Luluh

Luluh
Episode 26


__ADS_3

Hari berikutnya Mira yang baru saja menyelesaikan pekerjaanya di hampiri oleh keempat temannya secara berbarengan.


"Miranda". Sapa ke empat orang itu berbarengan.


Mira yang tengah duduk di kursi dengan bersender lelah pun langsung menegakkan tubuhnya saat mendengar sapaan dari keempat teman kerjanya.


"Makan siang bareng yuk ney". Ajak Oji dengan tingkah kemayunya.


"Iya Ra yuk cepetan berdiri. Kita-kita lagi pengen ranen nih". Ucap Imelda seraya mengelys perutnya.


Mira yang pecinta pedas dan sangat menyukai makanan yang di sebut oleh Imelda pun langsung menjawab cepat.


"Boleh lah yuk". Sahut Mira dan berdiri.


Keempatnya pun tersenyum senang saat Mira setuju ikut dengan mereka dan akhirnya sampai lah mereka di salah satu kedai ramen terkenal di ujung jalan dekat butique tempat mereka bekerja. Dan mereka pun naik motor berboncengan. Shila dengan Mira menggunakan si merah motor metik milik Mira, Imelda berboncenga dengan Nuri menggunakan motor N-max putih milik Oji, sementara Oji menggunakan motor metik skupi merah milik Nuri.


Saat sudah sampai dan memesan makanan masing-masing mereka pun menunggu dengan berselfi-selfi ria di tempat dan langsung diunggah di medsos Shila yang sudah banyak folowersnya sebab Shila walau pun tomboy namun cantik dan berponi mirip salah sati personil blackpink yang terkenal itu.


Dan tanpa mereka sadari Jio yang tengah iseng bermain medsos di ponselnya pun melihat postingan Shila yang tengah berfoto ria bersama teman-temannya. Dan mulai fokus pada wajah Mira yang sedikit tersenyum di sebelah Shila.


"Tuan, nona Mira tengah makan siang bersama teman kerjanya di kedai ramen tak jauh dari tempat kerjanya". Lapor Jio kepada Yash seraya memperlihatkan foto yang tengah Jio dapat.


Yash pun tersenyum simpul dan langsung menyerahkannya kepada Vikram yang tengah duduk melamun di kursi mobil Yash.


"Wanita yang berada di tengah diantara wanita berponi dan pria kemayu itu adalah seseorang yang bernama Miranda". Ucap Yash menjelaskan.


Vikram pun mulai melihatnya dengan mata tajam dan seolah tengah meneliti. Ia pun lalu tersenyum manis seraya mengusap dagunya.


"Cantik". Ucap Vikram dengan nada tertarik.


"Pantas saja kau tertarik Yash. Dia mirip dengan mendiang ibu sambungmu. Kau fikir aku tidak bisa melihatnya. Dasar idiot". Batin Vikram sedikit mengejek.


Meskipun tidak bisa di katakan mirip seratus persen. Namun Vikran dapat melihat senyum dari wanita bernama Miranda pada foto itu yang benar-benar sedikit teduh dan anggun. Meski tidak lama mengenal mendiang ibu sambung dari Yash. Namun Vikram tahu betul akan sosok mendiang dari ibu sambung Yash itu.


Dam dalam satu kali melihat. Vikram sudah tahu jawaban dari pertanyaanya yang selama ini ia pendam tentang mengapa seorang Yash yang begitu sangat mencintai adiknya tanpa ganggu gugat bisa sepeduli ini dengan seorang wanita lain selsin adiknya. Jika Yash menjawab karena hutang budi. Maka itu adalah jawaban yang menggelikan bagi Vikram.


Yash dengan sikap dan sifat dinginnya, keangkuhannya dan ucapan pedasnya. Bukan begini cara seorang Yash nembalas budi demi adiknya. Vikram taahu betul. Di tambah lagi saat Vikram melihat rekaman video Yash dan Mira saat menari bersama divpesta gedung itu. Sebelem menyentuhnya wanita yang bernama Miranda ini sudah di pastikan kabur duluan saat melihat mata tajam dan sikap dingin Yash.


Yash yang melihat sahabatnya itu tersenyum sendiri memandangi foto Mira pun langsung menendang tulang kening Vikram dengan kuat dan sukses membuat Vikram langsung memejam menahan ngilu.


"Pantas saja kekasihmu itu cepat berpaling. Kau itu buaya karatan rupanya". Ucap Yash dengan mendelik tajam.


"Ck aku hanya melihat saja. Begitu saja cemburu". Ucap Vikram dengan menggerutu.


"Siapa ?". Tanya Yash tajam.


"Kau..". Ucap Vikram santai.


Membuat Yash langsung menatap Vikram dengan sengit dan tajamnya.


"Vikram Davis Lattore. Aku tidak ada rasa cemburu sedikit pun. Kau ingat itu baik-baik". Ucap Yash dengan menggertak.


"Baik lah, kalau kau tidak cemburu ya bagus. Aku dan Mira kan sama-sama patah hati. Siapa tahu kita jodoh mungkin". Ucap Vikram dengan tersenyum menggoda. Membuat Yash semakin menatap sengit.


"Jangan macam-macam dengannya Vik. Kau akan berurusan dengan ayahku dan aku jika...". Ucapan Yash terpotong saat Vikram menyela dengan santai.


"Yaah, kalau begitu aku akan mendekati adikmu saja. Ohh Rain ku hujan ku yang manis". Ucap Vikram dengan melow membuat Yash langsung menendang kaki Vikram lagi.


"Rain itu miliku". Ucap Yash dengan nada dingin.


"Ck kau ingin mengikuti jejak paman Jo ya. Berisitri dua. Hhhh serakah sekali". Ucap Vikram dengan memberengut.


"DIAM dan tutup MULUTMU". Gertak Yash tanpa bantahan. Membuat Vikram tersenyum lebar dibuatnya.


Memang sangat menyenangkan jika membuat seorang Yash kesal apa lagi cemburu. Sampai muka dan telinganya benar-benar terlihat merah.


Dan mobil yang di tumpangi mereka pun melaju dengan krcepatan sedang menembus jalan menuju kearah kedai ramen tempat Mira berada saat ini.


Sementara di kedai, Mira dan teman-temannya pun tengah menyantap ramen dan segala cemilan berat lainnya di meja. Shila, Mira dan Nuri memilih ramen tomyam ekstra pedas dengan telur setengah matang juga odeng dan sosi di dalamnya. Sementara Oji dan Imelda memilih ramen original dengan telor matang sempurna juga odeng dan sosis. Di temani dengan es teh segar dan shusi berisi nasi, potongan wortel setengah matang, telur dadar yang hampir matang dan sosis di balut dengan nori original. Tak lupa pula dengan goreng kentang bumbu original.


Merekapun makan dengan nikmat dan sangat lahap mengingat perut mereka yang sudah berkeroncong ria meminta di isi.


Cara makan Mira yang begitu lahap dan penuh pun sudah di lihat sedari tadi oleh keempat pria yang tengah duduk sambil makan pula dengan topi hitam yang menutupi muka keempatnya.


"Menggemaskan sekali cara makannya. jadi ingin gigit tuh pipi". Ucap Vikram seraya menyender santai.


"Makan saja makananmu Vik". Tegur Yash dengan tajam. Membuat Vikram lagi-pagi tersenyum dibuatnya.


"Baik lah, aku juga sudah sangat lapaaaar". Ucap Vikram dan lalu memakan ramen pedas yang ia pesan.


Saat suapan pertama mata Vikram pun melotot merasakan ramen yang kurang ajar enaknya. Ia pun lalu memakannya lagi dengan lahap seperti orang yang tidak makan dua hari.


"Woaah ternyata ramen disini benar-benar enak dan gurih. Aku suka ini woaah". Ucap Vikram dengan girang membuat Yash sedikit tersenyum kecil.


"Mira memang pintar memilih tempat yang bisa memanjakan lidah dan perut". Batin Yash berucap.


Sementara Jio dan Ram pun ikut membenarkan ucapan dari tuan Vikram tentang ranen yang tengah mereka makan. Rasanya memang benar-benar enak.


Setelah mereka selesai makan Yash pun menyuruh Jio untuk melakukan tugasnya dan Yash pun menunggu di mobil bersama Vikram dan Ram.


"Aku akan ketempat ini lagi besok. Dan ini akan menjadi tempat faforitku titik". Ucap Vikram dengan senang membuat Yash sedikit mendengus dan Ram tersenyum maklum.


Di lain tempat saat Mira dan teman-temannya hendak pergi membayar di kasir. Jio yang baru selesai membayar pun berbalik menghadap kearah Mira yang tengah menunduk mencari dompetnya pada tas gendong kecil yang tengah ia gunakan.


"Nona Mira". Sapa Jio dengan sopan.


Merasa namanya di sebut. Mira pun mendongak menatap seseorang yang menyapanya begitupun dengan keempat temannya yang penasaran.


"Jio..Kau disini ?". Tanya Mira dengan sedikit heran.


"Iya nona. Ada yang ingin saya sampaikan". Ucap Jio memberi tahu.


"Apa ?". Tanya Mira dengan sedikit bingung.


"Tuan muda Yash ingin bertemu dengan anda di mobil hitam itu nona". Ucap Jio seraya menunjuk mobik alpard hitam yang berada di luar kedai.


Keempat teman Mira pun melongo saat tahu bahwa Mira mengenal asisten pribadi dari tuan nuda Leonard itu. Dan mendengar jika tuan muda yang terkenal dingin itu ingin bertemu dengan Mira.


"Pesona seorang Mira memang luar biasa. Baru bermakeup dua hari saja sudah ada yang tertarik. Seorang tuan muda pula. Wah wah amazing". Pikr Nuri dengan tersenyum senang.


"Beehh mujur bener ya Mira. Patah hati dari anak seorang pengusaha ehh disamperin sama seorang tuan. Muda lagi ya ampuun". Pikir Shila merasa beruntung untuk seorang Mira.


"Wuh ney, ini laki siapa ya. Guanteng banget ney ya ampuun. Mana tinggi, putih , kekar. Uuuh mau dong godain uke semee". Batin Oji dengan genit.


"Wih roman-romannya Mira gampang move on nih. Emang ya kalo orang baik pasti ada aja keberuntungannya" . Batin Imelda merasa senang.


"Emm nanti ya Jio. Aku mau bayar dulu". Ucap Mira dan hendak melangjah namun di tahan oleh Jio dengan merentangkan tangan.


"Maaf nona jika saya lancang. Tapu pesanan anda dan teman-teman ada,sudah dibayarkan sekalian oleh tuan muda". Ucap Jio memberi tahu. Membuat Mira dan keempat temannya pun melongo kaget


"Ya udah Ra, temuin saja gih. Ngga baik loh membuat seorang tuan nuda menunggu" . Ucap Imelda dengan lembut dan diangguki setuju oleh ketiga temannya.


Mira pun mengangguk setuju akhirnya dan membuat Jio tersenyun lega dibuatnya..


"Saya titip motornya nona Mira ya. Kemungkinan nanti tuan yang akan mengantar nona Mira". Ucap Jii meminta izin.


"Iya tuan engga apa-apa. Sampaikan terimakasih kita ya tuan untuk tuan muda atas teraktirannya di makan siang ini". Ucap Imelda dengan sopan.


"Tentu. Mari nona saya antar". Ucap Jio mempersilahkan Mira dengan sopan membuat Mira pun berjalan dengan canggung kearah mobil yang Yash tumpangi disusul dengan Jio dibelakang.

__ADS_1


Sesampainya di mobil Mira pun mulai memasuki mobil itu dan duduk di kursi tengah mobil di samping jendela lalu pintu mobil pun tertutup. Saat ia melihat keseluruh ternyata di dalam mobil itu tidak hanya hanya ada Yash saja. Namun ada dua pria asing berparas ketimuran yang tengah duduk yang satu yang memiliki mata sedikit coklat gelap melihatnya dengan tersenyum ramah dan yang satu yang beriris hitam legam hanya mengangguk hormat.


Mira pun lalu melihat kearah Yash yang tengah duduk santai seraya menikmati kebingungan yang kentara di wajah ayu Mira.


"Perkenalkan, kedua orang ini bernama Vikram Davis dan Raman kumar asisten pribadi dari Vikram. Ingat dengan yang ku ceritakan tempo hari di warung mang ujang. Vikram Davis Lattore". Ucap Yash memperkenalkan juga mengingatkan Mira.


Vikram pun sedikit mengernyit lucu. Mengingat jika baru kali ini seorang Yash berbicara banyak dengan seseorang...Wanita dengan santainya.


Mira pun mulai mengingat-ingat dan setelah ia mmenemukan ingatan waktu sang tuan muda bercerita banyak dengan sadar tentang teman-temannya dan keluarganya. Mira pun langsung mengangguk mengerti.


"Senang bisa bertemu dengan anda tuan muda Lattore". Sapa Mira dengan sopan.


"Senang bisa berjumpa dengan anda nona Mira. Rupanya Yash telah begitu banyak bercerita ya tentang ku ". Ucap Vikram meninmpali.


Yash pun sedikit mengernyit akan ucapan jumpa yang di ucapkan oleh Vikram yang menunjukan bahwa ia pernah bertemu dengan Mira,sebelum ini. Namun jika dilihat dari ekspresi wajah Mira yang terlihat biasa saja membuat Yash semakin mencurigai Vikram si pria buaya karat.


"Aku akan membawamu ketempat seseorang. Kau pasti akan senang nanti". Ucap Yash kepada Mira. Membuat Mira seketika langsung memandang Yash dengan tatapan penasaran.


"Kenapa melihatku seperti itu ?". Tanya Yash saat tatapan Mira tak henti-hentinya tertuju pada Yash.


Mira pun langsung menunduk mengalihkan pandangannya kearah bawah dan lalu beralih memandang jalanan kota di samping jendela.


"Tapi tuan, saya belum meminta izin kepada madam Ghi dan nona Martha. Saya sudah sering sekali tidak masuk kerja. Jika kali ini saya membolos lagi maka saya,akan dipecat dari pekerjaan saya". Jelas Mira dengan tatapan bingung.


Jika menolak ajakan dari sang tuan muda maka sudah di pastikan akan berbahaya baginya dan jika meiyakan ajakannya maka tamarlah riwayat pekerjaanya. Dan ternyata perumpamaan bagaikan buah simalakama itu benar adanya. Ia bahkan tengah merasakannya sekarang.


"Kau tenang lah. Semuanya sudah ku atur. Tidak ada yang berani menentang kemauan dari ku termasuk bosmu dan putri bosnu itu". Ucap Yash dengan sedikit angkuh.


Dan percakapan dari kedua insan itupun tak pernah luput dari pandangan Vikram. Vijram seperti benar'benar melihat Yash yang dulu. Yang cerewet dan sedikit pemaksa.


"Sepertinya kau sangat takut sekali dengan bos mu dan putri bosmu itu Mira. Apa mereka sangat kejam padamu. Dan jika iya alasannya karena apa ?". Tanya Vikram mencoba menimbrung obrolan.


"Tidak tuan. Nona Martha dan Madam Ghina itu sangat baik mereka hanya bersikap tegas dan profesional saja". Ucap Mira menutupi.


Yash yang mendengarnya pun hanya tersenyum sinis dan merasa jija Mira adalah perempuan terbodoh yang pernah ia temui dan ia pun nerasa sangat kesal dibuatnya. Sebab dari cara lelahnya Mira waktu itu dan ceriTTSa dari sang kakak yang melihat Mira selakubpulang kerja larut dan terlihat lusuh dan lelah. Membuat Yash bisa menyimpulkan seperti apa kerja dari seorang Mira.


Vikram yang melihat betapa kesalnya seorang Yash akan ucapan bohong Mira pun tentu mengerti betul. Mana mungkin seorang iblis betina seperti Ghina itu baik.


Akhirnya mobil itu pun sampai di perumahan yang sangat aseri dan sejuk. Lebih sejuk dari tenpat Mira dan kakaknya,tinggali.


Mereka pun semua turun dari dalam mobil dan langsung disambut oleh seorang pria dewasa berkaca mata yang usianya kira-kira hampir sama dengan tuan Yash namun masih terlihat fres dan segar.


"Selamat siang tuan muda,Yash, tuan Vikram, Jio, Ram, dan.....?". Ucap sang pria yang menggantungkan ucapannya saat melihat Mira.


"Dia Miranda Nur". Ucap Yash memperkenalkan.


"Ooohh salam kenal ya Mira. Saya Jodi Fernandes. Teman sekolah Yash dulu". Sapa Jodi mmmemberi tahu.


"Mari masuk kita duduk-duduk di gazebo belakang rumah yah. Biar lebih nyaman". Ajak Jodi dengan tersenyum ramah.


Mereka semua pun ikut masuk mengikuti langkah Jodi menuju ke gazebo rumahnya. Sesampainya disana Mira sesikit tertegun melihat gazwbo yang begitu indah dan mewah. Di tambah dari kejauhan terlihat hamparan air yang mengalir tenang.



Mereka pun lalu duduk di kursi masing-masing. Yash berdampingan dengan Mira di temani Jio yang berdiri sigap di belakang kursi yang Yash dan Mira duduki. Vikram duduk dengan santai di kursi seberang Mira dan Yash di temani Ram yang sama seperti Jio yang berdiri tegap di kursi belakang Vikram. Sementara Jodi duduk di kursi samping Mira dengan sendiri dan santai.


"Kau suka dengan suasananya Mira ?". Tanya Jodi ramah. Yang sebenarnya untuk memastikan kenyamanan dari Mira agar dapat menjalankan misinya.


"Ya tuan, suasananya sangat menenangkan. Suara anginnya, bau udaranya dan keindahan alamnya dapat menyejukan mata". Ucap Mira dengan sesikit tersenyum canggung.


"Syukur lah jika kau merasa demekian". Ucap Jodi senang.


Tak lama kemudian datang lah dua orang pelayan yang mengantarkan minuman teh hijau hangat serta beberapa camilan kue basah dan kering. Setelah kedua pelayan itu selesai menata suguhannya dan berlalu pergi dengan langkah menunduk sopan Jodi pun lalu mempersilahkan kesemuanya untuk meminum teh hijau buatan sang istri.


"Mari diminum dulu. Ini teh hijau buatan istri saya loh". Ucap Jodi dengan bangga.


"Sure sweety. Apa kau ingin mendaftar menjadi yang kedua". Goda Jodi dengan senyum manisnya. Membuat Mira langsung menggeleng dengan sedikit cemberut.


Dan Jodi pun tertawa dibuatnya saat melihat ekspresi Mira dan Yash yang seolah-olah tengah memperingatinya untuk tidak bermain-main arau bersungguh-sunggih atas ucapannya itu.


"Aku hanya bercanda sweety. Relax ok". Ucap Jodi tersenyum.


"Emmh lalu dimana istri tuan. Kenapa dia tidak ikut bergabung ?". Tanya Mira penasaran. Dan lagi-lagi Jodibpun tertawa dengan lucu.


"Sedang beristirahat Sweety. Aktifitas malam yang melelahkan membuatnya tidak bisa bangun sampai siang ini". Ucap Jodi dan tersenyum penuh makna. Membuat Mira sedikit memerah akan maksud dari ucapan Jodi.


"Ahh, sepertinya aku salah bertan,ya". Batin Mira merasa tak enak.


"Terlalu sering aktifitas ranjang bisa memicu kebobolan loh". Ucap Vikram santai.


"Sengaja, biar bisa ngalahin gen halilintar". Ucap Jodi tak kalah santai membuat Mira dan kesemuanya meringis ngeri.


"Itu anak atau peternakan jod ". Ucap Vikram dengan muka dipoloskan.


Dan Jodi pun hanya tertawa menanggapi ucapan dari si kancil mafia itu. Dan ia pun kembali menghadap kearah Mira dengan tatapan serius.


"Jadi Mira, apa kau sudah tahu kenapa kau diajak kemari oleh Yash ?". Tanya Jodi seraya membetulkan kacamata bacanya.


Mira pun sedikit berfikir sejenak dan menggeleng saat tidak menemukan alasan apapun. Karena saat ia bertemu dengan Yash. Dia langsung di bawa kemari.


"Jadi boleh aku memperkenalkan diriku dengan detail kepadamu ?". Tanya Jodi dengan serius dan dibalasi anggukan oleh Mira.


"Namaku Jodi Fernandes. Aku adalah seorang ahli sikolog dan psikiater. Tuan Yash memintaku untuk bisa membantumu. Karena ia yakin kau memiliki terahuna terswndiri atas kejadian itu. Benar ?". Ucap Jodi memberi tahu.


Mira pun sedikit tertegun akan ucapan dari Jodi. Dan ia pun lalu melihat kearah Yash dengan mata terluka.


"Saya tidak gila. Mengapa anda setega ini kepada saya tuan". Ucap Mira dengan mata berkaca dan raut penuh emosi.


Membuat Yash terdiam di tempat seraya melihat ekspresi Marah Mira yang terlihat sangat menarik di mata Yash. Ada rasa iba, kasihan, lucu dan senang bercampur jadi satu dalam diri Yash.


"Aku tidak menganggapmu demikian. Aku hanya ingib membantumi untuk lepas dari rasa terahumamu. Karena itu tidak baik jika tidak ditangani dengan benar.". Ucap Yash dengan dingin.


"Lihat ini...". Tunjuk Yash pada wajah Mira.


"Wajah ini terlalu banyak berubah. Lihat mata ini. Dia tidak lagi memancarkan keteduhan dan bibir ini. Tidak lagi menampilkan senyum tulus. Semuanya hanya keterpaksaan yang mengakibatkanmu menjadi lain dari biasanya". Ucap Yash dengan raut frustasi.


"Itu bukan urusanmu". Ucap Mira dengan nada,dingin dan beranjak pergi.


"Apa kau tidak kasihan melihat kakakmu dan kakak iparmu serta kedua keponakanmu yang bersedih akan sikap mu itu. Kau menjadi orang lain dalam waktu singkat". Seru Yash dari kejauhan membuat Mira menghentikan langkahnya seketika.


"Aku tahu ini bukan urusanku. Aku memang seharusnya tidak melakukan ini dan tidak perlu peduli. Jika saja kau tidak dianggap putri kedua oleh ayahku, jika saja Raina tidak akan pernah menyayangimu. Dan jika saja aku tidak mengenalmu sebagai Mira. Si penyelamat hidup adikku. Tentu aku tidak akan pernah peduli akan itu". Ucap Yash seraya berjalan maju mendekati Mira.


Saat Yash sudah berada tepat di hadapan Mira. Ia pun melihat lurus kearah manik mata Mira yang terlihat penuh kebimbangan yang kentara.


"Pikirkan baik-baik Mira". Ucap Yash seraya mununjukkan kepalanya melalui jari telunjuk lalu menurunkannya,dan menyilangkan kedua tangannya dia atas dada.


"Fikirkan orang-orang yang kamu sayangi. Mereka tidak tahu apa-apa. Namun kau hukum mereka dengan sikapmu. Kakak perempuanmu juga terlihat sangat tersiksa. Dan bayangkan saja jika hal ini sampai ketelinga kakak pertama mu Marko Manuel". Ucap Yash sedikit menggertak.


Mira pun sedikit tersentak kala nama kakak pertamanya disebut oleh Yash. Ia merasa takut akan amarah kakaknya yang bisa saja tak terkendali. Mira tahu dirinya teramat sangat disayangi oleh kakak pertamanya itu. Terakhir kali kakaknya marah dengan membabi buta kala ia di buli oleh teman-temannya saat tahu kakaknya adalah seorang Marko Manuel. Saat itu tiga siswa terluka parah dan satu orang siswa mengalami koma. Dan saat itu pula tak ada lagi yang mau dekat dengannya atau pun menyapanya. Sehingga ia pun terpaksa pindah sekolah dan menutupi asal usul keluarganya. Dan para muridcdi sekolah barunya hanya tahu bahwa Mira adalah murid pindahan karena beasiswa, yatim piatu dan hanya memiliki satu orang kakak perempuan sebagai walinya.


Mengingat hal itu Mira pun langsung memejamkan matanya dan tak terasa butiran kecil yang keluar dari sudut matanya pun turun membasahi pipi pucat Mira yang sedikit menirus.


"Tolong jangan katakan hal ini kepada kak Marko. Saya tidak ingin kak Marko menjadi kalap dan menyakiti banyak orang. Saya tidak ingin kakak ku menjadi seorang pembunuh". Ucap M8ra dengan menangis.


DEG


Jantung Yash seakan berhenti kala Mira berkata jija ia tidak ingin kakaknya nenjadi seorang pembunuh. Hati Yash nerasa sangat bersalah.


"Sayangnya hal itu benar-benar sudah terjadi. Demi membantuku dan memberi balasan untukmu. Ia sampai membuat mobil Helena terbalik dan meledak di dalam jurang. Dan kini ia pun harus pergi dari satu tempat ke tempat lain demi menghindari kejaran dari Yosa Maravin yang siap menuntut balas". Batin Yash dan menunduk.

__ADS_1


Yash pun memberanikan diri untuk menyentuh telapak tasngan kanan Mira dengan lembut. Berusaha sekuat mungkin agar Mira tidak merasa terkejut dan takut. Dan kehangatan dari sentuhan tangan Yash membuat Mira sedikit tenang dan menatap lurus kemanik mata Yash.


"Maka dari itu, aku membawamu ke mari untuk berkonsultasi dengan Jodi. Kau juga di perlukan oleh Vikram untuk suatu hal". Ucap Yash memberi tahu.


"Suatu hal apa ?". Tanya Mira penasaran.


"Nanti Vikram yang akan bicara. Jadi, maun kan kamu menjalani konsultasi dengan Jodi. Raina dulu sempat sepertimu. Dia juga ada terahuma akan sentuhan yang memaksa dan mengejutkan. Dan ia sudah mulai pulih". Ucap Yash dengan lembut.


"Tidak ada yang menganggapmu gila. Dan jika kamu dianggap gila oleh ku. Aku tidak mungkin membawamu kemari". Ucap Yash meyakinkasn.


Setelah lama terdiam akhirnya Mira pun mengangguk memberanikan diri untuk berkonsultasi kepada Jodi dan siap menceritakan segakanya.


Yash pun tersenyum senang dalam hatibya ia ingin sekali memeluk Mira sebagai ungkapan rasa senangnya. Namun ia tepis saat menyadari bahwa Mira bukan Raina. Dia hanya teman saja bukan seseorang yang ia cintai.


Yash pun akhirnya menggandeng Mira dan bejalan kembali menuju gazebo. Yempat di mana Jodi, Vikram dan yang lainnya berada.


Dari kejauhan pun Vijram dan Jodi merasa jika Yash dan Mira itu cocok. Mereka sama-sama memiliki ketertarikan namun tidak saling mengetahui satu sama lain. Yash dengan kekehannya mencintai adik kandungnya dan Mira dengan tidak tahuannya akan hal ini.


"Kau merasa yakin tidak jika mereka tidak saling suka. Yash benar-benar berbeda memperlakukan Mira dengan gafis lain selain Raina". Ucap Jodi bertanya kepada Vikram.


"Aku juga merasa begitu. Hmmm mau taruhan denganku ?". Tanya Vikram dengan tersenyum licik.


"Apa ?". Tsnya Jodi menantang.


"Menurutmu dalam satu tahun mereka akan menikah atau berpacaran ?". Ucap Vikram dwngan alis terangkat satu.


"Hmm...Satu tahun ya ?". Ucap Jodi nampak berfikir.


"Menurut ku berpacaran. Karena tidak lah mudah untuk meluluhkan hati seorang Yash". Ucap Jodi yakin.


Vikram pun tersenyum senang atas jawzban dari Jodi dan matanya pun berbinar kejam saat otak jahilnya bergrilya.


"Dan jika menurutku mereka akan menikah". Ucap Vikram santai.


"Karena jika tidak begitu aku yang akan menikahi Mira. Lihat saja nanti". Ucap Vikram dengan percaya diri penuh.


"Aiiss dasar buaya kancil". Batin Jodi merasa kesal.


"Lalu taruhannya apa ?". Tanya Jodi penasaran.


"Jika aku yang benar maka kau harus menyerahkan vila ini padaku. Dan jika kau yang benar maka aku akan menyerahkan Mansionku yang berada di mombai untukmu". Ucap Vikram telak membuat Jodi sedikit tergiur senang.


"Deal..". Ucap Jodi dengan penuh percaya diri dan Vikram pun tersenyum senang.


"Tunggu tanggal mainnya Jodi". Batin Vikram dengan tersenyum licik.


Yash dan Mira pun akhirnya duduk kembali di gazebo dengan berdampingan. Mira pun menunduk takut serta canggung.


"Tak apa Mira. Hal ini sudah biasa terjadi. Kau masih tergolong biasa bagiku. Ada satu pasienku yang awslnya menolak dengan mengamuk hingga harus ku kadih obat penenang dan menjalani terapi yang cukup panjang". Ucap Jodi dengan tersenyum ramah.


"Sebelum memulai. Aku ingin berbicara dengan mu Mira". Ucap Vikram dengan raut serius.


Mira pun melihat kearah Vijram dengan rau penuh tanya yang kentara di wajahnya.


"Aku tahu kau swmpat dekat dengan Erlangga calon suami dari Martha. kekadihku, oh tidak mantan kekasihku tepatnya". Ucap Vikram memberi tahu. Membuat Mira sedikit terkejut mendengarnya.


"Jadi tuan ini kekasih nona Martha yang menghilang itu ?". Tanya Mira merasa tak percaya.


"Apa Martha bercerita seperti itu kepadamu ?". Tanya Vikram dengan nada,dingin.


"Ti...Tidak tuan bukan nona Martha. Tetapi Meneger Er yang bercerita. Nona Martha sangat terpukul saat tahu anda menghilang di malam aniversary yang ke dua tahun. Anda sulit di temui saat itu dan meneger Er adalah sahabat masa kecil nona Martha. Ia mengadukan segalanya ke meneger Er". Ungkap Mira memberi tahu.


"Kapan dia bercerita kepadamu. Setahu ku kau jarang bertemu dengannya". Ucap Yash dengan lirikan tajam.


"Di telfon lah...Tunggu. Dari mana tuan tahu kalau saya jarang bertemu dengan meneger Er ?". Tanya Mira sedikit bingung.


Yash yang merasa salah tingkah pun mulai menggaruk tengkuknya dengan raut seperti pencuri yang ketahuan oleh Mira. Membuat Jio yang berada di belakang Yash dengan sekuat tenaga menggigit pipu dalam agar tidak tertawa.


"Ekhem..Lupakan aku hanya asal bertanya". Ucap Yash dengan gelisah.


Mira yang pada dasarnya tidak peka dan masa bodo pun hanya ber oh ria saja menanggapi ucapan dari Yash yang di balasi dengan helaan nafas lega.


"Untung bodoh kamu ya Ra". Batin Yash seraya tersenyum tipis.


"Nona Martha mencari anda seperti orang gila tuan. Meneger Er saksinya. Ia swmpat jatuh sakit selama dua bulan karena memikir anda". Ucap Mira lagi.


Vikram yang mendengarnya pun hanya tersenyum sinis menanggapi cerita dari Mira. Ia pun lalu tertawa terbahak dengan kerasnya membuat Mira dan yang lainya pun terlihat perihatin.


"Ternyata begini caramu bermain Fredi. Sialan kau. Kau menyingkirkanku seolah-olah aku yang bersalah. Seolah aku yang menghilang meninggalkannya. Dan kau umpan anakmu untuk masuk kekehidupannya. Sungguh rencana yang bagus". Ucap Vikram dengan tersenyum sinis namun terlihat mengerikan di mata Mira.


"Apa yang kau alani oleh ulah Fredi si tua bangka angkuh itu. Aku juga alami Mira. Memangnya aku menghilang di saat aku teramat sayang nencintainya karena apa huh. Ada orang yang mencintai dengan amat sangat lalu pergi begitu saja". Ucap Vikram dengan sinis membuat Mira menggeleng.


"Semua itu karena campur tangan ayah dari Erlangga dan Ghiba ibu dari Martha. Mereka berdua adalah dua orang yang sangat ambisius". Ucap Vikram memberi tahu membuat Mira sedikit menutup mulutnya dengan tangan kanan karena terkejut.


"Aku disekap di gudang yang berada di desa terpencil. Jauh dari kota. Tubuhku di siksa dan aku di beri suntikan pelumpuh syaraf. Yang mana jika pemberiannya dalam dosis tinggi dan terlalu sering akan membuatku mati secara perlahan". Ucap Vikram dengan raut dingin.


"Beruntung Arnando dan Yash menemukanku dan langsung menghubungi asistenku Ram. Dan mereka membebaskanku serta memberikanku obat-obatan dan terapi berjalan yang apik. Dan yah, aku bersyukur aku bisa pulih dengan cepat dan tak terduga". Ucap Vikram lagi.


"A...Aaapa mereka tidak tahu siapa,anda swbenarnya tuan. Karena jika merrka tahu siapa,anda. Tidak mungkin paman Fredi dan Madam Ghi bisa senekad itu". Ucap Mura,merasa,heran.


"Tidak. Mereka hanya mengenalku sebagai Vikram Davis si penari jalanan dan penyanyi cafe. Si gelandangan muda yang lemah". Ucap Vijram dengan tersenyum miris.


"Dan tujuanku menemuimu adalah. Aku ingin memberi kejutan untuk mantan kekasihku. Dengan sebuah tarian dan nyanyian bersamamu". Ungkap Vikram dengan terswnyum memohon.


"Aaa..Apa. Menari, menyanyi, aku ?". Tanya Mira nerasa tak menyangka.


"Ya kau Miranda". Ucap Vikram santai.


"Aku tidak bisa tuan. Anda akan malu nanti". Ucap Mira merasa,tak yakin.


Vikram pun terswnyum dan merentangkan tangannya kebelakang meminta,sesuatu dari balik jajet hitam Ram.


Ram pun mengeluarkan sebyah tablet hitam milik Vikram dan langsung menyerahkannya kepa Vikram. Dan Vikram pun mulai menyentuh layar tabletnya dengan santai dan memutar suatu Video lalu meletakannya di atas neja guna memperlihatkan Video itu ke Mira dan yang lainnya.


Dan terpampang dengan jelas wajah Mira saat dirinya tengan menari perut saat ikut kontes tari perut yang berasal dari timur tengah. Dan disana pun terlihat jelas lenturnya tubuh Mira. Serta pengumuman juara satu yang di menangkan oleh Mira.


Yash yang melihatnyapun seketika menatap tajam kearah Mira yang seolah-olah sangat siap nenerkamnya.


"Itu sudah sangat lama tuan. Aku baru saja kelas sebelas. Dan itu sekitar delapan tahun lalu". Ucap Miraa seraya menggigit bibir bawahnya.


"Mengapa video itu masih ada. Ya tuhan jangan sampai tuan Vikram menemukan video ku yang lain". Batin Mira merasa gelisah.


Dan Vikram pun menunjukan video lai seperti saat Mira dan teman sekolahnya mengikuti dence dan menjadi juara satu. Lomba tari daerah juara dua, pernah ikut lomba balet saat kecil meski tidak juara. dan yang terakhir postingannya yang bernyanyi tamli dengan merdunya. Membuat Mira kalah telak.


"Aku dengar kau baru keluar dari sekolah denser dua tahun ini". Ucap Vikram dengan tersenyum penuh kemenangan. Mira pun melongo dibuatnya.


"Dan jika kau tahu. Aku juga langganan di bar milik kakak lelakimu. Aku bisa...". Ucapan Vikram terpitong saat Mira menyela dengan pasrah.


"Yaa baik lah, saya akan membanty anda. Anda puas ?". Ucap Mira kesal dan Vikram pun tersenyum menang.


Sementara Yash malah melirik tajam kearah Jio yang tidak detail mencari info tentang Mira sebanyak mungkin. Sehingga info sebesar ini pun ia ketahui dari Vikram.


"Ok kalau begitu, sebelum kita bekerja sama sembuhkan dulu rasa terahumamu baru setelah ini kita bekerja sama". Ucap Vikram mempersilahkan.


Dan mulai lah Mura,dan Jodi melakukan komunikasi terlebih dahulu dan menciba bercerita secara sadar. Namun sayangnya itu tidak berhasil karena lagi-lagi Mira tak kuat jika harus mengingatnya. Dan akhirnya jalan hitmotis lah yang Jodi trmpuh. Dan mulai lah Mira bercerita dari awal mula,sampai akhir.


Dan tanpa ia sadari. Jio telah memasukan alat suara yang dapat nemperjelas suara Mira pada,sambungan telefon di ponsel Royan. Disana Mayya dan Royan pun mendengarkan dengan srksama ceri lengkap Mira.


Banyak yang menahan marah saat mendengar cerita dari Mira. Termasuk Ram dan Vikram yang mengingat mendiang ibunya yang meninggal karena pembantaian orang-orang keji.

__ADS_1


__ADS_2