
Pov. Rama.
Tuhan mempertemukan aku dengan orang di masa lalu kelamku. Masa lalu yang membuatku hancur dan kecewa. Dan membuatku sulit untuk mempercayai siapapun, termasuk itu sedarah denganku.
Dia kembali.
Entah kembali mengusik kehidupanku, atau kembali hanya ingin bertemu dengan keluarga yang di sayangnya. Meninggalkannya enam tahun yang lalu, dan tak pernah menginjakkan lagi di rumah penuh dengan kasih sayang. Kerena kesalahan yang di buatnya, membuat semuanya hancur termasuk diriku, dan juga ibunya Nana.
Ini memang kenyataan dan memang yang aku benci sekali, kala bertemu lagi dengan di masa laluku. Bayang-banyangan di masa lalu, membuat isi kepalaku kembali memutarnya.
Di rumah, di kamarnya, penyekapan, tubuh yang telanj*ng, tubuh yang memar dan juga tangisan yang begitu memilukan.
Semua kembali mengingatkanku. Kembali mengingatkan kekejaman pria di hadapanku ini pada ibunya Nana.
Andai itu orang asing, mungkin sudah aku bunuh dari dulu. Aku tidak peduli dengan hukum, atau malu dengan keluargaku. Yang terpenting hatiku sudah puas melenyapkannya.
Tapi pria di hadapanku ini? Menjijikkan! Aku sungguh tidak ingin mengakuinya lagi. Tapi, aku dan dia.. di lahirkan dari satu rahim yang sama, dari ayah yang sama dan juga mengalir darah yang sama.
Mas Ryan. Kakak sulungku, anak pertama mama dan papa.
" Papa?" Panggil Naufal duduk di stroller ranjang. Membuatku tersadar dari kemarahan.
Menatap Naufal dengan senyum lembut, yang kini sudah mau memanggilku 'Papa'. Tak ingin aku menunjukkan kemarahanku pada anak-anakku. Dan aku mencoba sebisa mungkin mengontrol kemarahan pada pria yang sedang menatapku lama.
Aku berjalan mendorong stroller ranjang menuju Yanna dan Nana yang ada di pelukannya, melewati sepasang suami istri yang masih setia menatapku.
" Sudah selesai? Ayo kita pulang." Ajakku pada Yanna dan mengusap kepala putriku.
Yanna mengangguk mengerti, tanpa mau protes padaku. Yang aku tau, Yanna masih membutuhkan sesuatu di supermarket.
Aku tidak ingin berbalik menatap sepasang suami istri itu lagi, aku gendong tubuh putriku, berjalan terlebih dulu sambil mendorong stroller kranjang.
Aku mendengar suara Yanna yang berpamitan pada kakak iparku. Dan aku tak akan marah pada istriku, karena ini masalah aku dan sepasang suami istri saja.
" Bawa anak-anak ke dalam mobil dulu, biar aku yang antri di sini." Perintahku pada Yanna. memberikan kunci mobil pada Yanna.
Aku sudah mengajarkan Yanna, bagaimana membuka kunci mobil dan menyalakannya. Tapi dia tak pernah mau kalau aku ingin membelajarinya mengendarai mobil.
Lagi, Yanna menurut dan mengangguk. Membawa Nana dan Naufal keluar terlebih dulu ke supermarket. meninggalkan aku mengantri di kasir tak terlalu banyak orang.
" Rama?" Panggil suara wanita dari belakangku.
Aku hanya menoleh sekilas, siapa yang memanggilku. dan kembali lagi dengan pandanganku ke depan. Tanpa mau menyapa balik atau bertanya kabar saat aku tau siapa orangnya.
__ADS_1
Kakak ipar, Mbak anggun.
" Apa kabar Ram?" Tanyanya lirih. dan kini giliranku yang mulai membayar semua barang belanjaan.
Aku tidak mau menjawab, dan masih setia memperhatikan kasir begitu cepat memasukkan barang belanjaanku.
Muak dan marah.
Entahlah, padahal bukan kakak iparku yang melakukannya. Tapi aku juga marah, karena teringat perkataannya dulu. Masih saja setia membela suaminya yang salah dan menyalahkan wanita yang tak berdaya karena kelakuan suaminya.
Mbak Anggun tetap menatapku, wajahnya terlihat sedih dan matanya berkaca-kaca saat aku menatapnya sekilas.
Aku membayar semua belanjaan, sebelum pergi. Sekali lagi aku menatapnya, dan tatapanku berpindah pada pria yang ada di belakang mbak Anggun.
Mas Ryan.
Sendu, dan juga sedih. Sama apa yang aku lihat pada Mbak Anggun. Bukan mereka saja, tetapi aku juga.
Bukan egois, hanya saja. Masih kecewa.
Aku buka bagasi mobil, memasukkan semua barang belanjaanku.
" Sudah selesai?" Tanya Yanna, melihatku yang sudah duduk di balik kemudi.
Aku usap lembut kepala Nana berada di pangkuan Yanna, memeluk erat tubuh mamanya.
Bukan maksudku mendiamkan istriku, karena pikiranku kali ini memang sangat tak karuan.
****
" Kamu masuk kerja?" Tidak percaya, Akbar melihat Amel masuk bekerja. di saat keadaan semalam wanita itu begitu pucat.
" Iya, kenapa pak." Tanya balik Amel, membawa nampan kosong di tangan. Dan akan kembali ke dapur.
" Kamu sudah sehat." Tanya lagi Akbar. menelisik wajah Amel masih terlihat sedikit pucat.
" Muka kamu masih pucat gitu." Imbuhnya.
" Saya sudah agak enakan Pak."
" Yakin?"
" Iya." Amel dengan sedikit senyum, menunjukkan bila dirinya memang baik-baik saja. Padahal kepala kembali berdenyut dan tubuhnya mulai meriang.
__ADS_1
" Kalau masih enggak enak badan, istirahat saja. Jangan di paksa."
" Iya pak. Makasih." Jawab Amel, mengangguk tersenyum sebelum lagi meninggalkan Akbar kembali bekerja.
" Ada apa Mel?" Tanya Dinda, melihat Amel berbicara dengan Akbar.
" Gak ada apa-apa. Cuma tanya gimana di dalam dapur." Jawab Amel. Lagi malas bila harus meladeni candaan teman-temannya, bila berkata jujur.
" Oh! Aku kira ada apa?" Dinda mengangguk mengerti. " Kamu gak apa-apa, wajah kamu sedikit pucat gitu."
" Enggak apa-apa, cuma pusing saja."
" Istirahat saja dulu Mel." Timpal Eko, mendengar dan juga melihat Amel yang memang sedikit pucat.
" Iya istirahat saja dulu sana." Setuju Dinda.
" Nanti saja, masih banyak castamer. Kalau sudah lenggang aku istirahat. Gak enak juga sama yang lain." Jawab Amel.
Baru beberapa jam bekerja saja dirinya minta ijin untuk istirahat, apa lagi saat restoran sore hari begitu ramai. Dan pastinya akan ada teman kerjanya yang tidak suka. Mangka dari itu, Amel mencoba menahan sakit agar bisa bekerja dengan tim siff sorenya. Dan tidak ingin membuat salah satu dari mereka iri atau marah.
Amel kembali lagi menjadi pelayan, mengantarkan makanan pada pengunjung yang memesan. Tubuhnya semakin panas, kepalanya juga semakin berat dan. Mencoba menarik nafas dalam-dalam sambil menutup mata.
Rasa tubuhnya seakan tak kuat lagi. Menatap jam dinding di ruang dapur.
" Dua jam lagi?" Gumam Amel. " Kuat mel.. Harus kuat. Demi keluarga." Menyemangati dirinya sendiri, tubuh dan upacan seakan bertolak belakang.
" Amel?" Panggil atasannya dari balik pintu dapur. Membuat semua karyawan menatap ke arahnya.
" Iya Pak." Jawab Amel, melihat Akbar yang memanggil dirinya.
" Ke ruangan saya sebentar, saya perlu bantuan kamu." Perintah Akbar. Membuat Amel mengerutkan kening, tapi juga mengangguk mengerti.
" Semangat-semangat, akhir bulan ini! Pasti ngitung gaji." Seru Eko.
" Wahh!! Iya, iya. Ayo semangat. Cepat sana Mel." Timpal Dinda, mengusir Amel untuk cepat mengikuti atasannya.
Amel hanya tersenyum dan pergi menuju ruangan Atasannya. Mungkin memang benar, Akbar sedang membutuhkan bantuannya.
.
.
.
__ADS_1
.
🍃🍃🍃🍃