
Pukul 1 dini hari Mira pun terbangun dari tidurnya. Ia pun merasa sedikit linglung dan aneh. Seperti sebuah mimpi yang membawanya selalu bertemu dan bersama tuan muda Yash.
Ia yang merasa tubuhnya sangat lengket karena keringat serta pakaian kerja yang belum ia ganti. Menjadi berfikir mungkin ia ketiduran saat sudah pulang kerja.
Dan ia pun langsung bergegas menyiapkan piyama satin warna salem dan menyiapkan air hangat untuknya mandi.
Setelah selesai mandi dan dirasa tubuhnya sudah segar kembali. ia pun mulai duduk di pinggiran tempat tidur seraya membuka ponselnya mengecek apakah ada notif pesan untuknya atau tidak.
Dan ternyata banyak sekali notif pesan dari keempat teman kerjanya yang bertanya,dalam pesan dengan hebohnya. Membuat Mira sedikit tersenyum lucu. Namun ia pun menjadi teringat akan sesuatu. Tentang perginya ia bersama tuan Yash beserta Jio dan kedua teman dari tuan Yash kerumah seorang psikiater yang bernama Jodi. Tentang kerjasamanya dengan teman tuan Yash diacara pernikahan nona Martha dan meneger Er. Dan tentang pesan tuan Jodi untuk rutin kerumahnya dua hari sekali selepas kerja guna memulihkan kondisi sikisnya.
"Berarti semua itu nyata.....Aku fikir itu mimpi". Batin Mira dengan raut berkerut.
Kruuukk kuuuukkk
Suara bunyi perut Mira yang sepertinya merasa lapar itu pun sukses membuyarkan lamunan Mira. Ia pun dengan langkah malas turun kelantai satu menuju kearea dapur.
Sesampainya di dapur Mira pun mulai mencari-cari bahan makanan atau cemilan yang bisa mengganjal perutnya. Saat membuka kulkas Mira menemukan dua porsi sate daging sapi yang masih utuh.
Mira pun lalu mengambilnya,dan memanaskannya kedalam mikrowef. Sambil menunggu ia pun membuat segelas coklat hangat da mengambil satu bungkus sedang keripik kentang lalu memakannya di kursi makan seraya menyalakan musik pada ponselnya dengan lagu pop lawas tahun 2.000 an. Seperti lagu yang dinyanyikan oleh grup band Vagetoz yang judulnya Kehadiranmu.
Setelah beberapa menit suara bunyi Ting pada microwef pun membuat Mira langsung bergegas untuk mengambil piring dan menata sate yang telah dihangatkan keatas piring lalu membawanya kemeja makan dan memakannya seraya mendengarkan lagu yang telah berganti yang berjudul Seberapa pantas.
Saat tengah menikmati makannanya dengan tenang dan damai. Tiba-tiba saja ponsel Mira berbunyi yang menandakan jika ada pesan masuk untuknya. Mira pun mengernyit heran lalu membukanya dengan rasa penasaran.
Dan ternyata pesan itu datang dari Meneger Er yang menanyakan kenapa washaapnya masih aktif di tengah malam.
**From Meneger Er :
"Belum tidur ?. Bisa kita bicara. Tolong kasih aku satu kesempatan lagi**".
Begitu lah bunyi dari pesan seorang meneger Er kepada Mira. Membuat Mira sedikit tertegun di tempat seraya memandangi kata demi kata pada pesan yang tertera di ponselnya itu.
"Mengapa setelah satu minggu kamu baru mau menghubungiku sekarang. Apa yang akan kamu bicarakan Er. Semua sudah jelas, kita kalah dan kamu memang harus melupakan segalanya termasuk aku". Batin Mira dengan berkaca-kaca.
Mira pun akhirnya tidak membalas pesan dari meneger Er. Ia lebih memilih untuk membiarkannya dan meminun coklat hangat yang mungkin dapat merubah moodnya.
Namun bak mimpi buruk. Erlangga pun terus mengirim pesan yang begitu banyak dan spam pesan yang membuat ponselnya terus berbunyi. Tak jarang pula dering panggilan yang terus berbunyi yang Mira tahu itu dari Erlangga yang masih terus saja berusaha untuk menghubunginya.
Merasa tak nyaman dan merasa sedikir penasaran. Mira pun dengan tanpa melihat dan berfikir ia pun langsung menarik warna biru pada layar ponselnya yang menandakan panggilan videocall telah ia terima. Dan saat Mira tengah menatap layar ponsel dengan raut seriusnya. Ia pun dibuat terkejut oleh wajah Yash yang muncul di layar ponselnya yang tengah duduk di kursi kerja dengan setelan santai tengah menatapnya dengan sedikit tersenyum.
Mira yang tidak siap pun sedikit terlonjak kaget membuat ponselnya terjatuh dengan keras diatas meja.
"A..Aaaa...Apa aku sedang berhalusinasi. It...Itu. Ruan Yash, bukan Erlangga ?". Batin Mira dengan sedikit gugup.
"Ekhem...Apa ada masalah Mira ?". Tanya Yash di seberang telfon.
Mendengar dengan sangat jelas jika itu suara dari Tuan Yash. Mira pun langsung mengambil ponselnya yang terjatuh itu lalu memandang layar dengan raut gugup.
"Ti..Tidak tuan. Saya hanya merasa kaget saja tadi". Ungkap Mira dengan tersenyum bodoh. Membuat Yash langsung menaikan sebelah alisnya dengan curiga.
"Kau sedang apa di jam malam seperti ini ?". Tanya Yash mencoba mengalihkan.
__ADS_1
"Saya terbangun dari tidur. Merasa tak enak di badan jadi saya mandi dan emmm merasa lapar dan akhirnya makan tuan. Emm ini saya makan sate" Ucao Mira masih nerasa gugup.
Yash pun hanya mengangguk saja menanggapi ucapan Mira dan matanya benar-benar tidak mau lepas dari keher jenjang Mira yang terlihat sangat mulus serta tulang leher dan dada yang sedikit terlihat membuat Yash terkadang meneguk ludah dengan diam-diam.
Memang piyama yang di kenakan Mira itu memiliki kerah leher berbentuk V-nek dan sangat kontras di kulit putih Mira yang semakin terlihat putih dengan warna salem.
"Jangan terlalu sering mandi di tengah malam. Tidak baik untuk kesehatan. Kecuali saat susah tidur dan baru berpergian". Ucap Yash menasihati.
"Emmm...Iya tuan. Terimakasih untuk sarannya".Ucap Mira dengan tersenyum sopan.
"Anda belum tudur tuan. Ini sudah sangat larut ?". Tanya Mira mencoba untuk tidak gugup dan canggung.
"Oh, iya habis meriksa data sama pekerjaan. Ini juga baru selesai. Dan saat aku buka ponselku ternyata kamu masih aktif". Jawab Yash dengan santai membuat Mira tersenyun canggung.
"Masih ada beberapa tusuk satenya. Kenapa tidak dihabiskan ?". Tanya Yash saat melihat beberapa tusuk sate yang berada di piring.
"Emm...Ya tuan, ini juga mau saya habiskan". Ucap Mira dan lalu mengambil satu tusuk sate dan memakannya dengan lahap. Membuat Yash sedikit tersenyum gemas.
Saat tengah fokus menatap cara makan Mira yang begitu lucu dan menggemaskan. Tak sengaja Yash pun teringat sesuatu.
"Dimana kalung pemberuan ayah ku. Kau tidak memakainya ?". Tanya Yash merasa penasaran.
Mira yang tengah menguyah pun menghentikan kunyahannya seketika dan terlihat bingung. Ia lalu menelan bulat makanannya lalu meminum coklat hangat untuk meloloskan makanannya yang terasa tersangkut dari tenggorokannya. Ssetelah itu ia pun mulai berbicara.
"Ada, saya simpan tuan". Ucap Mira memberi tahu.
"Kenapa tidak di pakai ?". Tanya Yash lagi.
"Itu....Saya merasa tak pantas tuan untuk memakainya. Kak Noura bilang nilai uang dari kalung itu seharga tiga kali lipat mobil alpard". Ucap Mira menjelaskan.
"Siapa itu Noura ?". Tanya Yash lagi dengan kening berkerut.
"Temannya kak Mayya. Pemilik toko perhiasan ternama. Miss Noura Anderson. Dia yang memberi tahu saya banyak hal tentang kalung itu". Ucap Mira lalu menunduk mencoba mengalihkan peeharianya akan mata tajam Yash.
"Jadi kamu sudah tahu ya". Ucap Yash santai. Dan di balasi anggukan oleh Mira.
"Jika sudah tahu, kenapa tida kau pakai. Itu sangat berguna untuk keselamatanmu. Tidak selamanya Mira, orang-orang di dekatmu bisa membantumu dengan segera". Ucap Yash dengan serius.
"Jika saja kamu memakai kalung itu saat kamu di perlakukan buruk ole Zoe dan anak buahnya. Mungkin apa yang telah kamu alami tidak akan pernah terjadi. Kamu tidak akan dipeelakukan buruk dan tidak ada yang bisa menyentuhmu" Ucap Yash lagi dengan nada layaknya seorang ayah yang tengah menasihati putrinya.
"Jika saat itu aku dan Jio tidak tengah bersama dengan Raina saat ia menerima panggilan darurat darimu. Apa yang akan terjadi dengan mu. Hemm... Jika aku dan Jio terlambat saat itu. Apa yang terjadi". Ucap Yash lagi dengan sesikit gemas geram.
Mira yang nerasa ucaoan Yash ada benarnya pun mulai menunduk dan merasa sedikit bersalah dan berfikir mengapa ia bisa sebodoh itu.
"Saya merasa tak pantas saja tuan saat tahu kenyataaanya. Kalung itu juga membuatku merasa berat memakainya tuan". Ungkap Mira jujur.
"Kamu pantas dan layak memakainya. Ayah ku sendiri yang memberikannya untukmu. Jangan sekalipun kamiu membuatnya kecewa Mira. Dan jika kamu tidak memakainya maka siap-siap saja untuk melihat pemilik toko perhiasan itu akan segera gulung tikar besok". Ucap Yash mengancam membuat Mira sedikit takut.
Sungguh jika ia tetap kekeh dalam ucapannya maka masalahnya akan sangat besar. Kak Mayya dan kak Roy pasti akan kehilangan seorang sahabat baik dan mungkin ini awal dari sebuah masalah besar. Marga Anderson tentu akan merasa tidak terima.
"Tidak tuan. Saya tidak ingin melihatnya. Kak Noura sangat baik aku tidak bisa jika melihatnya sampai gulung tikar". Ungkap Mira dengan tatapan memohon membuat Yash seketika tersenyum menang.
__ADS_1
"Itu semua tergantung darimu". Ucap Yash tegas.
"Ya saya akan memakainya. Apa anda senang ?". Ucap Mira dengan sedikit kesal.
"Tentu". Ucap Yash dengan senyum kemenangan.
"Sebentar saya bereskan dulu semua makanan ini. Setelah itu akan saya ambil dan kenakan kalung itu". Ucap Mira meminta izin. Dan diangguki dengan santai oleh Yash.
Mira pun akhirnya membereskan semua sampah makanan dan nencuci piring serta gelas yang baru saja ia gunakan. Sementara Yash yang berada di seberang sana hanya melihat saja dengan mata intensnya semua pergerakan dari Mira. Tak jarang Yash tersenyum diam-diam saat melihat wajah kesal Mira yang terlihat lucu dan menggemaskan bagi seorang Yash.
"Apa-apaan tuan muda ini. Mengancam ku menggunakan orang lain. Licik sekali". Batin Mira berucap dengan setengah kesal.
Setelah selesai ia pun mengambil ponselnya yang masih menandakan adanya Yash pada panggilan videocall yang tengah tersambung dan masih dengan posisi Yash yang duduk santai seraya melihat kearah Mira.
Mira pun membawa ponselnya ke jamarnya dan meletakan ponsel itu pada pengait ponswl yang dapat memposisikan ponselnya dengan berdiri tidak tergeletak pada meja riasnya. Dan Mira pun mwndudukan dirinya pada kursi rias lalu membuka laci meja rias mengambil kotak beludru kecil warna Navy dan mengeluarkan kalung itu dari dalam kotak.
Ia lalu mengenakannya pada leher jenjangnya yang putih mulus dan terlihat sangat pas dilingkari oleh kalung berlian itu.
Yash yang melihatnya pun kembali terswnyum senang bahkan sedikit membayangkan jika kalung itu di kaitkan atau dipasangkan oleh dirinya di sana. Mungkin akan sangat menyenangkan. Namun bayangan itu segera Yash tepis saat ingat jika ia sudah keterlaluan dalam berhayal. Dan Yash pun lalu memejamkan matanya guna mengenyahkan fikiran buruknya itu. Ia lalu membuka matanya dan mwnormalkan cara pandang dan garis wajahnya seperti biasa.
"Sudah...". Ucap Mira setelah berhasil mengaitkan kalung itu di lehernya.
"God girl". Ucap Yash dengan nada lain yang membuat Mira merinding seketika.
"Aku merasa tenang jika kamu sudah mengenakannya. Setidaknya kamu ada yang mengawasi. Karena kalung itu akan terhubung langsung dengan orang-orang ku saat kamu mengenakannya". Ucap Yash beekata jujur yang tak disengaja.
"Aku hanya tidak ingin kamu membuat Rainaku dan ayahku khawatir. Kamu selalu diperhatikan penuh oleh mereka. Jadi jangan sampai kamu membuat ulah. Atau aku sendiri yang akan datang untuk memberikanmu pelajaran". Ucap Yash dengan nada tegas dan raut serius yang membuat jantung Mira berdegum kencang merasa sedikit takut.
"Apa kamu mengerti ?". Tanya Yash memastikan membuat Mira seketika mengangguk paham. Dan Yash tersenyum angkuh.
"Tuan, ini sudah sangat larut. Anda tidak ingin beristirahat. Wajah anda sudah sangat lelah sepertinya". Ungkap Mira yang bermaksud untuk mengakhiri videocallnya.
"Kamu memang benar-benar memperhatikanku atau hanya beralasan saja agar kamu dapat mengakhiri panggilanku hmm". Ucap Yash telak membuat Mira seketika menggeleng takut.
"Ti...Tidak tuan. Mana berani saya seperti itu. Saya hanya memperhatikan wajah tuan yang teelihat lelah". Ucap Mira mengelak namun sejatinya memang benar. Mata dingin Yash terlihat sayu.
"Aku hanya bercanda. Aku juga ingin beristirahat karena besok ada pertemuan penting dengan rekan bisnis dari korsel". Ucap Yaash memberi tahu.
"Aaaa kalau begitu selamat istirahat tuan. Semoga besok hari anda penuh dengan semangat". Ucap Mira menyemangati dengan nada riang membuat Yash sedikit tersenyum melihatnya..
"Kamu juga semoga besok harimu penuh dengan rasa senang". Ucap Yash santai.
"Terima kasih tuan". Ucap Mira senang.
"Jangan merasa kesal denganku ya. Dan maaf jika beberapa menit lalu aku membuatmu merasa kesal. Selamat malam Miranda Nur".
"Iya tuan, selamat malam". Ucap Mira dan melambaikan tangan.
Sementara Yash hanya mengangguk dengan sedikit senyunan lalu mengahkiri panggilan videocall tersebut.
Merasa panggilan videocallnya sudah terputus Mira pun akhirnya bernafas lega. Berbicara dengan tuan Yash ternyata membuat kerja jantungnya tak normal namun perasaannya seolah membaik dan fikirannya pun teralihkan dari rasa penasarannya terhadap pesan dari Meneger Er. Dan kini ia pun merasa mengantuk kembali lalu berjalan diatas tempat tidur dan berbaring dia atasnya seraya melihat langit-langit kamarnya.
__ADS_1
Dan hal yang sama pun tengah dilakukan juga oleh Yash. Bedanya Yash berbaring menggunakan kedua tangan swbagai bantalan kepalanya seraya melihat langit'langit kamar dengan perasaan yang entah lah. Yash pun sulih untuk mengartikannya dan tak ingin memastikan sebab ada wanita laun pula yang harus ia jaga sepenuh hati. Yaitu Raina Agatha.