Luluh

Luluh
Episode 23


__ADS_3

Dua hari kemudian saat pagi hari Royan di temani dengan sang istri yang tengah menuruni anak tangga rumah mereka menuju ruang makan di buat terkejut saat melihat Mira yang tengah menyiapkan sarapan pagi dengan wajah yang sedikit segar.


Menyadari jiia ada yang datang, Mira pun mendongak kearah tangga dan melihat kedua kakaknya yang tengah berdiri mematung melihat Mira layaknya hantu.


"Pagi kak...". Ucap Mira dengan tersenyum namun tidak sampai matanya.


Mayya pun berlari memutari meja makan kearah Mira dan menghambur memeluk Mira dengan menangis haru.


Akhirnya selama dua hari ini Mira mengurung diri dikamar dengan berdiam seperti kehilangan separuh nyawanya dan hari ini ia keluar juga bahkan sampai menyiapkan sarapan juga seperti biasanya. Hal ini lah yang membuat Mayya sang kakak merasa sedikit lega.


"Maafin kakak Ra. Kakak...". Ucapan Mayya terpotong karena Mira mengurai pelujan erat dari Mayya dan berkata.


"Aku tidak ingin membicarakan ini lagi. Bisa kah kita tidak membahasnya". Ucap Mira dengan Raut memohon. Membuat Mayya langsung mengangguk mrngerti.


Mira pun langsung duduk di meja makannya dengan tatapan dan suasana berbeda. Kali ini Mayya dan Royan merasa ada yang berbeda dari tatapan Mira dan gestur tubuhnya. Tatapanya seolah dingin dan garis wajahnya seolah tegas, dan wajah yang putih pucat seolah mendukung perubahan dari seorang Miranda.


Biasanya walau pun agak kalem, Pandangan Mira seolah hidup, matanya teduh, rona wajahnya selalu terlihat hangat dan senyumnya pun selalu sampai matanya.


Tak lama kemudian keluarlah Ayub dan Lili dengan bercanda ria membuat gaduh suasana yang tadi terasa hening dan dingin.


"Pagi pah, Mah, tante kak Mira". Ucap Ayub dsn Lilu berbarengan seraya mengecup pipi masing-mading orang yang ada disana.


"Pagi sayang". Ucap Mayya dan Royan berbarengan.


Sementara Mira hanya terdiam dengan tatapan kosong.


"kenapa rasanya sulit untuk ku kembali seperti dulu". Batin Mira merasa sedih.


"kak Mira, ". Ucap Lili seraya memegang tangan sang tante dengan lembut. Mira pun langsung menoleh kearah Lili dan Ayub yang tengah berdiri di samping Mira.


Namun tatapan Mira yang terasa berbeda kembali membuat dua anak kecil dan remaja itu merasa aneh dan sedikit takut.


"Ya Lili. Ada apa ?". Ucap Mira singkat.


Lili yang bingung dan takut pun langsung menunduk sementara Ayub mengernyit sekaligus kesal. Kenapa tante baiknya berubah derasti. Seperti bukan tante Miranya yang ia kenal.


Sementara itu Mayya yang paham akan ketakutan Lili pun langsung menghampirinya dengan mengusap puncuk kepala sang anak yang tertunduk sedih.


"Lili sayang, kenapa ko nunduk ?". Tanya Mayya dengan lembut.


"Mah, Lili nakal ya. Ko kak Mira gitu. Kak Mira benci ya sama Lili Hikss...Hikss. Ka Mira marah ya mah". Ucap Lili dengan sesenggukan.


Bagaimana Lili tidak menangis saat merasakan perubahan sikap dari Mira. Dia yang paling dekat dengan Mira, vahkan bayinya Lili pun Mira yang urus. Wajar jika ia menangis dan salah paham atas sifat dari tante yang selalu di panggil kakak olehnya.


"Sttt cup cup cup jangan nangis. Tante Mira engga marah ko. Yuk sini sama mamah dulu". Ucap Maya menenangkan sang anak seraya menggendongnya menjauh dari Mira, Royan dan Ayub.


"Kakak Mira heekk hekk kaa". Rengek Lili di gendongan sang ibu dan menghilang di balik tembok.


Mira yang binging pun hsnya bisa diam dan menunduk. Ia merasa sangat terpukul akan sikapnya terhadap sang keponakan yang sangat ia sayangi itu. Sementara Royan dan Ayub pun hanya bisa diam melihat Mira yang seolah merasa teombang-ambing.


"Akuu...Izin ke kamar". Ucap Mira dan berdiri kemudian berlalu pergi menuju kamarnya di lantai atas.

__ADS_1


Royan pun hanya bisa menghela dengan frustadinya melihat sikap Mira yang berubah itu. Sunghuh ia pun tak tahu harus bagaimans untuk menangani serta mengembalikan keceriaan di wajah sang adik iparnya itu.


"Kenapa tante Mira menjadi seperti itu pah. Ayub ingin tahu coba ceritakan agar Ayub tidak merasa bingung". Ucap sang anak kepada ayahnya.


Royan pun sedikit berfikir dan menimang. Namun biar bagai mana pun usia Ayub terbilang mendekati remaja, dia sudah tahu baik buruknya suatu hal juga benar salahnya sesuatu hal. Akan lebih baik jika ia menceritakannya kepada putra sulungnya. Karena meskipun remaja. Sedari kecil Ayub sudah tahu apa itu dewasa. Dia tahu betul cara menempatkan dirinya. Sifatnya sangat persis dengan dirinya.


"Tante mu mengalami kemalangan nak. Ia memiliki sebuah terahuma. Kau sudah lihat kan luka-luka yang ada di wajah dan sayatan di tangan tante mu itu. Itu semua perbuatan dari orang-orang jahat dan tidak bertanggung jawab". Ucap Royan dengan hati-hati.


"Apa yang melakukan kejahatan itu. Paman yang tempo hari kemari. Yang membawa tante pergi saat hujan rintik ?". Tanya Ayub dengan raut marah.


"Lebih tepatnya Ayah dari paman itu dan orang-orangnya". Ucap Royan memberi tahu.


"Kenapa. Tante Mira orang baik. Dia tidak jahat dia juga tidak pernah marah. Kenapa Ayah dari paman itu sampai tega menyakiti tanteku pah". Ucap Ayub dengan sedikit berkaca.


"Masalah orang dewasa itu sangat rumit nak. Jika nanti kamu sudah dewasa, kamu pasti akan memahaminya. Sekarang papah mohon. Suport tantemu ya, jangan pernah menyerah untuk membuatnya tersenyum. Tante mu butuh kita". Ucap Royan menasihati.


"Iya pah. Ayub janji pah akan menjadi laki-laki yang bertanggung jawab dan melindungi orang-orang yang Ayub sayang. Termasuk tante Mira. Mulai sekarang Ayub mau belajar bela diri pah. Untuk Ayub bisa menolong orang dan melindungi orang-orang yang ayub sayang. Apa papah setuju". Ucap Ayub drngan penuh keyakinan.


"Tentu nak. Asal itu untuk kebaikan pasti papah dukung". Ucap Royan penuh kebanggaan.


"Terima kasih pah". Ucap Ayub dengan senang.


Dari situ Ayub pun bertekad akan membalas semua kesakitan yang tantenya alami nanti. Wajah lelaki yang tempi hari pergi bersama sang tante pun terus Ayub ingat-ingat dan terpatri di kepalanya.


"Tunggu aku paman". Ucap Ayub dalam batinnya dengan penuh dendam.


"Makan sarapan mu, sebelum bus sekolah mu menjemput". Titah Royan kepada Ayub.


Liki yang sudah mereda tangisannya pun ikut sarapan pagi dengan sesenggukan dan murung. Sementara Mayya yang melihat kotak bekal yang berada di atas kitchen set pun langsung mendekat dan memeriksanya.


"Nih tadi tante Mira siapin bekal buat kalian. Ayub kamu ada les tambahan kan nanti terus pasti ada latihan basket kan. Makannya tante mu siapin bekalnya banyak. Nih yang hitam besar ini buat Ayub dan yang pink sedang ini buat Lili". Ucap Mayya dengan cerianya.


"Berarti tante Mira engga marah ya sama Lili mah ?". Tanya Lili dengan mulut penuh dan sesenggukan.


"Engga sayang, tante Mira mana ada marah. Itu tadi tante Mira cuma lagi engga enak badan aja ko. Nanti juga balik ceria lagi. Udah jangan sedih ya Li". Ucap Mayya menenangkan.


"Iya mamah". Ucap Lili dengan ceria.


Dan mereka pun sarapan Pagi dengan khitmad tanpa adanya Mmiranda di sana.


Setelah itu Ayub dan Lili pun berangkat denga bus sekolah. Saat kedua anak itu hendak memasuki bus tak sengaja Lili berbalik menghadap rumahnya dan mendongak kearah jendela panjang lantai dua. Tempat kamar Mira berada. Ayub pun mengikuti pandangan mata sang adik dan terlihat lah Mira yang tengah melihat kearah mereka dari jendela kamar dengan tatapan dinginnya.


Ayub pun menjadi merasa sedih dan kehikangan sementara Lili mengumpat di belakang tubuh Ayub dengan takut.


"Sstt jangan takut Li, ingat kata mamah. tante Mira itu lagi engga enak badan. Ayo kita lambaikan tangan ke tante Mira. Harus tersenyum ya, biar tante Mira cepet membaik". Ucap Ayub dengan lembut dan meyakinkan.


Lili pun mengangguk dan tersenyum dengan tiba-tiba kearah Mira. Ayub pun juga tersenyum tipis dan mereka pun melambaikan tangan dengan cerianya.


Mira yang kala itu pun berusaha untuk ceria demi menyenangkan hati kedua keponakan kecilnya pun hanya bisa tersenyum namun tidak sampai pada matanya. Lalu balas melamba membuat Lili merasa senang dan memasuki bs dengan riang.


Sementara Ayub yang tahu jika tantenya berusaha keras untuk tersenyum pun memandang sedih kearah Mira. Dia pun jadi mengingat ucapan sang ayah mengenai perubahan sikap Mira. Dia pun lalu memasuki mobil jemputan dengan tertunduk lesu.

__ADS_1


Sementara Mira yang tengah melihat bus jemputan sekolah yang kian menjauh pun langsung memerosotkan tubuhnya dengan rasa sesal.


"Ada apa dengan diriku. Mereka tidak bersalah sama sekali. Tetapi kenapa aku justru menghukum mereka dengan sikap ku. Rasanya saat aku ingin berusaha untuk tersenyum seperti biasa. Bayangan lelaki tua itu selalu muncul. Dan perkataannya juga ancamannya selalu terngiang di otak ku". Batin Mira dengan terdiam getir.


TOK TOK TOK


"Ra, kakak boleh masuk ?". Ucap Mayya di balik pintu kamar Mira.


Mira yang tengah terduduk di bawah jendela kamarnya pun terbangun lalu berjalan membuka pintu. Saat pintu terbuka telihat Mayya yang tengah membawa nampan berisi sarapan pagi. Satu piring senwich isi ayam dan sayuran juga satu gelas coklat hangat.


"Tadi kamu belum memakan apapun pas sarapan. Jadi kakak bawain kesini. Boleh kakak masuk ?". Tanya Mayya dengan tersenyum lembut.


Mira pun langsung mengangguk dengan tatapan dingin dan berbalik berjalan kearah kursi ayun berwarna hijau dan duduk disana menghadap jendela yang memperlihatkan keindahan alam.


Mayya pun segera masuk dan berjalan kearah sofa pendek yang terdapat meja kecil di samping kursi ayun. Posisi mira menyamping menghadap jendela sementara Mayya duduk membelakangi jendela namun jika menyamping pun dapat melihat pemandangan di luar.


"Makan dulu Ra, jangan biarin perutmu kosong". Ucap Mayya menasihati.


Mira pun lalu Mengambil satu potong senwich dan langsung memakannya dengan diam. Mayya yang sedari tadi memperhatikan pun merasa memang adiknya sudah benar-benar berubah. Keramahannya hilang, tatapan hangatnya hilang dan senyum lembutnya pun hilang.


Biasanya saat Mayya yang membuatkan senwich kesuoaannya serta coklat hangat dia pasti akan tersenyum senang dan memakannya dengan lahap dan tersenyum senang. Maka setelahnya Mayya pasti akan menjahili sang adik dengan candaan-candaan yang bakal membuat Mira kesal namun tidak sampai hatinya.


Namun sekarang semuanya berubah. Mira menjadi sangat pendiam dan dingin. Tatapan matanya pun terkadang kosong. Dia seolah enggan untuk berbahagia dan Mayya tahu betul apa penyebabnya.


Pasti karena perbuatan dari lelaki yang bernama Fredi Firmansyah itu. Ayah dari Erlangga lelaki muda yang ternyata pengecut.


"Ra, kakak ingin kamu menemui doktee Evan Sanjaya. Dia adalah seorang pesikiater terbakin. Dan ini juga keinginan dari Mas Roy". Ucap Mayya dengan lembut.


"Aku tidak gila". Lirih Mira dengan menunduk.


"No, sispa yang bilang kamu gila. Kakak hanya ingin kamu kesana untuk berkonsultasi. Ra, kamu banyak berubah akhir-akhir ini. Dan kakak merasa takut. Takut jika kamu benar-benar berubah dan menutup diri. Kakak hanya ingin melihat Mira yang dulu bukan yang sekarang. Kakak engga mau kamu berubah dingin seperti ini". Ucap Mayya dengan menangis.


Mira yang sebelumnys tidak pernah mau melihat kakanya menangis justru malah hanya bisa diem menatap kosong kearah lantai. Membiarkan Mayya sang kakak tersedu-sedu.


"Bahkan sekarang kamu membiarkan ku menangis Ra. Sebelumnya kamu paling tidak suka jika melihatku menangis dan mau melakukan apapun untukku. Agar aku tidak lagi bersedih". Batin Mayya dengan rasa sedihnya melihat sang adik benar-benar berubah.


"Kaka akan merasa menyesal seumur hidup kakak jika kami seperti ini. Kakak lah orang yang psling bersalah disini". Ucap Mayya dan lalu pergi dengan tangisannya meninggalkan Mira ysng tengah duduk diam seperti orang bodoh.


Royan yang sedari tadi melihat pun ikut merasa sedih dan bersalah. Jika saja ia tidak termakan bujuk rayuan sang istri dan memerintahkan orang-orangnya untuk membuntuti Mira juga melindunginya dari bahaya apapun. Pasti semua itu tidak akan terjadi. Mira yang telah ia anggap adik kandungnya sendiri pun tidak akan seperti sekarang.


"Aku harus menemui orang itu. Dan memintanya untuk menceritakan semua". Batin Royan dan lalu pergi dari sana.


"Mas mau kemana ?". Tanya Mayya setengah berteriak dari arah tangga. Membuat Royan yang berada di ruang keluarga pun berbalik kearah sang istri.


"Ada urusan penting. Jaga Mira dengan baik. Aku berangkat dulu". Ucap Royan dengan terburu-buru tanpa mengecup sang istri.


"Bahkan suamiku juga ikut berubah sikapnya. Sudah beberapa hari sejak saat Mira pulang dengan keadaan memprihatinkan. Mas Roy seperti sedikit menjauh dari ku". Batin Mayya dengan raut murung.


Tanpa Mayya sadari Mira pun melihatnta dari balik pintu kamar yang sengaja Mira buka sedikit. Karena pada saat ia hendak menutup pintu kamarnya ia mendengar Mayya menanyakan sesuatu dengan sedikit keras dan percakapan serta kemurungan Mayya pun terdengar juga terlihat jelas di mata kepala dan telinga Mira.


Setelah itu Mira pun mulai menimang dan berfikir mungkinkah sikapnya akhir-akhir ini sudah menyakiti orang-orang yang berada didekatnya.

__ADS_1


Karena terlihat jelas di matanya saat Lili menangis karena takut denganya dan Ayub bersedih karena dirinya. Juga kakak dan kakak iparnya yang tengah merenggang karena dirinya. Setelah inih diapa lagi yang akan tersakiti oleh sikaonya. Kak Marko yang sangat ia sayangi, Shila. Nuri, Oji, Imelda temsn kerjanya yang sudah ia anggap seperti keluarga sendiri. Juga Erlangga orang yang ia sukai dan cintai.


Namun Mira merasa tidak sanggup jika harus menceritakan ulang kejadian itu. Dia rasa tidak akan bisa kontrol akan dirinya sendiri jika mengingatnya.


__ADS_2