Luluh

Luluh
di sapa


__ADS_3

" Pak akbar?" Sapa wanita dari atas motor maticnya, menepi di pinggir trotoar saat melihat atasannya duduk di pinggiran trotoar.


Akbar yang di merasa di sapa melihat ke sumber arah suara wanita itu. Dan memicingkan mata saat menatapnya.


" Kenapa ada di sini pak?" Tanyanya, setelah turun dari motor dan berdiri tepat di sampingnya.


Selama bekerja bersama akbar, tidak pernah dirinya melihat Akbar memakan, mamakan jajanan di pinggir jalan. Tidak pernah pula melihat atasannya duduk di pinggir jalan dan juga wajah yang terlihat seperti menyedihkan dari pada dirinya.


" Lagi cari angin?" Jawabnya Akbar sedikit malas. membuat bawahannya mengangguk mengerti.


" Boleh duduk gak pak." Ucapnya, membuat Akbar sedikit mengangguk.


meskipun malas tetap saja tidak melarang orang numpang duduk di sebelahnya. Kan tempat duduk ini, adalah tempat duduk umum. Siapa saja boleh duduk dan tidak ada yang melarang.


" Sudah satu jam restoran tutup, kenapa baru pulang." Tanyanya balik, melihat bawahannya masih memakai seragam kerjanya meskipun tertutup dengan jaket.


" Lagi cari disconan baju, tapi gak ada disconan sama sekali." Jawabnya.


" Gak jadi beli?" Tanyanya. menatap bawahannya.


" Enggak?" Jawabnya dengan senyum mengembang.


Menyebalkan. Pikir Akbar.


Kembali sama-sama terdiam, dan menikmati jalanan yang sedikit lenggang akan pengendara di malam hari. Dan masih ada yang mencicipi jajanan di pinggir jalan.


" Masih galau mikirin Yanna pak?" Tanyanya. memecah kesunyian kembali.


Akbar hanya diam, tidak menyangkal bila masih memikirkan Yanna. Hanya satu wanita yang ada di hatinya, Yanna. Sayang, cintanya di tolak oleh janda satu anak itu.


" Masih gak iklhas di tinggal nikah?" Tanya lagi, Membuat Akbar hanya menatapnya sekilas dan kembali dengan pandangan lurus di jalan raya.


" Meskipun di kejar, ngungkapin cinta berkali-kali. Yang namanya gak jodoh, ya bakalan gak jodoh. Galau sih boleh, tapi gak usah lama-lama juga kan? Nikmati hidup lah, selagi bebas, sebelum di jajah kemudian hari." Imbuhnya. Tanpa menatap atasannya.


Bila di luar, dan bukan dalam lingkunagn pekerjaan. tidak ada salahnya bawahan menganggap atasan sebagai teman.


" Kayak kamu tau soal cinta aja." Sindir Akbar dengan pelan, tapi masih di dengar oleh bawahannya.

__ADS_1


" Hidupku sudah runyam, apa lagi di tambah soal cinta. Tambah mumet. penuh drama, ujung-ujungnya ya gini, menyedihkan." Ucap bawahannya, membuat Akbar menatapnya. Sedangkan yang di tatap masih setia menatap jalanan.


Seperti menyindir dirinya, dan tidak takut sekali padanya. Ah.. Gadis ini memang tak ada takutnya. Sekali berbicara terasa ketus, apalagi soal sindir menyindir. Sudah paling jago, Dan tak peduli siapa lawannya. Termasuk atasannya.


Siapa lagi bila bukan Amel. teman Yanna, yang terbilang judes tapi sebenarnya enggak. Hanya orang tertentu saja yang tau sifat aslinya.


Jomblo bukan berarti tidak punya pacar, hanya saja.. Hidupnya masih terlalu runyam. penuh dengan beban yang belum lunas, hingga perlu bekerja keras untuk mendapatkan uang. Bila ada yang bilang ngenes karena percintaan, tentu saja Amel tidak peduli percintaan yang menyakitkan. Yang di pedulikan hanya cicilan yang belum ketemu ujungnya kapan selesai.


Cepek, tentu saja sapek. Bukan capek cinta, melainkan cicilan banyak. Dan extra bekerja lebih keras, untuk menyumbang hidup di keesokan hari.


Ada yang bilang, hidupnya Amel tak ada gangguan dan damai. orang saja lihat dari sampulnya, belum di dalamnya, penuh dengan kerumitan. Dan Amel tak pernah sama sekali mengeluh tentang kehidupannya pada teman-temannya. Sedikit tertutup rapat untuk masalah keluarganya. Bukan tidak mau berbagi, hanya saja tidak mau di kasihani.


" Saran saja pak? Jangan larut-larut dalam kegalauan. Yang nikah saja sudah bahagia. Kenapa menyusahkan diri sendiri hanya karna di tinggal nikah." Ucap Amel dengan senyum mengejek. berdiri dari duduknya memakai helm kembali dan pergi meninggalkan atasannya tanpa pamit. tidak peduli bagaimana nasibnya nanti di tempat bekerja, kala menceramahi dan menyindir atasannya yang muka masih sangatlah asam di lihatnya.


Seperti, Hidup segan mati tak mau.


Akbar hanya bisa tercengang dengan bawahannya. Entah itu menasehati atau menyindirnya. Dan seperti kasihan melihat dirinya.


Menatap kepergian Amel yang tak berpamitan dan datang tanpa di undang. Pergi begitu saja, tanpa menawarinya. Hanya bisa menggelengkan kepala dan tanpa paksaan bibir tersenyum mendengar dan melihat kepergian.


" Pantas, masih jomblo." Gumam Akbar.


" Mama?" Panggil riang Nana, keluar dari gerbang sekolah, menghampiri Yanna yang duduk di atas motor sedang menunggunya.


Yanna yang di panggil tersenyum lebar dan menanti putrinya berjalan ke arahnya.


" Gimana pelajarannya mbak Nana?" Tanya Yanna, melepas tas putrinya dari punggungnya.


" Gampang Ma? Ada pr juga dari bu guru." Jawab Nana, dan mulai naik di atas motor matic Yanna dan seperti biasa. memilih duduk di depan kala Naufal tidak ikut dengan mamanya.


" Nanti di kerjain habis makan siang ya?" Perintah Yanna, memakaikan topi pada Nana.


" Iya Ma?" Jawabnya dengan senyum.


Yanna yang akan menyalakan motor maticnya itu berhenti saat mendengar suara memanggil nama putrinya.


" Nana?" Panggil wanita sedikit jauh dan turun dari mobil untuk menghampirinya.

__ADS_1


" Siapa Na?" Tanya Yanna, masih mengerutkan kening menatap wanita yang akan menghampirinya.


Nana yang melihatnya pun sempat memanyunkan bibirnya. Gadis kecil itu seperti malas sekali bertemu dengan wanita yang selalu mengejar Papanya.


" Nana?" Panggilnya lagi.


dengan senyum mengembang tepat di hadapan Nana dan Yanna yang masih di atas motor matic tanpa mau turun. Bukan tidak sopan, hanya saja Yanna tidak mengenal wanita yang menyapa anaknya. Iya kalau dia baik, kalau jahat? Yanna bisa langsung tancap gas untuk menghindari kejahatan.


" Nana apa kabar? Tante kangen loh sama Nana. Lama tante gak ketemu Nana." Ucap Wanita itu. sok akrab sekali dengan Nana tanpa menyapa Yanna dan hanya melirik sekilas dengan malas.


" Baik tante." Jawab Nana malas. tak begitu semangat sekali.


" Yuk, pulang sama tante saja. Tante ingin ketemu sama nenek Nana sama papa Nana, sekalian bawa oleh-oleh?" Tawarnya dengan lembut.


ketemu sama mama dan Mas Rama? Siapa ini?" Gunam Yanna dalam hati, masih menatap wanita sok akrab dengan putrinya.


" Nana sudah di jemput sama Mama." Jawab Nana, membuat wanita itu mengerutkan kening dan beralih menatap Yanna, yang di tatap mencoba tersenyum ramah. Tapi balasannya sungguh membuat Yanna ingin mengumpat saja.


Wanita itu melengos.


" Mama?" Lirih wanita itu, beralih kembali menatap Nana.


" Iya, ini Mama baru Nana tan?" Jawabnya dengan bangga mengenalkan Yanna di hadapan wanita ganjen itu pada Papanya.


" Papa kamu sudah menikah?"


" Papa belum cerita?" Tanya ulang Nana, membuat wanita itu hanya menggelengkan kepala. Sedangkan Nana tersenyum mengembang menatap Yanna.


" Ayo Ma pulang?" Ajak Nana.


.


.


.


.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃


__ADS_2