Luluh

Luluh
Permintaan mama


__ADS_3

Pov. Rama.


" Mama?" Sedikit terkejut dengan kehadiran mama di pagi hari sebelum Nana berangkat sekolah. Membuka pagar rumah kala mama mengetuk-ngetuknya berkali-kali.


" Kamu baik-baik saja Ram?" Tanya mama, mengusap pipiku.


Seakan aku tidak baik-baik saja.


" Masuk dulu Ma?" Perintahku, menyuruh mama masuk ke dalam rumah.


Menyentuh lengan mama, menuntunny berjalan masuk ke dalam rumah. Duduk di sofa panjang dengan suara helaan nafas mama terdengar pilu.


Aku bisa menyembunyikan semuanya dari mama, tapi tidak dengan istriku.


Berusaha tegar dan tenang seakan aku tidak ingin mama terlalu begitu khawatir denganku. Mama sudah menua, tak perlu memikirkan beban berat seperti apa yang aku pikirkan.


Aku tau, mama ingin yang terbaik dan ingin anak-anaknya seperti dulu.


Dulu, sebelum aku membencinya.


" Pagi-pagi sekali mama sudah ke sini?" Tanyaku. " Yang, Ada mama!" Sedikit berteriak memanggil Yanna, yang sibuk dengan peralatan dapurnya.


" Mama semalaman gak bisa tidur mikirin kamu?" Ucap Mama, mata sudah berkaca-kaca menatapku.


Hati mama begitu sensitif bila sudah menyangkut anak-anaknya.


" Ma?" Sapa Yanna, keluar dari dapur menghampiri mama dan mencium tangan mama. " Pagi sekali mama ke rumah?" Heran Yanna sama seperti aku.


" Mama cuma pengen memastikan saja Yan, Rama gimana?" Jawab Mama.


" Apanya yang harus di pastikan ma, Rama gak apa-apa." Sahutku.


Aku sudah tau dan mendengar semua cerita Yanna kala Mama memberitahunya dan juga meminta tolong padanya untukku bertemu dengan kakakku.


Bukankah suami istri harus terbuka?


Mama menelisik wajahku dan memandang mataku begitu dalam. Sedang mencari kebenaran.


" Mama enggak apa-apa Ma? Yakin. Mama sudah mencengar cerita kan darinya."


Mama mengangguk. " Iya, Kakak dan kakak ipar kamu sudah cerita. Maaf mama belum cerita sama kamu Ram. soal kedatangan kakak kamu di sini." Ucap mama, menyesal telah menyembunyikannya dari ku.


Bukan menyembunyikan, cuma mama takut saja untuk bercerita padaku. Atau belum saatnya saja, karena mama ingin menghabiskan waktunya dengan putra pertamanya. Yang sudah lama tak pernah datang ke rumah dan juga ingin menghibur putra serta menantunya yang masih bersedih.

__ADS_1


Mungkin?


Dan aku sedikit prihatin. meskipun rasanya tak ingin peduli.


" Ma! Nana sudah selesai mandi!" Teriak Nana dari dalam kamarnya.


" Iya Nak! Sebentar." Balas Yanna juga sama sedikit berteriak.


Pagi hari memang sangat sibuk bagi Yanna. Mengurus anak-anak dan juga diriku. Kesibukan itu tidak pernah membuat Yanna mengeluh tentang anak-anak, mungkin cuma menggerutu tentang aku. Yang tidak mau mengalah dan sangat manja. Meskipun begitu, Yanna tetap melayani aku, hingga aku selesai dengan semua keperluanku.


Bagiku, pelayanan istriku sangat terbaik.


" Aku tinggal dulu ma ke kamar anak-anak. Jangan pulang dulu, kita sarapan bersama Ma." Ucap Yanna. Membuat Mama mengangguk tersenyum.


" Setiap hari istri kamu selalu begitu?" Tanya Mama. melihat Yanna menaiki anak tangga.


" Iya, padahal sudah aku suruh tidak perlu terlalu banyak pekerjaan ma. Ada bibik yang masak, gak perlu ikut-ikut juga. tetap saja, masih bantu bibik." Jawabku, menghela nafas melihat istriku yang tak ada diamnya di rumah.


Ada saja yang di lakukannya.


" Mungkin sudah terbiasa. Jangan di paksa juga berhenti. nanti malah istri kamu jenuh dan marah-marah. Biarin saja, nanti kalau capek juga bakalan istirahat sendiri."


Aku mengangguk menyetujui ucapan Mama, Bila istriku lelah. Ia akan istirahat dan pastinya akan meminta aku memijatinya. Aku tidak pernah keberatan, aku malah suka bila istriku bermanja denganku.


" Mama cuma ingin makan bersama anak-anak mama. menantu dan juga cucu mama. Mama rasanya kangen sekali makan bersama keluarga. Kapan lagi mama bisa makan bersama anak-anak mama. Sudah lama rasanya." Lirih Mama, terasa pilu di dengar.


Permintaan sederhana bagi orang tua.


Tapi rasanya sulit untuk di kabulkan.


" Mama sudah tua, enggak tau kapan mama akan nyusul papa kamu Ram."


" Ma?" Selaku.


" Mama cuma pengen anak-anak mama akur seperti dulu, saling sayang dan juga saling melindungi. Orang tua mana yang nggak sedih lihat anak-anaknya enggak akur dan masih saja dendam karena masa lalu. Itu kecelakaan, dan tidak sepenuhnya juga menyalahkan sepihak. Mama tau, kalau kamu marah sekali sama kakak kamu. Tapi bisa kan sekali saja, lupakan keegoisan, kemarahan demi mama. Makan malam bersama mama di rumah. Nikmati kebersamaan selagi mama ada..." Ucap Mama, permohonan sangat memilukan.


Dan aku merasa bersalah.


Bersalah karena belum bisa untuk berdamai dengan masa lalu dan tidak bisa melupakan kenangan buruk yang pernah aku lihat sendiri.


Sudah melekat dalam ingatan, dan sulit untuk di lupakan.


" Nenek?" Sapa Nana, menuruni anak tangga dandanan rapi memakai seragam sekolah.

__ADS_1


" Nana mau berangkat sekolah?" Tanya Mama, mengusap rambut serta mengusap baju Nana yang sudah rapi.


" Iya Nek." Jawabnya mengangguk.


" Ma? Ayo kita sarapan dulu." Ajak Yanna, membawa Naufal yang juga sudah wangi dan segar.


" Lain kali saja mama sarapan di sini Yan. Mama pulang dulu, kasihan di rumah pasti sedang nyariin mama... Pagi-pagi kok gak ada di rumah." Ucap Mama, berdiri dari duduknya.


" Aku antar pulang saja ma, sekalian aku mau antar Nana sekolah." Ucapku, ikut berdiri dari duduk.


" Enggak usah, mama tadi di antar sama pak sopir naik motor. mungkin masih nunggu di luar tu orangnya." Kata Mama. Aku baru sadar bila mama di antar sopir pribadinya naik motor ke rumahku hanya ingin memastikan keadaanku.


" Mama pulang dulu... Jangan lupa permintaan mama Ram." Imbuhnya. Mengusap lenganku dengan senyum hangat.


Masih sama seperti mamaku yang dulu. tak ada yang berubah.


Cantik, meski tidak semuda dulu.


" Jangan ngebut-ngebut pak. Kalau bawa mama." Pesanku, mengingatkan pak sopir siapa yang sedang di boncengnya sekarang.


" Iya Mas." Jawab Pak sopir, menganggukkan kepala dan tersenyum


Menatap kepergian mama, melambaikan tangan kala sudah berada di belakang pak sopir pribadi mama.


Apa aku harus memenuhi permintaan mama, atau aku mengabaikan keinginan mama. Berat sekali pilihannya, dan tidak mungkin pula aku mengabaikan permintaan mama. Yang selalu ada di saat aku dulu sedih.


Menghembuskan nafas kasar, berbalik badan dan tersenyum melihat istri berdiri di tengah pintu yang ikut membalas senyumanku.


" Semua tergantung kamu mas. Tapi kalau boleh aku sarankan. Lebih baik datang, kasihan mama. sampai datang ke rumah dan memohon seperti itu sama mas." Ucap Yanna. membuatku terdiam.


" Sudah ayo sarapan dulu. Sudah di tunggu sama anak-anak tu.. Nanti Nana bisa terlambat sekolahnya." Imbuhnya, mengusap lenganku untuk menyadarkan aku.


Aku hanya bisa mengangguk tersenyum.


.


.


.


.


🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2