Luluh

Luluh
Episode 20


__ADS_3

BUUKK !!!


PRAAKKK !!!


Praangggg !!!


"Aaaaaaaa !!!!".


Teriak Miranda dengan menutupi wajahnya dengan kedua lengan tangannya. Menghindari pecahan kaca mobil yang sengaja di pecahkan oleh orang-orsng yang berpakaian seperti pereman itu.


"Mira !!'. Seru Erlangga saat melihat perbuatan beberapa pereman itu.


Erlangga pun hendak berjalan menolong Mira. Namun langkahnya terhenti saat beberapa pereman lain menghadang langkahnya. Dan dengan terpaksa Erlannga kembali melawan mereka. Mencoba melumpuhka mereka dengan sekuat tenaga.


Sementara mereka yang berhasil memecah kaca mobil dengan tongkat besi mencoba menggeret paksa Mira untuk keluar dari dalam mobil tanpa memperdulikan pecahan kaca yang berserakan.


"LEPASKAN....Mau apa kalian !". Teriak Mira seraya memberontak dari cekalan tangan kekar yang memegangi kedua lengan tangannya.


"Diam !".


PLAAKKKK !!!!


Tampar seseorang dengan begitu kuat membuat kepala Mira menoleh kesamping dengan begitu cepat dan terasa pening berdengung yang luar biasa. Mengakibat kan luka robek di sudut bibir Mira dan mengeluarkan darah segar.


"Kurang ajar kau !".


Teriak Erlangga dengan penuh amarah saat melihat seseorang yang begitu lancang menampar pipi Mira dengan begitu keras.


Karena tak fokus akibat amarahnya yang memuncak. Seseorang pereman dengan liciknya memukul Eelangga dengan sebilah kayu dari arah belakang.


BUUKKK !!!


"Arggghhhh !". Teriak Erlangga dengan berlutut seraya memegangi bahunya yang terasa nyeri dan ngilu.


"Erlangga !". Teriak Mira denga air mata yang mulai bercucuran.


Keempat pereman itu pun langsung meringkus Erlangga dengan menjagalnya yang tengah berlutut.


Sementara seseorang yang tadi menampar Mira pun mulai membalikkan badannya menghadap kearah Erlannga seraya membuka kaca mata hitamnya.


"Paman Zoe". Ucap Erlangga dengan tatapan mata tak percayanya.


Sebab yang Erlangga tahu dari sosok Zoe adalah seorang paman yang humbel dan baik. Dia selalu dekat dengan Erlangga bahkan sudah Erlangga anggap sepertii ayah kedua bagi Erlangga.


"Ya Er, how are you to day". Ucap Zoe dengan simrik mengerikan.


"A...Aaapa yang kau lakukan paman. Mengapa kau ?". Ucap Erlangga dengan tatapan kecewa.


"Ya ini lah diri ku Er. Sikap ku itu tergantung dari perintah Ayah mu. Jika dia memerintahkanku untuk baik-baik denganmu maka aku akan bersikap seperti yang sering kau lihat. Dan jika dia memerintahkanku untuk memberi mu pelajaran. Maka kau akan melihatku seperti sekarang". Jelas Zoe dengan suara dinginnya.


"Papah...". Lirih Erlangga merasa tak pernah menyangka akan secepat ini tindakan sang ayah untuk melawan putranya sendiri.


"Sekarang kau tahu kan Er. Dengan siapa kau melawan. Seharusnya kau memiliki rencana yang matang terlebih dahulu untuk melawan ayahmu". Ucap Zoe dengan tersenyum licik.


Tak lama kemudian datanglah satu mobil sedan hitam keluaran terbaru dan berhenti tepat di hadapan Erlangga dan Mira.


Dan turunlah ayah dari Erlangga dari dalam mobil dengan sikap angkuh dan puasnya melihat ketidak berdayaan sang anak dan wanita yang dicintai oleh putranya.


Erlangga pun langsung merah padam di buatnya dalam hatinya ia sungguh-sungguh menyesal telah terlahir dari seorang ibu yang memiliki suami ambisius seperti ayahnya itu.


"Apa kau tetap ingin melawanku nak ?". Tanya Fredi dengan tersenyum licik.


"Aku mencintainya pa. Tidak bisakah kau mengerti". Ucap Erlangga dengan bersungguh-sungguh.


"Dan apakah kau tidak bisa memahami ku nak. Ini juga untuk kebaikanmu. Jika kau terus memberontak dan tetap pada pendirianmu. Maka jangan salah kan ku jika wanita ini tidak akan baik-baik saja". Ucap Fredi dengan geramnya.


"Jangan sentuh dia. Kau akan menyesal nanti jika sampai membuatnya tidak baik-baik saja". Ancam Erlangga dengan penuh amarahnya.


"Dengan cara apa kau akan membuatku menyesal. Melawan orang-orang ku saja tidak bisa. Heh dasar anak bodoh !". Hina Fredi kepada sang anak.


"Zoe. Berilah sedikit hukuman untuk wanita itu". Titah fredi kepada Zoe.


"Dengan senang hati". Ucap Zoe dengan simrik iblisnya.


Mira yang mendengarnya pun sedikit ketakutan akan sikap seseorang yang di panggil Zoe itu. Senyumannya sangat mengerikan dan tatapannya pun seolah tengah merencanakan sesuatu yang mmengerikan.


PLAAKKKK !!!


PLAAKKKK !!!


PLAAKKKK !!!


Tiga tamparan yang zoe layangkan di kedua pipi mulus Mira membuat tubuh Mira terhuyung kesamping dan jatuh membentur aspal dengan posisi setengah tengkurab dan kepala terasa pening yang teramat sangat.


"Miraaaa !!!". Seru Erlangga dengan begitu frustasinya.


Lelaki mana yang sanggup melihat kekasih yang ia cintai dengan sangat tengah mengalami kekerasan fisik di depan matanya dengan kondisinya yang tengah tak berdaya.


Kurang puas dengan menampar Zoe pun lalu menarik rambut Mira dengan begitu kuat hingga kepala Mira menengadah keatas.


"Aakkhhhh !". Teriak Mira.


"Cukup ZOE.....Cukup....!!!". Teriak Erlangga dengan raut frustasinya.


Semua orang yang ada disana pun tertawa dengan puas melihat penyiksaan yang di dapat oleh Mira dan ketidak berdayaan Erlangga yang hanya bisa berteriak pilu.


"Masih kah kau mencintainya ?". Tanya Fredi memastikan.


"Lepaskan dia.. Jika kau ingin menyiksa siksalah aku bukan dia !!". Ungkap Erlangga dengan berteriak.


Fredi pun hanya tersenyum acuh menanggapi ungkapan dari sang anak. Malah ia sangat menikmati setiap derita dari gadis rendahan yang ingin mencoba-coba bersanding dengan putra semata wayangnya.


"Dia tidak salah apa pun pah. Hentikan ini !!". Teriak Erlangga saat melihat Zoe menyeret kasar tubuh Mira untuk berdiri dan mencekiknya dengan kuat.


"UHUKKK UHUKK !!!". Terdengar suara tercekik Mira dan pemberontakan Mira yang berusaha melepas cekikan Zoe.


"Argggghh !!". Erlangga pun berteriak frustasi.


"Ya aku kalah. Aku akan menuruti semua kemauwan mu asal kau lepaskan dia. LEPASKAN DIA !!". Ucap Erlangga dengan begitu lantang.


Fredi yang mendengarnya pun mulai tersenyum dengan kemenangan. Akhirnya ambisinya lah yang menang. Dan selalu begitu. Sejak dulu tak ada yang dapat mengalahkannya. Apa yang dia inginkan harus ia dapat. Dan apa yang ia rencanakan harus berjalan dengan sempurna. Itulah seorang Fredi Firmansyah peria berusia setengah abad yang penuh dengan ambisi.


"Berhenti Zoe". Ucap Fredi dengan suara bas nya.


Zoe yang mendengarnya pun langsung melepas cekikannya yang ia gunakan dengan tangan satu pada leher Mira. Dan Mira pun terjstuh lemas akibat cekikan tangan Zoe yang hampir membuatnya berhenti bernafas.


Mira pun terduduk bersimpuh dengan terbatuk-batuk menahan rasa perih yang dia dapat pada saluran pernafasannya.


"Anak pintar". Ucap Fredi kepada Erlangga yang tengah menatap pilu kearah Mira.


"Lanjutkan Zoe. Hancurkan gadis itu dengan sehancur-hancurnya. Buat dia merasa tak pantas untuk siapapun". Ucap Fredi dengan tersenyum licik.


Erlangga yang mendengarnya pun langsung menggeleng panik. Sementara Zoe malah tersenyum senang melihat tubuh Mira yang tengah bersimpuh dengan terbatuk.


Sejujurnya Mira mendengar apa yang ayah Erlangga katakan. Namun rasa lemas dan tak berdaya lah yang mengalahkannya. Sungguh tenaga dari seorang lelaki bernama Zoe memang tidak bisa di remehkan.


Zoe pun langsung menggeret paksa Mira menuju kearah gedung kosong yang terbengkalai tak jauh dari sana. Sementara Erlangga dengan penuh amarah menyoba memberontak.


Saat sudah berhasi melumpuhkan orang-orang yang menjagalnya. Ia pun berlari menuju sang ayah dan menghajarnya.


BUGGGH !!


Satu pukulan telak Erlangga layangkan pada hidung sang ayah dan dengan penuh emosi Erlangga pun berteriak di depan muka sang ayah.


"Lelaki macam apa kau. Yang tega membuat seorang gadis yang tidak bersalah hancur. Kau...Tidaklah pantas ku panggil ayah. Aku benci memiliki ayah yang tidak punya hati ARRGHH !!!".


Seru Erlangga dan langsung melayangkan tinjyannya namun hanya melayang diudara tatkala ada seseorang yang memukulnya lagi dari belakang menggunakan balok kayu hingga patah.


Dan rasa nyeri itu pun kembali datang. Kali ini begitu nyeri dan pening. Terakhir yang Erlangga dengar hanya teriakan Mira yang seperti histeris meminta tolong juga wajah Mira yang terlihat putus asa. Setelah itu semuanya gelap, hilang, sunyi dan sepi.


Fredi pun kembali tersenyum senang saat melihat putranya sudah terkapar tak berdaya di bawsh kakinya. Ia pun mengelap hidungnya yasng berdarah dengan senyuman remeh.


"Bawa dia kemobil". Perintah Fredi kepada salah satu orang suruhannya.


Orang-orang bayaran itu pun menurut memasukan Erlangga kedalam mobil yang di tumpangi oleh Fredi. Seketika hujan pun turun dengan rerintikan. Fredi yang merasakan tetesan rintik hujan pun menengadah dengan jumawanya.


"Jangan...Ku mohon jangan !". Teriak Mira dengan pilunya. Membuat fredi yang mendengarnya pun kembali tersenyum.


"Gadis yang malang". Lirih Fredi dengan tersenyum dan berlalu menaiki mobilnya menembus hujan. Meninggalkan Mira bersama Zoe dan kesepuluh orang-orangnya yang tengah mengerubungi Mira.

__ADS_1


Tubuh Mira pun di jagal dengan kuat dan baju blous v nek warna navy berlengan panjang yang ia kenakan pun tengah dirobek oleh salah satu dari mereka. Membuat Mira seketika lemas dan pasrah akan tadik yang sebentar lagi akan merenggut ketenangannya.


"Jika ini takdirku maka isetela ini zinkan lah aku untuk menyusulmu ibu...ayah". Batin Mira dengan mata terpejam dan meneteskasn air matanya.


"Kakak". Lirih Mira dengan mata terpejam menahan siksaan demi siksaan yang ia dapat.


Seketika kilat pun muncul dengan cantiknya mengilati wajah Mirah yang terpejam dan alinan petir pun mulai menyapa dan pada saat itu pula seseorang meluncurkan pelurunya kearah tiga kepala orang-orang yang hendak menjamah tubuh bagian atas Mira.


DORRR !!


DORRR !!!


DORRR !!!


Tiga orang terkapar dengan luka tembak yang ada di kepala ketiganya. Membuat Zoe seketika murka dan berteriak nyalang.


"Kurang ajar. Siapa yang meloloskan senjata HAH !". Teriak Zoe dengan beraninya.


"Aki..!" . Seru seseorang bertopi hitam dengan menunduk. Disusul dengan satu orang bertopi putih disampingnya.


"Siapa kau sialan !". Seru Zoe dengan garangnya.


Dua orang itupun langsung membuka topi mereka mmasing-masing dan menunjukan wajah asli Mereka yang malah mmembuat Zoe dan keenam orang disana terkejut bukan main.


"Kkk..Kau..Tttt..Tuan muda Leonard. Apa urusan mu disini ?". Tanya Zoe dengan sedikit takut.


"Dia..". Ucap Yash seraya menujuk Mira yang tergeletak lemah.


"Adalah urusan ku". Ungkap Yash dengan nada dingin.


"Beraninya kau dan anak buahmu menyentuhnya". Ucap Yash masih dengan nada dingin dan sorot mata tajam.


"Apa-apaan ini". Batin Zoe merasa geram sekaligus bingung.


"Tetapi dia sudah macam-macam dengan keluarga Firmansyah. Dan aku menyentuhnya juga atas perintah dari Fredi Firmansyah. Lalu dimana salah ku huh ?". Jawab Zoe santai.


"Kesalaham mu ada pada otak mu yang bodoh". Ucap Yash denga simrik mematikan.


"Sebelum bertindak. Seludiki dulu siapa orang-orang yang ada di belakangnya. Kau sangguo melawan Marko manuel ?". Tsnya Yash dengan alus terangkat.


Zoe pun mengerutkan alisan dengan bertanya-tanya apa hubungannya dengan pria gia yang bernama Marko Manuel itu.


"Yang pertama...Dia adalah adik kandung dari Marko Manuel". Ucap Yash drngan tersenyum iblis.


Zoe yang mendengarnyapun seketika mendelik tajam merasa tak percaya sebab setshunya. Adik dari Marko hanyalah Mayya Sanggita.


"Jangan coba-coba untuk membodohiku. Adik Marko itu Mayya Sanghita. Wajahnya sangat aku kenali". Elak Zoe dengan kekeuh.


"Tidak salah kan jika aku menjulukimu BODOH". Ucap Yash dengan sinisnya.


"Dia adalah adik bungsu Marko sekaligus kesayangannya. Pikirkan saja apa yang bisa ia perbuat jika tahu kau telah menyentuh kesayangan dari Marko Maanual". Ucap Yash dengan tersenyum miring


"Yang kedua...Sanggup kau melawan amukan dari Royan Rahardian untuk yang kedua kalinya. Karena Dia juga,adik ipar dari Royan. Dia begitu di sayangi oleh Royan sebagai adik". Ucap Yash sersya berjalan mendekat.


"Dan yang ketiga...Dia sudah dianggap sebagai putri dari ayah ku. Jonathan Leonard. Sanggupkah kau melawannya ?". Ucap Yash dengan tatspan mencemooh.


"Untuk yang terakhir adalah aku..". Ucap Yash seraya menempelkan moncong pistolnya secara tiba-tiba di kening Zoe. Membuat Zoe sedikit mendelik ngeri.


"Dia penting bagiku. Menyentuhnya atau melukainya sama saja kau berurusan dengan ku. Aryasa..Akshen..Leonard". Ucap Yash sersya menurunkan pistolnya kebawah dan....


DORRR DORRR !!


Dua tembakan tepat mengenai paha kiri Zoe. Membuat Zoe terpekik dan terjatuh terduduk di atas tanah dengan memegangi luka tembaknya.


"Arrrggghh sialan ksu Fred. Kau telah membuatku berurusan dengan mereka. Gadi itu ternyata bukan gadis sembatangan. Tunggu pembalasanku Fred. Sialan". Batin Zoe dengan penuh dendam kepada fredi.


Kenenam orang yang ikut dengan Zoe pun mulai maju melawsn dan Yash yang merasa tak adil jika ia bersenjata dan merrka dengan tangan kosong pun mulai memasukan senjatanya dan bertatung melawan keenam orang-orang Zoe. Dibantu dengan Jio.


Adu jotos dan pukul pun terjadi. Sementara Zoe mulai berusaha untuk berdiri dan melangkah pergi meninggalkan mereka yang tengah berkelahi.


"Aku tidak ingin mati sebelum dendam ku terbalas. Lelaki tua itu harus mendapatkan balasan. Tapi..hhh..hhh sangat sulit untuk menghindar dari ketiga orang besar itu". Ucap Zoe dengan nafas tersengal menahan lelah dan perih.


Yash yang melihat Zoe hendak kabur pun langsung berlari kearahnya dan menenfang perut Zoe dengan begitu keras hingga Zoe jatuh tersungkur dengan terbatuk.


Yash pun mulai menjambak rambut gondrong Zoe dengan kuat hingga Zoe mengerang perih.


Kemudian Yash pun membenturkan kepala Zoe kearah tembok usang dengan keras hingga keningnya lebam.


"Ahhh kenapa tidak sampai berdarah. Apa aku terlalu lembut mendorongnya ssshhh menyebalkan". Ucap Yash dengan raut dingin.


Yash pun langsung memojokan Zoe kefinding dan langsung mencekiknya dengan tangan satu lalu sedikit mengangkatnya. Membuat Zoe merasaksn sesak yang teramat sangat.


"Ini juga kan yang ksu lakukan kepadanya huh". Ucap Yash dengan senyum sinisnya.


"Rasakan". Lirih Yash sersya mengencangkan cekikannya.


Zoe pun berteriak memonta ampun dan memohon atas hidupnya kepada Yash.


"Hhkkk..Jangan..Hkkk..Akuh tidakkk ingin. Mm..Matih. Sebelum...Hkkkkkuh balas dendam...kepada Fre..diihhh hkkk". Ucap Zoe dengan terbata.


Yash pun langsung melepas dengan tiba-tiba cekikannya di leher Zoe. Sehingga tubuh Zoe jatuh tersimpuh di atas tabak dengan terbatuk hebat.


"Balas lah dengan lebih keji dari apa yang Mira dan kau terina". Ucap Yash dan lalu pergi neninggalkan Zoe yang masih terengah dan terbatuk.


Yash pun langsung berjalan kearah Mira yang tengah meringkuk dengan tubuh betgetar takut serta rintihan tangis yang begitu pilu.


Ia pun langsung membuka jaket hitam yang ia kenakan dan di berikan untuk menutupi tibuh atas Mira yang hampir terbuka memperlihatkan aset penting milihnya.


Saat Yash mendekat dan menyentuh Mira dengan membungkus tubuh Mira dengan jaket besarnya. Namun Mira malah berteriak histeris dan tsk terkendali. Membuat Yash dengan sigap menenangkannya.


"AAAAAA...Lepaskan. Ku mohon jangan...Hiks hiks... Jangan...!!". Teriak Mira dengan histerisnya.


"Shhhh...Mira..Hey hey tenanglah. Ini aku Yash okey. Ini aku Yash..Yash".


Ucap Yash dengan hati-hati dan menangkup wajah Mira dengan lembut. Agar Mira dapat melihat wajahnya dan tersadar.


Mira pun seketika duam dan melihat wajah Yash dengan tatapan kosong.


"Yashh.." Lirih Mira dengan nafas memburu.


"Ya..Yash. Aku Yash". Ucap Yash dengan meyakinkan.


Jio yang baru selesai melumpuhkan orang-orang Zoe pun mulai menyusul mendekat kearah Mira.


Mira pun melihat Jio yang berjalan di arah belakang Yash.


"Jio..". Lirih Mira dengan lemah.


"Saya nona". Ucap Jio dengan sopan.


"Aku tidak bermimpi". Batin Mira berucap.


Mira pun mulai menangis kembali dengan pilunya. Membuat Yash merasa tak tahan dan langsung memeluk Mira dengan lembut.


"Yash..Tuan Yash hikss..Aku...". Ucap Mira desela-sela tangisnya.


"Stttt sudah, aku ada disini. Ksu aman sekarang. Tidak ada yang menyakitimu. Semuanya sudah aku bereskan". Ucap Yash dengan penuh perhatian.


Jio yang melihatnya pun tersenyum dan merasa jika dengan Mira. Tuan mudanya serasa berbeda. Lebih banyak bicara, lebih lembut, dsn terkadang manja.


Lama Mira menangis di pelukan Yash dan akhirnya ia pun tertidur karena lelah. Yash yang merasa Mira sudah tenang pun mencoba melihatnya dan ternyata Mira sudah tertidur dengan sisa air mata yang masih membasahi pipinya.


Yash pun kemudian membenarkan jaket Mira dan menggendong tubuh Mira berjalan kearah mobil yang sudah terparkir di ikuti Jio dari belakang.


Saat di dalam mobil Yash langsung membaringkan tubuh Mira di kursi belakang supir dan memanggu kepala Mira. Sementara Jio langsung duduk santai di kursi depan bersebelahan dengan sang supir.


"Ambilkan tisuh basah dan kering serta kotak keselamatan untuk ku". Titah Yash kepada Jio.


Jio pun langsung mengambil tisu basah dan kering ukuran sedang serta kota P 3 K atau kotak keselamatan yang di maksud okeh Yash.


"Ini tuan". Ucap Yash sembari mengulurkannya.


Yash pun menerimanya dan langsung mengelap wajah kusam Mira dengan tisu basah dengan penuh hati-hati. Setiap kali tisuh basah itu mengenai luka memar yang ada di kedua pipi Mira. Mira pun selalu mengernyit dengan rasa sakit namun tanpa bersuara. Membuat Yash harus menghela nafasnya berkali-kali.


"Seharusnya aku membalas mereka dengan lebih menyakitkan dari ini". Sesal Yash saat melihat luka sobek di sudut bibir Mira dan kedua pipi yang membengkak merah serta leher Mira yang lebam membiru.


Dari situ Yash tahu betul apa saja kesakitan yang telah Mira alami. Beruntung saat itu Yash datang tepat waktu. Sebab jika tidak, entahlah apa yang terjadi selanjutnya. Bisakah Yash membalas sesuai dengan yang Mira dapatkan. Dan mampukah Yash mengembalikan kehancuran yang telah terjadi jika itu semua benar-benar terjadi.


Meski pun Mira bukan siapa-siapa bagi Yash. Namun Mira pun telah berjasa untuk hidup adiknya. Dan ayahnya pun telah menganggapnya sebagai putrinya juga. Tidak mungkin jika Yash masa bodoh untuk apa yang Mira alami.

__ADS_1


"Gadis yang malang. Kau sama tidak beruntungnya dengan Raina. Kakak perempuanu sedikit egois, kakak lelakimu selalu menjadi bahan pengejaran dan memiliki musuh dimana-mana. Sedangkan kakak iparmu sangat tunduk dengan kakak perempuanmu. Dia lemah akan istrinya sampai-sampi lupa mengingatkan bahwa adiknya bisa saja dalam bahaya. haaiissss benar-benar". Bati Yash merasa kasihan pada hidup Mira.


Setelah merasa bersih, Yash pun mengoleskan salep dingin pada kedua pipi Mira serta obat luka cair untuk sudut bibir Mira yang robek dan terasa perih. Membuat Mira sedikit merintih dengan menitihkan air mata.


"Tahan lah..". Ucap Yash dengan meniupi luka robek Mira.


Mira pun hanya bisa diam dengan mata terpejam merasakan panas perih di wajah dan sudut bibirnya juga seluruh tubuh yang seolah remuk.


Dan dilain tempat sepasang suami istri yang tengah memadu kasih dengan penuh peluh mengejar kenikmatan dengan bersama-sama yang berakhir pada keduanya yang tergeletak lemas di bawah selimut tebal yang menutupi tubuh mereka.


Disaat hujan deras seperti ini apalagi di saat weekend memang sangat pas jika melakukan aktifitas,ranjang seperti ini. Apalgi didukung dengan kedua anak-anaknya yang tertidur pulas akibat hujan yang dingin melanda serta istri yang dengan tumben-tumbennya mengajaknya duluan tanpa harus ia goda terlebih dahulu.


Sungguh nikmat sekali yang Royan rasakan hari ini. Namun seolah tersadar akan sesuatu saat suara petir melanda begitu hebat. Nama Mira pun melintas di fikiran Royan. Dia lupa jika hari ini adik iparnya pergi dengan Erlangga keturunan dari mmarga Firmansyah yang terkenal dengan sikap ambisinya. Apa lagi Mira perginya kekediaman keluarga itu. Bagaimana jika sesustu terjadi.


Tanpa fikir panjang Royan pun langsung memakai pakaian santainya dan mencari ponselnya yang sial entah berada dimana. Sementara Mayya pun hanya tersenyum dengan jahil.


"Rasakan itu. Cari saja sampai ayam beranak. Siapa suruh selalu saja merecok jika adik ku tengah brrsama kekasihnya". Batin Mayya denga rsut muka puas.


"May apa kau lihat ponsel ku ?". Tanya Royan dengan sibuk kesana kemari.


"Ayolah mas, ini kan weekend masih saja sibuk cari ponsel untuk bekerja. Bukannya sibuk denganku".


Ucap Mayya dengan merengut. Membuat Royan seketika menghentikan kesibukannya dan menghembuskan nafas secara perlshan.


"Apa yang sedang kau rencanakan humm". Ucao Royan dengan lembut dan sedikit gemas.


"Aku tidak ingin bekerja dan aku mencari ponselku untuk mengecek sesuatu. Bisa kah kau beri tahu aku dimana ponselku ?". Tanya Royan dengan lembut dsn penuh kesabaran.


"Aku tidak tahu mas, ponselku pun tak tshu dimsna. Mungkin dibawa,Ayub dan Lili untuk bermain game kali". Ucao Mayya,dengan santainya.


Royan yang tahu betul sikap istrinya itu pun hanya bisa menghela lelah. Bisa-bisanya istrinya itu sangat kekanakan.


"May, aku merasa khawstir dengan adik mu. Latar belakang keluarga Erlangga lah yang membuatku sangat cemas. Dengarkan aku sayang. Kau dan Mira adslah tanggung jawsbku. Kau istriku yang paling aku cintai dan Mira adik iparku yang sudah ku anggap seperti adik sendiri". Ucsp Royan dengan menangkup kedua pipi Maya dengan saysng.


"Aku telah berjanji di makam kedua orang tuamu untuk selalu menjagamu dan adikmu. Dan aku seorang lelaki. Dan laki-laki selalu bertanggung jawzb atas janjinya". Ucap Royan dengan bersungguh-sungguh.


"Mas, Aku rasa Mira memangharus segera menikah. Karena tidak selamanya kita akan selalu bersamanya. Jika dia terus saja seperti ini mau sampai kspan Mas". Tanya Mayya dengan wajah sedihnya.


"Sama saja kan mau dia ikut aku atau ikut kak Marko pun ujung-ujungnya pasti ada yang keberatan. Dia memang harus berumah tangga agar dia ada yang menjaga selalu". Ucap Mayya lagi.


"Ya, memang benar apa yang kamu katakan May. Hanya,saja dengan siapa Mira menikah itu lah yang harus kita tahu dengan betul". Ucap Royan seraya menggenggam tangan sang istri.


"Kau ingin Mira dan hidupnya terlindungi kan swperti aku melindungi hidupmu sekaligus memberikan mi cinta dan kebahagiaan ?". Tanya Royan memastikan membuat Mayya mengangguk.


"Itu lah yang sedar aku khawatirkan. Erlangga itu adalah anak dari Frrdi Firmansya. Apa kau tahu ?". Tanya Royan memastikan membuat Mayya sedikit terkejut.


"Tidak kan. Apa kau selalu mendengarkan ku saat ku hendak memberi tahu kan mu ?". Tanya Royan dengan tegas membuat Mayya menggeleng.


"Tentu saja tidak. Kau malah merayuku dan mengalihkan pembicaraan saat itu. Aku menyerah berusaha untuk memberitahukan mu selain karna rayuanmu, aku bisa melihat keinginan yang begitu besar di matamu. Kau sangat ingin sekali Mira dengan pemuda itu. Hanya dengasn melihat seseorang buta akan segalanya. Itu lah yang aku lihat padamu". Ucap Royan begitu mengena di hati Mayya.


"Aki melihat keraguan di mata Mira saat itu. Dan aku juga melihat kasih sayang yang selalu ia berikan kepadamu. Aku tahu demi membuatmu senang dia sampai mengabaikan keraguannya. Dan sekarang jika terjadi sesuatu dengannya apa kau sanggup menerima suatu kenyataanya nanti Mayya". Ucap Royan begitu dingin. Membuat Maya merasa bersalah dan tersadar.


"Beri tahu aku dimana ponselku dan ponselmu ?". Tanya Royan sekali lagi.


Maya pun hanya menunduk dan memberi tahukan dengan jarinya keberadaan ponsel mereka yang ia simpan di bawah ranjang. Ranjang itu memiliki sebuah kotak yang bisa di tarik untuk menyimpan barang berharga. Dan Royan melupakan hal itu.


Maka diambilnya ponsel miliknya dan milik sang istri dilihatnya dua puluh dan lima belas panggilan tak terjawab dari ponselnya dan ponsel istrinya atas nama Miranda Nur sang adik.


"Kau lihat ini ". Ucap Royan seraya memperlihatkan ponsel mereka yang terdapat puluhan dan belasan panggilan tak terjawab dari Mira.


"Dia dalam bahaya sekarang Dan entah apa yang dilakukan lelaki ambisius itu kepada adikmu". Ucap Royan penuh amarah.


"Kenapa Mayya, kenapa kamu seegois ini. Kenapa kamu tidak pernah memikirkan akibatnya !". Seru Royan dengan sangat marah membuat Mayya langsung menangis saat itu juga.


"Kau telah membuatku malu terhadap mendiang ayah dan ibumu. Kau telah membuat janjiku buruk". Ucap Royan dengan terduduk diatas ranjang seraya menutup eajahnya dengan frustasi.


Mayya pun langsung mendekat kearah sang suami dan memeluknya dari samping dengan dersi air mata.


"Maaf kan aku mas, aku bersalah". Ucap Mayya dengan memohon.


Royan pun langsung bangkit dari duduknya tanpa berkata apa pun. Ia langsung mengambil jaket dan bergegas pergi. Membuat Mayya langsung mengikuti sang susmi dari belakang.


"Mas mau kemana ?". Tanya Mayya dengan khawatir.


"Mencari adik mu". Ucap Royan dengan dingin.


"Aku ikut mas ". Ucap Mayya dengan menahan lengan Royan.


Saat Royan hendak berkata tiba-tiba suara bel pintu berbunyi membuat Mayya dan Royan saling menatap dengan fikiran masing-masing. Royan pun akhirnya berinisiatif duluan membukakan pintu di susul dengan Mayya yang mengekori.


Saat membuka pintu dengan lebarnya mereka pun terkejut dengan kedatangan Mira dengan Yash dan Jio dengan keadaan Mira yang sangat memprihatinkan.


Mayya pun langsung terkejut dengan menutupi mulutnya dengan syoknya.


Sementara Yash dan Jio yang melihat penampilan Mayya da Royan serta bekas kissmark yaang terlihat jelas itu pun memerjelas semua akan pertanyaan Yash tentang Royan yang begitu lengah.


"Pantes saja". Batin Yash dengan sinisnya.


"Mira, ap.Apa yang terjadi ?". Tanya Mayya dengan bergetar.


Tanpa kata Mira pun langsung masuk kedalam dan berjalan kearah kamarnya yang berada di lantai dua. Tanpa memperdulikan pertanyaan dari Maya yang sedari tadi mengejarnya.


BRAAKKKK !!!


Suara bantingan pintu dan pintu terkunci pun menghentikan langkah Mayya yang berada di ujung tangga atas. Dengan derai air mata yang bengucur Mayya pun langsung mendekat dan mengetuk pintu kamar Mira denga pelan.


"Ra, tolong jelasin ke kaka Ra. Jangan seperti ini". Ucap Mayya dengan nada khawatir.


Mira yang berada di balik pintu dengan menangis pun langsung memerosotkan tubuhnya dan menangis.


Dia sangat sakit hati atas perlakuan dari Ayah Erlannga juga sesuatu yang hampir saja membuatnya hancur.


Sedangkan Erlangga dan semua janjinya tidak pernah bisa menjadi kenyataan. Dia lemah akan perilaku dan sikap ambisius dari ayahnya.


Sedangkan Royan yang melihat keadaan Mira barusan pun menjadi merah padam dan mensrik kerah baju Yash dengan geram.


"Apa yang kau lakukan padanya". Ucap Royan dengan garangnya. Membuat Yash sedikit menaikan alisnya dengan santainya.


"Kau sungguh-sungguh dengan tuduhanmu ini. Heh Tanyakan saja kepada Fredi Firmansyah dan putra semata wayangnya itu". Ucap Yash dengan sinisnya.


Royan pun langsung melepas kerah Yash dengan kasar dan Yash pun mulai membenarkan bajunya dengan santai.


"Nona Mira yang menelfon nona Raina untuk meminta tolong dengan nada panik. Saat itu saya dan tuan Yash tengah berada di dekat nona Raina. Ia tidak memakai kalung pemberian tuan besar dan kami pun sulit untuk mengakses keberadaanya. Saat kami menemukan tempat dimana nona Mira berada. Keadaanya sungguh sangat memprihatinkan dan sangat fatal jika saja kami terlambat datang". Jelas Jio kepads Royan.


"Anda kenal dengan Zoe Sandiawan. Dia lah yang diperintah oleh Tuan Fredi untuk menganiaya Mira juga hampir merenggut kehormatannya". Ucap Jio memberi tahu. Membuat Royan kian meradang di tempat.


'Seharusnya aku tidak mengizinkannya pergi dengan lelaki itu. Dia,sangat tidak bisa diandalkan". Geram Royan dengan penuh amarah.


"Masalah lebih jelasnya anda datang saja keruma sakit Harapan kamar nomor 09 kelas tiga. Disana lah Zoe dirawat. Tanyakan apa yang sudah tuan fredi perintahkan dan lakukan untuk adik ipar anda". Ucap Jio lagi memberitahu.


"Kalau begitu kami mohon pamit tuan. Jangan lupa untuk mengompres kedua pipi nona Mira dan bawa dia ke psikiater agar tidak terjadi sesuatu di masa mendatang. Mari tuan selamat malsm". Ucap Jio dengan sopan.


Mereka pun mulai berjalan menjauh memasuki mobil namun seketika langksh mereka terhenti saat Royan memanggil.


"Tuan Yash". Panggil Royan dan berjalan mendekat.


"Maaf atas kelancangan saya dan tuduhan saya terhadsp anda. Dan terima kasih atas pertolongannya. Sekali lagi saya mohon maaf tuan". Icap Royan dengan tertunduk lesu.


"Tsk masalah. Aku pun juga memiliki seorang adik perempuan. Dan aku pun juga,akan melakukan hal yang sama sepertimu jika melihatny dengan keadaan yang...hhh you know that". Ucap Yash dengan senyum miringnya.


"Rawat adik mu baik-baik.Selamat malam".Ucap Yash dan langsung masuk kedalam mobil meninggalkan Royan yang termenung di tempat.


Mira pun sudah membersihkan dirinya dengan mandi air hangat dan berganti pakaian hanyat lalu pergi keatas kasurnya dan tertidur dengan pulas.


Sementara Mayya dan Royan un sudah berganti pakaian dn membersihkan diri. Namun mereka menjadi saling diam dengan perasaan masing-masing.


Mayya pun langsung beriinisiatif mencari kunci cadangan kamar Mira dan setelah ketemu ia un langsung pergi ke kamar Mira dengan membawa satu baskom air dingin beserta kompres dan beberapa obat dan salep.


Dengan telaten Mayya pun mengobati luka-luka Mira bahkan Mayya pun sampai menangis dengan sesenggukan melihat keadaan sang adik. Membuat Royan yang melihatnya pun tak tega dan mendekat kearah sang istri.


Saat merasakan sentuhan dari pundaknya. Mayya pun langsung menengok dan kembali menangis dengan derasnya lalu memeluk sang suami dengan erat.


"Aku...Hikk hikks... Tidak pantas menjadi kakanya mas. Kamu benar, aku sangat egois. Aku tidak sanggup melihatnya seperti ini mas. Hikss hikss". Ucap Mayya dengan rasa bersalahnya.


"Sudah lah May, semua sudah terjadi. Besok mas akan menemui seseorang dan meminta izin untuk Mira tidak bekerja dulu sampai keadaanya membaik. Kau..Jaga dan rawat dia dengan baik". Ucap Royan berpesan. Mayya pun mengangguk dengan tangisannya.


"Biarkan Mira istirahat. Jika sudah bangun ajak dia untuk makan". Ucap Royan dan berlalu pergi menuju tempat kerjanya.


Mayya yang melihat sikap dari suaminya yang berbeda pun hanya bisa menghela. Ini semua salahnya. Dan Mayya pun harus bisa menerimanya dengan ikhlas dan penuh kesabaran. Ia pun lalu dufuk di pinggiran kasur yang Mira tempati dan menungguinya dengan telaten sampai tertidur di tempat bersama sang adik.

__ADS_1


__ADS_2