
Rumah terasa ramai, kala ibu dan adiknya datang berkunjung ke rumahnya. Dan menginap, entah selamanya atau beberapa hari saja. Rasa rindu kebersamaan keluarganya begitu lengkap akan hadirnya ibu dan adiknya.
Tak ada yang indah selain berkumpul dengan keluarga.
" Mak! sapine sapa yang jaga. Nanti sapine nofal mati lak gak di kasih maem. Nanti di ambil orang gimana mak!" Ucap Naufal, mengingat sapi pemberian dari papanya. yang seperti berharga dari pada kehadiran Neneknya.
Padahal Nuafal juga kangen sama Neneknya, hanya saja pikirannya terlintas dengan bayangan sapi perahnya. Hasil dari memalak papa Rama.
" Sapinya di jaga sama pakdhe, gak bakalan mati. wong di kasih maem juga le!" Jawab Ibu Yanna. Mengupas kacang tanah dari kulitnya.
" Dari tadi anak mu nanyain sapi aja mbak! takut gak di kasih makan apa. Tiap hari telpon yang di tanyain sapi melulu. sekali-kali itu tanya omnya. om kamu ini butuh uang gak! Gatel-gatel gak habis ngarit rumput, capek apa gak. Kok sapinya saja yang di inget." Gerutu Sigit. duduk menonton film bersama kakak ipar yang lebih fokus dengan laptopnya.
Sudah berapa kali ponakan laki-lakinya bertanya tentang sapinya, hingga telinganya merasa bosan.
Entah bosan atau cemburu.
Atau bisa karena jengkel, waktu berharga godain para gadis sia-sia di karenakan harus mencari rumput di ladang atau alas selepas pulang sekolah. Agar sapi ponakannya tak kelaparan dan wajah glowingnya mulai mengkilap setengah hitam. Tapi tenang, masih manis.
" Ngapain tanya omnya punya uang apa gak. Ya tentu pasti punya uang. Orang uangnya banyak. Sapinya saja menguntungkan setiap pagi sama sore. Setiap hari pula. Berapa ratus itu." Jawab Yanna, sambil mengajarkan putrinya mengerjakan tugas sekolah.
Sapi perah tiga ekor yang di belikan Rama, untuk putranya. Bisa membuat perekonomian ibunya di desa mulai membaik. Tidak perlu lagi capek-capek berjualan. Cukup anak laki-lakinya saja yang mengurus sapi, dari pada ikut orang di bengkel dengan hasil uang kerja yang tidak menentu.
" Kayak gak ngerti kanjeng ratu saja mbak, kalau matanya udah lihat lembaran merah. Apalah daya nasib babu, cuma dapat selembar biru." Miris Sigit. meratapi nasib yang belum boleh menyentuh lembaran merah kala pemilik rumah sudah menodongkan tangannya ke depan wajahnya. Meminta hasil uang dari perasan susu sapi.
" Kalau gak di todong gitu, udah bahis uangnya di buat permak kesatrianya itu." Sungut ibu Yanna.
Anak laki-lakinya yang lebih hobi menghabiskan uang demi membuat motor kesayangannya mengkilap dan mendapat lirikan dari para gadis. Membuatnya merasa jengkel dan ingin sekali menjualnya. Tapi tak apa, lebih baik menghabiskan uang demi hobi dai pada menghabiskan uang untuk hal negatif. seperti anak tetangga. Membeli ciu, atau mengonsumsi obat terlarang.
" Jual saja Mak!" Kompor Naufal.
" Jual-jual! Sapi mu itu om jual. Biar om bisa ganti motor yang baru." Sungut Sigit, melototkan mata pada ponakannya. Dan meringis mendapatkan pukulan di lengannya dari samping.
" Kau jual sapi anakku, ku gantung kamu ke tiang listrik." Timpal Rama, membuat Sigit mengerucutkan bibir.
__ADS_1
" Buk!"
" Gak apa-apa, ibu lebih sayang mantu." Balas ibu dengan tawa, membuat Yanna ikut tertawa.
" Mentang-mentang mantu kaya, anaknya gak di bela. Sungguh ... ibu kandung durjanam!" Gerutu Sigit.
Tidak akan marah atau iri, karena itu memang bercandaan. Dan lebih pasti, kakak iparnya orang yang sangat baik. Diam-diam selalu mengirim uang Sigit untuk jajan sebulan tanpa meminta. Hingga saldo tabungannya tak lagi mengenaskan kala melihatnya di mesin atm.
Tidak perlu malu melihat isi saldo.
" Asalamualaikum?" Ucap salam dari luar rumah. membuat Yanna dan Rama saling memandang.
" Ada tamu mbak." Kata Sigit.
" Itu pasti mama." Timpal Rama. Yanna hanya mengangguk tersenyum, berjalan menuju luar membukakan pintu untuk mertuanya.
" Sigit! Terusin ini kacang. Ibu mau ketemu sama Bu besan dulu." Perintah Ibu Yanna.
" Ujung-ujungnya selalu ... Sigit." Gumam Sigit. Tetap tidak bisa menolak perintah ibunya.
" Ayo cantik. Om senang kalau ada yang bantuin." Jawab Sigit, menunggu Nana membereskan tasnya. Berjalan bersama dengan Sigit mengacak rambut ponakan perempuannya.
****
" Eh Mel. Yanna ngabarin nih.. Kalau ibu sama adiknya ada di rumahnya sekarang. Katanya kita di suruh ke rumahnya, ibu bawa oleh-oleh banyak buat kita." Ucap Sari, mendapat pesan dari Yanna bila ibunya memberikan banyak oleh-oleh untuk teman dekat Yanna.
" Mbak indri juga dapat oleh-oleh dari ibu. Kita berangkat bersama saja, habis pulang kerja. Jemput mbak Indri dulu ke kost. Gimana?" Saran Sari.
" Aku ikut?" Sela Eko, mendengar perkataan Sari.
" Sekarang?" Tanya Amel.
" Iya. Kenapa? Gak bisa?" Tebak Sari.
__ADS_1
" Aku masih ada pekerjaan lagi, habis pulang dari ini." Jawab Amel, membuat Sari sedikit murung.
" Gak capek apa, tiap pulang dari resto kerja lagi. Sekali-kali gak usah ngojek dulu kenapa Mel... Kita jarang juga ngumpul berempat. Kamu sibuk, Yanna juga sibuk. Aku sama mbak Indri selalu berdua saja." Cemberut Sari.
Bukan tidak mengertikan keadaan teman, tapi memang seperti ada yang kurang dalam pertemanan. Jarang berkomunikasi dan jarang sekali berkumpul seperti dulu.
Kesibukan Yanna sebagai seorang ibu dan kesibukan Amel setelah bekerja dan bekerja kembali hingga tak mempedulikan kondisi badannya.
Sari tau Amel sangat membutuhkan uang, dan Amel tak pernah meminjam uangnya atau menerima uang bantuan dari dirinya maupun teman-temannya. Bukan Amel sombong, mungkin karena tidak ingin dalam pertemanan ada istilah 'Malu untuk menagih hutang' atau ' Marah bila di tagih hutang.
Selagi Amel kuat. Ia tak akan mengemis atau menghutang pada teman-teman dekatnya.
Karena uang, penghancur dalam hubungan.
Entah teman, saudara ataupun rumah tangga. Uang itu bisa membuat kita bersahabat dan juga bisa membuat kita bermusuhan.
Amel menghembuskan nafas. Ada benarnya juga yang di katakan Sari. dirinya begitu sibuk dengan uang hingga lupa dengan keadaannya. Yang lebih di bilang tidak ada lagi dirinya tenang seperti dulu.
Bisa berkumpul dengan teman-temannya, bisa berlibur dan bisa mengistirahatkan tubuhnya lebih dari lima jam lamanya. Amel rindu semua itu.
" Sekali saja gak usah terima orderan. Kita ngumpul bersama di rumah Yanna, Mel." Ucap Eko. Seakan kasihan juga dengan Amel. Tidak ada kecerian seperti dulu dalam wajah Amel. Beban begitu banyak, hingga lupa caranya membahagiakan diri sendiri.
" Ikut ya. Please!" Mohon Sari, dengan melas. Membuat Amel juga tidak tega. Hingga dirinya mengangguk dan tersenyum.
Mengiyakan ajakan dua temannya, dan sekali-kali menghibur diri sendiri.
.
.
.
.
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃