
Roni dan Yash akhirnya terbang menggunakan helikopter pribadinya nenuju ke lapangan belakang rumah sakit harapan. Dalam perjalanannya Roni tak henti-hentinya melirik kearah tuan mudanya yang terlihat pucat pasi. Seakan menahan rasa sakit yang teramat sangat. Peluh keringat yang keluar dari pelipis Yash pun terlihat besar-besar.
"Anda baik-baik saja tuan ?". Tanya Roni dengan sedikit takut-takur.
"Ya saya baik-baik saja". Ucap Yash dingin. Roni pun mulai memfokuskan dirinya kearah depan setelah mendengar jawaban dingin dari Yash. Roni tentu hafal dan tahu betul jika tuan Yash saat ini tengah menjadi Leon.
Dan akhirnya helikopter itu pun sampai di lapangan belakang rumah sakit harapan. Dengan sigap Roni pun membukakan pintu untuk Yash. Dan Yash pun turun sambil menggendong Mira di depan. Tanpa memperdulikan punggung dan tangan kirinya yang cedera. Yash tetap memaksakan diri untuk menggendong Mira.
Roni pun akhirnya mengetahui kesulitan yang di dapati oleh Yash karena erangan tertahan Yash saat turun dan berjalan tertatih sembari menggendong Mira yang pingsan di depan. Dan Roni pun akhirnya memanggil beberapa perawat untuk mengambilkan bangkar untuk membawa Mira.
Keenam perawat itu pun sigap dan langsung mendorong bangkar kearah Yash yang tertatih dan terlihat sangat pucat.
"Tuan biarkan mereka yang membawa nona Mira. Wajah anda sudah begitu pucat. Tolonglah demi nona Mira". Ucap Roni memohon.
"Apa mereka bisa di percaya. Ingatlah Roni aku dan Mira tengah diburu oleh seseorang. Aku tidak bisa mempercayai siapa pun termasuk kau". Ucap Yash yang begitu waspada dan berhati-hati.
"Astaga tuan. Saya berada di pihak anda. Saya tidak mungkin berhianat karena anda begitu berjasa bagi saya dan hidup saya. Tolong percaya lah tuan Leon". Ucap Roni yang terpaksa memanggil Yash dengan sebutan Leon sisi gelap dan sisi lain dari seorang Aryasa Leonard.
Yash pun langsung tersenyum miring dan menengok kearah Roni yang membeku di tempat saat melihat mata berkilat tajam dari seorang Leon.
"Jika itu sampai terjadi. Aku ingin kepalamu sebagai jaminannya".Ucap Yash dingin dan langsung membuat Roni meneguk ludahnya bulat-bulat.
"Ya tuan, saya siap sebagai jaminannya". Ucap Roni dengan menahan rasa takutnya.
Dan Yash pun langsung menurunkan Mira di bangkar pasien dan setelahnya Yash pun tergeletak di tanah. Karena tidak kuat lagi menahan rasa kantuk dan lelah pada tubuhnya itu. Roni Yang melihatnya pun langsung panik dan menyuruh sebagian perawat untuk membawa satu bangkar lagi. Dan saat beberapa suster hendak membawa Mira, Roni pun mencegahnya dengan tajam.
"Bawa mereka secara bersamaan". Ucap Roni tegas dan membuat beberapa perawat pun mengangguk patuh.
Beruntung Jio datang tepat waktu dengan helikopternya dan langsung berlari kearah Yash yang terkapar di tanah.
"Kenapa dengan tuan Yash ?". Tanya Jio sedikit panik.
"Kemungkinan ada cedera di bagian bahu atau punggungnya tuan Ji. Tadi saya sempat menperhatikan tuan Yash begitu kesulitan menggendong nona Mira". Ucap Roni melapor.
"Dia juga sepertinya tengah menjadi tuan Leon". Ucap Roni lagi membuat Jio bernafas lelah.
Memang sangat sulit mengendalikan tuan Yash saat sudah menjadi Leon. Aura mematikannya pun sangat menakutkan. Tak ada yang berani untuk mencegahnya untuk berbuat nekad dan berutal. Sisi lain yang di wariskan oleh mendiang ayah dari ayahnya tuan besar Jonathan.
"Bawa tuan Yash ke Dokter Regan. Dan Mira biarkan ia di periksa oleh dokter Jordan. Roni tolong awasi dan jaga nona Mira dengan baik. Jangan sampai ia hilang dan berada di tangan seseorang yang menyebutkan dirinya sebagai nyonya bos. Perketatlah penjagaan untuk Mira". Ucap Jio memerintah.
"Baik lah tuan Ji". Ucao Roni sopan dan hormat.
Bangkar untuk tuan Yash pun datang. Beberapa perawat pun mulai membopong Yash yang tergeletak di tanah kearah bangkar. Dan akhirnya Yash dan Mira pun di bawa keruangan terpisah.
Sepanjang perjalanan sampai keruangan khusus yang di tangani oleh dokter Regan. Dokter ahli tulang dan organ dalam. Yash tidak henti-hentinya menggumankan nama Mira. Seakan enggan jika dirinya berada terpisah ruangan dengan Mira dan seakan jiwanya tak tenang akan keberadaan Mira yang jauh dari sisinya itu.
"Tenanglah tuan, nona Mira sedang ditangani oleh dokter Jordan. Dia juga di jaga ketat oleh Roni. Nona Mira pasti akan baik-baik saja". Ucap Jio tepat di telinga Yash yang akhirnya membuat Yash perlahan terdiam tenang dan tidak lagi meracau menggumankan nama Mira.
"Hhh...Akhirnya anda tenang juga tuan". Lirih Jio dengan lega.
Masuk lah dokter Regan yang langsung memeriksa dan mengecak kondisi Yash dengan berbagai alat medisnya. Sedangkan Jio tetap berdiri di samping Yash dan memperhatikan sang dokter yang tengah memeriksa.
Sang dokter pun memperlihatkan sebuah gambar pada layar besar yang berada di ruangan itu. Sebuah gambar seperti bentuk tulang pada bahu tuan Yash.
"Ada sedikit keretakan pada bahu tuan muda tuan". Ucap dokter Regan yang memperlihatkannya.
"Tidak begitu berbahaya. Namun kemungkinan tuan Yash tidak diperbolehkan menggerakkan tangan kirinya selama tiga bulan dan harus rutin untuk kontrol tuan". Ucap dokter Regan dengan sopan.
"Selama itu ?". Tanya Jio sedikit ragu.
"Ya tuan. Itu pun jika tuan muda mau menjalani kontrol rutin dan benar-benar tidak menggunakan tangan kirinya selama tiga bulan". Ucap sang dokter memberi tahu.
"Dan sepertinya tuan muda sangat memaksakan diri untuk mempergunakan tangannya untuk mengangkat beban. Beruntung ini tidak fatal tuan". Ucap sang dokter lagi. Membuat Jio langsung terpejam lelah.
"Tuan muda Yash memang benar-benar keras kepala". Batin Jio dengan lelah.
"Mungkin pada saat nanti tuan muda membuka mata. Akan merasa sangat sakit pada ulu hatinya. Segera suntikkan obat ini jika sampai tuan Yash mengerang sakit dan jika saya tengah berada di ruang operasi. Karena lima belas menit lagi saya akan mengoperasi pasien saya tuan". Ucap Regan memberi tahu.
"Pergilah. Saya tahu dan paham masalah suntik menyuntik". Ucap Jio santai dan dokter Regan pun mengangguk tanda mengerti.
Karena yang dokter Regan tahu. Jika tuan Jio asisten juga tangan kanan seorang Yash adalah seseorang yang jenius dan multitalen.
Sedangkan Mira yang di periksa oleh dokter Jordan dan di dampingi serta diawasi oleh Roni pun mulai di tangani dan dirawat. Beberapa suster mengganti pakaian Mira dengan pakaian pasien serta membersihkan tubuh Mira yang kusut dan kotor. Setelah bersih dan rapih lalu mulai diperiksa oleh sang dokter lagi dan di pasang infus dan di bersihkan luka-luka kecil yang terdapat di tubuh Mira.
"Bagaimana keadaanya dok ?". Tanya Roni sopan.
"Tak apa, hanya luka-luka ringan dan sedikit syok. Luuka keningnya pun tak apa. Nanti saya akan menyuruh dokter Regan untuk memeriksa organ dalam pasien untuk memastikan ada atau tidaknya luka dalam yang dialami oleh nona Mira".
Ucap dokter Jordan memberi tahu. Dan Roni pun hanya mengangguk. Menyerahkan segalanya kepada sang dokter. Yang terpenting baginya saat ini hanyalah waspada, berhati-hati, dan selalu awas. Dia tidak ingin tuan muda Yash menjelma menjadi Leon dan mengincar kepalanya atas keteledorannya.
Tak berapa lama dokter Regan pun datang dan dengan cepat memeriksa Mira. Setelah itu ia pun menatap dokter Jordan dengan serius.
"Apa dia memiliki terahuma ?" Tanya Dokter Regan kepada dokter Jordan.
"Ya dia sempat memiliki terahuma batin. Dan tengah menjalani masa pemulihan". Ucap dokter Jordan memberi tahu.
"Tidak ada luka retakan yang serius. Hanya saja lambungnya sedikit bengkak dok. Dia mungkin sering mengonsumsi suatu obat yang tidak sesuai resep dan jarang memperhatikan pola makan". Ucap dokter Regan memberi tahu.
"Jika tetap di biarkan, akibatnya bisa fatal. Anda tentu bisa menanganinya". Ucap Dokter Regan lagi.
"Ya biar nantii saya akan tanyakan obat yang sering ia konsumsi dan mencari jalan penyembuhan yang aman untuknya. Dia sangat berharga untuuk tuan Yash". Ucap dokter Jordan dan menatap Mira sendu.
"Baik lah. Saya pamit karena sebentar lagi akan masuk keruang operasi untuk mengoperasi pasienku. Selamat bekerja dokter Jordan". Ucap dokter Regan sopan
"Selamat bekerja untuk anda dokter Re". Ucap dokter Jordan sopan. Dan akhirnya dokter Regan pun pergi dari ruangan itu.
"Saya juga akan pergi memeriksa pasien lain tuan Roni. Beritahu suster jika pasien siuman nanti". Ucap dokter Jordan memberi tahu.
"Baik dok". Ucap Roni sopan.
Dokter Jordan pun keluar dan tinggallah Roni disana. Ia pun duduk termenung di tempat. Ia merasa sangat penasaran akan seseorang yang di juluki nyonya bos itu. Karena dengan beraninya menantang seorang Yash.
Dilain tempat ada Maya yang sedari tadi mondar-mandir di ruang tamunya. Ia akhirnya mengetahui jika Mira semalam tidak pulang dan dia juga tidak berada di kediamannya Shila. Dan pagi ini Reino pun menelfon. Memberi tahukan jika Mira tidak menemuinya untuk berkencan. Dan bahkan Reino pin berkata jika Mira bersama laki-laki lain saat dirinya menelfon untuk mempertanyakan ketidak datangan Mira ke giymnya Reino.
__ADS_1
Sedangkan Royan hanya duduk santai seraya melihat istrinya mondar-mandir di hadapannya seperti setrikaan.
"Mas, gimana ini. Mira tidak pulang, tidak juga di tempat Shila dan yang lainnya, lalu tadi Reino mengatakan jika Mira bersama laki-laki lain saat di telfon. Lalu siapa laki-laki itu mas ?". Tanya Maya sedikit khawatir.
"Mungkin tuan Setiaji". Ucap Royan santai.
"Tuan Setiaji ?". Ucap Maya membeo.
"Apa itu mungkin mas. Rasanya tidak mungkin, aku tak yakin Mira dan tuan Setiaji bersama dalam satu malam". Ucap Maya ragu.
"Tanyakan saja kalau begitu". Ucap Royan mencoba memberi ide.
Maya pun langsung mengambil ponselnya yang tergeletak di meja dan mulai mencari nomor kontak tuan Setiaji. Pada sambungan ke enam, panggilan yang Maya tujukan pun di terima dan terdengar suara bariton pria yang sangat elegan.
"Tuan Setiaji, maaf jika mengganggu saya ingin bertanya. Apa Mira bersama anda. Karena dari semalam ia belum pulang dan entah berada di mana". Ucap Maya yang mempertanyakan keberadaan Mira kepada tuan Setiaji.
"Dia tidak bersama ku. Semalam....". Ucapan tuan Setiaji sedikit ragu dan menggantung. Membuat Maya dan Royan pun penasaran.
"Maaf sebelumnya nona Maya. Semalam ada insiden kecil. Putriku mengamuk di tempat dimana aku dan Mira berkencan. Aku tidak tahu akan keadaan Mira. Karena terlalu fokus menenangkan putriku. Ku fikir ia sudah pulang dengan sendirinya". Ucap tuan Setiaji memberi tahu.
"Anda membiarkan adik ku pergi sendiri tanpa mengecek keadaannya. Sungguh ?". Tanya Royan yang kali ini angkat suara dengan nada tak percaya.
Tuan Setiaji pun terdiam di seberang telfon. Dia baru ingat dan menyadari akan keteledorannya kali ini. Dan apa boleh buat dia sangat memfokuskan diri kepada putri semata wayangnya yang keterlaluan keras kepalanya itu.
"Saya baru ingat, Mira pergi bersama tuan Leon ekhen maksudku tuan Yash. Putriku sangat keterlaluan semalam. Dia sudah membuat keributan dan melukai Mira". Ucap tuan Setiaji jujur.
"APA !". Seru Maya dan Royan secara bersamaan.
"Jadi tuan muda itu masih saja mengawasi Mira dan mengikutinya. Tidak bisa aku biarkan". Batin Maya merasa geram dengan muka memerah.
"Putri anda dalam masalah besar tuan. Saya harap tuan Yash beserta ayahnya mau memberikan keringanan. Terimakasih atas waktu dan informasinya. selamat siang". Ucap Royan dan lalu mematikan samvungan telfonnya.
Setiaji yang tengah pusing akan penurunan sahamnya yang secara derastis pun menyadari jika semua ini pasti ada campur tangan tuan Jonathan. Jika sudah begini, mau tidak mau Setiaji pun harus mendatanginya dan menjelaskan serta meminta kebaikan hati dari Jonathan selaku ayah dari Yash.
"Mas, kenapa sih tuan Yash masih saja mendekati Mira. Dan kenapa Mira tidak bisa menolak dengan keras. Jika sudah begini aku malu kepada Reino mas". Ucap Maya mulai mengeluh dengan kesal.
"Kamu beraninya memperingati Mira. Coba kamu peringati tuan Yash dulu. Karena setahuku Yash lah yang selalu ada untuk Mira dan berusaha untuk mendekat dengannya". Ucap Royan santai.
Maya pun merasa perkataan suaminya ada bemarnya juga. Yah dia akan lakukan itu nanti saat dirinya sudah menemukan Mira dan Yash.
"Sekalian saja kamu tahu Maya. Sisi tajam dari seorang Yash. Aku tidak akan mencegah atau memperingatimu. Aku sudah hafal akan kekeras kepalaanmu itu". Batin Royan masa bodo akan apa yang nantinya Maya dapatkan saat melawan Yash.
Sementara di ruangan Yash yang tengah terlelap itu. Ia merasakan jika berada disuatu tempat dan tengah menatap punggung seorang gadis yang tengah berdiri di bawah pohon besar. Postur tubuh dari gadis yang membelakanginya itu sangat ia kenal dan hafal seperti postur tubuh.
"Mira....". Ucap Yash memanggil. Dan benar saja gadis itu pun berbalik dan menatap Yash dengan tersenyum lembut.
"Tuan, anda disini ?". Tanya Mira dengan tersenyum dan berbinar senang.
"Kau tak apa Mira ?". Tanya Yash memastikan.
"Tidak tuan". Lirih Mira dengan tatapan santainya.
Yash pun berjalan mendekat kearah Mira seraya memandangi wajah Mira tanpa henti. Sedangkan Mira hanya berdiri dengan malu-malu dan pipi memerah merona.
Yash pun lalu menggandeng tangan Mira untuk berjalan kearah pohon dan mendudukan dirinya dan Mira di bawah pohon rindang itu. Yash baru ingat tempat itu. Tempat dimana ia bertemu dengan seorang gadis yang sangat ia sukai. Tetapi itu dulu, sangat lama sebelum ia jatuh cinta dengan adik kandungnya sendiri.
"Mentari". Batin Yash termenung.
Mira yang mengetahui jika tuannya termenung pun langsung menangkup wajah Yash dengan kedua tangannya dan mengarahkannya untuk menatap wajahnya.
"Anda kenapa tuan. Apa ada yang mengganggu fikiran mu ?". Tanya Mira lembut.
Yash pun merasa tak menyangka bila seorang Mira dapat seberani ini. Menyentuhnya dengan lembut dan manis membuat Yash langsung tersenyum dan merrngkuh tubuh Mira dalam pelukannya.
"Tak apa, aku hanya sedikit lelah saja". Ucap Yash berbohong.
"Lalu apa arti dari semua ini. Tempat ini adalah kenangan manis dan pahitnya aku bersamanya. Mentari". Batin Yash dan terpejam lelah.
"Tuan Yash !". Teriak Mira yang terdengar sedikit jauh di telinga Yash.
Merasa terkejut Yash pun lalu membuka matanya dan menyadari bahwa Mira tidak ada lagi dalam pelukannya. Ia pun lalu bangkit dan mencari-cari keberadaan Mira.
"Miraaa...!". Teriak Yash memanggil seraya berjalan tak tentu arah.
"Tuaan.....Tolong....!". Terdengar suara Mira yang sedikit menggema. Membuat Yash langsung memfokuskan pendengarannya.
"Yashh...!". Kali ini Mira memanggil tanpa embel-embel tuan di perkataanya itu.
Yash pun akhirnya melihat Mira tengah direngkuh oleh seseorang berjubah dari arah belakang dan ada sebuah pisau tajam yang berada tepat di samping jantung Mira.
"Berhenti....Atau kau ingin melihat pisau ini menancap di jantungnya". Ucap seseorang berjubah itu yang menutupi mukanya dengan kerudung jubahnya itu.
"Siapa kau ?". Tanya Yash penasaran. Dan seseorang berjubah itu pun tertawa mengerikan. Layaknya suara tawa seorang perempuan yang tak asing di pendengarannya itu.
"Dia seorang wanita". Batin Yash heran.
"Kau tidak tahu siapa aku rupanya AHAHAHAHAHAA". Ucap wanita itu dengan tawa yang menakutkan.
"Lepaskan Mira. Jika urusanmu hanya denganku maka lepaskan dia !". Ucap Yash dengan berseru lantang.
"Melepaskanya....Heh tidak akan. Aku malah ingin sekali menghabisinya dan membuatnya sekarat di depan mata mu Yash". Ucap wanita misterius itu dengan tersenyum sinis.
"KAU....". Seru Yash dengan amarah yang meradang.
Mira yang berada di kungkungan wanita itu pun merasakan sakit pada area lehernya yang terasa kuat mendekap.
"Dia ini benar-benar seorang wanita atau apa. Tenaganya kuat sekali eehhh". Batin Mira yang diam-diam mencoba melakukan perlawanan itu.
"Kau marah Yash. Waaww sungguh menarik sekali". Ucap wanita itu dengan suara mengejeknya.
"Apa yang kau inginkan ?". Tanya Yash to the poin.
Wanita itu pun lagi-lagi tertawa puas saat Yash mempertanyakan keinginannya itu. Dia sungguh tak menyangka jika seorang Yash akan selemah itu.
__ADS_1
"Katakan....Apa yang kau inginkan ?". Tanya Yash geram.
"Kau...". Ucap wanita itu dingin dan mulut seperti tersentum membentuk garis lurus.
"Aku ingin kematianmu di tanganku". Ucap wanita itu dengan aura iblisnya. Membuat Mira menggeleng takut.
"Hhhh tidak. Yash kau pergi lah jangan hiraukan aku. Masih banyak yang menginginkanmu hidup. Masih banyak yang menyayangimu". Ucap Mira menolak dan membujuk Yash pergi dari sana.
"Termasuk aku...". Batin Mira mengatakan rasa isi hatinya.
"Bicara apa kau Mira. Kau menyuruhku pergi dan membiarkanmu tiada di tangannya. Tidak akan pernah. Jika pun harus mati maka kita harus mati bersama. Karena aku, tidak akan sanggup untuk kehilanganmu". Ucap Yash bersungguh-sungguh.
"Ck ck ck ck.... Romantis sekali. Baik lah kalian akan mati bersama bukan. Akan aku kabulkan". Ucap wanita itu dengan tersenyum licik.
Wanita itu pun mencondongkan tubuh Mira kearah jurang dalam yang ada di belakangnya. Membuat Mira langsung berteriak histeris. Dan Yash pun langsung berlari mencoba untuk merebut Mira dari kungkungan wanita berjubah itu.
Dan sayangnya saat Yash hendak menarik Mira dari jeratan wanita iblis itu. Wanita itu malah menggoreskan pisaunya kearah bahu Yash dengan dalam dan memanjang. Membuat Mira berteriak lagi dan ingin menggapai Yash yang terhuyung kebelakang.
"Rubah sialan". Geram Yash dengan menekan lukanya.
"HaaaaHaaaaHaaaa !". Wanita berjubah itu pun tertawa puas. Dan semakin mrndorong tubuh Mira ke mulut jurang.
Yash pun tak tinggal diam. Ia kembali mendekat dan kali ini. Wanita berjubah itu dengan liciknya menyuruh seseorang untuk menahan Yash dari belakang dan mencekik leher Yash dengan kuat oleh lengan seorang pria kekar.
"HaaHaaHaa....Kau tidak akan bisa melawanku Yash. Ini yang aku inginkan. Melihatmu tersiksa atas kematian orang yang kamu cintai lagi HaaaHaaHaa". Ucap Wanita berjubah itu.
"Tidak jangan bunuh dia ku mohon". Ucap Mira histeris saat melihat Yash hampir pucat akibat cekikan itu.
"Diam kau !". Bentak wanita berjubah itu.
Mira pun akhirnya mengumpulkan tenaganya dan mencoba memberontak yang akhirnya dapat merebut pisau di tangan wanita berjubah itu dan menusuknya ke perut wanita itu berkali-kali lalu melemparnya sembarang kearah Yash yang beruntungnya tepat menggores lengan pria yang mencekik Yash hingga cekikannya pun mengendur. Dan Yash pun akhirnya dapat benafas lega dengan terbatuk. Lalu menyikut ulu hati pria berotot itu menggunakan sikunya dan membuat pria berotot itu pun terjungkal dengan muntah darah.
Yash lalu terjatuh ke tanah merasakan sesak di dadanya yang entah mengapa sangat nyeri. Mungkin akibat cekikan pria tadi yang hampir membuatnya kehabisan nafas. Sedangkan Mira langsung berlari kearah Yash dan memeluknya dengan erat.
"Yashh....Aku sangat takut. Kau baik-baik saja ?". Tanya Mira dengan khawatir. Yash pun mengangguk dalam pelukannya.
"Ayo kita pergi dari sini Mira". Ucap Yash lemah dan Mira pun mengangguk. Dengan langkah tertatih mereka pun mulai berjalan pergi. Namun pada saat Mira menengok kebelakang. Wanita berjubah itu dengan berdiri tertatih mengacungkan senjata kearah Yash yang tepat di titik fatal. Tanpa pikir panjang Mira pun langsung mendorong tubuh Yash kesamping dan sialnya tubuh Mira yang terkena luka tembak tepat di area jantungnya.
DORR DORR !
Dua tembakan itu terdengar jelas di telinga Yash yang tergeletak di tanah. Dan saat pandangannya naik keatas. Betapa terkejutnya ia melihat Mira yang berdiri dengan bersimba darah di bagian dadanya. Dan rupanya dua buah peluru telah menembus area fatal di tubuh Mira.
"MIRAAAAGGHHH.....!". Teriak Yash dengan lantang dan langsung bangkit tanpa memperdulikan rasa sakit di area dadanya.
Saat Yash berlari wanita berjubah itu pun juga menembak Yash dan tepat mengenai lengan, paha kaki kanan, dan perut. Membuat Yash langsung ambruk terjatuh secara bersamaan dengan tubuh Mira yang juga terjatuh ke tanah dengan nafas yang sempit dan mata yang sayu menatap kearah Yash.
"MIRAAAAA....!". Teriak Yash dengan mulut yang mengeluarkan darah segar.
Sedangkan wanita berjubah itu pun terrawa cukup keras seraya berdiri tertatih nemegangi perutnya yang juga berdarah akibat tiga kali luka tusukan pisau yang di perbuat oleh Mira.
Saat tak kuat menahan bobot tubuhnya yang terasa berat. Wanita berjubah itu pun terjatuh dengan terduduk dan membuat tudung jubahnya tersingkap menampakkan wajah aslinya yang sangat begitu Yash kenali.
"Yasmine..!". Seru Yash dengan geram dan tajam.
"Haaaa ooppss aku ketahuan....HaaHaaaHaaa". Ucap Yasmine yang seperti orang gila.
Yasmine pun memandang Yash tajam dan tersenyum iblis. Ia lalu menjulurkan pistol kearah Yash tepat diarea kening Yash.
"Selamat tinggal anak sialan". Ucap Yasmin dingin dan......
DORRR !
Satu tembakan pun lolos tepat di kening Yash yang membuat Yash langsung nerasakan sakit yang teranat sangat dan dalam penglihatan samarnya ada dua sosok wanita yang menghampirinya. Mengelus pipi kanan Yash dengan sayang dan mencium kening Yash dengan sayang dan lembut secara bergantian.
"Berhati-hati lah Yash. Mom yakin kamu pasti bisa mengalahkannya. Dan buat lah ibu mu bangga". Ucap salah satu wanita yang serasa tak asing di penglihatannya.
Saat nafasnya terasa berat dan terputus-putus. Ia baru menyadari jika dua wanita itu adalah wanita-wanita terpenting dalam hidupnya.
Kedua wanita itu pun mulai beranjak dan menggandeng Mira untuk ikut berjalan dengan mereka membuat Yash yang telah menyadari kedua wanita itu adalah ibu kandung dan ibu sambungnya pun berusaha untuk berucap.
"Ibu Cinthita, ibu Rianthi. Tu...Tungguu...". Ucap Yash lemas.
"Ja...errghh... Jangan bawa dia". Ucap Yash lagi.
"Di...Dia hidupku. Dia milik ku". Pinta Yash dengan suara lemas. Namun permintaan Yash tidak mereka hiraukan dan tetap berjalan dengan menggandeng Mira.
"Miraaaaa....!". Triak Yash yang langsung terasa ada yang menariknya untuk terbang dan seakan terhempas dengan kuat.
Tubuh tidur Yash pun seketika menggelinjang hebat. Membuat Jio yang tadinya santai bermain ponselnya pun mulai memfokuskan diri kearah Yash.
"Tuan...Anda sudah sadar ?". Tanya Jio memastikan. Dan hanya terdengar suara racauan di mulut Yash.
Dan pada saat Jio hendak menepuk pipi Yash. Kedua mata Yaah pun terbuka dengan sempurna dan langsung meneriakan nama Mira dengan lantang. Seolah Mira telah tiada di hidupnya.
"Miraaaa !". Teriak Yash denganlantang dan frustasinya.
Namun pada saat yang bersamaan pula. Tubuh Yash merasakan sakit di bagian dada dan ulu hatinya. Tanpa pikir panjang Yash pun langsung merangsek turun dan hendak ingin berjalan keluar. Jio menahannya dengan sekuat tenaga.
"Tuan anda mau kemana. Anda masih harus istirahat tuan". Ucap Jio menadihati.
"Mirah ..Jio...Dia...Hhhhhh...Hhhhh". Ucap Yash dengan nafas memburu menahan sakit.
"Mira aman tuan, dia bersama Roni dan dokter Jordan. Anda hanya mimpi buruk percayalah tuan". Ucap Jio membujuk.
Yash pun menggeleng dan tetap ingin mencari keberadaan Mira. Membuat Jio sedikit kewalahan di buatnya. Beruntung para perawat laki-laki mendengar suara keributan dan langsung membantu Jio untuk meringkus Yash yang seperti orang kesetanan dengan nafas yang memburu. Dan Jio pun langsung menyuntikan obat yang di berikan oleh dokter Regan kepadanya.
Akhirnya setelah suntikan itu menembuh kulit Yash. Selang beberapa menit tubuh Yash melemas dan ambruk. Membuat Jio bernafas lega juga para perawat yang ikut menangani Yash
"Baringkan ia di ranjang pasien". Titah Jio dengan tagas dan langsung di patuhi dan dilaksanakan oleh para perawat itu
Setelah itu para perawat pun berpamitan keluar meninggalkan Jio dan Yash yang berada di dalam. Jio pun langsung mendudukan dirinya dengan lelah pada sofa panjang yang terdapat di ruangan pasien milik Yash.
"Untung saja. Aku dapat menanganinya. Jika tidak, rumah sakit ini pasti akan kacau hhhhh". Ucap Jio dan langsung tertidur di kursivsofa panjang akibat kelelahan.
__ADS_1