
Keesokan paginya Royan, Ayub dan Lili tengah berkutat di dapur membuatkan sarapan pagi untuk Maya dan Mira.
Royan pun membuatkan bubur sumsum dengan air gula yang hangat untuk sarapan Mira dan omlet telur untuk sarapan pagi Maya, kedua anaknya dan dirinya sendiri. Karena hari ini adalah hari sabtu. Hari dimana mereka libur berkerja dan bersekolah.
Selang tiga puluh menit. Semua makanan pun sudah siap di meja makan. Dan turunlah Maya yang sudah berpakaian rapih.
"Pagi maah". Sapa Lili dan Ayub.
"Pagi sayang". Ucap Maya seraya berjalan mendekati meja.
"Loh mas ini semua kamu yang masak ?". Tanya Maya setelah melihat sang susmi mensruh satu mangkuk bubur lembut dengan menggunakan celemek warna biru.
"Iya, ayo kita sarapan". Ajak Royan santai.
"Hmmm buburnya wangi sekali mas, makasih ya". Ucap Maya seraya hendak mengambil bubur yang sudah di siapkan oleh Royan.
"Jangan. Ini untuk Mira". Ucap Royan tegas. Membuat Maya sedokit tertegun.
"Mira ?". Tanya Maya bingung
"Iya sayang, kamu lupa. ya. Mira kan harus makan bubur atau apa pun yang lembek selama satu bulan. Untuk memulihkan kesehatan lambungnya". Ucap Royan mengingatkan.
"Iya aku lupa. Tapi kenapa kanu yang membuatnya mas. Bukanya ada bibi ?". Tanya Maya sedikit curiga.
"Engga apa sayang, mumpung aku libur. Aku juga masakin omlet untuk mu di bantu anak-ana tadi". Ucap Royan seraya mengambilkan omlet di piring Maya dan duduk di sebelahnya.
Maya pun tersenyum singkat dan mulai memakannya dengan raut diam. Sejujurnya dia ingin mencicipi bubur buatan sang suami. Sebab yang ia tahu bubur buatanya sangat lezat. Tapi suaminya hanya membuatkannya untuk Mira saja. Membuatnya sedikit kesal.
"Gimana, enak ?". Tanya Royan memastikan.
"Sedikit keasinan mas. Kamu terlalu banyak nambahin garam". Ucap Maya jujur.
"Maaf ya sayang, aku gagal membuat omletnya" Ucap Royan merasa tak enak.
"Untuk masalah omlet Mira yang paling jago mas. Dan untuk msalah bubur kamu yang paling jago memasaknya. Dan aku selalu suka dan ingin mencicipi bubur buatanmu". Ucap Maya sedikit menyindir dan langsung beranjak menghampiri bi Inah.
"Bi tolong bikinin saya roti bakar selai coklat dan segelas susu putih ya. Antarkan ke kamar". Ucap Maya kepada sang pembantu.
"Iya non siap". Ucap bibi patuh.
"Engga sarapan bareng mom ?". Tanya Ayub bingung.
"Mamah ada pekerjaan sayang. Kalian sarapan saja bertiga. Jangan lupa panggilin tante kesayangan kalian untuk sarapan. papah kalian sudah menyiapkan bubur lezat untuknya". Ucap Maya sinis dan berlalu pergi.
Bagi Lili yang masih anak-anak tentu merasa bingung akan sikap sang ibu. Namun bagi Ayub yang sudah remaja. Tentu dia tahu permasalahannya dan hanya bisa menyayangkan sikap berlebihan sang ibu kepada ayahnya dan tantenya.
Saat Maya hendak menaiki tangga. Berpapasan lah ia dengan sang adik yang juga sudah rapih dengan pakaian santainya. Mira pun tersenyum kearah Maya dengan hangat.
"Pagi kak ?". Ucap Mira seraya menuruni anak tangga. Maya pun hanya membalasnya dengan tersenyum singkat dan menaiki tangga setelah Mira turun.
"Kak Maya". Panggil Mira saat Maya malah mengeloyor keatas menuju kammarnya. Merasa namanya di sebut, Maya pun menghentikan langkahnya dan berbalik menatsp Mira sang adik.
"Engga sarapan pagi bersama. Biasanya kan kita sarapan bareng-bareng ka ?". Tanya Mira merasa bingung.
"Kakak ada banyak pekerjaan Ra. Jadi kakak mutusin sarapan di kamar. Kamu harus biasa sarapan atau makan siang dan malam tanpa kakak. Karena nantinya kamu akan menikah dan hidup tanpa kakak". Ucap Maya dan berlalu pergi begitu saja. Membuat Mira sedikit sedih dan bingung.
"Mira, ayo sarapann dulu. Kamu harus minum obat tepat waktu. Kakak mu memang sedang banyak pekerjaan". Ucap Royan mencoa untuk mencairkan suasana. Dan Mira pun berjalan mendekat kearah meja makan lalu duduk di samping Lili.
Royan pun langsung menyiapkan bubur yang ia buat di hadapan Mira lengkap dengan air gula dan satu gelas air putih serta satu piring kecil yang berisikan obat yang harus Mira minum setelah sarapan.
"Terimakasih kak". Ucap Mira sopan dan tulus. Dan Royan pun hanya tersenyum lembut. Setelah itu Royan pun mendekati bi Inah yang tengah membuat roti bakar untuk nyonya besarnya.
"Bi, bibi lanjutin saja pekerjaan yang lain. Biar ini saya yang membuatnya. Saya ingin membujuk istri saya" Ucap Royan mencoba untuk mengambil alih.
"Oh, iya tuan silahkan. Semangat ya tuan". Ucap sang bibi.
"Iya bi makasi ya". Ucap Royan dengan tersenyum lembut.
"Ka Roy engga sarapan ?" Tanya Mira yang melihat sang kakak ipar yang tengah sibuk berkutat di depan kompor.
"Kakak mau siapin sarapan untuk Maya dulu, dan sarapan bersama di kamar". Ucap Royan dengan antusiasnya. Membuat Mira tersenyum lucu dan lanjut untuk satapan. Ayub pun pindah tempat duduk menjadi duduk di dekat Mira dan mulai berbicara bercerita bersama Lili.
Dan setelah melihat ayahnya pergi menuju kamarnya. Ayub pun berbisik kearah Mira untuk memberi tahukan sesuatu.
"Tante, tadi paman Yash menelvon aku pake nomor asing. Dia tanyain apa tante sudah sarapan. Terus aku fotoin deh tante pas lagi makan nih". Ucap Ayub dan langsung menunjukan ponselnya kepada Mira. Dan Mira pun langsung tersenyum senang dengan muka yang memerah.
"Kata psman Yash, paman sudah menghubungi ponsel tante. Tapi ponsel tante ada sama mamah. Ayub lihat semalam mamah diam-diam ambil ponsel tante dan memabawanya ke kamar". Ucap Ayib lagi.
"Iya. paman itu juga telfon ke ponsel Lili ka". Ucap Lili polos.
"Ke kamu, ?". Tanya Mira sedikit tak percaya dan Lili pun mengangguk seraya menunjukan ponselnya.
"Ya tuhan, tuan Yash". Ucap Mira tak menyangka dan sedikit senang.
"Sekarang kita habisin makananya. Terus nanti kita kekamar tante. Aku akan berpura-pura bermain game dengan tanteu yang ikut menonton. Supaya tante dan paman bisa mengobrol".
Ucap Ayub yang langsung memberi ide dan langsung diangguki semangat oleh Mira. Dan mereka bertiga pun langsung menyantap sarapan pagi mereka dengan lshap dan tenang. Begitu selesai dan Mira pun telah meminum obatnya dan mereka bertiga pun langsung menaiki kamar setelah meminta sang bibi untuk membersihkan meja makan.
Di lain tempat, tepatnya di kamar Maya dan Royan. Maya yang tengah berkutat dengan laptopnya pun mendengus kesal saat ia tahu yang mengantar sarapan ke kamarnya adalah Royan suaminya sendiri.
"Sarapan pagi dulu May, pekerjaannya kan bisa di lanjut setelah sarapan". Ucap Royan seraya berjalan kearah Maya yang tengah tengkurab di sofa panjang kamarnya.
Royan pun lalu menaruh nampan yang berisikan sarapan pagi untuk mereka berdua. Lalu duduk di sebelah Maya yang tengah tengkurab dan lalu mengelus surai rambut Maya dengan sayang.
"Ayu kita sarapan". Bujuk Royan lembut. Namun Maya malah menepis. tangan Royan dan beranjak duduk.
"Singkirkan saja makanannya. Aku tidak lapar". Ucap Maya ketus.
"Loh kenapa, aku juga sudah buatin bubur untuk mu". Ucap Royan membujuk. Dan menyodorkan satu mangkuk bubur di hadapan Maya.
Dan betapa terkejutnya Royan saat Maya menepis mangkuk itu hingga pecah dan berserakan di lantai. Bunyi pecah itu pun terdengar olah Mira, Ayub dan Lili yang saat itu hendak ke kamar Mira. Merasa penasaran mereka bertiga pun akhirnya naik keatas tangga tempat dimana kamar Maya dan Royan berada.
"Ada apa denganmu Maya. Kau sungguh keterlaluan pagi ini". Ucap Royan yang mulai tidak bisa sabar lagi.
__ADS_1
"Kau yang keterlaluan Mas. Aku hanya ingin bubur itu dan kau kan bisa membuatnya lagi untuk Mira. Toh pada saat itu Mira juga belum turun untuk sarapan kan. Kau itu yang apa-apaan Mas !". Ucap Maya mulai berseru di hadapan suaminya.
"Jadi karena sebuah bubur kau sampai seperti ini. Maya, Mira itu adik iparku. Aku hanya mengikuti anjuran dokter untuk memberikannya obat tepat waktu yang sudah pasti dia juga harus sarapan tepat waktu pula". Ucap Royan memberi alesan.
"Heh berlebihan sekali. Bukan kah ada bi Nah yang bisa mengurus segalanya. Kau tidak harus repot-repot mengurusnya Mas". Ucap Maya sinis.
"Sekarang aku tanya sama kamu Maya. Mira itu adik kandungnya siapa. Kamu kan, harusnya kamu yang lebih memperhatikan adikmu itu. Bi nah itu membereskan rumah karena semalam kan kita habis kedatangan keluarga ku. Jika harus menunggy sampai bi Nah selesai itu sampai kapan Maya. Sedangkan pas kamu turun saja bi Nah baru selesai beberes. Dan itu jam berapa". Ucap Royan mengatakan kebenarannya yang membuat Maya terdiam.
"Heran aku sama kamu May. Di depan Yash kamu berkoar-koar mengatakan ini itu seolah kamu yang paling mengerti yang terbaik untuk Mira. Tapi kenyataanya....". Ucap Royan menggantung karena tak habis fikir dengan istri cantiknya itu.
"Apa kamu memperhatikannya hari ini. Apa kamu ingat jam berapa saja adikmu hrus makan dan meminum obatnya. Tida kan, kamu malah mencemburuiku yang jelas-jelas ingi membantumu. Mira sudah aku anggap seperti adik kandungku sendiri dan aku pun tahu batasannya Maya". Ucap Royan yang langsung berlalu pergi tanpa melihat keberadaan Mira dan kedua anaknya yang mendengar pertengkaran mereka.
Saat Maya berbalik kearah pintu. Betapa terkejutnya Maya saat melihat Mira dan kedua anaknya berada di luar kamarnya dengan mematung. Apa lagi tatapan Mira yang seolah kecewa dan sakit hati.
"Mira, Ayub, Lili... Sejak kapan kalian.... ?". Ucapan Maya terhenti saat Mira langsung berlalu pergi menuju kamarnya dan menutupnya dengan keras.
Sedangkan Lili pun menangis seraya berlarian mencari sang ayah menuruni anak tangga dengan sesenggukan dan merengek.Sementara Ayub sendiri hanya diam dengan kemarahan yang ditunjukan kepada sang ibu.
"Mamah berubah. Mamah bukan lagi mamah Maya yang Ayub kenal. Selamat mah karena tanpa namah sadari. Mamah yang membuat swmuanya hancur". Ucap Ayub dengan penuh kecewa dan berlalu pergi meninggalkan Maya yang langsung terduduk lemas di lantai.
"Mamah melakukan ini demi keluarga mamah. Mamah tidak ingin keluarga mamah hancur. Karena tanpa kalian sadari, kalian telah jauh dari mamah. Kalian lebih suka bersama adik mamah termasuk kau Mas, kau sangat memperhatikan Mira belakangan ini. Selama ini benar apa yang dikatakan Zoya. Tidak baik membiarkan wanita yang belum berkeluarga masuk dan tinggal di rumah tangga ku termasuk itu kau Mira. Adik kandung ku sendiri. Karena aku sudah meradakannya sekarang". Ucap Maya dengan rasa amarah dan menggigit bibirnya kuat-kuat.
Maya pun langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Zoya dan di deringat ketiga sambungan telfonnya pun terangkat.
"Zo aku butuh teman curhat". Ucap Maya dengan nada suara sumbang.
"Ok. Aku pun bete dirumah. Ketemuan saja di cafe x di mall Z. Aku malah jika harus kerumah mu mba". Ucap Zoya di swberang telfon yang di ketahui tengah bersantai.
"Ya. Sampai ketemu disana ya Zo. Bye...". Ucap Maya sedikit bersemangat.
Maya pun mematikan sambungan telfonnya dan mulai bersiap-siap merapikan sedikit riasan naturalnya. Setelah siap ia pun mengambil tas kecil juga kunci mobil miliknya lalu bergegas menuruni anak tangga.
"Bi...Bibi. Bi nah !". Panggil Maya kepada sang pembantunya.
Suara Maya pun menarik perhatian Royan yang kala itu tengah menenangkan sang putri bungsunya yang bersedih karena mendengar pertengkaran kedua orang tuanya itu.
"Ya non, ada apa ?". Tanya bi Nah sopan.
"Tolong beresin kamar ya, bersihin yang rapi. Saya mau kelyar dulu". Ucap Maya memerintah.
"Baik non, hati-hati di jalan non". Ucap bi Nah menadihati.
"Iya bi makasih, jaoan dulu ya bi". Ucap Maya yang berlalu begitu saja.
"Mamah mau kemana pah. Kenapa mamah pergi sendiri. Biasanyakan di akhirpekan kita selalu jalan bersama pah". Ucap Lili yang sepertinya merajuk dan kesal.
"Papah juga tidak tahu Li". Ucap Royan yang kala itu pun merasa bingung dan sedikit curiga.
"Lili di rumah dulu ya sama tante Mira dan kak Ayub. Papah mau mengikuti mamah mu". Ucap Royan dan langsung diangguki setuju oleh Lili. Royan pun langsung menggendong Lili dan membawanya ke bi Nah yang kala itu hendak kelantai atas.
"Bi Nah". Panggil Royan seraya berjalan mendekat membuat sang pembantu yang hendak menaiki tangga pun mengurungkannya dan berbalik kearah sang majikan.
"Iya tuan ?". Tanya bik Nah sopan dan menunduk.
"Tolong bawa Lili ke kamar Mira ya atau ke kamar Ayub cari dua anak itu dan suruh jaga Lili selama saya dan Maya pergi". Ucap Royan memberi perintak.
"Saya pergi dulu ya bi. Dadah Lili putri papah". Pamit Royan seraya melambai kearah sang putri.
"Dadah papah". Balas Lili dengan antusiasnya.Dan Royan pun lalu pergi dengan mobilnya yang lain membuntuti Maya sang istri.
Sedangkan Mira pun masih termenung di kamar di temani Ayub yang tengah bermain game pada ponselnya di kursi ayun warna hijau milik Mira.
"Non Mira, maaf mengganggu". Ucap bi Nah yang langsung berdiri di depan pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu sebab pintu kamar Mira sudah terbuka sejak Ayub masuk ke kamar Mira sembari menggendong Lili.
"Ekhem....Iya bi engga apa ko. Ada apa ya Bi ?". Tanya Mira seraya memperbaiki posisi duduknya.
"Ini non, nganterin non Lili. Tuan suruh saya buat nitipin non Lili ke enon sama aden Ayub". Ucap bi Nah dengan sopan.
"Memangnya papah kemana bi ?". Tanya Ayub tanpa melihat bi Nah yang artinya ia masih fokus pada gamenya.
"Pergi den, non Maya juga pergi". Ucap bi Nah memberi tahu.
"Tumben....". Ucap Ayub heran seraya menghentikan permainan game di ponselnya.
"Emm ya udah bi. Turunin saja Lilinya. Sayang sini sama tante Mira". Ucap Mira dengan lembut dan antusias.
Lili pun lalu turun dari gendongan sang bibi dan berlari kearah tempat tidur yang Mira tempati lalu menggelayut manja kepada sang tante.
"Bi tolong ambilkan buku cerita, buku gambar, alat tulis dan pensil warna Lili ya biar betah nanti". Ucap Mira memerintah.
"Baik non. Ada lagi non yang harus bibi kerjakan ?". Tanya bi Nah memastikan.
"Bawa cemilan kemari ya bi sama buatin tante Mira jus alpukat pake susu ya bi jangan pakai gula. Juga minuman dingin buat aku dan Lili". Ucap Ayub menambaih.
"Baik den. Bibi permisi dulu ya den". Ucap bi Nah sopan. Dan ketiganya pun hanya mengangguk santai.
Setelah bi Nah pergi Mira pun langsung melihat kearah Ayub dengan tatapan curiga dan Ayub pun hanya tersenyum lebar seraya meninjukan ponselnya kepada Mira.
"Paman Yash yang suruh tan heehee". Ucap Ayub dengan tertawa setan. Membuat Mira langsung menggeleng ringan dengan tersenyum.
Tak berapa lama bi Nah pun kembali dengan pesanan yang telah Ayub dan Mira pesankan. Lalu ia pun pamit untuk membereskan kamar Maya dan Royan.
"Saya permisi dulu ya non Mira, non Lili dan den Ayub. Jika butuh apa-apa bibi ada di kamar tuan buat beresin kamar". Ucap bi Nah memberi tahu.
"Iya bi makadih ya". Ucap Mira,dengan lembut.
"Jangan lupa bi sebelum jam dua siang masakin bubur buat tante Mira sama siapin obatnya ya". Suruh Ayub kepada sang pembantu
"Siap den. Bibi permisi dulu ya. Mari". Pamit bibi dan berlalu pergi.
Dan tak berapa lama Ayub pun menerima panggilan video call pada ponselnya dan terteralah nomor asing milik Yash. Ayub pun menjawzbnya dan terlihat lah wajah segar Yash yang tengah duduk diatas tempat tidurnya.
"Frans Ayubia, apa Mira bersamamu ?". Tanya Yash dengan nada tegas dan sopan.
__ADS_1
"Iya paman. Sebentar". Ucap Ayub dan mulai mendekati Mira.
"Tante, paman Yash ingin berbicara". Ucap Ayub seraya menyodorkan ponselnya.
Mira pun menerimanya dengan tersenyum. Dan Ayub pun langsung pergi mendekati Lili yang tengah asyik mewarnai gambar. Dan Ayub pun menemani Lili menggambar.
"Hai...". Sapa Yash dari seberang telfon saat sudah melihat wajah Mira di layar laptopnya.
"Tuan, anda sudah sampai ?".Tanya Mira dengan lembut. Namun Yash tidak langsung menjawabnya malah ia sedikit mengatupkan bibirnya,seperti marah. Dan Mira pun langsung tersadar.
"Ooopss maaf. Maksudku, Yash apa kau sudah sampai ?". Ucap Mira membetulkan pertanyaannya. Dan baru lah Yash sedikit menampakkan senyumannya.
"Ya aku baru saja sampai". Ucap Yash memberi tahu.
"Aaa.... Syukur lah. Lalu kenapa kau tidak beristirahat Yash. Perjalanan dari indonesia ke jepang pasti sangat melelahkan kan". Ucap Mira dengan lembut.
"Lelah ku terbayar saat melihatmu". Ucap Yash dengan tersenyum seraya menatap Mira dalam. Dan Mira pun lalu tersenyum di buatnya.
"Ada apa dengan matamu. Apa kau habis menangis ?". Tanya Yash menyelidik.
"Ahh, ya. Tadi aku menonton derama di ponselku dan kisahnya menyedihkan lalu aku menangis". Ucap Mira memberi alasan.
"Bohong". Ucap Yash dengan tersenyum mengejek. Membuat Mira langsung sedikit panik.
"Tidak, aku bersungguh-sungguh". Ucap Mira mencoba intuk meyakinkan Yash.
"Baik lah, lalu dimana ponselmu ?". Tanya Yash telak.
"Sedang di cas baterainya lowbet soalnya". Kilah Mira.
"Semalam aku menelfon pada nomor ponselmu. Lalu yang menjawabnya kakak perempuanmu. Dan pagi tadi aku bertanya kepada,Ayub dan ia pun menjawab jika ponselmu belum di berikan oleh mamahnya. Jadi, apa ponsel itu sudah kembali atau ada ponsel lain kah. Sebab sedari tadi aku dan Ayub memainkan game bersama". Ucap Yash panjang lenar membuat Mira langsung menelan ludah dan menunduk.
"Mati kau Mira.... Seorang Yash kau coba bohongi. Dasar bodoh kau". Batin Mira merutuki kebodohannya.
"Mau berbagi cerita dengan ku atau aku cari tahu sendiri". Ucap Yash sedikit mengancam.
"Aku hanya teringat kak Marko dan sedikit merindukannya Yash". Ucap Mira berbohong.
"Kau yakin ?". Tanya Yash masih merasa curiga.
"Ya, aku menangis karena merindukannya". Ucap Mira mencoba untuk meyakinkan.
"Beruntung saja Marko itu kakak pertamamu. Jika tidak, aku akan menghajarnya di hadapanmu". Ucap Yash dengan santai namun tersirat ketegasan dan keseriusan di dalamnya.
"Kenapa begitu ?". Tanya Mira sedikit manja.
"Karena dia telah berani membuat mu menangis karena merindukannya. Aku saja tidak sampsi kau tangisi". Ucap Yash dengan raut sedikit kesal.
"Aaa.... Kau cemburu rupanya". Ucap Mira sedikit menggoda.
"Ya aku cemburu. Dan aku sangat tidak suka orang yang berbohong karena apa pun itu. Kau menangis karrna pertengkaran mereka bukan". Ucap Yash telak membuat Mira langsung terdiam.
"Dari mana Yash tahu. Apa Ayub yang telah memberi tahukannya ?". Bati Mira menebak.
"Darimana kau tahu pertengkaran itu Yash ?". Tanya Mira penasaran.
"Karena saat mereka bertengkar aku dan Ayub tengah berkomunikasi dengan ku pada ponselnya. Dan aku juga mendengar semuanya. Bahkan langkah kaki mu yang berlari dan membanting pintu". Ucap Yash jujur dan telak. Membuat Mira langsung terdiam malu seperti maling yang tertangkap basah.
"Mira, tatap aku baik-baik". Ucap Yash dengan tegas dan serius. Membuatnya langsung menatap Yash pada layar ponselnya.
"Tolong beri kepercayaan untuk bisa menjadi tempat dimana kau mengadukan rasamu. Aku ingin menjadi yang sepecial di hidupmu. Selain Marko, Maya dan Royan Ketiga kakakmu itu. Bisa kah kau memberiku ruang. Jangan lagi berbohong atas kesedihanmu. Aku sangat tidak suka kebohongan. Aku ingin berguna dan berarti dalam hidupmu". Ucap Yash begitu dalam dan serius. Membuat Mira langsung terdiam dengan air mata yang menetes.
"Maaf, aku telah berbohong kepadamu". Ucap Mira masih dengan tangisannya.
"Kau tahu Mira. Melihatmu menangis seperti itu. Membuat ku ingin sekali menyelesaikan semuanya dan membawamu pergi bersamaku". Ucap Yash dengan sedikit berkaca namun Yash tahan dan tepis dengan sedikit mendongak keatas.
"Hhhhh, sudah jangan menangis. Ingat, jangan pernah berbohong dan menyembunyikan apa pun kepadaku. Apapun masalahnya bicarakan dengan ku. Kau mengerti ?". Tanya Yash memastikan dengan nada tegas. Dan Mira pun hanya mengangguk seraya menghapus air matanya.
"Jus alpukatnya sudah kau minum ?". Tanya Yash mencoba mencairkan suasana.
"Emm...Belum Yash. Tadi kau menelfon ku. Jadi aku lupa untuk meminumnya". Ucap Mira jujur.
"Minun lah, dan habiskan. Setidaknya kau masih memiliki tenaga setelah meminum jus itu. Sarapan dengan bubur beras pasti membuat mu lemas". Ucap Yash memerintah dan Mira pun langsung mengambil satu gelas juscalpukat yang telah di buatkan oleh bi Nah dan meminumnya di hadapan Yash.
Yash pun juga memulai makan malamnya di temani dengan Mira dan mengobrol apa pun yang membuat mereka betah sampai Yash tertidur dan Mira pun memutuskan untuk makan siang di jam stengah dua siang lalu meminum obat dan tidur siang bersama Lili yang ia pindahkan di kasurnya dan Ayub yang Mira suruh untuk pindah ke kasur bawah yang sudah Mira siapkan.
Sedangkan di lain tempat. Royan yang berhadil mengikuti sang istri pun tahu dan merasa terkejut saat Maya dan Zoya bertemu dan begitu akrab.
"Kenapa lagi si Mba, kalian bertengkar lagi ya ?". Tanya Zoya saat mereka sudah duduk santai di kursi cafe dan memesan minum.
"Ya gitu lah Zo. Mas Royan sekarang seperti lebih memperhatikan Mira. Bahkan membuatkan sarapan pun sampai rela diblakuinnya". Ucap Maya mulai mengadukan keluh kesalnya.
"Makannya Mba, kan sudah Zoya bilang dari dulu. Hati-hati dengan orang ketiga di rumah tangga. Meski pun itu adik sendiri. Mba dulu engga percaya sih jadinya kan sekarang bener ucapanku". Ucap Zoya dengan tatapan puasnya.
"Hhh... Mba bongung Zo. Mira itu adik mba. Adik bungsu mba, kita,sudah tidak memilik orang tua. Juga kak Marko hidupnya engfa beres. Selalu saja berada di dunia malam. Mba takut jika Mira nanntinya terpengaruh Zo". Ucap Maya yang membeberkan alasanya.
"Duh baik banget sih kamu Mba. Tapi kan Mira sudah dewasa Mba, dia sudah tahu mana yang benar dan tidak. Dia juga mandiri. Mba cukup pilihkan dia kos-kosan putri yang bagus yang elit sudah beres kan Mba. Engga perlu itu tinggal satu rumah. Mba juga bisa memantaunya kan. Udah gede inih". Ucap Zoya menasehati.
"Yah, mau gimana lagi Zo. Nasi sudah menjadi bubur. Sekarang tinggal mba cari cara untuk membuat Mira menikah dengan salah satu calon pilihan Mba. Asalkan itu bukan Yash". Ucap Maya dengan raut ambisiusnya.
"Bener tuh Mba. Untuk kebaikan Mira juga toh. Lagian juga calonnya pada baik-baik. Kalau tuan Yash itu serem anaknya mafia hiihh engga kebayang deh Mba nanti kalau sudah berurusan sama mafia eehhh hidupnya engga tenang Mba percaya deh. Sudah kebukti juga kan hidupnya Mira tuh nyawanya hampir melayang terus kalau deket-deket tuan Yash si anak mafia itu". Ucap Zoya mulai memanasi dan terus mempengaruhi Maya.
"Iya, kamu bener Zo". Ucap Maya yang mulai petcaya dan membenarkan ucapan Zoya.
Zoya pun diam-diam tersenyum setan dan licik saat ia berhasil mempengaruhi Maya. Sang istri beruntung dari Royan anak dari pamannya yang telah ia sukai sejak remaja.
"Haahaa dasar bodoh. Teruslah mempercaysiku Mba sampai kamu benar-benar hancur dan di tinggalkan oleh semuanya. Adik kandungmu yang paling kau bela mati-matian, Suamimu yang paling kau cintai, kakak lelakimu yang diam-diam kau sayang, juga... Kedua anak mu yang paling kau sayangi di hidupmu. Kau telah menggali kuburanmu sendiri Mba. Karena seorang Zoya tidak akan baik jika tidak menginginkan sesuatu". Batin Zoya dengan tersenyum lecik secara diam-diam kearah Maya.
Royan yang mendengar dan mengetahuinya pun akhirnya mengerti. Mengapa istri cantiknya itu bisa berubah derastis. Semua itu karena pengaruh Zoya.
"Heh...Ternyata kau yang telah mempengaruhinya Zo. Baik lah, aku akan ikuti permainanmu. Karena sampai kapan pun aku tidak akan melepaskan Maya. Tidak untu kau dan obsesimu itu Zoya". Lirih Royan dengan tatapan mata tajamnya. Dan berlalu pergi meninggalkan keduanya yang tengah merencanakan untuk pergi kesalon.
Royan pun langsung mmenghubungi pihak bank untuk membekukan rekening atasnama Maya istrinya juga membatadi jumlah pengeluaran uang milik Maya.
__ADS_1
"Pantas saja kau sangat boros akhir-akhir ini Maya. Rupanya kau telah membelanjakan orang yang salah". Ucap Royan di dalam mobilnya seraya melihat kertas tagihan yang jumlahnya sangat fantastis itu.
"Mari kita lihat. Apa rubah kecil itu akan tetap berteman denganmu saat kau tidak memiliki uang. Heh dasar rubah kecil sialan$. Ucap Royan dan langsung melajukan mobilnya menembus jalan di sore hari menuju kerumahnya.