
Duduk berdua di gadukan halaman rumah, sedikit menjauh dari rumah agar tidak ada yang mendengarkan obrolan meraka. Terutama ke dua orang tua Amel, atau ibunya Amel. Karena Amel tau pasti ibu akan menguping pembicaraan dirinya dan Akbar.
Duduk berhadapan, sambil melihat menoleh melihat jalanan malam yang terlihat sepi. Dan tak ada seorang pun keluar dari rumah. Mungkin memang sudah larut malam. Lampu-lampu dalan rumah hanya sebagian orang yang masih menyala.
Ada rasa canggung di antara ke duanya. Bukan masalah tentang lamaran. Melainkan Amel salah memanggil Atasannya 'Mas' bukan 'Bapak' seperti biasanya. Sedangkan Akbar, entah kenapa hatinya merasa senang Amel memanggilnya Mas. Ingin tersenyum, tapi dirinya malu.
" Maaf Pak." Ucap Amel, memecah keheningan di antara mereka yang sunyi setelah beberapa lama saling diam. Merenungi pikiran masing-masing.
" Maaf? Karena apa?" Tanya Akbar mengerutkan kening. Dan ada sidikit rasa marah kala Amel kembali memanggilnya ' Bapak'.
" Maaf, karena sudah lancang memanggil Bapak seperti tadi." Jawab. Sungguh, dirinya merasa malu dan juga bodoh. Bagaimana bisa memanggil Atasannya dengan sebutan itu.
Bibir Amel benar-benar lancang. Dan takut bila Akbar berpikiran negatif karena panggilan itu. Panggilan yang tak seharuanya dirinya sebutkan pada Atasannya.
" Aku lebih suka kamu manggil aku seperti itu." Jawab Akbar, dengan senyum tipis menghiasi bibirnya. Tentu itu membuat Amel kembali terkejut.
Suka di panggil Mas? Gak marah?" Gumam Amel, lekat menatap manik hitam bola matanya.
" Aku seperti sudah tua saja, kamu manggil aku bapak. Padahal punya anak belum. Apa lagi nikah. Wanita yang di depanku ini belum memjawab." Imbuhnya dengan tawa renyah. Amel hanya bisa bisa berdecak dan ikut tersenyum mendengar gerutuan Akbar.
Kembali terdiam, Amel sungguh bingung harus menjawab apa? Karena tidak mungkin juga menerima secepat itu, hanya karena ke dua orang tuanya merestuinya bila dengan Akbar. Bila di bilang nyaman, tentu dirinya sudah nyaman mengobrol dengan Akbar. Bila di bilang suka, Pastinya Amel suka. Tapi bila di bilang cinta, Amel belum merasa yakin dengan hatinya.
Cinta itu tumbuhnya lama. Dan cinta itu tidak harus dengan kata suka. Karena suka dan cinta itu sangat berbeda.
" Aku tidak memaksa untuk kamu menerima Aku Mel. Tapi niatku emang ingin menikah dengan kamu." Kata Akbar. tidak ada keraguan dalam ucapannya.
" Berikan aku alasan Pak. Kenapa ingin menikah denganku. Apa karena hutang aku sam-,"
" Bukan karena itu." Jawab cepat Akbar. Rasanya marah bila Amel mengungkit hutang. " Karena aku mulai nyaman dengan kamu." Imbuhnya.
Nyaman?
Sama seperti dirinya. Ada kenyamanan sendiri dekat dengan Akbar. Tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Tapi memang rasanya tenang saja, setiap kali dekat dan mengobrol bersama dengannya. Meskipun tidak pernah keluar bersama.
__ADS_1
" Kita gak saling cinta. Bagaimana bisa kita menikah."
" Cinta memang tidak bisa di paksa. Tapi apa salahnya kita mencoba saling mengenal. Saling mencinta tanpa lewat pacaran." Ucap Akbar.
Tanpa pacaran?
Seperti Taaruf. Apa itu artinya, mencintai lewat cara yang halal. Rasanya tidak mungkin. Karena dirinya bukan wanita sempurna seperti wanita jeblosan pondokan. Dirinya wanita luaran, yang terbilang bebas tapi masih bisa menjaga kehormatannya. Tanpa harus memakai jubah atau penutup cadar.
" Bagaimana dengan keluarga Pak Akbar?" Tanya Amel.
Keluarga?
Tersenyum kecut, tentamg bagaimana keluarganya. Akbar, sendiri jarang sekali pulang ke rumah orang tuanya. Bukan berarti tidak sayang. Hanya saja, rumahnya seperti sudah asing baginya. Tidak ada kenyamanan di dalam rumah ke dua orang tuanya. Hanya ada pertengkaran dan pertengkaran.
Semenjak Akbar mengungkapkan kekesalahan pada ke dua orang tuanya. Mamanya, kini lebih sering datang ke rumah dan menginap sesekali di rumahnya, membuatkannya makanan dan juga mulai sedikit perhatian padanya.
Ada rasa senang dan bahagia wajah mama tidak lagi seperti dulu. Sedikit lebih tersenyum dan juga terlihat damai, serta cantik meskipun tidak muda lagi.
" Besok kamu kerja masuk apa?" Tanya Akbar.
" Pagi. kenapa?" Tanya balik Amel mengerutkan kening menatapnya.
" Pulang dari kerja ikut aku, Kita ke rumah orang tu ku. Aku akan mengenalkan kamu dengan mereka." Jawabnya. Membuat mata Amel melebar sempurna mendengarnya.
****
" Ciye ciye... Yang sedang lagi jalan sama Sigit? Gak ngajak-ngajak lagi ke pacet." Senggol Sari, di pagi hari kala membersihkan meja tamu.
" Di minta tolongin Yanna. Nemenin adiknya jalan-jalan." Jawab Amel, dirinya baru tau bila Sigit memposting fotonya bersama Sigit aplikasi chat.
Adik sahabatnya itu, memposting semua foto yang di abadikannya termasuk foto dirinya. Yang diam-diam sigit memfotonya dari samping tanpa minta ijin darinya.
" Gimana anaknya?"
__ADS_1
" Gimana apanya?" Tanya balik, mengerutkan kening. Tidak mengerti maksud Sari apa dan masih setia membersihkan meja-meja.
" Maksudku sama kayak Yanna gak. Kelihatannya Sigit ceriwis banget." Jelas Sari, mencoba memahami sifat Yanna dan Sigit. Yang lebih banyak pendiam Yanna dan Sigit lebih banyak bicaranya.
" Namanya juga masih remaja menuju dewasa. Pasti ya banyak omongnya. Apa lagi gencar-gencarnya pengen cari pacar. Gombal terus."
Sepertinya memang benar, Sigit terbilang cowok banyak bicara tapi juga sangat perhatian. Ide apa saja bisa membuat Amel tertawa mendengar celotehannya. Lain dengan kakaknya, Yanna.
" Pernah di gombalin? kalau tu anak chat aku, selalu gombal terus. Bikin ngakak." Tawa renyah Sari, mengingat gombalan Sigit saat berbalas chat.
" Enggak?" Geleng Amel. " Kan aku gak pernah balas chatnya malahan." Imbuhnya.
" Oh iya.. Sigit juga pernah bilang gitu. Kamu gak pernah balas chatnya. Kamu terlalu sibuk sih Mel! Chat aku sama anak-anak juga jarang kamu balas. Mangkanya kamu sulit sekali dapat pacar. Orang kamunya cuek kayak gitu!" Gerutu Sari.
Hanya Amel saja, temannya yang satu ini memang terlihat cuek dengan para lelaki dan sangat sulit sekali di dekati. Kebanyakan dari mereka mundur dan mencari wanita yang mudah terbujuk rayu.
Seperti dirinya.
Tapi juga masih bisa menjaga diri dari lelaki hidung belang. Ya, meskipun dirinya dari tiga temannya paling cengeng dan manja sekali.
" Nanti juga datang sendiri jodohnya." Gumam Amel. " Udah kerjaan banyak, jangan ngobrol melulu." Imbuhnya, melangkah pergi menuju ruang dapur dan kembali berkutat dengan pekerjaannya. Dengan hatinya semakin berdebar.
Berdebar karena beberapa jam lagi akan bertemu dengan orang tua yang telah melamarnya. Menolak pun tidak bisa, entah kenapa. Akbar benar-benar serius dalam hubungan ini atau hanya sekedar menunjukkan rasa kasihan saja.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃
__ADS_1