
Pov. Yanna.
Berdua dengan Mas Rama di saat sudah halal seperti ini, kenapa aku jadi segugup begini? Seperti bukan aku saja. Padahal di kost aku biasa saja sama mas Rama, tidak ada wajah pemalu dan gugup. Kecuali Mas Rama menggodaku.
Ini aku gugup pasti karena tiga teman yang menggodaku aku waktu itu. Percakapan di antara mereka yang sangat membagongkan.
" Anunya Pak Duda gimana ya?" Tanya Sari.
" Anunya Apa?" Tanyaku yang belum memahami ucapan Sari.
" Anunya? Besar apa kecil. biasanya kalau orangnya gagah, pasti besar." Jawab Sari, wajah yang sangat menyebalkan. tidur tengkurap sambil memeluk bantal.
" Ya tergantung. meskipun badan besar ada tu yang kecil dan loyo. Kalau yang badannya kecil ada juga yang kuat dan gak loyo-loyo." Timpal mbak Indri. Mesjelaskan lebih detail saat aku mulai mengerti pembahasan yang tak berfaedah itu.
" Lihat saja dari jempol kakinya?" Kata Amel. " Kalau panjang dan gemuk itu artinya besar, kalau pendek gemuk itu berarti gemoy. Gampangkan?" Imbuhnya lagi. sambil makan cemilan di toples.
" Sok tau! Mana bisa di di samakan dengan jempol kaki!" Cibir Sari.
" Gak percaya? Coba saja praktekin ke eko. Lihat jempol kakinya dulu sebelum lihat yang asli." Saran Amel, membuat Sari lagi-lagi berdecak sebal dan melempar bantal ke arah amel. Hingga Amel kembali tertawa.
" Mbak, punya Mas Bayu besar apa kecil?" Tanya Sari, kembali duduk dan ikut memakan cemilan.
" Gak usah di tanya Sar! Pasti besar, dan memuaskan. buktinya mbak Indri betah-betah saja tu di kamar kalau ada ayangnya." Kata Amel. Membuat mbak Indri tersedak makanan.
" Asem kamu Mel." Gerutu Mbak Indri dengan wajah malu.
" Nah! Lihat saja nanti jempolnya Mas Bayu Sar! Dari pada kamu praktekin ke eko!" Saran Amel. Kini mendapatkan lemparan kacang atom dari mbak Indri.
" Ide bagus." Saut cepat Sari.
" Jangan ngadi-ngadi! Nanti Mas ayang tak suruh pakai sarung kaki saja kalau ada kalian-kalian ini." Gerutu mbak Indri, membuat Amel dan Sari semakin tertawa.
" Yan, live ya nanti kalau mau buk-,"
" Gak ada, gak ada. Apa-apan live live gitu-gitu. Gak ada." Saut cepat aku, yang mengerti otak ke tiga teman laknatku.
Apa-apaan coba, Malam pertama mau live live. Kayak kucing saja, live di tempat umum tanpa mengerti perasaan orang. Amel, Sari dan Mbak Indri tertawa puas melihatku yang memerah malu saat di goda malam pertama.
Dan percakapan itu yang membuatku sekarang gugup di hadapan Mas Rama. Ibu menyuruhku untuk mengajak mas Rama ke kamar, agar bisa istirahat kala acara temu manten keluarga besar mas Rama sudah selesai dan mereka semua sudah kembali ke villa. Nana pun juga ikut mama, yang rasanya aku tidak tega sekali melihat Nana menangis. karena tak ingin di ajak kembali ke villa oleh Mama Mas Rama.
__ADS_1
Mas Rama menyuruhku duduk di sampingnya.
Ini belum malam mas? Jangan aneh-aneh." Suara batinku menatap Mas Rama gugup.
Aku mencoba alasanpun mas Rama tetap menyuruhku untuk duduk di sampingnya dengan sedikit memaksa. Hingga akhirnya, aku pasrah. Mendekat ke arah mas Rama dan duduk di sampingnya.
Aku hanya bisa menundukkan kepala, meremas kuat dua tanganku yang saling menggenggam. Berharap Mas Rama tidak akan melakukannya di sore hari, dengan para kerabat dan tetangga belum pulang.
Malu kan?
" Mas doa sebentar ya buat kamu?" Ucap Mas Rama yang ada di depanku sekarang, dan membuatku membuka mata mendongak untuk melihat Mas Rama.
" Doa setelah menikah, dan doa ini khusus untuk kamu." Ujarnya lagi. Aku yang sedikit mengerti yang di maksud mas Rama hanya menganguk dan menundukkan kepala kembali. dan ke dua tanganku mulai terbuka untuk mengaminkan doa suamiku.
Mas Rama menyentuh ubun-ubun kepalaku dan mulai melantuntan doa untukku. Membuat air mataku mengalir di pipiku. Terasa tersentuh dengan lantunan doa yang membuat aku seperti menemukan pembimbing di setiap langkahku nanti yang salah, dalam berumah tangga yang akan aku jalani bersama Mas Rama.
Arti doa : Ya allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang engkau tentukan atas dirinya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang engkau tetapkan atas dirinya.
Mas Rama mengusap kepalaku dengan ke dua tangannya dan mencium ubun-ubunku begitu lama. Membuatku sedikit terisak akan perlakuannya yang lembut.
" Kita jalani rumah tangga ini dengan baik ya. apapun keadaannya kedepan nanti, kita harus saling menguatkan dan saling percaya. Kita juga akan didik anak-anak kita dengan baik dan penuh kasih sayang. Jangan ada yang di bedakan di antara mereka nanti." Ucap Mas Rama lembut, duduk berjongkok di hadapanku sambil memegang tanganku.
" Tolong bimbing aku Mas, dan tolong tegur dengan baik, bila aku salah arah nanti." Ucapku lirih.
" Iya." Jawab Mas Rama. Mencium tanganku yang membuatku tersentuh dengan ketulusan cinta dan hatiku yang luluh karena kasih sayangnya.
" Sudah jangan nangis, nanti bedaknya luntur." Ucap Mas Rama mengusap air mataku yang mengalir.
" Mau aku hapus bedaknya. sudah sore, acara juga sudah selesai." Jawabku. dengan Mas Rama kembali duduk di sampingku.
" Mas mau mandi sekarang atau makan dulu." Tanyaku lagi.
" Mandi dulu saja Yan, Gerah. Dari tadi pakek baju ini." Jawab Mas Rama, memakai baju putih panjang yang memang sedikit tebal.
" Aku ambil handuk dulu di lemari Mas." Ujarku. berjalan menuju lemari, mengambil handuk baru untuk Mas Rama.
Saat aku berbalik, mataku langsung di sugukan dengan pemandangan Mas Rama yang sudah tidak lagi memakai baju kebaya. Hanya memakai kaos dalam tanpa lengan, menunjukkan otot-otot lengan dan juga d*da yang sedikit menonjol.
Untuk ke dua kali aku melihat ini Tuhan?
__ADS_1
Aku yang melamun, membuatku kembali tersentak saat mas Rama menarik tanganku dan membuatku duduk di pangkuannya.
" Mas." Pekikku. dengan tanganku yang mencengkram bahunya.
" Boleh incip sebentar gak Yan." Kata Mas Rama. Ke dua tangan sudah melingkar di pinggangku dengan satu tangan mengusap lembut. dan kembali aku melototkan mata ke arahnya.
" Sudah halal kan?" Imbuhnya lagi tanpa rasa malu.
Astaga!! Aku yang gugup Mas..! Ini tangan tolong di kondisikan sebentar saja.
" Mas? Nanti ada yang masuk." Ucapku, mencoba melepaskan tangan mas Rama.
" Sudah aku kunci." Jawab Mas Rama tersenyum.
Eh! Kapan di kuncinya. gesit amat duda ini.
Aku tatap pintu kamar yang memang sudah di slot kuncinya, membuatku menatap kembali mas Rama yang tersenyum genit padaku.
Perlahan dengan pasti, mas Rama menyentuh pipiku. membuat tubuhku seperti tersengat listrik. Aku mulai memejamkan mata, bib*r yang sudah saling menempel dengan suami baruku yang memulai permainan bib*r. saling menautkan dan saling mencicipi manisnya bib*r. Aku yang terbuai, tanganku mengalung sempurna di leher Mas Rama.
Aku bukan janda lugu yang tak tau bagaimana membalas cium*n Mas Rama. Kami saling membalas, saling menginginkan dan saling menatap mata dengan kilatan hasrat yang rasanya ingin sekali memulai tanpa menunggu malam.
" Yanna!! Buka pintunya woyy.!!" Teriak dan gedoran pintu membuatku melepas paksa cium*n Mas Rama.
" Tiga kunyuk sudah datang." Ucapku, semakin membuatku gugup karena mereka.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃
Eya, eya, eya.!!!😆😆
Stop!! Aku gak mau di salahkan batalnya puasa.🙊Kabur!!!! 😹😹
__ADS_1