
"Kakak". Sapa Raina seraya berlari menuruni anak tangga dan langsung memeluk sang kakak ysitu Yash.
Yash pun langsung memeluk tubuh mungil Raina dengan sayang dan mencium puncuk kepala Raina layaknya sepasang kekasih. Jio yang melihatnya pun merasa miris. Jika keduanya benar-benar sepasang kekasih tentu Jio akan turut senang. Namun jika kenyataanya bahwa mereka itu saudara kandung satu ayah berbeda ibu. Tentu tidak lah wajar bukan.
"Apa yang terjadi dengannya kak. Apa dia baik-baik saja ?". Tanya Raina setelah melepas pelukannya. Hal itu pun membuat Yash sedikit tidak rela namu apa boleh buat.
"Yang terjadi padanya sangat memprihatinkan. Dan dia sedang tidak baik-baik saja". Ucap Yash dan berlalu duduk di sofa ruang tamu dengsn rasa lelahnya.
Raina pun menyusul mendudukkan dirinya di samping sang kakak dengan bersandar pada sandaran sofa.
"Pantas saja ponselnya susah untuk dihubungi". Ucap Raina dengan lesu.
"Tapi kenapa kakak pulang paagi. Aps mencari Mira sampai sepagi ini ?". Tanya Raina penasaran.
"Mira sudah kskak antar pulang kemarin sore. Malemnya kaka ada tugas penting dan baru selesai dini hari. Malas pulang jadi kakak menginap di tempat Jio". Ucap Yash menjelaskan.
Raina pun hanya mengangguk mengerti dengan ucapan Yash. Dia pun kembali diam dengan menerawang langi-langit.
"Duduk lah Jio. Aku tahu kau lebih lelah dariku". Perintah Yash kepada Jio.
"Terima kasih Tuan". Ucap Jio dengan sopan dan lalu duduk di kursi tamu.
Yash pun lalu memijat keningnya yang terasa pening. Sedangkan para pelayan pun langsung menyiapkan teh hangat juga roti kering untuk di minum Yash, Jio dan Raina.
Yash pun langsung merebahkan kepalanya diatas pangkuan Raina sedangkan Raina asyik bermain dengan ponselnya.
"Pijat kepala ku Rain. Rasanya mau pecah". Ucap Yash meminta.
"Kau tahu kak. Aku tidak bisa memijat. Jadi jangan salahkanku jika terasa tidak enak atau mungkin tambah pening". Ucap Raina seraya menaruh ponselnya,dan mulai memijat.
"Tak masalah". Ucap Yash dengan tersenyum senang.
Bagi Yash begini saja sudah membuatnya senang dan beban berat yang terasa di tubuh Yash pun berangsur hilang. Meski pun pijitannya sama sekali tidak terasa namun cukup untuk membuat Yash senang.
"Ahhh andai saja aku pun meniliki adik perempuan seperti tuan Yash. Pasti sangat menyenangkan jika lelah ada yang menghibur dan menyambut". Batin Jio dengan merewang jauh.
"Hmmm Riena, dimana bodyguard seksi itu. Sudah lama aku tidak menggodanya". Bati Jio lagi dengan tersenyum dan mata mencari.
Raina yang melihat gelagat dari Jio pun tersenyum jahil. Ia sangat tahu jika lelaki bermuka tembok ini tengah mencari bodyguardnya.
"Riena masih di kamarnya Jio. Jam kerja dia untuk menemani dan mengawalku kan jam 8 pagi sampai ku tertidur". Sindir Mira dengan tersenyum jahil.
Membuat Jio seketika melirik Raina dengan tajam. Sementara Yash dengan mata terpejam pun tersenyum lucu. Dia tidak habis fikir akan bad grils and cool boy satu ini. Yang bila jauh saling mencari namun bila dekat saling bertengkar satu sama lain.
Yang perempuan sangat bar-bar dan cerewet dan yang lelaki sangat dingin, sangat lempeng namun sedikit mesum. Kerjaanya selalu saja menggoda, nengejek dan menjahili satu sama lain. Sungguh pasangan yang aneh.
"Cari lah dia Jio. Siapa tahu bisa meringankan rasa penat dan lelah mu". Ucap Yash dengan tersenyum lucu.
"Ahh adik kakak ini sama saja. Benar-benar menjengkelkan". Batin Jio dengan dongkolnya.
Saat Jio hendak beranjak pergi tiba-tiba saja ponsel Yash berbunyi. Membuat Jio duduk kembali dan Yash mengerang lelah.
"Arrghhh pasti soal pekerjaan lagi. Tidak bisakah semua itu dihilangkan. Mengganggu saja". Racau Yash dalam batinnya.
Saat Yash melihat ponselnya, ternyata nama Arnando Steven lah yang tertera di layar ponsel Yash.
Dengar kernyitan yang kentara di dahinya. Ia pun mencoba menjawab panggilan telfon di ponselnya.
"Apa ?". Ucap Yash dengan ketus.
"Sialan kau. Untung sahabat". Ucap Arnando dari seberang telfon.
"Jika tidak penting akan aku matikan". Ucap Yash dengan santainya.
"YAA !. Sialan kau. Aku sudah menemukan dimana Vikram berada. Jika ingin tahu cepat lah kemari. Leon beast". Ucap Arnando dengan setengah kesal dan langsung saja mematikan sambungan telfonnya secara sepihak.
Yash pun hanya tersenyum miring menanggapi ucapan kesal dari Arnando. Dia memang sangat suka membuat seorang Arnando kesal.
"Ikut dengan ku Jio. Arnando sudah menemukannya". Ucap Yash seraya merapikan bajunya.
"Kak, setidaknya kau harus membersihkan tubuhmu terlebih dahulu sebelum menemui kak Nando. Kau tahu dia sangat over jika mengenai tentang kebersihan". Ucap Raina mengingatkan.
Yash pun baru menyadari tentang keadaan tubuhnya yang begitu lusuh dan tak segar. Dia pun melihat kearah Jio yang juga terlihat kelelahan namun sengaja Jio sembunyikan dengan raut datarnya.
"Baik lah jika kau yang meminta". Ucap Yash kepada Raina seraya membelai lembut surai rambut sang adik dengan tatapan mendamba.
"Tolong siapkan bajuku ya, Aku akan membersihkan badan". Pinta Yash kepada Raina dengan lembut.
"Siaap captain". Ucap Raina dengan bersemangat.
Yash pun melihat kearah Jio yang tengah memandang lantai dengan tatapan dingin lalu berucap.
"Kita berangkat setelah sarapan pagi. Biarkan dia menunggu". Perintah Yash kepada Jio.
"Baik tuan muda". Ucsp Jio menurut.
Yash pun berpisah dengan Jio di ruang tamu itu. Mereka pun menjalani aktifitas pagi mereka. Sedangkan Raina sibu menyiapan pakaian santai yang akan Yash sang kakak kenakan.
Memang sudah nenjadi kebiasaan Raina sejak usianya tujuh belas tahun. Ia sudah di minta oleh Yash untuk menyiapkan pakaiannya mulai dari Yash berangkat kuliah sampai pulang kuliah juga saat Yash sudah bekerja pun Raina masih menyiapkan semua keperluan Yash layaknya seorang istri.
"Hhh...Nasib punya kakak jomblo ya gini. Apa-apa harus aku. Mentang-mentang aku ini perempuan sendiri disini dan yang paling kecil. Ahhh semoga saja Engkau cepat-cepat mempertemukan kak Yash dengan jodohnya Tuhaaan, aku sudah bosan seperti ini". Ucap batin Raina dengan mengeluh.
Ia pun mengeluarkan kaus oblong berwarna putih jaket leviis berwarna navy dan jeans berwarna navy serta dalaman hitam untuk dikenakan sang kakak.
"KAK, udah aku siapin bajunya di atas kasur. Aku mau turun dulu siapin sarapan". Ucap Raina dengan sedikit berteriak.
"YA...". Ucap Yash dengan berteriak dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
Raina pun turun keruangan makan setelah mendengar ucapan dari Yash. Namun saat turun kesemua orang sudah hadir di meja makan. Tinggal Raina dan Yash yang belum datang.
"Dimana cucu sulungku ?". Tanya sang kakek dengan tatapan tajam.
"Masih mandi kakek". Lirih Raina dengan takut-takut.
"Duduk lah nak, kita,sarapan bersama". Ucap Jonathan dengan lembut.
Raina pun duduk di kursi makan ketiga dari deretan ayahnya. Di kursi utama ada sang kakek, Di kursi samping kiri ada Nenek, ibu yasmine, Attalaric, Arttaniel dan Jasson. Sedangksn di samping kanan ada Jonathan, kursi kosong unutuk Yash, Raina dan Jio.
Meja makan itu terdiri dari dua belas kursi dua di ujung dan ujung, lima di kiri dan kanan. Dengan hidangan yang bermacam-macsm. Ada sereal, roti tawar gandum, selai, omlet, dan senwich alias roti isi.
Raina pun mengambil senwich si original untuk sarapan psginya serta susu coklat hangat yang telah di antarkan oleh Riena.
Beberapa menit kemudian Yash pun turun dengan pakaian santainya dan sudah segar tentunya. Namun penampilan Yash kali ini membuat sang kakek mengernyit tak suka.
"Pagi Yash". Sapa sang Nenek dengan tersenyum lembut.
Yash pun hanya mengangguk acuh menanngapi sapaan dari sang nenek. Bukan tak sopan, hanya saja terlalu malas bagi Yash untuk meladeni orang-orang yang Yash anggap tak penting.
Ia pun lalu duduk di kursi tengah samping Jonathan dan Raina. Yash lalu mengambil omlet dan air putih. Karena tidak baik memakan telur dan susu secara bersamaan. Tidak baik juga jika meminum orange jus saat pagi. Karena sejatinya Yash pun sangat menjaga pola makan dan pola hidupnya.
Saat sudah beberapa suap omlet yang maduk kedalam perutnya. Dengan tiba-tiba Jasson sang adik menggoda.
"Hari ini kak Yash beda nih. Mau jalan ya sama cewek". Ucap Jasson dengan tersenyum jahil. Yash pun hanya terkekeh lucu menjawab ucapan dari sang adik.
"Rain nanti berangkat kuliah mau di antar sama kak Atta atau kak Artha ?". Tanya Artha dengan santai.
"Sama aku lah, sekalian aku juga mau ketemu temen mumpung free". Ucap Jasson dengan sombongnya.
"Weh mentang-mentang yang udah lulus skiripsi. Ngeluyur teruus. Cari kerja kek mumpung belum ada yang datang mintai tanggung jawab". Ucap Atta dengan menyindir.
"Mulut itu dijaga ya. Cabein baru tahu rasa". Sahut Jasson dengan lirikan mautnya.
Membuat Raina tersenyum lucu dan para orang tua termasuk Yash dan Jio menggeleng maklum. Sudah menjadi kebiasan jika Jasson dan Attalarick itu bagai kucing dan anjing. Tidak pernah akur dan selalu debat satu sama lain.
"Kau msu kemana Yash. Menemui gadis itu lagi. Kakek tahu dia berjasa untuk mu dan dia". Lirik sang kakek diakhir kalimat dengan tajam kearah Raina.
"Tetapi jangan sampai kau memiliki perasaan kepadanya. Dia tidak sebanding dengan mu. Jika kau mau...". Ucapan sang kakek terhenti dengan tiba-tiba saat Yash nembanting sendoknya keatas piring.
"Berhenti mengurusi hidupku. Aku bukan anak mu yang patuh. Jika aku nyaman terhadap sesuatu pasti akan ku pertahankan. Dan jangan coba-coba mengusik ku". Ucap Yash dengan tajam.
Bagi Yash apa yang harus ia takuti dari kedua orang renta itu. Mereka hanyalah orang tua dari ayahnya sedang kan ia memiliki orang tua sendiri. Jika dengan sikap menentang Yash mereka bisa mendepak Yash dari keluarga Leonard. Coba saja tanpa Yash kedua orang renta itu juga wanita licik itu akan mati kelaparan dan tidak bisa hiduo mewah seperti sekarang.
Prinsip Yash jika ingin hidup bebas tanpa kekangan dan tekanan, maka buat lah dirimu berada diatas mereka. Buat lah mereka berfikiran jika hanya kau lah yang dapat dibergantungkan oleh mereka. Dan prinsio itu pun berhasil. Sekeras apa pun mereka memaksa. Jika Yash berkata tidak ya tidak.
Hal itu lah yang membuat Jonathan sedikit bernafas lega. Melihat putra sulungnya dapat perprinsip tegas dan tahu baik buruknya suatu hal. Tidak seperti dirinya yang selalu tidak bisa membantah kedua orang tuanya.Sikap pembangkang dan pola pikir Yash mengingatkannya kepada mendiang istri pertamanya. Cinthiya ibu dari Yash yang selain cerdas dan anggun. Sikap egois dan pembangkang pun turut ia miliki. Membuat Jonathan tersenyum lucu di tempat.
"Yash, kakekmu hanya menginginkan yang terbaik untukmu. Jangan lah kau seperti ini nak". Ucap sang Nenek dengan lembut.
Yash pun lalu berdiri dari kursinya meneguk habis satu gelas air putih dan setelah habis ia pun menaruh gelasnya dengan sedikit keras membuat semuanya berjengit kaget. Dengan tatapan tajam Yash juga melihat kearah Jio dan memberikan kode untuk bersiap pergi. Jio pun mengangguk dan berdiri dari duduknya.
"Aku akan bertemu dengan Vikram D Lathore. Pertemuan penting. Apa kalian puas dengan rasa penasaran kalian. Heh selamat pagi". Ucap Yash lalu mengecup puncuk kepala Raina dengan lembut dan berlalu pergi bersama Jio.
Sementara Raina yang tengah merasakan seduatu itu pun menjadi berbinar saat nama Vikram disebut oleh sang kakak.
"Benarkah dia telah kembali". Batin Rsina merasa senang.
Namun sikap dan tingkah Raina disalah artikan oleh mereka yang memang tahu betul perasaan Yash terhadap Raina. Ada yang memandang sedih, sinis, mencemooh dan perihatin.
"Selalu saja begini. Kapan sarapan pagiku tentram tanpa adanya pertengkaran". Lirih Jasson dengan lesu.
"Aku mau mau bersngkat kerja dulu". Ucap Artha dengan berlalu begitu saja.
"Aku juga". Ucap Attalarick dengan dinginnya.
"Rain ayo kita berangkat". Ajak Jasson kepada sang adik. Raina pun mengangguk dan berpamitan hanya kepada sang ayah dengan mencium pipi sang ayah.
Setelah itu giliran Jonathan yang beranjak tanpa sepatah kata apa pun. Membuat ketiga orang yang masih berada disana merasa dongkol dan tidak di hargai.
Setelah itu Yash yang masih merasa dongkol pun dengan kesal menatap jalanan kota yang ramai lancar. Sementara Jio dan sang supir pun seperti biasa. Hanya diam membisu. Terlebih saat tahu jika tuan mudanya tengah marah dan kesal.
Saat sudah sampai di tempat tujuan yang di maksud oleh Arnando. Yaitu di gedung terbengkalai yang berada terpencil di sudut kota. Yash yang merasa aneh dan bingung pun menjadi awas dan berhati-hati.
Menemui seorang Vikram D Lathore sama saja dengan menantang maut. Dan Yash pun lupa akan hal ini. Dia sama sekali tidak ada persiapan.
"Dimana ?". Tanya Yash saat panggilan telfonnya tersambung kepada Arnando.
"Jangan masuk gedung dulu. Arshkan mobilnya ke kiri. Ada sesuatu ysng harus kita rencanakan". Ucap Arnando dengan berbisik. Membust Yash sedikit mengernyit heran.
"Tidak biasanya seorang Arnando Seteven berbicara dengan sehati-hati ini". Batin Yash heran.
Setibanya di tempat yang di beri tahu oleh Arnando. Yadh pun turun dari mobil dengan kernyitan yang dalam saat melihat orang-orang Arnando tengah berjaga dengan membawa senjata.
"Lama sekali kalian. Aku sudah bilang kan untuk datang secepatnya". Ucap Arnando dengan kesal.
"Ada apa ?". Tanya Yash dengan kalemnya.
"Vikram disekap disana". Ucap Arnando memberi tahu.
"Kau bercanda atau berusaha untuk membodohiku. Seorang Vikram di sekap. Hhhhkkk sungguh lucu". Elak Yash merasa tak yakin dan merasa lucu.
"Lihat saja ini. Aku diam-diam menerbangkan kamera pengawas berbentuk lalat kedalamnya. Coba lihat, kau pun akan terkejut melihatnya". Tunjuk Arnando kepada Yash pada layar tabletnya.
Yash yang melihatnya pun dibuat terkejut dengan keadaan Vikram yang sungguh memprihatinkan. Rambut yang lusuh dan sedikit gondrong, badan yang sedikit kurus, Muka penuh lebam, serta tangan dan kaki yang terikat rantai.
"Mengapa Vikram menjadi seidiot ini. Tidak bisa kah ia menggunakan otak jeniusnya". Ucap Yash merasa heran.
__ADS_1
"Aku pun heran melihatnya. Dia seperti bukan fikram yang kita kenal. Saat aku menyelidiki lebih dalam. Ada beberspa orang yang dengan rutin menyuntikan beberapa cairan. Saat pagi, saat siang dan saat tengah malam. Suntikan itu yang membuat Vikram seperti idiot". Jelas Arnando dengan detail.
"Dari mana kau mendapatkan info tentang keberadaanya ?". Tanya Yash heran.
"Satu minggu yang lalu ada nomor tidak di kenal menelfonku. Dengan suara seperti orang tak waras dia mencoba berbicara. Awalnya aku merasa tak penting namun saat ia berkata Leon beast dengan suara aslinya. Aku baru sadar jika itu Vikram". Jelas Arnando dengan detail.
"Aku mencoba berbicara seolah-olah aku adalah tukang pitzza. Dan dari situ ia mengucapkan beberapa kalimat sebagai kode untuk ku bisa mencari dan melacaknya. Kebetulan saat itu juga mereka memesan sesuatu. Aku menyamar sebagai tukang ojek online makanan demi menyelidikinya. Dan saat aku bertemu dengan salah satu dari orang-orang yang menyekap Vikram. Aku jadi tahu siapa saja orang-orang itu. Dari situ aku menelusuri tempat ini dan akhirnya berhasil. Aku menemukannya".
Ucap Arnando dengan bersemangat dan menggebu- gebu.
"Mereka orang-orang dari marga Firmansyah dan musuh bebuyutan Mafia Latho yaitu gengster Black Araze. Pemimpinnya bernama Pedro Paraze. Kau pasti tahu betul kan siapa itu Pedro Paraze". Ucap Arnando dengan cepat.
"Ciiihh si penyuka sesama jenis itu rupanya". Ucap Yash dengan sinisnya.
"Hubungi Raman asisten pribadi Vikram yang bodoh dan lambat itu. Suruh dia membawa beberapa orang-orangnya untuk membantu kita. Jumlah mereka terlalu banyak dan aku sedang tidak ingin mengorbankan orang-orang ku". Printah Yash krpada sahabatnya Arnando.
"Heh kenapa begitu ?". Tanya Arnando dengan bingung.
"Aku tidak ada masalah dengan lelaki hitam itu. Yang bermasalah kan Latho dan Araze. Aku hanya membantu. Jika kau ingin mengorbankan orang-orang mu. Ya silahkan saja". Ucsp Yash dengsn cueknya. Membuat Arnando merasa tidak habis fikir akan sahabatnya yang satu ini.
"Hhhhh Yash ini benar-benar". Batin Arnando dengan kesal.
Arnando pun langsung menghubungi Raman asisten pribadi sekaligus tangan kanan dari Vikram. Ia pun mulai menjelaskan segalanya di telefin dengan detail. Setelah beberapa menit mereka Arnando pun menyudahi panggilan telfonnya dan bernafas lega.
"Suruh saja orang-orang mu pulang. Cukup Kita bertiga di bantu dengan Raman dan orang-orangnya yang masuk ke sana. Aku hanya ingin meminimasir keadaan. Negara kita negara hukum. Akan sangat merepotkan jika terjadi banyak korban". Ucap Yash dengan santai.
"Kauuu....Yakin ?". Tanya Arnando dengan ragu.
"Cukup lumpuhkan saja mereka yang melawan. Bunuh mereka jika keadaan terdesak. Aku yakin orang-orang dari mafia Latho tidak bisa dianggap remeh". Ucap Yash dengan bersandar pada bagian depan mobil milih Arman.
"Baik lah, aku akan menyuruh mereka pulang kalau begitu". Ucap Arnando seraya berjalan menuju kearah orang-orangnya.
Saat semua orang-orang di bawah naungan Arnando pergi. Datang lah sepuluh buah mobil yang berisikan masing-masing mobil delapan orang.
"Wooww Sebanyak ini...Mereka pasti kalah". Ucap Arnando dengan berdecak kagum.
"Mereka semua adalah orang-orang terlatih dan terbaik untuk bertempur". Ucap Yash memberi tahu.
Keluarlah Raman dari dalam mobil pertama dengan pakaian hitamnya serta kacamata hitam yang bertengger dengan angkuhnya.
"Tuan muda Yash, Tuan muda Arnando dan Jio. Selamat siang". Hormat Raman dengan raut serius ala robotnya.
Jika kalian menganggap bahwa asisten Jio lah yang paling kaku maka itu semua tidak benar. Karena Raman sang asisten dari Vikram lah yang paling kaku. Tanpa senyuman sedikit pun dan cara bicaranya pun sangat dingin dan irit.
"Bagaimana bisa kau sampai tidak mengetahui keberadaan tuanmu Ram. Kau juga tidak menghubungi kami saat tuan mu menghilang". Ucap Yash dengan suara dingin menusuknya.
"Lathor sedang terancam saat itu. Aku harus ikut terbang bersama orang-orang terbaik ke sana. Sedangkan tuan muda tidak ikutkann oleh tuan besar. Sehingga kami tidak tahu jika tuan muda menghilang. Kebiasaannya berbaur dengan orang-orang asing tanpa pengawalan membuat kami berfikir jika tuan muda tengah menjalani kebiasaannya". Ucap Raman menjelaskan.
"Sudah lah. Sekarang yang terpenting selamatkan dulu Vikram dari tawanan mereka. Black Araze juga ikut membantu Fredi Firmansyah untuk menyekap tuan mu". Ucap Yash dengan mata menerawang.
"Apa hubungannya seseorang yang bernama Fredi iti dengan tuan muda dan pedro ?". Tanya Raman dengan heran.
"Ada beberapa kemungkinan. Panjang ceritanya. Setelah menyelamatkan tuan mu baru aku ceritakan". Ucap Yash seraya berfikir keras mengatur setrategi.
"Ada berapa orang yang kamu bawa Ram ?". Tanya Yash dengan berkerut.
"kurang lebih lima puluh orang". Ucap Ram dengan santai dan datar.
"Terlalu banyak. Lima orang ikut aku, Jio, Armando dan kau. Cari lah yang handal dalam menembak serta bela diri. Sebagian lagi sepuluh orang berja-jaga di area luar gedung dan lina belas lagi di sini memantau dengan cermat. Jika ada yang mengibarkan bendera hitam maka kalian harus siap-siap masuk membantu kami". Ucap Yash mengatur rencana.
"Ada yang membawa pemantik ?". Tanya Yash kepada semua orang.
Ram pun dengan cepat mengeluarkan pemantik dari saku celananya dan menyalakannya dengan raut datar.
Yash pun tersenyum dengan penuh kelicikan di matanya. Membuat Jio dan Arnando merasa penasaran. Cara gila apa yang akan Yash perbuat nanti.
"Persiap kan senjata kalian. Saatnya kita berpesta. Ingat jangan membunuh jika tidak merasa terdesak". Ucap Yash dengan sorot tajam.
Semua pun mulai menyiapkan sebuah pistol kecil di saku masing-masing. Karena Yash tahu jika kemampuan orang-orang Black Araze adalah dengan adu otot dan ketangkasan serta senjata tajam seperti pisau dan belati. Untuk itu Yash selalu mengingatkan Ram untuk membawa orang-orang yang mumpuni dalam adu otot dan ketangkasan.
Sementara itu seperti biasa. Yash dengan kecerdikannya mencoba menyelinap dengan Jio dari arah belakang gedung. Namun sialnya tidak ada celah yang dapat dimasuki oleh mereka. Dan akhirnya Yash dan Jio pun mencoba memanjat menggunakan alat bantu dengan gesitnya kearah atas gedung.
Setelah berada di atas. Jio pun mencari celah untuk bisa masuk kedalam gedung melalui atap. Sementara Yash memberi kode dengan kain hitam dari atap gedung sehingga orang-orang di bawah naungan Vikram dapat melihatnya dan mulai maju dengan perlahan.
Arnando dan Raman pun mulai meluncurkan aksi mengecoh dari arah samping gedung. Memancing sebagian orang yang berada di luar gedung untuk merasa was-was.
Jio pun menemukan lubang pada atap gedung yang mengarah ke area tengah ruangan. Namun sepertinya tidak mungkin. Di ruang tengah itu banyak sekali orang-orang yang tengah berjaga dengan bermain kartu.
"Terlalu dini untuk masuk. Sementara Ram dan Arnando pu baru memulai aksinya". Batin Jio dengan alis mengerut.
"Lewat sana saja Jio. Jendela itu terhubung kearsh Vikram berada. Namun kita harus memecahkan kaca itu terlebih dahulu". Ucao Yash.
"Saya bisa membukanya tuan. Sebentar saya ambl sesuatu dulu". Ucap Yash dan berlalu.
Setelah menemukan alat yang hanya bermodalkan pisau dan kayu Jio pun mulai mencongkel jendela itu dengan kuat dan tanpa suara.
Yash yang melihatnya pun tersenyum tipis kepada Jio yang tengah berusaha itu. Setelah beberapa menit akhirnya jendela itu pun terbuka dengan lebar.
"Berhasil tuan". Ucap Jio dengan rau kelegaan.
Yash pun mulai tersenyum dan mengeratkan jemarinya yang terasa kaku lalu tersenyum Miring.
"So time Jio". Ucap Yash dengan mata dan senyuman evilnya.
"Tentu tuan". Jaeab Jio sopan.
Dan mereka pun mulai memasuki ruangan dengan hati-hati dan lirih.
__ADS_1