
Diruangan yang temaran itu, Yash tengah menunggu kedatangan Jio untuk memberikan berkas dan data diri kesepuluh pria yang telah Maya dan Mira pilih sebagai calon suami untuk Mira.
***Taaap
Taappp
Taapp***
Suara langkah kaki dari sepatu yang terdengar jelas di telinga Yash membuat Yash dapat menebak siapa pemilik langkah kaki itu. Dengan tersenyum angkuh Yash pun menunggu suara itu mendekat dan memunculkan bayang hidungnya di depan Yash.
"Sudah kau selesaikan tugasmu itu Jio ?". Tanya Yash dengan tegas dan serius.
"Sudah tuan, semua ada di dalam map ini". Jawab Jio dengan sopan seraya menunjukkan map hitam yang berada di genggamannya.
"Bacakan". Ucap Yash memerintah seraya melirik kursi yang ada di depannya itu. Mengisyaratkan Jio untuk duduk.
Jio pun sedikit menghela dan duduk di kursi yang telah di isyaratkan oleh Yash. Ia pun lalu membuka map itu dan mulai membaca. Dan menyodorkan dua foto pria berbeda di hadapan Yash.
"Hari pertama untuk besok di jam makan siang. Mira akan berkencan dengan Satya Adiguna". Ucap Yash seraya mununjuk foto yang bernama Satya Adiguna itu kepada Yash
"Putra pertama dari keluarga Adiguna. Usianya dua puluh enam tahun dan ia masih bekerja di perusahaan ayahnya. Gunagrup. Catatan buruknya dia seorang gay dan sedikit emosional". Ucap Jio seraya melihat Yash yang tengah diam dengan senyuman liciknya.
"Isi kepalanya pasti tengah merencanakan sesuatu. Semoga idenya waras". Batin Jio merasa sedikit was-was.
"Apa dia tidak memiliki kekasih ?". Tanya Yash merasa curiga.
Jio pun lalu mengambil sebuah foto pada saku jasnya dan menyerahkannya kepada Yash untuk dilihat. Sementara Yash melihat foto itu dan langsung berfikir keras.
"Sepertinya aku pernah melihatnya dan sedikit kenal. Tetapi kapan dan dimana ?". Batin Yash dengan raut berfikir keras.
"Namanya Raysha Alandra. Putra bungsu dari keluarga Alandra Reksan. Semua orang mengenal Raysha dengan sebutan Asha". Ucap Jio memberi tahu identitas dari kekasih lawan jenis seorang Satya Adiguna.
"Dia bukannya yang satu minggu lalu mengajukan kontrak kerjasama kepada LeonGrup. Ahhh ya AIRAN grup". Ucap Yash yang langsung ingat akan ajuan kerjasama pembangunan hotel megah di kota X.
"Betul tuan". Ucap Jio dengan mengangguk sopan.
Yash pun kembali tersenyum licik seraya mengelus dagu bersihnya dengan perlahan. Seolah tengah merencanakan sesuatu.
"Kirimkan aku nomor kontaknya". Ucap Yash memerintah.
"Baik tuan muda". Ucap Jio sopan.
"Lanjutkan". Titah Yash lagi ingin tahu dengan siap Mira berkencan selanjutnya.
"Untuk di jam makan malam Mira berkencan dengan Rico Orlando. Putra ketiga dari marga orlando pemilik resoot dan hotel terbanyak di kota X. Usianya baru dua puluh empat tahun, cerdas dan sudah menjadi dokter gigi di rumah sakit X. Catatan buruknya dia sangat interovet dan sedikit sombong". Ucap Jio lagi yang sekilas melihat senyuman remeh dari Yash.
Jio pun ikut tersenyum remeh dan sedikit misterius saat melihat tuannya tersenyum remeh akan dua orang biasa yang tengah di sebutkan olehnya itu.
"Untuh hari kedua di jam makan siang, Mira akan berkencan dengan Dareen Abraham seorang seniman muda yang sangat mencintai lukisan. Karyanya sudah terkenal di kalangan seniman elit dan banyak sekali menerima kontrak dari seniman luar. Catatan buruknya dia mengidap kangker hati stadium satu dan dia tidak mencantumkan riwayat sakitnya di biro jodoh itu". Ucap Jio seraya menyodorkan foto Dareen
"Dan untuk makan malamnya Mira akan berkencan dengan Heri Kurniawan Setiaji pria berusia enpat puluh lima tahun, duda kaya yang memiliki satu orang putri berusia dua puluh tahun. Kekayaannya sungguh melimpah. Perkebunan teh, perternakan domba di seluruh wilayah X, juga memiliki hotel mewah di kota A B dan C. Catatan buruknya dia sangat workholik, masih tergila-gila dengan istrinya yang telah wafat, dan sangat menomor satukan putri manjanya". Ucap Jio dengan tenang dan berwibawa.
"Ck yang kedua itu apa Mereka tidak salah pilih ?". Tanya Yash sedikit tak terima dan kesal
Jio pun mengambil beberapa foto dari seorang Heri Kurniawan Setiaji yang membuat Yash melotot tak terima. Sebab wajah dan potur tubuh dari Heri tidak seperti seorang duda berusia empat puluh tahun. Melainkan terlihat masih dua puluh lima tahun lebih. Dengan Yash pun masih pantas dan cocok berteman dan dengan Mira pasti seperti kakak adik.
"Sial..". Guman Yash merasa tak terima akan kenyataan yang terpampang di depan matanya itu.
"Jika tampang dan penampilanya seperti ini. Dengan putrinya pun masih terbilang bukan ayah dan anak. Melainkan kakak adik. Aiisshhh". Gerutu Yash sedikit tak terima.
"Marga setiaji memang terkenal awet muda sejak dulu tuan. Ayah dan ibunya saja yang bisa di bilang kakek dan nenek dari putri tuan Heri itu berusia tujuh puluh tahun dan enam puluh tahun namun masih seperti lima puluh tahun intuk ayahnya dan tiga puluh tahun untuk ibunya". Ujar Jio kepada tuannya itu.
"Hhhh...Lanjutkan". Ucap Yash yang masa bodo dan tak ingin tahu lebih lanjut mengenai seorang Heri yang dipilih Mira.
"Untuk hari ketiga, Mira berkencan dengan Reino Osaka di pagi hari dijam sarapan pagi untuk berolahraga pagi dengannya. Reino adalah putra kedua keturunan pembisnis jepang yang memiliki mantan istri di indonesia. Reino ikut dengan ibunya. Pekerjaannya adalah pelatih giym dan memiliki gimy sendiri yang terkenal ramai. Catatan buruknya dia sedikit kasar dan over protektif". Ucap Jio seraya menyodorkan foto Reino.
"Ciihh aku yakin dia akan membuat masalah di pagi itu". Ucap Yash dengan yakin.
__ADS_1
"Lanjut". Titah Yash lagi dengan raut malas.
"Untuk siangnya Mira akan makan siang dengan Ardiansyah Fernando. Putra sematawayang dari tuan Nando. Anda pasti kenal tuan muda. Look". Ucap Jio seraya memperlihatkan foto dari Ardiansyah.
Yash pun mengambilnya dan seketika meradang. Bagaimana Yash tidak mengenalnya. Sebab laki-laki ini sudah masuk dalam daftar black hitam Yash.
"Si anak manja itu. Playboy cap kakap itu akan mencalonkan diri menjadi suami Mira. Heh yang benar saja !". Seru Yash merasa tak terima dan meremas foto itu dengan penuh amarah dan langsung membuangnya ke sembarang tempat.
"Atur jadwalku di hari pertama Mira berkencan sanpai hari kelima. Biar aku sendiri yang bertindak dan mengawasinya". Titah Yash dengan tegas dan dingin.
"Ahhh dasar cinta". Batin Yash mengeluhkan bosnya yang tengah jatuh cinta itu dengan raut biasa saja.
Jio lalu mengangguk patuh dan lanjut membuka kertas selanjutnya lalu menyodorkan dua buah foto lagi kepada Yash.
"Di hari keempat Mira akan makan siang dengan Arbie Setevano Gauram. Pria keturuns indo-hindi. Yang tengah melakukan bisnis dan menetap di indonesia selama lima tahun. Dia baru disini tiga tahun dan dua tahun lagi kontraknya habis. keinginannya mencari calon istri orang indonesia untuk ia bawa ke negara asalnya dan menetap di sana. Catatan buruknya dia sangat menyukai party dan minum. Pesta, club malam dan karaoke telah ia singgahi beberapa kali". Ucap Jio melaporkan.
"Untuk makan malamnya Mira akan berkencan dengan Lukman Sastrawan. Pengusaha perhiasan dan tambang di daerah X. Dia juga duda cerai belum punya anak. Tetapi dia sangat pendiam dan irit bicara. Juga seenaknya tidak perduli dia laki-laki atau perempuan. Sangat kasar, angkuh dan sombong. Setelah perceraian itu dia menjadi anti sosial dan semena-mena". Ucap Jio memberi tahu.
"Dan di hari kelima hari terakhir. Di pagi hari di sebuah taman bermain. Mira akan menemui Dion Praharja tuan". Ucap Jio seraya memperlihatkan foto lelaki yang duduk dengan dandanan seperti bocah umur sepuluh tahun.
Yash yang mengamati dengan cermat pun langsung tertegun dengan foto itu. Bukan karena dandanannya namun wajahnya sangat Yash kenal.
"Agen Di". Liri Yash dengan raut tak percaya.
"Ck satu-satunya saingan terberat ku". Guman Yash dengan raut murung.
"Anda pasti bisa tuan. Coba bicarakan saja dengannya baik-baik. Saya yakin tuan Di pasti akan mengerti". Ucap Jio mencoba menyemangati dan memberi saran kepada tuan mudanya itu.
"Lanjutkan Jio". Ucap Yash memerintah.
"Untuk makan malamnya, Mira akan berkencan dengan Kenzo Wiliyam putra sematawayang dari marga Wiliyam tuan". Ucap Jio seraya menyodorkan foto kenzo Wiliyam.
"Ck...Si anak pemberontak dan pemalas". Gerutu Yash dengan raut sinisnya.
"Dia juga pemabuk berat tuan. Catatan kriminalnya pun banyak. Balapan liar dan judi pun ia jadikan hobi. Kerjaannya juga bermain-main dengan wanita. Menghabiskan juga menghamburkan harta orang tuanya". Ucap Jio memberi tahu.
"Apa semua itu benar-benar pilihan Mira ?". Tanya Yash merasa tak yakin.
"Roni melaporkan jika nona Mira lebih banyak diam dan melamun tuan. Kebanyakan yang memilih itu nona Maya dan nona Zoya keponakan dari tuan Royan". Ucap Jio memberi tahu.
"Yang akan menikah itu siapa memangnya. Kenapa yang memilih bukan Mira sendiri ?". Tanya Yash kesal dan marah.
Jio yang di layangkan pertanyaan marah dari Yash pun hanya diam dengan raut bingung. Sedangkan Yash hanya bisa bergerak gelisah di tempat seraya memikirkan berbagai macam rencana.
"Manalah saya tahu tuan. Yang tahu hanya lah nona Mira seorang". Batin Jio demgan raut lelah.
"Anda...Tidak makan malam tuan. Mungkin dengan anda mengisi perut anda dapat berfikir lebih mudah". Ucap Jio memberi saran.
"Bawakan saja". Ucap Yash acuh dan kembali berkutat pada pemikirannya.
Jio pun keluar dari kamar hotel yang Yash tempati untuk memesan makan malam. Sedangkan Yash sudah berkutat pada laptopnya. Dengan piawai jemari Yash mengetik suatu kode untuk terhubung dengan seseorang.
Selang lima belas menit. Kode yang Yash ketik pun merespon dan muncul lah wajah tegas dan tatapan dingin seseorang yang berada di seberang sana.
"Selamat pagi agen Di". Ucap Yash memcoba untuk ramah dan berbasa-basi. Karena perbedaan waktu antara paris dan indonesia.
"Tuan Leon ?". Ucap agen Di sedikit ragu.
"Ya". Jawab Yash seadanya.
"Woow sungguh mengejutkan sekali ya.... Ada sesuatu yang kau inginkan ?". Tanya agen Di dengan tatapan jenaka.
"Mira". Ucap Yash to the poin.
Agen Di pun tersenyum ringan dan lalu menatap tajam Yash dengan netra hitamnya yang bagi orang lain sangat tajam seperti pisau.
"Kau menginginkannya....Tetapi aku juga membutuhkannya". Ucap agen Di tajam.
__ADS_1
"Apa maksudmu ?". Tanya Yash tak kalah tajam dan dinginnya. Layaknya singa dan harimau. Keduanya pun bertatap sengit pada layar laptopnya masing-masing.
"Untuk membuat seseorang mengakui sesuatu kepadaku". Ucap agen Di dengan raut misteriusnya.
"Kau akan libatkan dia kedalam masalahmu. Kau ingin bermain-main denganku agen Di ?". Tanya Yash memastikan.
"Meski pun aku berani. Namun bagiku tidak ada waktu untuk bermain-main kecuali jika aku menjadi yang lain. Mungkin kita bisa bermain-main". Ucap agen Di dengan tersenyum santai.
"Tenang lah. Aku membutuhkan Mira bukan untuk diriku sebagai agen Di. Tetapi untuk diriku yang lain. Lagi pula jika aku memilikinya pun percuma. Hatinya sudah di curi". Ucap agen Di dengan tersenyum jenaka.
Membuat Yash menjadi merah padam karena sesuatu. Yash pun mengalihkan pandangannya kearah lain. Berusaha untuk menghindari kontak mata dengan si pembaca ekspresi wajah yang terkenal handal itu.
"Hanya itu saja kan yang kau bahas ?". Tanya agen Di kepada Yash.
"Ya hanya itu". Ucap Yash singkat dan jelas.
Agen Di pun tersenyum mengejek dan sedikit sinis. Raut wajahnya pun mengatakan jika Yash sungguh membuang-buang waktunya. Ia pun lalu melambai angkuh dengan berkata.
"See you". Ucap agen Di dan lalu mematikan sambungan kode sepihak.
Yash pun lalu bersandar pada sandaran kursi kerjanya dan menghela perlahan. Mencoba untuk meredam emosinya karena memang bagi Yash berbicara dan berhadapan dengan seorang agen Di sungguh sangat menguras emosi.
"Misi apa yang akan dilakukan oleh agen Di bersama Mira. Tetapi tunggu dulu. Agen Di bilang misi itu bukan untuk dirinya sebagai agen Di. Melainkan dirinya yang lain....". Ucap Yash nampak berfikir.
"Dirinya yang lain itu..... Dion...Dion Praharja". Lirih Yash dengan raut berfikir keras.
"Apa yang akan di lakukan oleh sesosok Dion. Si pria idiot yang kekanakan dan manja itu. Ouhh siaal dasar agen laknat. Berani-beraninya dia membuatku berfikir keras". Keluh Yash dengan frustasinya.
"Makan malam sudah siap tuan".Ucap Jio memberi tahu.
"Tatakan saja di meja itu". Ucap Yash santai seraya menunjuk meja yang di gunakan untuk bersantai ria.
"Satya Adiguna, Rico orlando, Dareen Abraham, Heri kurniawsn Setiaji, Reino Osaka, Arbie Setevano Gauram, Lukman Sastrawan, Dion Praharja dan Kenzo Williyam. Hhh....Singguh rumit". Keluh Yash dan lalu beranjak dari kasurnya menuju meja yang tersedia banyak makanan.
Yash pun menyantap makan malamnya dengan enggan dan tak berselera. Ia sangat menghawatirkan Mira. Sementara dirinya masih harus berada di paris dua hari lagi.
Jio yang masih berdiri sopan dengan setia menemani tuan mudanya makan pun merasa jika tuannya sangat tidak bersemangat. Dan Jio pun merasa jika sebentar lagi pasti Jio akan di buat syok di tempat.
"Kau mau gajih lima kali lipat tidak ?". Tanya Yash kepada Jio yang berdiri di samping kursi makannya.
Jio pun mengernyit merasa was-was dan tidak karuan di tempat. Ingin menolak pun tak bisa, mengiyakan pun tak mampu.
"Mau tidak !". Seru Yash yang langsung membuat Jio tergagap sedikit.
"Apa yang harus saya lakukan tuan ?. Tanya Jio sopan dan cemas.
"Gantikan aku pada rapat penting besok. Dan belikan aku tiket untuk besok siang. Apa kau bisa ?". Tanya Yash.
"Hhh...Sudah ku duga". Batin Jio dengan pasrah.
"Baik tuan muda". Ucap Jio sopan.
"Ya sudah aku ingin beristirahat. Bawa saja makanan ini aku sudah kenyang". Titah Yash dengan angkuh.
Jio pun hanya mengangguk dan mulai memanggil petugas hotel untuk membereskan semua makanan yang ada di meja dekat tempat tidur dan jendela.
Selang beberapa menit. Petugas hotel pun datang dan langsung membereskan semua piring dan gelas sisa Yash makan.
Sedangkan Jio sibuk memesan tiket untuk tuan mudanya pulang. Sementara Yash sibuk menyusun rencana untuk membuat Mira semakin sulit menjauh darinya.
"Kau itu miliku Mira. Milik Yash". Ucap Yash seraya memandangi foto Mira dengan rasa rindu.
Dan selalu bibir ranum Mira lah yang terus menghantui fikiran Yash. Rasa ingin menciumnya lagi dan lagi. Serta wangi dari tubuh Mira yang memabukan bagi Yash membuat Yash tak sabar ingin cepat pulang dan menemui candunya.
"Sepertinya tuan Yash benar-benar jatuh cinta kepada nona Mira. Jika tidak, buat apa tuan muda Yash merasa sekhawatir itu saat nona Mira akan mencari calon suaminya di biro jodoh itu". Batin Jio merasa senang.
"Mudah-mudahan kau benar-benar mencintai nona Mira tuan. Dan membuang obsesi mu terhadap nona Raina". Lirih Jio seraya memandangi tuan mudanya yang masih setia melihat foto Mira yang tersenyum.
__ADS_1