
Pukul sembilan pagi Mira pun terbangun dengan rasa pegal si sekujur badan. Latihan menari semalam lah yang membuatnya pegal di sekujur tubuh. Maklum sudah lima tahun Mira tidak ikut rutin menari atau bersenam cardio.
Saat kesadarannya sudah kembali. Ia pun lalu menengok kearah jam dinding yang menunjujan angka mengerikan bagi Mira.
"Ooo ya ampun aku terlambat masuk kerja". Ucap Mira panik.
Ia,pun lalu begegas untuk mengambil pakaian kerjanya dan berlari ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka dan menggosok gigi. Tanpa mandi karena sudah sangat terlambat sekali.
Pada saat keluar kamar mandi dan sudah mengenakan pakaian kerjanya. Ponsel Mira pun berbunyi tanpa henti membuat Mira sesikit panik membayangkan amukan dari madam Ghin dan nona Martha.
Merasa terganggu karena ponselnya terus berbunyi ia pun akhirnya mengangkat panggilan telfon yang ada di ponselnya seraya memakai sepatu fantovelnya.
"Hallow Ney". Ucap suara diseberang dengan lemah gemulainya.
"Ya Ji, ada apa. Aku telat bangunnya nih. Mati aku Ji, pasti aku bakalan kena semprot habis-habisan". Ucap Mira panik membuat Oji sedikit mengernyit.
"Ney, you engga nengok pesan di grup ?". Tanya Oji memastikan.
"Hah pesan apa si ?". Tanya Mira balik.
"Mulai hari ini sampai satu minggu kedepan butik bakalan di tutup Ney. Tambahan lagi cuti tiga hari jadi kita semua ini pada libur kerja sepuluh hari". Ucap Oji menjelaskan.
"Serius Ji. Ko tumben ya ?". Tanya Mira ragu.
"Ya ampun Ney. Efek bangun tidurnya masih ya jadi ente rada lemot. Kan nona Martha mau kawin ney. Masa iya para pekerjanya masih masuk. Engga ada yang harus dikerjain juga entar". Ucap Oji gemas.
"O iya aku lupa. Makasih ya Ji udah dikasih tahu langsung. Untung kami telfon. Kalau engga, mungkin aku udah berangkat kerja seorang diri". Ucap Mira merasa lega. Setidaknya hidupnya selamat kali ini.
"Ya Ney, sama-sama. Ya udah aku tutup ya telfonnya mau nerusin bobo cantik. Yuk ah bye bye Mirambul". Pamit Oji dengan centilnya.
"Yuuk bye jg Ojindul". Ucap Mira membalas.
Setelah sambungan telfon terputus. Mira pun mulai bernafas lega dan mulai merebahkan tubuhnya kembali diatas kasur dan terlelap kembali tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu.
Setelah dua jam tertidur. Mira pun terbangun kembali dengan rasa yang lebih baik dan kali ini ia pun memutuskan untuk mandi dan berendam.
Ia pun mulai menyiapkan nerbagai macam wewangian pada bathrub yang sydah terisi air hangat. Lalu ia pun mulai menyalakan lilin aromateraphi di sekitar bathrub di bagian bawa
Setelah itu Mira pun langsing berendam seraya menikmati musik teraphi guna menjernihkan fikirannya agar tubuh dan perasaannya membaik.
Wangi dari aroma jasmin dan greentea pun mulai menguar menambah nuansa tenang pada diri Mira. Dan ia pun mulai memejamkan matanya lagi dan tertidur.
Setelah di rasa air yang menyelimutinya terasa dingin dan wewangian yang ia tebar menghilang. Mira pun mulai bergegas bangun dan membersihkan tubuhnya. Setelahnya ia pun memakai handuk kimononya seraya menggulung handuk pada rambutnya yang basah.
Masih dengan musik yang menyala merdu yaitu musik top indonesia. Mira pun mulai memilih baju yang ia kenakan.dan pilihannya jatuh pada dres selutut warna Navy yang memperlihatkan kedua bahu Mira dan lengan pendek yang jatuh.
Setelah itu ia pun mulai mengeringkan rambutnya dengan Hairdreyer seraya menirukan lagu yang ia dengar.
TOOKKK TOOK TOOO****K
Terdengar suara ketukan pintu yang begitu keras membuat Mira langsung mematikan hairdreyenya dan berjalan mendekati pintu.
"Ra, buka pintunya". Seru Mayya dari luar.
Mira pun langsung membuka pintu kamarnya yang di mana terlihat Mayya yang tengah berdiri dengan pakaian dres casual di dampingi oleh empat orang wanita.
"Kenapa ya ka ?". Tanya Mira bingung saat melihat sang kakak perempuannya tengah berdiri bersama empat orang wanita asing yang menunduk hormat.
"Anda nona Miranda Nur ?". Tanya salah satu wanita yang usianya sekitar kepala setara dengannya itu.
"Ya...Ada apa ya ?". Tanya Mira bingung.
"Perkenalkan nona, nama saya Anselin Zikweird. Saya adalah seorang ahli kecantikan yang akan melayani anda atas perintah dari tuan muda Latthore".
Ucap Anselin memperkenalkan diri. Membuat Mira sedikit melongo. Pasalnya nama Anselin Zikweird adalah nama dari seseorang ahli kecantikan yang sudah terkenal mendunia. Namun Mira tak menyangka jika dirinya akan bertemu dengannya di sini di rumah kakak iparnya. Bahkan malah Anselin sendiri lah yang datang menemuinya.
"Kami mendapat perintah dari tuan muda Latthore untuk mengurus anda nona. Kami dari salon kecantikan dan SPA Beauty lovely siap melayani anda". Ucap Ketiga wanita yang berada di belakang Anselin.
Mira yang masih terbengong pun merasa bingung itu pun hanya terdiam saja seraya mengerjap dan merasa gugup.
"Mimpi apa aku semalam.Bisa kedatangan seorang Anselin Zikwerid. Si dokter kecantikan yang terkenal sedunia itu. Ahhh ini nyata atau mimpi". Batin Mira merasa tak yakin.
Ponsel dari Anselin pun berbunyi dan ia pun langsung mengeceknya dan mengangkat panggilan telfon itu dengan segera.
"Ya tuan muda. Saya,sudah berada di kediaman nona Mira". Ucap Anselin memberi tahu.
"Berikan ponsel mu padanya". Ucap Vikram memberi perintah.
"Baik. Sebentar tuan". Ucap Anselin memohon izin. Ia pun mendekat kearah Mira dan berbisik .
__ADS_1
"Tuan Vikram ingin berbicara dengan anda nona". Bisiknya dan lalu menyerahkan punsel itu.
Mira pun mengambilnya dan nenempelkan ponsel itu di telinganya dengan hati-hati. Karena takut ponsel yang berlapis emas itu akan rusak atau terjatuh.
l"Ya tuan Vikram. Saya Miranda". Ucap Mira memberi tahu.
"Aku semalam mendapat amukan dari Yash karena sudah membuat mu sangat kelelahan saat latihan. Maka dari itu aku menyewa jasa SPA terkenal untukmu. Jangan lupa ya nanti sore kita bertemu di kediaman Yash untuk latihan. See you sweety". Ucap Vikram dan langsung memutuskan panggilannya sepihak. Membuat Mira lagi-lagi di buat terkejut.
"Mari nona, kita mulai rangkaian SPA untuk anda. Semoga anda berkesan atas pelayanan kami". Ajak Anselin dan lalu masuk diikuti ketiga asistennya juga Mayya yang juga sama perasaannya dengan Mira.
Di mulai dari pijat seluruh tubuh. Mira pun berbaring tengkurap dan menikmati setiap pijitan yang kedua asisten Ansel itu berikan. Sementara Ansel hanya duduk melihat di sofa tidur milik Mira. Ditemani Mayya dan secangkir teh hijau buatan Mayya.
Setelah dua jam berlalu. Akhirnya serangkaian perawatan tubuh pun telah usai di lakukan. Kini tinggalah Ansel sendiri yang memulai tugasnya untuk merawat wajah Mira menggunakan metode yang sering ia gunakan.
"Wajah anda masih terlihat alami nona. Anda melakukan perawatan kah ?". Tanya Ansel seraya melakukan tugasnya membersih wajah Mira dan memijatnya.
"Hmmm hanya perawatan sederhana. Kebetulan juga saya tidak pernah make up tebal. Berangkat kerja juga hanya sunscreen, krim warisan ibu dan bedak tabur saja". Ucap Mira jujur.
"Sunscreen memang sangat di perlukan nona. Anda sangat pintar menjaga kulit wajah anda". Ucsp Anselin jujur.
Setelah satu jam berlalu Mira pun akhirnya dapat bernafas lega sebab semuanya telah selesai. Tinggal ia bergegas ganti baju dan berangkat latihan.
"Nona, tuan Vikram mengirimkan ini untuk anda". Ucap Ansel seraya menyerahkan bingkisan sedang.
Mira pun menerimanya dan membukanya. Ternyata isinya adalah satu setel baju lengkap dengan aksesoris dan weddges hells. Mira pun mengangkat baju itu dan terlihatlah sebuah dres casual yang terlihat simpel dan elegan.
"Ini....Untuk ku ?". Tanya Mira dengan terbengong.
"Iya nona. Tuan Vikram ingin anda mengenakannya saat latihan nanti". Ucap Anselin.
"Emm baik lah". Ucap Mira pasrah.
Ia pun lalu pergi ke kamar mandi untuk mengenakannya. Saat sudah selesai iapun mulai keluar kamar mandi.
Mayya, Anselin dan ketiga wanita lainnya pun yersenyum melihat Mira mengenakan dress yang Vikram berikan. Karena dress itu sangat pas dan cocok untik Mira kenakan.
"Tuan Vikram memang sangat pintar mengenai gaun untuk wanitanya". Ucap Anselin penuh haru. Membuat Mayya dan Mira mengernyit dan saling pandang.
"Nona, boleh kah saya meminjam kamar mandi anda ?". Tanya Anselin meminta izib.
"Terima kasih nona". Ucap Anselin dan berjalan masuk kedalam kamar mandi.
"Mira, kenapa wanita tadi bilang seperti itu. Tidak tahu kah dia siapa dirimu untuk Vikram ?". Tanya Mayya seraya berbisik merasa heran.
"Entahlah kak. Mungkin dia salah paham. Aku juga tidak ingin berfikir terlalu jauh. Aku dan tuan Vikram hanya patner dan teman biasa". Jelas Mira acuh.
"Ya tapi kalau dia sampai salah paham juga bener sih Ra. Soalnya cara Tuan Vikram memperlakukan mu begitu khusus. Jelas orang-orang yang melihatnya pun pasti akan salah paham". Ucap Mayya membenarkan
"Ra, jangan terlalu dekat dengan para penguasa itu. Kakak engga mau jika nanti kakak sampai melihatmu hancur lagi. Yash, Vikram, Raina dan tuan besar Jonathan adalah orang-orang yang hidupnya penuh bahaya. Jangan sampai kamu ikut terbawa ya. Jika urusanmu dan mereka selesai. Jauhi mereka sesegera mungkin". Ucap Mayya memperingati. Membuat Mira termenung sejenak dan mengangguk mengiyakan peringatan sang kakak.
"Iya kak". Ucap Mira patuh. Membuat Mayya langsung memeluk sang adik dengan sayang.
"Maaf nengganggu nona". Ucap Anselin saat sudah kembali dari kamar mandi. Membuat Mayya dan Mira langsung menyudahi berpelukannya.
"Saya akan merias anda dengan baik. Ini tugas terakhir saya untuk nona". Ucap Anselin memberi tahu. Mira pun mengangguk lalu duduk di kursi rias miliknya.
"Saya tidak ingin makeup yang terlalu tebal Miss". Ucap Mira memberi tahu.
"Memang saya akan mendandani anda tipis-tipis saja nona. Sebab wajah nona jufa sudah putih dan bersih. Saya hanya ingin menebalkan alis anda swdiki, melentikan bulu mata anda dan sedikit eyeliner di ujung, bedak tabur tipis dan liptin sof untuk anda nona". Ucap Anselin lembut. Mira pun lalu mengangguk setuju dan mulai lah Anselin mempetcantik wajah Mira.
"Anda sangat anggun nona. Dan cara bicara anda sangat sopan. Saya suka dan sangat senang mengenal anda". Ucap Anselin seraya memoles alis Mira dengan lembut.
"Justru malah saya yang sangat senang bisa bertemu dengan anda Miss. Saya termasuk fans anda". Jujur Mira dengan senyum lembut.
"Terimakadih nona, anda adalah fans terbaik saya". Ucap Anselin dengan nada ramah.
"Naah baru di tebalin alusnya saja sudah terlihat cantik. Saya jadi teringat dengan mendiang putri saya. Jika dia masih hidup pasti seumuran dengan nona". Ucap Anselin mulai bercerita.
"Tetapi mendiang putri anda jika sudah gadis di tahun ini usianya baru tujuh belas tahun Miss. Saya sudah dua puluh lima tahun bulan depan". Ucap Mira jujur.
"Benarkah, saya kira anda masih sekitar tujuh atau delapan belas tahun. Jauh banget dari saya yang usianya hampir empat puluh tahun.
"Tetapi anda sangat awet muda Miss hampir sama dengan kak Maya kelihatannya". Ucap Mira jujur.
"Ahh nona Mira ini bisa saja". Ucap Anselin gemas.
Selesai. Waahhh cantik sekali nona. Tuan Vikram pasti sangat terkesan dengan anda". Ungkap Anselin penuh gembira. Karena hasil makeupnya sangat sempurna.
__ADS_1
"Ra, ada tuan muda Yash di bawah. Katanya mau menjemput kamu kerumahnya. Tuan Vikram tidak bisa menjemput soalnya". Ucap Mayya yang maduh begitu saja ke kamar Mira.
Mira pun sedikit tertegun dibuatnya. Sementara Anselin pu mengernyit bingung. Sejak kapan tuan muda angkuh itu mau menjemput seorang wanita selain adik perempuanya. Banyak gosip yang bilangkan kalau tuan muda itu brothercomplex.
"Iya ka aku akan turun setelah memakai weddegs ini".Ucap Mira dan lalu mengenakannya.
Saat Mira turun di temani dengan Mayya, Anselin dan ketiga asisten Anselin. Yash pun menatap Mira tajam tanpa berkedip sedikit pun.
"Baju itu kan yang Vikram tanyakan padaku tadi pagi. Jadi wanita yang Vikram maksud itu...Dia". Batin Yash kesal.
Memang saat sarapan pagi, Vikram datang dengan asisten pribadinnya yaitu Ram. Ia pun ikut sarapan pagi dengan Yash bersama seluruh anggota keluarganya.
Ia pun mengajak Yash untu keruang kerjanya setelah selesai sarapan. Alasannya inhin membicarakan hal penting. Nyatanya malah menyuruhnya untuk memilihkan baju untuk wanitanya yang baru. Malah ternyata untuk Mira.
"Untung pilihan asal ku tepat di badan Mira. Jika tidak, ahhh dasar Vikram sialan". Sungut Yash kesal.
Dan di tempat lain. Terlihat lah Vikram yang tengah terduduk santai seraya tertawa membayangkan raut terkejut Yash atas ide cemerlangnya.
Di temani Ram, Jio, Raina, pelayan Rie, dan tuan besar Jonathan . Mereka pun ikut tersenyum atas cerita dari Vikram. Mengenai kedekatan Yash dan Mira. Serta sikap dan tingkah Yash terhadap Mira. Membuat semua orang yang berada di sana berharap banyak akan Mira dan Yash. Terutama Raina. Ia sangat ingin kakaknya jatuh cinta kepada Mira, agar ia dapat mendekati pujaan hatinya yang berada tak jauh di pelupuk mata.
Di dalam mobil yang Yash dan Mira tumpangi. Mereka pun duduk dalam diam. Mira merasa,ada yang aneh pada diri Yash. Ia terlihat diam dengan garis rahang yang mengeras membuat Mira enggan untuk berkata-kata atau berbasa basi untuk mencairkan suasana yang mencekam.
Hari ini juga Yash tumben tidak membawa sopir pribadinya. Dia pun menjemput Mira dengan mengendarai mobilnya sendiri.
Ponsel Mira pun berbunyi cukup keras. Menandakan jika ada panggilan telefon masuk di ponselnya. Saat Mira mengeceknya, ternya itu dari meneger Er yang masih saja terus berusaha untuk menghubunginya.
Melihat itu, Mira pun hanya menghela lelah. Ini yang terkadang membuatnya,tak yakin untuk datang ke acara Wedding Night Erlangga dan nona Martha. Seban saat ini saja Erlangga masih tidak mau menyerah untuk menghubunginya. Mengajaknya bertemu dan berbicara.
Mira takut jika di pesta nanti semuanya akan kacau. Ia pasti akan menjadi tuduhan yang paling kuat bagi semuanya. Harga dirinya dan pekerjaanya di pertaruhkan disana. Dan Mira pun entah akan berbuat apa kedepanya setelah malam wedding Night itu terjadi.
Yash yang sedari tadi diam memperhatikan pun merasa sedikit penasaran akan siapa yang sedari tafi mencoba menghubungi Mira terus menerut namun Mira enggan untuk mengangkat panggilan itu.
"Ekhem...Angkat saja jika itu penting. Biar aku tepikan dulu mobilnya". Ucap Yash seraya menepikan mobilnya.
Namun Mira tidak kunjung mengangkatnya. Ia malah cenderung diam melamun. Seolah nyawanya tidak berada,di sini.
Tampa rasa sopan, Yash pun langsung merebut ponsel Mira yang akhirnya membuat Mira tersadar dengan terkaget.
"TUAN JANGAN". Ucap Mira sesikit keras guna mencegah Yash melihat layar ponsel itu.
Namun usaha Mira kalah saat Yash sudah melihat layar ponsel Mira yang berkedip-kedip menunjukan nama,Menegger Er memanggil.
Seketika Yash pun mengernyit tak suka akan laki-laki pengecut yang bernama Erlangga itu. Dia terkenal lulusan terbaik di jerman. IQ nya juga tinggi dan setara dengannya. Tetapi dia tidak bisa melawan kejahatan dari orang tuanya sendiri. Benar-benar pengecut seperti ayahnya. Membuat Yash semakin kesal saja di buatnya.
"Ksu masih berhubungan dengannya ?". Tsnya Yssh tsjam membuat Mira menggeleng takut.
"Tidak tuan, dia yang selalu berusaha untuk menghubungi ku. Meminta ku untuk menemuinya sekali lagi". Ucap Mira jujur.
"Dan membuat mu celaka untuk kedua kalinya. Heeh benar-benar bodoh. Rupanya dia sangat tidak mengenal siapa ayahnya". Ucap Yash sinis.
"Itu yang saya,takutkan tuan Saya tidak ingin sampai melihat kakakku bersedih. Saya juga tidak ingin berbicara apapun itu dengannya. Sebab bagi saya jika sudah berakhir dan tidak bisa untuk bersama ya sudah. Karena itu sudah takdir dan kehendak dari tuhan. Toh jika sudah jodohnya pasti engga akan kemana. Dan selalu ada,saja jalan untuk bertemu dan bersatu".Ucap Mira penuh denga lapang hati. Membuat Yadh terdiam di tempat.
Ia,pun lalu mengangkat panggilan dari erlangga dan terdengarlah di seberang sana suara Erlangga yang terlihat kacau dan memohon.
"Maaf, untuk saat ini dan seterusnya. Jauhi Mira. Dia hanya milik saya. Urus lah pernikahanmu dengan baik".
Ucap Yash dengan tenang dan meyakinkan. Membuat Mira sedikit terkejud dan jantungnya,seolah ingin lonpat dari tempatnya saat mendengar Yash berkata jika dirinya hanyalah milik Yash.
Sementara Erlangga pun ikut terkejut saat afa suara lelaki lain yang mengangkat panggilan telfonnya dari ponsel Mira. Suara itu terdengar tidak asing baginya. Deolah ia pernah mendengarnya. Namun dimana dan kapan tepatnya ia pun tak tahu.
Erlangga pun tertawa sumpang di atas tempat tidurnya. Dirinya,sangat kacau. Benar-benar kacau. Belum pernah ia patah hati sepatah ini dan sesakit ini. Dia merasa sangat bodoh untuk mempertahankan dan melindungi cintanya. Dan kini hidup tanpa cinta bersama seseorang yang tidak ia cintai membuatnya merasa frustasi. Martha adalah sahabatnya, dan selamanya akan seperti itu. Mira lah cinta sejatinya dan selamanya pun akan seperti itu. Namun Erlangga lupa jika bukan dirinya lah yang dapat membolak balikan hati. Tuhan dan semestalah yang mampu melakukannya.
"Sudah jangan di fikirkan terus. Dia pasti skan berhenti menghubungi mu. Jika tidak berhenti juga. Bilang padaku". Ucap Yash seraya menyerahkan ponselnya. Dan Mira pun menerimanya dengan mengangguk.
Yash pun akhirnya menyalakan mesin mobilnya kembali dan melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah besar Yash.
Dua jam perjalanan, akhirnya Mira pun melihat sebuah gerbang yang tinggi menjulang di depan sana. Dan saat Yash menaruh kelima jari dan telapak tangannya pada layar kecil berbentuk persegi panjang seperti ponsel yang berada di pos gerbang. Tiba-tiba gerbang itu pun terbuka dengan sendirinya membuat Mira sedikit takjub melihatnya.
Dan saat gerbang itu terbuka sempurna, semua pengawal dan bodyguard serta pekerja kebun dan yang lainya pun berjajar di samping kanan kiri halaman menunduk hormat kearah mobil yang Yadh dan Mira tumpangi.
Mira pun merasa kikuk dan bingung akan hal ini. Dirinya merasa seperti seorang presiden atau tuan putri disini.
Dan lebih terkejut lagi saat melihat bangunan megah yang terpampang nyata pada pelupuk mata Mira membuatnya melongo hebat di buatnya.
__ADS_1