BRUUKK BRAKKK
"AAKKHHH !".
Jerit suara dan benda terjatuh yang terdengar samar oleh mira.
Mira pun memastikan lagi dengan menempelkan telinganya pada pintu toilet yang tertulis rusak itu. Guna memastikan pendengarannya.
Saat tengah mencoba fokus memastikan. Tiba-tiba bahu mira ditepuk oleh seseorang dengan sedikit keras. Membuat mira berjengit kaget dan hampir saja hendak berteriak. Namun diurungkan oleh bekapan seseorang.
"Stttt diam". Lirik seseorang yang membekapnya.
Mira pun menganggukan kepalanya mensetujui ucapan seseorang itu setelah mengetahui yang membekapnya adalah seorang perempuan berbaju pesta berwarna hitam dengan belahan di pinggir bajunya sampai ke lutut.
Setelah melihat seseorang dibekapnya tenang dan berusaha untuk diam. ia pun mulai melepaskannya dan membawanya sedikit menjauh dari pintu.
"Ada apa. Sedang apa kau disini ?". Tanya perempuan itu.
"A..Aaa aku sedang ingin ketoilet tetapi toiletnya rusak". Jelas mira dengan terbata.
"Rusak ?". Ucap sang perempuan itu membeo.
Mira pun mengangguk menjawab pertanyaan sang perempuan seraya menunjuk kearah pintu yang bertuliskan toilet rusak.
"Toilet ini tidak mungkin rusak. Tuan besar sudah menyuruh petugas untuk memperbaikinya". Ungkap sang perempuan.
"Sss...Se..Sebarnya ada sesuatu yang ku lihat". Ucap mira ingin memberi tahu.
"Apa ?". Tanya sang perempuan dengan raut penasaran.
Mira yang merasa bimbang itu pun menjadi ragu akan apa yang ia ucapkan. Mengingat suara seseorang misterius itu adalah wanita dan yang menghampirinya adalah wanita. Mira pun menjadi curiga dan ragu. Takut jika wanita ini adalah orang yang sama yang ia lihat. Si orang misterius itu.
TSAAK
Suara jentikan jari sang perempuan mengagetkan mira pada lamunannya.
"Kau diam. Apa yang kai lihat ?". Tanya lagi semakin penasaran.
Melihat raut mira yang seperti mencurigainya dan ragu padanya. Sang perempuan itu pun langsung menunjukan identitasnya pada mira.
"Nama ku Riena Drak. Pelayan sekaligus bodyguard nona muda leonard". Ungkap sang perempuan seraya menunjukan kartu identitas berwarna silver gold yang mira tak mengerti.
"Nona muda leonard ?". Tanya mira dengan bingung.
"Ya. Raina Agatha Leonard". Jelas sang perempuan.
"Mungkinkah..". Lirih mira merasa ragu.
"Jelaskan ". Ucap sang perempuan dengan raut menuntut.
Melihat sang perempuan yang mulai tak sabaran itu. Mira pun mulai mencoba meyakinkan dirinya untuk bercerita.
"Saat aku sedang berjalan menuju ketoilet yang di beritahu oleh petugas tadi. Aku melihat sesosok bayangan. Memakai hodie kebesaran dan bergaya seperti laki-laki. Dia membawa sebuah tongkat bisbol dan mendobrak pintu itu". Ungkap mira dengan raut paniknya.
"Aku penasaran dan terus mengikutinya lalu mengawasinya di balik tembok itu". Tunjuk mira pada salah satu tembok yang ia gunakan untu bersembunyi.
Riena pun terus mendengarkan cerita dari mira dan mengikuti semua arahan yang mira tunjukkan.
"Dia berjalan dengan menyeret tongkat itu. Mendobrak pintu dengan kakinya dan menyebut nama raa..raa..raaina". Ucap mira dengan bergetar di akhir kata.
Riena pun langsung memelototkan matanya setelah mendengarkan cerita dari mira. Ia pun buru-buru melepas gaunnya dengan sekari tarik.
"Aaa...Apa yang kau lakukan ?". Ucap mira yang terkejud dengan yang reina lakukan.
Terlihat reina ternyata memakai baju dalaman. Celana pendek yang seperti dalaman itu pun ia tarik menjadi celana panjang semata kaki. Baju yang mira kira adalah terusan dari baju pesta itu ternyata adalah baju panjang biasa yang seperti kaos v-nex.
Dan sepatu hitam vantovellnya serta rambutnya yang mulai ia ikat kuda.
"Nona muda rain dalam bahaya. Tidak mungkin aku menyelamatkannya dengan gaun yang merepotkan itu". Jelas riena seraya berjalan mendekati pintu toilet diikuti oleh mira.
"Aku butuh bantuanmu. Tolong bawa nona raina nanti saat aku melawan seseorang itu. Aku tidak membawa senjata. Sulit bagiku jika melawan dengan membawa nona rain". Ucap riena kepada mira.
"Sss..Senjata. Apa aku...". Ucap mira dengan terbata.
Riena pun langsung menyeret mira untuk ikut dengannya setelah mendobrak pintu toilet itu.
*Flash back* .......
Raina yang tengah berjalan bersama pelayannya menuju ruang khusus untuk istirahat dikejutkan oleh suara jeritan dari seorang petugas gedung wanita yang tengah terduduk dengan rasa takut.
Melihat itu raina dan sang pelayan berlari menghampirinya untuk melihat apa yang tengah terjadi.
"Kenapa ?". Tanya riena pelayan nona muda raina.
"Ada yang menaruh bangkai diatas tempat tidur nona muda rain". Jelas sang petugas dengan takut.
"Bangkai ?". Tanya rie seraya berjalan menuju tempat tidur dan diikuti oleh raina.
Terlihat seperti sesekor kucing berbulu putih dengan isian perut yang keluar dan leher nyaris putus tergeletak di atas kasur.
Raina yang sangat mengenali bangkai itu pun menjadi histeris dan terduduk lemas diatas lantai.
"Moa hikss...hiksss...Dia moa rie, kucing kesayanganku". Ucap raina dengan rasa sedihnya.
"Anda tidak membawanya kesini kan tadi. Biar saya pastikan nona. Saya akan menelfon orang rumah untuk melihat moa apa masih ada di kandangnya atau tidak".
Ucap riena lalu mengeluarkan handopnya dari tas kecil yang ia bawa.
TUUUUT
Terdengar suara sambungan dari seberang telfon.
"Bisa kau pastikan apa kah moa kucing kesayangan nona muda raina ada di tempat ?". Ucap rie kepada pelayan rumah.
"Hilang ?". Ucap rie lagi setelah mendapat laporan dari sang pelayan rumah.
Reina pun langsung menutup telfonnya setelah mendengar tangisan sang nona yang mulai terdengar keras itu.
"Moaa...Hiks..Kucing ku...Hiiikks mati". Racau raina.
Keadaan raina yang tidak fit semakin memperburuk keadaan. Rasa sedihnya atas kematian sang hewan peliharaannya itu membuat raina semakin down. Karena Moa begitu raina menamainya. Adalah kucing berjenis Brithania berbulu pendek nan lebat dan berbadan besar sedang berotot. Kucing itu pemberian dari sang ayah tuan leonard untuk raina diulang tahunnya yang ke 17 tahun.
Rie sang pelayan pun sangat mengerti akan tangisan itu. Bukan masalah harga kucingnya yang sangat mahal. Namun karna kucing itu adalah teman hidup raina dikala sepi dan saat sendiri. Rie adalah saksi dari hidup seorang Raina Agatha.
Tak tahu harus berbuat apa riena pun hanya bisa memeluk sang nona guna menenangkannya. Sembari menghubungi petugas gedung untuk membersihkannya dan menghubungi jio asisten tuan muda yash.
Saat keadaan nona raina sudah tenang. Riena pun mencoba menuntun sang nona muda untuk duduk dan meminum air mineral yang selalu ia bawa.
"Maaf pelayan rie, ada sedikit masalah di luar". Lapor sang petugas pria yang memakai topi hitam dan entah siapa.
Riena yang melihatnya pun merasa curiga atas gelagat sang petugas. Sembari mengawasi keadaan sekitar riena pun berucap.
"Masalah apa ?". Tanya pelayan rie dengan selidik.
"Keributan diluar. Saya fikir anda mengenal orang itu. Namanya nona helena". Ucap sang petugas dengan sopan.
Mendengar nama helena disebut. Raina pun menjadi takut dan langsung mendekati sang pelayan memposisikan dirinya di belakang pelayan itu.
Riena pun merasa semakin curiga. Mana mungkin seorang helena yang tengah dalam pencarian tuan muda yash datang dan mencari ribut kemari seorang diri. Terlalu mustshil untuk seorang riena yang mengerti seluk beluk seorang helena.
"Aku tidak bisa meninggalkan nona muda rain sendirian. So, jika ada masalah pergilah ke tuan jio. Kau pasti mengenalnya bukan". Ucap riena dengan sinis.
Mengrti jika sang pelayan nona muda itu tidak sebodoh yang ie pikir. Sang petugas itu pun tersenyum secaea misterius.Lalu mencoba untuk menyerang riena.
Melihat hal itu, riena pun menjadi semakin awas dan menahan balik serangan dengan sekuat tenaga. Sementara raina langsung memundurkan tubuhnya merasa syok dengan yang ia lihat.
"you are gengster huh ?". Ucap raina saat wajahnya berhadapan dengan wajah sang petugas.
"Smart girlls".
Ucap sang petugas dengan senyuman licik dan hendak meninju wajah riena namun terhenti sebab reina lebih dulu menendang perutnya. Membuatnya tersungkur menabrak lemari.
"Woow, kuat juga dia heeh". Lirih sang petugas seraya menormalkan kembali gerak tubuhnya.
Sementara reina langsung berlari menuju nona mudanya yang sedang berjongkok dengan rasa ketakutan.
"Bisakah anda lari nona. Biar dia aku yang urus. Lari dan cari lah jio atau tuan yash. Jangan sampai anda tertangkap oleh nona helena". Ucap riena dengan nafas yang memburu.
Raina pun hanya bisa menggeleng menandakan bahwa dirinya merasa tidak bisa, merasa takut dan kakinya pun sangat lemas.
"Percayalah, anda pasti bisa. Berlajarlah untuk bertahan demi diri anda sendiri. Ayo nona pergilah cepat". Ucap riena seraya mendorong sang nona kearah pintu keluar.
"Ckk mau kemana kau !". Seru sang petugas lalu berlari hendak menyusul raina namun di cegat oleh pelayan rie dengan menahan bahu sang petugas.
"Urusan ku bukan dengan mu". Ucap sang petugas dan mencoba melepas gerakan menahan dari reina.
"Dia nona ku. Berurusan dengannya berarti berurusan juga dengan ku". Ucap riena dengan penuh penekanan.
Riena pun menendang perut sang petugas dengan kuat lalu mencoba menyerangnya dengan pukulan dan tendangan yang sialnya selalu bisa dihindari olehnya.
Saat reina berhasil membekuk sang petugas dengan mematahkan satu kaki sebelah kiri dan dua tangan yang sengaja ia pelintir kuat. Membuat si petugas tertunduk dengan suara erangan yang menyiksa. Saat itu pula beberapa bodyguard datang membawa senjata.
Mereka pun langsung mengambil alih sang petugas dan membawanya pergi.
"Apa yang terjadi ?". Ucap salah satu bodyguard.
"Ada masalah besar. Laporkan ini kepada tuan jio atau tuan yash. Sementara itu aku akan mencari keberadaan nona raina. Aku yakin nona helena berada di balik semua ini". Ucap riena dan lalu berlali mencari keberadaan sang nona muda.
Sementara sang bodyguard itu pun berlari bersama tiga orang lainya guna melapirkan kejadian ini kepada asisten tuan yash.
Raina yang panik pun berlari tak tentu arah menelusuri liringg demi lorong gedung yang entah dimana ujungnya.
"Haah hahh sepertinya...Aku salah jalan. Ya tuhan kakak tolong aku". Ucap raina dengan panik.
Saat raina tengah bingung mencari dan memilih lorong mana yang akan ia lalui. Dari kejauhan ia seperti melihat sesosok bayangan yang tengah berjalan.
Suara gema sepatunya membuat raina merasa penasaran sekaligus takut. Ia pun menunggu sesosok itu memperlihatkan dirinya diantara lampu yang beberapa meter akan di lewati oleh sesosok bayangan itu.
Saat sesosok bayang itu mulai terlihay dengan jelas. Raina pun tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya.
Terlihat seorang wanita memakai hodie kebesaran yang menutupi rambut pirangnya, memakai sepatu both hitam, celana jeans hitam, dan membawa sebuah tongkat bisbol di tangan kirinya.
"How are you..My best friend". Ucapnya dengan simrik mengerikan.
"He..Hel..Helena". Lirih raina dengan tergagap.
Merasa namanya terpanggil dengan nada yang menakutkan. Helena pun merasa semakin senang dan berfikir bahwa sebentar lagi sang putri dongeng akan hilang dari kehidupan pangeran.
Raina pun lalu berlari dengan paniknya meninggalkan helena yang tersenyum dengan penuh arti.
"Oh ayolah, kaki pendek mu itu mau kau bawa kemana rain".
Ucap helena dengan senyum mengejeknya dan berjalan menyusul raina.sembari menyeret tongkat bisbol.
__ADS_1
Merasa sangat lelah untuknya berlari. Raina pun berhenti di depan toilet wanita. Ia merasa bingung, panik dan buntu harus lari kemana lagi. Dan akhirnya raina pun mencoba masuk kedalam toilet itu dan mencoba bersembunyi di salah satu bilik dengan berusaha menenangkan rasa takutnya.
SREEKK SSRERK
Terdengar bunyi tongkat yang bergesekan dengann lantai itu membuat raina sepontan membekap mulutnya sendiri dan menangis berharap ada seseorang yang menolongnya.
Helena pun berhenti tak jauh dari toilet itu. Menelusuri ruang demi ruang oleh mata coklatnya dan berhenti pada pintu toilet yang tertutup itu.
Dengan tersenyum penuh arti helen pun mempercepat langkahnya dan langsung menendang pintu toilet dengan kasar.
BRAAAKK
Pintu toilet pun terbuka dengan lebarnya. Namun tidak sampai putus,atau pun rusak.
"Where are you stupud girls ?". Ucap helen dengan nada menggoda.
"Raina....Rain". Sebut helen dengan nada lembut.
Helena pun mencoba masuk dengan langkah pelan. Namu sebelum itu. Ia menemukan sebuah tulisan yang berada ditong sampah terbuka yang beruliskan "TOILET RUSAK". yang helena rasa itu baru dibuang holeh petugas kebersihan.
"Ini sangat membantu ku". Ucap helena seraya menempelkan kertas itu dengan permen karet yang ia makan.
"Perfect".
Lirih helena dengan senyum senangnya. Lalu ia pun masuk kedalam toilet dengan tenang dan menutup pintu itu dengan hati-hati.
Didalam toilet helena mendapati ruangan toile yang begitu bersih rapih dan wangi. Seakan belum pernah dimasuki seorangpun.
Ia pun memandang pantulan dirinya pada cermin toilet. Terlihat bayangan dirinya dicermin yang tengah tersenyum sendu.
"Kau cantik. Kau menarik dan kau pun sangat seksi". Ucap helena pada bayangannya sendiri di cermin.
"Lihat saja...Kau begitu sempurna". Ucapnya lagi seraya menelusuri wajahnya di cermin.
"Lalu apa yang kurang. Sampai-sampai peria bodoh dan dungu itu tidak pernah melirikku bahkan menaruh hatinya padaku". Ucap helen dengan mata tajam menusuk.
"Bertahun-tahun aku mencoba dan selalu gagal. Dan dia malah jatuh cinta dengan wanita berkaki pendek itu. Menyebalkan". Ucap helena sambil memukul kaca hingga kaca itu retak sedikit.
Raina yang melihatnya dari balik pintu toilet yang berada diujung itu pun merasa syok sekaligus heran melihat tingkah seorang helena yang lain dari biasanya.
Raina pun menutup pintunya dengan pelan dan bersandar pada balik pintu. Ia bingung harus bagaimana. Menghadapi helena yang seperti kesetanan seorang diri itu namanya cari mati. Tapi jika dia terus berlari dan bersembunyi pun tak mungkin. Satu-satunya cara untuk raina selamat dari helenna adalah dengan bertahan.
Dia akan bertahan sebisa mungkin agar kakaknya dapat menemukannya disini dan menyelamatkannya. Sebab jika sudah ada yash, helena akan menjadi lain dari yang sekarang. Dia pasti akan menjadi wanita yang terlihat patah semmangat dan lelah.
"Sebesar itu cintamu kepada yash len. Sampai-sampai kau marah padaku seperti ini. Menjebakku, mempermalukanku dan menyakitiku". Lirih raina dengan tangis pilu.
BRAAK BRAAK BRRAAAK
Suara bilik pintu yang terdengar di tendang itu pun membuat raina menghentikan tangisannya dan mengintip lagi sedikit.
Terlihat helena yang tengah menendang semua pintu kamar mandi sebelah kanan yang berjejer. Jumlah pintu ada 10 buah di kanan dan 10 buah dikiri serta tiga pintu di ujung tengah menghadap cermin. Dan raina berada di tengah diantara tiga pintu itu.
Raina pun menutup lagi pintu kamar mandi dengan pelan, menguncinya, dan menahannya sekuat mungkin agar tidak bisa terbuka.
Lari pun tidak mungkin. Jendela toiletnya terlalu tinggi dan kecil. Sepertinya tidak cukup dibadannya yang bisa di bilang cukup mungil itu.
Kesepuluh pintu itu pun sudah helena tendang. Namun tak ada satu pun yang terkunci. Hanya ada 8 pintu yang tertutup. Helenna pun mulai berfikir bahwa raina mungkin berada disalah satu pintu itu.
Helena pun mendekat kearah tiga pintu yang tertutup diujung toilet. Ia pun melihat bayang sepatu hells berada antara pintu yang berada di tengah itu.
Ia pun tersenyum senang merasa menemukan sesuatu disana. Dan helen pun mulai menendang pintu itu dengan kakinya.
BRAAAKKK !!!!
Raina yang merasa bahwa helena telah menemukannya pun berusaha untuk bertahan di balik pintu.
"Terkunci". Lirih helen dengan kesal.
"Keluar atau aku akan membuatmu terpental dari pintu !!". Acam helena dengan berteriak.
Tak ada jawaban. Raina tetap diam bertahan didalam toilet pada bilik pintu.
"Mulai meremehkan seorang helena". Ancamnya lagi.
Tak sabar helena pun mulai mendobrak paksa pintu dengan tenaganya. Wajar helena memiliki kekuatan besar pada tenaganya. Dia anak dari seorang gengster terkuat. Sudah di pastikan ayahnya tidak pernah membiarkannya lemah. Meskipun dia seorang wanita sekalipun.
Dan pada tendangan ketiga. Helena pun berhasil mendobrak pintu dan membuat raina benar-benar terpental terjerembab di atas toilet duduk yang tertutup.
"AAAAAAAA !!!!".
Teriak raina dengan keras. Merasa tubuhnya yang nyeri akibat terpental dari pintu yang didobrak oleh helen.
"Sudah ku bilang kan. Jangan pernah meremehkanku rain". Ucap helena dengan sarkkratis
Raina yang mendengarnya pun hanya meringis merasakan nyeri pada bahunya. Sementara helen pun mulai mendekat dan menarik rambut raina membawanya berjalan terseok dan melemparnya lagi sampai tubuhnya menabrak wastafel toilet.
"ARRGHH !!!".
Erang raina merasakan gilu pada sikunya juga perutnya yang membentur wastafel toilet itu.
"Sakit ?". Tanya helena dengan raut datarnya.
"Sakit mana dari yang aku rasakan. Melihatnya mencintaimu dengan sangat, memperlakukan mu dengan lembut dan selalu melihatmu. Hanya kau kau dan kau !!". Teriak helena dengan nyalang.
Raina pun hanya menangis mendengar ucapan helena yang begitu marah padanya. Sungguh raina pun sangat ingin melihat kakaknya mencintai orang lain wanita lain selain dia. Tapi itu sulit bagi seorang yash.
"Aku tidah mencintainya len, dia kakak ku saudara seayahku. Seharusnya kau tahu itu. Kau pun tahu kan. Siapa yang aku cintai dan siapa yang ada di dalam hatiku". Jelas raina membela diri.
"Tetapi dia mencintaimu. Dan aku benci itu". Ucap helen dengan nada kesal.
"Lalu apa yang harus aku lakukan !". Teriak raina dengan rasa frustasinya.
"Kau fikir aku senang. Kau fikir aku bahagia di cintai olehnya len". Lirih raina dengan pilu.
"Tidak...Aku tidak pernah merasa senag. Mungkin jika dia bukan kakaku aku akan luluh dengan kebaikannya dan kadih sayangnya. Tapi dia kakakku. Satu darah denganku. Dan aku tidak memiliki perasaan apa pun sedikit pun aku tidak pernah memiliki perasaan layaknya wanita ke prianya".
Jelas raina dengan menangis sedih. Membuat helena sedikit mengatur amarahnya. Namun tak lama kemudian amarahnya kembali jika mengingat ucapan yash kepadanya.
"Kau fikir apa yang kak yash lakukan tidak menyiksa batin dan fikiranku. Itu semua menyiksa ku len. Apa lagi dengan sikap posesifnya. Dan aku harus bagaimana hah bagaimana ?". Tanya raina di akhir kalimatnya.
"Benar apa kata tante yasmine. Seharunya dulu aku tidak menyelamatkanmu di kolam renang itu dan di dalam hutan saat kita berkemping di sekolah".
Tutur helena merasakan menyesal. Mwmbuat raina menjadi tak habis pikir pada helenan dan kecewa.
"Kau itu seperti mendiang ibu mu. Perebut milik orang dengan muka belas kasihanmu. Dasar anak haram". Cerca helen dengan raut sinisnya.
"Cukup helena. Hanya karna cinta buta mu itu. Hanya karna obsesi mu itu. Kau sampai tega dengan ku. Orang yang sudah menganggap mu sahabat". Ucap raina dengan rasa kecewa.
"Memangnya,siapa yang ingin menjadi sahabat dari seorang anak yang baru diakui oleh ayahnya saat usianya lima belas tahun. Bahkan ibu mu sampai bunuh diri dulu demi membuat tuan leonard mengakuimu". Cibir helena
"Cukup helena CUKUP !!".
Seru raina merasa tak tahan atas ucapan helena terhadap ibunya.
"Lalu kau dengan mudahnya membuat yash bertekuk lutut padamu. Coba ceritakan trik ****** yang di wariskan oleh ibu mu padamu".
Ucap helena membuat raina tak tahan lagi dan menampar helena dengan keras yang saat itu berdiri di hadapannya.
PLAAAAK !!!!!
"Kau..". Tunjuk raina dengan jarinya dan dengan rau amarahnya.
"Jangan pernah menghina ibu ku. Heeh bagaimana mungkin kau tidak bisa menghina seorang ibu. Kau saja tumbuh tanpa adanya seorang ibu".
Telak raina kepada helena yang mulai menunjujan gelagat amarahnya.
"Sialan kau !! Tak kan aku biarakan kau selamat hari ini Raina Agatha !!".
Teriak helen seraya mengayunkan tongkat bisboll ke arah raina. Yang sayangnya mengenai kaca toilet yang berada di dinding westafel. Sebab raina dengan refleknya berjongkok seraya menutupi kepalanya menghindari dari pecahan kaca yang mencuat.
"Sialan kau !!!". Seru helena dengan amarah.
Dan mulai membabi buta mencoba memukul raina yang terus meng hindar dari pukulan yang helena arahkan.
Saat raina merasa lelah dan lengah. Helena mencuri kesempatan dengan menunduk memukul kaki raina dan
BUUK BRAAAK
"Arrrgghhhh !".
Lenguh raina dengan terduduk memegangi kakinya yang terasa ngilu serta lebam. Membuat helena tertawa puas melihatnya.
Dengan segera helena pun hendak memukul raina lagi yang terduduk lemah namun tertahan oleh raina yang memegang tongkat bisbol itu dan menendang kuat perut helenan dengan sepatu hellsnya. Membuat helena tersungkur menabrak dinding toilet.
Helena yang tidak siap atas perlawanan raina pun merasa kesal atas kelengahannya dan mencoba berdiri dan mengambil tongkatnya lagi.
Sementara raina yang dapat berdiri dengan susah payah itu pun mulai berjalan terpincang-pincang hendak menuju pintu keluar. Namun dari ekor matanya raina melihat helen yang ingin memukulnya lagi dengan tongkat.
Dan raina pun reflek menunduk lagi menghindari ayunan tongkat dari helena yang akhirnya mengenai kaca westafel yang sebelah yang masih utuh.
PRAAANNG !!!!
Suara dinding kaca yang nyaring memekakan telinga membuat raina menutupi telinganya dengan terduduk lemah.
Melihaat raina yang sepertinya telah lemah dan pasrah. Helena pun merasa senang dan menang.
"Ohh tuan putri. Dimana pangeran mu. Dimana kakak tersayang mu. Dimana seseorang yang ada di dalam hatimu haahaahaa". Ucap helena dengan lantang seperti orang tak waras.
"Dasar gila". Lirih raina dengan lemah.
"Memang aku segila ini rain. Sayang sekali kau baru tahu sekarang huuhhh". Ucap helena lagi dengan nada bahagia.
Helena pun mulai mengambil satu pecahan kaca yang memiliki ujung yang runcing dan mulai mendekatvkearah raina yang tengah melotot ngeri ditengah kelemahannya.
"Helen jangan main-main tentang itu. Buang benda itu helen. Kau sudah tak waras". Ucap raina dengan raut lemahnya.
"Memangnya apa yang bisa yash lakukan kalau kau tak ada rain. Menangis, menyesal, dan melupakanmu. iya kan, begitu kan". Ucap helena dengan mata kosong seakan ia tengah melamun.
Raina yang mendengarnya pun menggeleng lemah tak menyangka jika helen benar-benar senekad itu. Bahkan sedang berencana untuk membunuhnya.
Saat helena sudah berjongkok di didekatnya dengan menggenggam pecahan kaca raina pun berusaha untuk menyadarkan helena dengan memanggil namanya dengan suara lemah namun tak dihiraukan oleh helena.
Rasa sakit itu sudah mendalam di hati helena. Dendam dan rasa ingin melenyapkan raina sudah sangat berakar sejak dulu. Dan ini kesempatan terbaiknya untuk membuat raina benar-benar tiada di kehidupan yash.
"Selamat tinggal rain".
Ucap helena dengan senyum evilnya lalu mengayunkan tangannya keatas dan.
BRRAAK !!!
BRUUK !!!
PRAAANG !!?
"ARRGGGH !!!".
*Flash back end*
Saat riena dan mira masuk kedalam toilet dengan terkejut mereka melihat nona helena yang hendak menancap kan sebuak pecahan kaca pada jantung raina.
Beruntung riena dengan sikap menendang tangan helena yang tengah memegang pecahan kaca dan membuat pecahan kaca menggores telapak tangan helena lalu terpental jauh.
"Argghh sialan kau rie !". Seru helena dengan mengibaskan telapak tangannya.
"Berani kau menyentuh nona mudaku". Ancam riena dengan marah.
"Huh memangnya pelayan seperti mu bisa apa hah. Kau dan twman mu mau ikut serta seperti majikanmu itu". Ucap helena dengan angkuhnya.
"Jangan pernah meremehkan seseorang pelayan. Nona helena". Ucap riena dengan raut datarnya.
Mendengar ucapan riena yang terlihat biasa itu helenena tersenyu remeh. Ia lalu mengambil tongkat bisbol itu lalu menyerang riena.
Riena yang melihat serangan dari helenapun mencoba melawan dan menghindar. Sementara mira langsung menghampiri riena yang terlihat tengah terduduk lemah.
"Nona raina, bertahan lah". Ucap mira setaya berusaha membuat sang nona berdiri.
Dengan kesadaran yang masih tersisa raina pun mencoba melihat orang yang tengah berbicara padanya itu.
"Kau...". Lirih raina dengan suara lemah.
"Ayo nona, bertahaan lah. Cobalah untuk berdiri dan berjalan. Aku akan memapahmu". Ucap mira dengan panik.
Raina pun mencoba berdiri dengan bertopang pada mira dan pinggiran westafel. Setelah berhasil berdiri mereka pun langsung berjalan keluar dengan tertatih meninggalkan riena dan helena yang tengah gulat.
Helen pun kalah telak oleh riena yang berhasil melumpuhkannya. Sadar akan ketidak beradaanya raina di tempat membuat helena mengerang frustasi dan riena tersenyum puas.
Tak tinggal diam helena pun mengambil alat kecil yang seperti flasdis dan mulai menekan tombol kecil berwarna merah lalu berbicara.
"Dia pergi bersama wanita bergaun merah. Cari dan bunuh mereka".
KLIIK
Ucap helena memberi perintah kepada seseorang di seberang.
"Kau membawa serta orang mu huh ?". Ucap riena dengan kesal. Membuat helena tersenyum menang.
"Bodoh".
Ucap helena lalu menendang tulang kening dari kaki riena dengan sepatu bothnya lalu pergi lari keluar toilet meninggalkan riena yang mengerang nyeri.
Sementara di aula gedung yang luas semua bodyguard tengah berpencar mencari keberadaan sang tuan muda bersama asistenya yang hilang di telan lautan manusia.
__ADS_1
Salah satu bodyguard pun mencoba mencarinya didalam private room di samping aula gedung dan ternyata benar. Mereka sedang berada di ruangan itu.
Dengan tanpa izin dan tergesa-gesa sang bodyguard pun masuk tanpa memberi izin dan hormat dahulu. Membuat yash dan jio pun mengernyit tak suka.
"Tuan maafkan atas kelancangan saya. Ini benar-benar gawat nona raina hilang". Ucap sang bodyguar dengan raut takut.
Yash yang mendengar itu pun langsung mematung dan tertegun.
"Ada di mana pelayan rie ?". Tanya jio dengan heran.
"Setelah berkelahi dengan petugas gedung. Pelayan rie mencari nona raina yang lari tuan". Ucap sang bodyguard.
"Petugas gedung ?". Tanya jio merasa semakin aneh.
"Ya tuan, saya sudah menyelidikinya dan beberapa petugas ada yang terkurung digudang belakang dan semuanya tidak memakai seragam. Ada yang bilang beberapa orang telah merampas seragamnya. Orang-orang itu memiliki tanda di lengan kirinya berupa tato bergambar kepala tengkorak berwarna hijau tuan". Lapir sang bodyguard.
Yash yang sedari tadi diam mendengarkan pun mulai berfikir bagaimana cara menemukan raina. Dan yah dia ingat dengan gelang kaki yang ia berikan kepada raina sebelum pesta.
"Jio lacak salah satu fitur yang berkode A1150** ". Titah yash dengan raut tenangnya.
"Baik tuan muda". Ucap jio.
Mengerti akan yang diucapkan oleh sang tuan muda jio pun langsung mengeluarkan laptopnya dan mulai melacak kode yang tuanya berikan.
"Ada di sebelah barat gedung tuan". Ucap jio setelah menemukan titik merah yang berasal dari kode yang di sebutkan itu.
"Itu keberadaan dari raina. Aku dan sepuluh bodyguat lainya akan menuju kebagian barat gedung. Kau atur bodyguar lainya untuk mencari para gengster yang menyusup serta cari helena sampai dapat. Mereka semua pasukan dari helena".
Ucap yash dengan rahang yang mengeras memperlihatkan amarah dan rasa khawatirnya.
Yash dan lainya pun bergegas menuju gedung barat sedangkan jio bergegas menelusuri para penyusup melalui kode yang tertera pada baju para petugas.
Setelah menemukannya jio pun tersenyum remeh
"Kalian berurusan dengan orang yang salah. Dan kau helen. Kau dan ayahmu akan tahu rasanya sebuah amarah dari putra suling tuan leonard itu".
Sementara raina dan mira pun terus berjalan dengan hati-hati mencari jalan keluar dari gedung yang seperti labirin baginya.
"Bisa berhenti sebentar. Aku lelah". Ucap raina dengan lemas.
Mendengar hal itu pun mira langsung berhenti dan mendudukkan raina dengan hati-hati.
"Kita tidak bisa berlama-lama disini. Mereka ada dimana-mana nona. Anda tahu jalan keluar menuju gedung ini ?". Tanya mira dengan suara pelan.
Raina pun menggeleng lemah menanggapi pertanyaan mira. "Gedung ini masih terbilang baru. Dan aku juga baru diajak kesini oleh kak yash". Ucap raina dengan lemas.
Mira pun langsung merasa lemas dan tak tahu harus bagaimana. Handphonenya ia tinggal di mobil kak marko. Dan dia pun lupa dengan pesan sang kakak untuk selalu berada di dekatnya.
"Ayo kita cari kedua wanita itu !".
Seru suara seseorang yang menbuat mira dan raina terkejut dan buru-buru beranjak dari tempat itu.
Saat mira hendak berbelok kearah lorong berikutnya ternyata ia ketahuan oleh para pemburu yang tengah mencarinya.
"Itu mereka !!".
Seru salah satu pemburu membuat semuanya menengok kearah mira dan raina lalu mengejarnya setelah melihat keduanya berlari dengan tertatih.
"HEI BERHENTi !!". Seru mereka seraya mengejar mira dan raina.
Mira pun terus berlari membawa raina yang seperti setengah sadar itu. Meski menyulitkan bagi mira ia tetap lari dengan sekuat tenaganya.
DOOR DOOR !!!
Suara tembakan bergema di ruangan membuat mira semakin mempercepat larinya dan menghindari tembakan.
DOOR !
"AKHHH !".
Teriak mira dengan rasa sakitnya lalu melihat kearah lengan kanannya yang terkena tembakan.
Mira pun langsung terduduk lemas menahan rasa panas perih yang ia derita serta menutup lukanya agar darah yang keluar tak begitu banyak.
Sementara raina yang melihatnya pun merasa bersalah dan sedih.
"Kau tertembak". Lirih raina.
"Sttt jangan hiraukan ini nona. Ayo kita lari lagi aku sudah agak mendingan". Ucap mira dengan menahan rasa sakitnya.
"Ayo cepat cari mereka. Aku lihat tadi ada yang tertembak salah satu dari mereka. Ini akan memudahkan kita mencarinya". Ucap salah satu pemburu.
"Iya ayoo !!". Seru mereka serempak.
Mereka pun berlari dengan terseok dan rasa sakit masing-masing. Raina dengan memar di kaki dan sayatan kecil di lengan kiri, mira dengan luka tembak di lengan kanan.
"Lepas saja sepatu kita. Ini akan lebih mudah". Ucap raina dengan terengah.
Merekapun mulai melepas sepatu mereka masing-masing dan mulai berlari lagi. Namun sayang pelarian mereka berakhir dengan kepungan dari para pemburu yang tengah tertawa sembari mengepung mira dan raina.
"Hahaha kena kalian. Mau lari kemana huh ?". Seru salah satu pemburu.
Raina dan mira pun merasa takut dan berusaha melawan yang di balasi ledekan dari tujuh orang pemburu berbadan kekar.
Saat mira dan raina berjongkok seraya meneriaki kakaknya masing-masing terdengar suara tembakan dari arah lain yang memekakak telinga.
"Kaakaaakkk !". Teriak raina dan mira bersamaan.
DOOR DOORR !!!!!
Mira pun memberanikan diri untuk melihat keadaan dan terlihat tujuh orang yang mengepungnya sudah tergeletak tak bernyawa. Membuat mira syok melihatnya.
"Nona muda raina. Anda tidak apa ?". Tanya salah satu orang dari 10 orang yang mira lihat.
"Siapa kalian ?". Tanya mira was-was.
"Kami orang-orang dari tuan leonard nona. Anda aman. Ini kartu pengenal kami dan ini logo berbentuk L sama dengan kalung milik anda". Jelas salah satu orang itu.
Mira pun reflek memegang kalung yang ia dapat dari kontes dance itu dengan raut bingung.
"Ayo nona ikut kami sebelum mereka menemukan kita. Saya rasa jumlah pasukan mereka sudah menyebar". Ucap salah satu bodyguar kepada mira dan raina.
Mira dan reina pun mulai menurut mengikuti kesepuluh orang bersenjata itu dan saat ditengah jalan mereka pun di hadang oleh tembakan dari sekelompok orang yang terlihat seperti petugas gedung.
"Lindungi nona raina dan temannya !". Seriu salah satu bodyguar .
"Berpencar !!".
Seru lagi sang bodyguard merasa terdesak dan mulai membawa nona raina dan mira.
Lima orang kearah barat dan lima lagi kearah timur. Sayangnya orang yang melindungi mira kalah dari salah satu gengster terkuat.
Sementara raina berhasil dibawa keluar dan bertemu dengan jio dan riena. lalu riena dan kelima bodiguard membawa raina kerumah sakit terdekat. Sementara jio mencari helena yang masih bersembunyi di dalam gedung.
Sementara mira yang terpojok pun merasa pasrah akan nasib hidupnya. Ia kini tengah ditidong pisau oleh seorang gengster.
"Kuat juga nyali mu nona manis". Ejek seseorang itu.
"Pergi kau !". Ucap mira mengancam.
"Sudah diambang kematian masih saja melawan. Aku suka ini". Ucapnya seraya menelusuri wajah mira dengan ujung pisau.
Mira yang merasa takut pun memejamkan matanya dengan kuat. Takut jika pisau itu menusuk wajahnya dengan tiba-tiba.
Seseorang itu pun melihat kalung berlian yang mira kenakan dan mencabutnya dengan sekali tarik. Membuat mira terkejut dan langsung membuka matanya.
"Ini akan memudahkan kita". Ucapnya kepada salah satu temannya yang baru datang.
Salah satu temannya pun tersenyum puas dan berkata "Lalu baiknya kita apakan dia". Ucaonya dengan menelusuri lekuk tubuh mira menggunakan matanya.
"Bawa saja dia ke bos besar. Mungkin bos akan senang melihatnya". Ucap satunya si pria berbadan putih berbaju hitam panjang.
Pria yang satunya lagi hanya tersenyum sinis dan membelakangi mira dan temannya. Tanpa mereka sadari mira yang menemukan satu balok kayu yang berada di bawahnya langsung memukul kepala belakang si peria dengan sekuat tenaganya seraya menahan ngilu.
Peria itu pun langsung terkapar di tempat dan mira pun langsung berlari pergi.
"HEI KAU. SIALAN !". Seru slah satu temannya dan langsung mengejar mira.
Mira terus berlari sekuat tenaga tak tentu arah guna mencari tempat keluar dan berteriak dengan kencang memanggil nama kakaknya.
"KAKAK....KA MARKO...!". Teriak mira dengan kencang seraya berlari.
Sementara yash yang mengambil jalan belakang dari gedung B tepatnya bersebelahan dengan area parkir mobil seperti mendengar sayup-sayup suara teriakan seseorang memanggil namanya.
Yash pun lalu berlari diikuti kesepuluh orang bodyguardnya kearah sumber suara. Saat sudah ada di dalam gedung bagian belakang yash terus mencari dan menyuruh bawahannya untuk berpencar mencari suara itu.
Dan pada saat yang bersamaan dengan yash berlari mira pun berlari dengan kencang sehingga menabrak yash yang secara tiba-tiba muncul.
Namun di karenakan tubuh yash yang keras membuat mira sedikit terpental dan jatuh kebawah. Sementara yash yang melihatnya pun reflek memegangi belakang kepala sipenabrak dan jatuh secara bersamaan. Mira dibawah dengan kepala tertahan oleh tangan yash dan yash diatas dengan menahan bobot tubuhnya agar tidak menindih mira.
Lima menit mereka saling berpandangan dengan rasa keterkejutannya masing-masing.
"Kau...". Ucap yash dengan mengernyit bingung.
Mira pun mulai mengingat dengan wajah si penabrak itu.
"Tuan muda yash. Tolong aku..". Lirih mira dengan memohon.
"ITU DIA !!". Seru beberapa orang yang tengah berlari menuju yash dan mira.
"TEMBAK !!!". Teriak salah satu orang.
Yash yang melihatnya dengan reflek menarik mira untuk berguling bersama menghindari tembakan yang diarahkan tiga orang itu kepadanya dan mira.
DORR DORR DORR !!!
Seleah tiga kali berguling dan mira mulai berteriak kesakitan akibat cengkraman tangan yash yang mengenai luka tembaknya. Posisi yash yang sekarang berganti di bawah pun memudahkannya untuk menembaki ketiga orang itu.
DORRR !!!!
Satu orang tertembak di bagian kakinya dan 2 orang lagi tertembak di bagian perut. Dan langsung diringkus oleh beberapa bodyguard yang datang.
Melihat keadaan mira yang berantakandan seperti lelah yash pun mulai bertanya "Ada apa dengan mu ?". Tanya yash masih dengan posisi yang sama.
"Aku berusaha menyelamatkan nona rain. Tapi dia berhasil di bawa oleh orang-orang yang mengaku sebagai bodyguard anda tuan". Jelas mira dengan lemah.
Yash pun langsung membawa mira untuk duduk namun ia dibuat terkejut oleh darah yang ada pada telapak tangan kirinya lalu melihat kearah lengan kanan mira yang sedikit robek.
"Kau terluka...".
Ucap yash dengan terkejut dan langsung merobek kain bajunya memanjang seperti tali dan mulai mengikatnya di lengan atas mira yang terluka.
"Aku akan membawamu kerumah sakit. Bertahanlah wajah mu mulai pucat dan bibir mu mulai membiru. Kau pasti kehilangan banyak darah". Ucap yash seraya menggendong mira ala bridalstey.
"Siapkan mobil kita kerumah sakit CEPAT. !". Teriak yash kepada para bawahannya.
"Bawa saja aku ke kak marko. Kau cari saja nona raina tuan. Aku khawatir padanya". Sahut mira dengan suara lemahnya. Membuat yash bimbang dan mulai menimang.
"Nona raina sudah diketemukan tuan". Lapor salah satu bawahanya.
"Bagaimana keadaanya ?". Tanya yash dengan penasaran.
"Sedang di bawa kerumah sakit terdekat tuan". Ucap sang baeahan.
Yash pun menyuruh sang bawahan untuk pergi menjauh darinya dan mira.
"Kau dengar itu. Raina selamat dan sedang di bawa keruma sakit". Ucap yash kepada mira.
"Syukur lah". Ucap mira dengan tersenyum lega.
Membuat yash yang melihatnya pun merasa tersentuh dan sedikit iba kepada mira. Bagi yash mira terlihat tulus. Matanya sangat teduh dan dalam.
"Tetaplah menjaga kesadaranmu nona". Ucap yash mengingatkan.
"Mira...Namaku mira tuan". Ucap mira dengan lemah.
Tak lama kemuduan mobil yang yash suruh sudah datang dan keluarlah jio beserta sang sopir.
"Tuan muda". Sambut jio dengan hormat.
"Cepat bawa dia kerumah sakit". Ucap yash seraya menggendong mira menuju mobil.
Jio yang melihatnya pun tertegun dengan apa yang tuan mudanya lakukan. Sebab selama ini selain mendiang ibunya dan raina tak ada wanita lain lagi yang tuan mudanya perhatikan bahkan seperti terlihat khawatir.
Mereka pun akhirnya melajukan mobilnya dwngan kecepatan penuh. jio berada di depan bersama sang supir. Sementara di jok tengah ada yash dan mira yang tengah terbaring dipangkuan yash.
"Wanita licik itu. Apa sudah kau ketemukan jio ?".
Tanya yash seraya menggaruk jari kelingking mira dengan ujung kuku jempolnya bermaksud agar mira tetap pada kesadarannya.
"Belum tuan muda". Ucap jio dengan menunduk.
"Tuan, kalung yang diberikan sebagai hadiah itu di rampas oleh salah satu orang itu. Mereka berkata jika itu memudahkan mereka". Ucap mira memberi tahu. Membuat yash dan jio mengingat sesuatu.
"Sekarang aku mengerti jio. Mengapa helena sangat sulit kita temukan". Ucap yash dengan suara kelamnya.
"Ternyata dia memanfaatkan kalung itu. Kalung raina pun hilang saat pesta ulang tahun helena". Ucap yash lagi dengan raut sinisnya.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan jio ?". Tanya yash memastikan.
"Saya mengerti tuan". Ucap jio dengan hormat.
__ADS_1
"Sudah sampai tuan". Ucap sang supir kepada yash.
Yash pun langsung bergegas membopong mira yang mulai hilang kesadarannya keruang UGD. Sementara jio mengurus persyaratan dan data diri dari mira. Dan tak lama kemudian para dokter pun datang memasuki ruangan untuk menangani mira lebih lanjut.