
"Apa. Kau....Mencintai Raina. Adik kandungmu sendiri tuan. Benarkah ?". Tanya Mira dengan raut terkejut. Yash pun hanya mengangguk tanpa menoleh kearah Mira.
"Pantas saja kau sampai segila ini tuan. Kau tengah cemburu rupanya. Hhhhhh....Benar-benar menakutkan". Batin Mira seraya terdiam.
"Apa kau nerasa jijik denganku sekarang. Apa kau juga akan menghakimiku seperti mereka Mira. Apa pendapatmu tentang hal ini huh ?". Tanya Yash dengan tatapan nanar kearah Mira saat lama keduanya terdiam.
"Cinta memang tidak pernah salah tuan. Perasaan itu muncul dari dalam hati. Yang menjadi kesalahannya adalah keadaan yang dimana kita tidak peenah bisa memiliki cinta itu seutuhnya". Ucap Mira penuh kelembutan layaknya seorang ibu yang tengah menenangkan anaknya yang tengah marah.
"Andai ayahku tidak menikahi ibu Rianthi. Mungkin saat ini aku sudah bisa memiliki Raina". Ucap Yash sendu.
Mira pun merasa tidak mengerti akan ucapan Yash. Ia pun memandang Yash dengan tatapan bingung dan kening berkerut seolah tak paham.
"Aku, Raina, Jasson dan si kembar adalah anak-anak yang memiliki ibu yang berbeda namun memiliki ayah yang sama. Aku adalah anak dari Cinthiyana Adiba istri pertama ayah. Sedangkan Raina adalah anak dari ibu Rianthi. Istri kedua ayah yang telah wafat. Sementara kedua anak kembar si duble A dan Jasson adalah anak dari Yasmine. Istri ketiga ayahku". Ucap Yash memberi tahu.
"Tuan, aku berjanji akan mendengarkan segala kisah yang akan anda ceritakan. Tetapi aku mohon, lajukan mobil ini. Kita sedang berada di jalur jalan tol. Apa pun bisa terjadi di sini. Ku mohon". Ucap Mira dengan pandangan memohon yang entah mengapa mencubit perasaan Yash.
Yash pun lalu mengangguk dan mensetujui ucapan Mira. Ia pun lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sedangkan Mira sendiri langsung menghela nafas lega.
Yash pun langsung membelokan mobilnya kearah warung lesehan mang unang tempat dimana dulu Yash dan Mira makan untuk yang pertsma kalinya.
"Sepertinya ini akan menjadi tempat faforit ku". Ucap Yash dan langsung turun dari mobilnya lalu memutari mobilnya untuk membukakan pintu untuk Mira.
"Terima kasih tuan". Ucap Mira seraya melihat kearah luka Yash yang hanya di balut kain.
Tak ingin Mira menjadi pusat perhatian karena baju yang di kenakannya terlihat seperti akan pentas menari. Yash pu lalu mengambil jaketnya di bagian belakang kemudi dan menyampirkannya di pundak Mira. Lalu menggandengnya memasuki rumah makan itu.
Saat di dalam, mereka pun di sambut baik oleh pemilik rumah makan dengan sopan dan sumringah.
"Mangga neng Mira, akang kasep. Mau pesan apa sok. Mamang layanin khusus untuk neng cantik sama akang kasep". Ucap mang unang dengan logat khas sundanya.
"Makasih mang. Si mamang memang best lah pokoknya hehe". Ucap Mira dengan riang.
"Mangga di pilih neng, menu makanan dan minumannya". Ucap mang unang swraya menyerahkan daftar menu.
"Untuk lantai dua, saya mau sewa untuk kami berdua bisa ?". Tanya Yash langsung membuat Mira melongo.
"Bisa jang, sebentar ya mamang suruh karyawan mamang buat membereskan tempatnya dulu. Soalnya tadi juga di buat untuk reoni. Baru saja pada pulang orangnya". Ucap Mang unang.
Yash pun hanya mengangguk dan melihat daftar menu makanan tanpa minat. Mira yang tahu betul kondisi dan suasaba hati dari Yash pun memutar otak untuk menghibur tuan mudanya itu nanti.
"Kau belum makan malam kan. Pilih lah menu yang kau suka. Aku ikut saja apa yang kamu pilih". Ucap Yash menyerahkan buku menu kepada Mira.
Mira pun menerimanya dan memilih dengan raut berkerut. Mencoba memilah makanan yang yash sukai dan dapat merubah mood.
"Neng Mira teh habis kondangan ya. Cantik pisan ?". Tanya mang unang.
"Iya mang, ke pernikahannya anak bosnya Mira. Perjalanannya jauh soalnya. Jadi lah kami mampir ke warung mamang. Laper lagi hihi". Ucap Mira dengan tertawa di akhir kalimat. Membuat mang unang ikut tertawa dan mengangguk.
"Pesan teh jahe dua ya mang, tapi di sajikan pertama dulu buat menghangatkan badan sambil nunggu menu lainnya siap". Ucap Mira meriques menu monumannya.
"Iya, siap neng. Mau cemilannya engga neng. Ada pisang lumpur keju coklat, roti gabin goreng isi tape, combro, singkong keju banyak lah neng. Mangga di pilihan". Ucap mang Unang.
"Mau combronya saja mang sama roti gabin". Ucap Yash menimpali ucapan mang Unang.
"Siap kang kasep. Edo siapin ya combro sama roti gabin". Teriak mang unang kepada karyawannya yang di balasi acungan jempol oleh edo.
"Makanannya kami pesan udang saus asam manis dan ayam bakar madu ya mang. Nasinya dua piring saja. Minumannya es teh dua". Ucap Mira memesan.
"Ya siap-siap neng". Ucap mang Unang dengan semangat.
"Mang ada kota P3K engga ?". Tanya Mira lirih dan berbisik kearah mang Unang saat Yash tengah mengedarkan pandangannya kearah lain.
"Ada neng, kenapa ?". Tanya mang unang penasaran.
"Ada kecelakaan kecil mang. Nanti tolong di antarkan ya ke lanta atas". Pinta Mira dengan berbisik.
"Iya neng siap". Ucap mang Unang.
"Ok makasih mang". Ucap Mira dan menyudahi acara berbisiknya.
"Sudah ?". Tanya Yash kepada Mira dan di balasi anggukan oleh Mira.
"Mangga jang, tempatnya sudah siap. Di tunggu ya pesenannyaa". Ucap mang unang mempersilahkan.
Yash pun hanya mengangguk saja dan pergi dengaan menggandeng tangan Mira menuju tempat lantai atas yang terdapat banyak lampion dan dapat melihat keindahan malam kota.
Dan seperti biasa Yash pun mengajak Mira duduk di pojokan. Dekat dengan pembatas yang bisa melihat keindahan kota di bawahnya.
Tak berapa lama, teh jahe , combro dan roti gabin pesanan mereka pun muncul bersama satu kotak sedang P3K. Yang membuat Yash mengerutkan kening.
"Siapa yang memesan kotak P3K ini ?". Tanya Yash kepada si pelayan wanita.
"Aku tuan, luka anda harus diobati". Ucap Mira dan langsung mengambil kotak itu dan membukanya. Sedangkan sang pelayan pamit undur diri setelah selesai menyiapkan pesanan.
Mira pun lalu menarik tangan kanan Yash yang terbalut kain lalu membukanya. Terlihat lah darah yang membasahi kain dan tangan Yash yang sedikit nemar dan mulai membengkak itu.
Melihatnya pun Mira merasa ngeri sendiri. Sudah di pastikan rasanya itu pasti sangat sakit dan pegal sekali.
Diambilnya cairan anti septik untuk membersihkan luka dan membunuh kuman yang terdapat pada luka Yash. Setelsh itu, Mira pun langsung mengoleskan obat merah ke luka Yash seraya meniupinya. Dan setelah selesai, mulailah ia menutup luka itu dengan perban yang ia gulungkan dari antara jari telunjuk jan jempol terus ke telapak tangan Yash dan ke belakang telapak tangan Yash hingga tertutup sempurna dan rapih.
Semua yang Mira lakukan rupanya diperhatikan penuh oleh Yash. Ekspresi wajahnya, keseriusannya, juga wajah lembutnya. Membuat Yash lupa akan rasa sakit pada tangan kanannya juga hatinya.
Mira pun lalu mendongak melihat kearah Yash dengan tersenyum. Membuat Yash sedikit tergagap dengan gelagat matanys. Lalu mencoba untuk menyembunyikannya dengan mengedarksn pandsngannya kesegala arah.
"Anda sungguh tidak merasakan apa pun tuan ?". Tanya Mira dengan raut heran. Yash yang ditanyai pun memandang Mira tak mengerti.
"Ini pasti rasanya sakit. Ada memar di kelima jari anda tuan. Anda sungguh tidak merasakan apa pun ?". Tanya Mira lagi dan lagi-lagi Yash pun menggeleng.
"Minum lah tuan, agar perasaan anda merasa lebih tenang". ucap Mira seeaya menyerahkan segelas teh jahe hangat.
Yash pun menerimanya dan meneguknya pelan. Meresapi setiap rasa yang masuk ketenggorokannya dan membuat tubuhnya terasa lebih hangat.
"Anda menyukainya tuan ?". Tanya Mira dengan raut penasaran. Yash pun menganggukkan kepalanya dan meminumnya lagi.
"Rasanya sedikit pedas. Tetapi lumayan lah". Ucap Yash lalu menyandarkan punggungnya pada dinding pembatas.
Setelah itu ia pun melihat combro yang tersaji di piring lalu mengambilnya dengan tangan kiri dan melihat combro itu dengan seksama.
"Apa ini enak Mira ?. Jujur aku memmesannya karena namanya yang unik. Combro". Ucap Yash seraya membolak balik combro yang ia pegang.
"Itu makanan khas tuan, terbuat dari singkong yang di haluskan lalu di pipihkan di beri isian tempe pedas atau bisa juga gula merah. Lalu di goreng". Ucap Mira menjelaskan.
__ADS_1
Dengan ragu-ragu Yash pun memakannya dan seketika sedikit terkejut akan rasa pedas yang terdapat pada isian combro itu.
"Isiannya pedas manis gurih, enak seperti isian cireng ayam suir buatanmu". Ucap Yash dan memakannya lagi dengan lahap.
Mira pun hanya tersenyum saja dan mulai meminum teh jahenya juga memakan roti gabin yang manis itu.
"Sejak kapan anda mulai menyadari bahwa anda mencintai Raina tuan ?". Tanya Mira penasaran. Membuat Yash menyudahi makannya dan meminum teh jahenya sebentar.
"Sudah ku katakan kan. Jangan menyebutku dengan kata-kata anda, itu terlalu formal Mira". Protes Yash merasa enggan jika seformal itu.
"Ah ya, maaf tuan muda. Sa.. Ekhem maksudku aku lupa". Ucap Mira meminta maaf.
"Dulu aku sejujurnya membenci Raina. Aku berfikir kasih sayang ibu Rianti akan berubah saat hadirnya Raina. Karena ibu ku, ibu Cinthiyana telah di panggil tuhan saat usiaku baru delapan bulan". Ucap Yash memulai bercerita.
"Kisah cinta antara ibu ku, ayah ku dan ibunya Raina. Adalah sebuah kisah cinta yang rumit Mira. Karena mereka bertiga dulunya adalah sahabat dekat saaat di bangku sekolah menengah sampai kuliah". Ucap Yash dan semua ceria itu pun mengalir begitu saja.
"Aku rasa aku tidak pernah sesayang ini bahkan melebihi dari diriku sendiri untuk Raina. Tetapi gadis keras kepala itu selalu menolak ku dan mengingatkan ku akan hubungan seayah kami". Ucap Yash penuh luka dan kecewa.
"Memmang rumit tuan. Jika kita mencintai saudara sekandung. Akan ada banyak sekali pertentangan. Di mata masyarakat, di mata hukum, dan juga agama. Terkecuali jika tuan Yash dan nona Rain tidak sedarah. Tidak seayah atau pun seibu. Itu di perbolehkan setahu ku sih". Ucap Mira mengutarakan pendapatnya.
Yash pun hanya dian dan mencoba memikirkan kembali perkataan dari Mira yang memang ada benarnya itu.
"Dan aku disini mencintai sendiri dan berjuang sendiri". Keluh Yash dengan tertawa pedih yang membuat Mira semakin iba dengan Yash.
"Tuan, mungkin saat ini. Kau hanya terobsesi saja dengan nona Raina. Dan kau belum bisa membedakannya antara cinta kepada seorang adik dengan cinta terhadap seseorang yang sepesial, wanita lain di hidup mu. Aku hanya bisa mendoakan agar tuan muda Yash dapat menyadari cinta itu dan menemukan seseorang yang tepat untuk tuan". Ucap Mira dengan tersenyum tulus.
"Karena aku juga tidak mengerti apa cinta. Yang aku tahu cinta itu adalah sebuah keikhlasan. Keikhlasan untuk melepaskannya atau menerimanya dengan segala kekuarangan dan kelebihannya". Ucap Mira lagi dengan menunduk sedih.
Yash pun jadi ingat jika tidak hanya ia saja yang bersedih di malam ini. Mira pun sama sepertinya. Bahkan perasaannya mungkin lebih hancur dari dirinya. Melihat seseorang yang ia cintai bersanding dengan orang lain, berusaha untuk tersenyum dan seolah tidak terjadi apa pun. Bernyanyi, menari, dan berbohong kepada diri sendiri. Sungguh Yash merasa tak sanggup jika menjadi Mira.
"Kenapa anda menatapku seperti itu tuan ?". Tanya Mira takut-takut.
"Kamu seperti mudah menyembunyikan rasa sedihmu". Ucap Yash yang masih menatap Mira lekat.
"Itu karena ada banyak sekali orang-orang yang menyayangiku. Mereka selalu menyemangatiku dan mengerti sekali perasaanku. Kebanyakan dari merela tidak sedikit pun membahasnya. Mereka tahu, ada hati dan perasaan yang harus di jaga. Aku tidak bisa seegois itu tuan". Ucap Mira tenang seraya menerawang memandang langit malam.
"Tuan, tugas ku untuk menjadi partner menari untuk tuan Vikram telah usai. Aku juga memiliki hutang janji kepada kak Maya". Ucap Mira jujur.
"Janji apa ?". Tanya Yash dengan kening berkerut.
"Untuk menjauhi tuan Yash beserta tuan besar dan seluruhnya yang berhubungan dengan tuan Yash". Ucap Mira sedikit ragu-ragu.
"Hanya itu ?". Tanya Yash santai dan Mira pun hanya mengangguk.
"Tak masalah. Menjauh lah sebisamu Mira. Aku ingin lihat bagaimana caramu untuk menjauh dariku". Ucap Yash seraya tersenyum remeh. Membuat Mira merasa tak mengerti akan pikiran dari seorang Yash.
Mira pun hanya mengangguk saja. Dan tangannya ia angkat kelehernya guna melepas sesuatu yang melingkar pada lehernya. Namun tindakkannya di hentikan oleh Yash yang mengangkat tangannya menghentikan tangan Mira yang sibuk melepas kalung berlian itu.
"Jika kau ingin menjauh, menjauh lah. Tetapi jangan coba-coba kau lepas kalung itu dari lehermu. Apa lagi mencoba untuk mengembalikannya kepada ku atau ayahku. Itu sama saja kau....Menghina keluarga Leonard". Ucap Yash dengan serius dan tajam.
Mira pun menunduk merasa takut sekaligus bersalah. Aura yang Yash keluarkan saat ini sungguh sangat mengerikan. Tatapannya tajam dan sungguh mematikan.
"Karena pantang bagi kami untuk menerima pemberian yang sudah kami berikan. Jika kau tidak ingin mengenakan atau memilikinya lagi. Buang saja kalung itu". Ucap Yash santai dan acuh.
"Itu akan lebih baik dari pada di kembalikan". Ucap Yash lagi dan memandang acuh kearah lain.
Mira yang mendengarnya pun merasa berat jika syaratnya harus di buang. Kalung seharga tiga mobil alpard harus dibuang begitu saja.
"Yang benar saja tuan Yash ini". Batin Mira merasa tak terima.
"Silahkan dinikmati kak, swmoga puas dengan pelayanan kami. Saya permisi dulu ka. Selamat makan". Ucap kedua pelayan itu dengan sopan.
Mira pun hanya tersenyum menanggapi ucapan si pelayan. Sementara Yash hanya mengangguk saja dan menatap acuh.
"Makan lah. Aku tidak ingin kau sakit. Kau kan memiliki riwayat sakit magh". Ucap Yash memerintah setelah lama mereka saling diam.
"Tuan tidak makan ?. Aku memesan makanan kesukaan tuan". Ucap Mira lirih dan takut-takut.
"Hhhhh....Tanganku pegal dan baru terasa sekarang". Ucap Yash malas.
Mira pun terdiam sesaat dan menimbang dalam fikirannya. Ia merasa takut jika tindakkannya justru malah akan membuat Yash lebih marah. Tetapi ia pun tak tega melihat rau muram Yash serta bunyi perut Yash yang berdemo.
"Apa boleh aku....Menyuapi anda tuan. Nanti biar aku cari sendok dulu". Ucap Mira mencoba memberanikan diri untuk menawari bantuan.
Yash pun mengangguk lesu dan Mira pun bernafas lega. Ia pun mulai beranjak untuk mencari sendok. Karena sepertinya makanan ini memang tidak menggunakan sendok untuk makan. Melainkan menggunakan tangan layaknya makan di pedesaan. Sudah tersefia wadah untuk cuci tangan juga.
Namun belum juga ia beranjak. Yash sudah mencegahnya dengan nemegang pergelangan tangannya Mira dengan tangan kiri Yash yang tak terluka. Mira pun sedikit terkejut dan duduk kembali seraya memandang Yash penih tanya.
"Suapi aku dengan tanganmu saja. Tanpa sendok makan". Ucap Yash dingin. Mira pun tersenyum maklum dan mengangguk mensetujui permintaan Yash.
Hitung-hitung malam terakhirnya bertemu dengan tuan Yash. Karena besok aku harus benar-benar menjauhinya". Ucap Mira dalam hatinnya dengan tatapan sendu.
Mira pun lalu mengambil piring nasi milik Yash. Ia pun mengambil udang saus tiram yang cukup besar lalu mengupasnya. Menaruh sedikit air asam manis keatas nasi dan langsung ia mengambilnya sejumput dan menyuapkannya ke Yash.
Yash pun menerima suapan itu dengan tanpa beban. Malah matanya terlihat berbinar cerah. Dan terus menerima suapan itu dengan lahap. Mira pun sesekali menyuapi dirinya sendiri setelah ia menyuapi Yash. Dan semua hidangan pun ludes tak tersisa.
Mira pun akhirnya menyudahi acara makannya dengan membersihkan tangannya ke arah westafel yang tak jauh dari sana.
Setelah mencuci tangannya, ia pun duduk kembali di samping Yash yang terdiam melamun itu.
"Suapan dari tanganmu. Mengingatkanku kepada ibu Rianti. Dia juga sering menyuapiku dengan tangannya. Dan rasanya enak. Seperti tangan itu memiliki magnet tersendiri". Ucap Yash mengungkapkan pikirannya.
"Pasti mendiang nona besar sangatlah cantik dan anggun. Mendengar sikapnya yang begitu lapang. keikhlasannya dalam merawat anak-anak dari istri lain. Dan mencintai tuan dengan yang lainnya tanpa membedakan.. Itu sungguh luar biasa. Dia itu peri atau malaikat". Ungkap Mira terkagim-kagum.
"Entah. Ayah ku saja sampai sekarang masih tidak bisa melupakannya. Cintanya terlalu dalam teruntuk mendiang ibu Rianthi dan ibu ku". Ucap Yash sendu.
"Apakah kakek dan nenek tuan, masih tidak mau menerima kehadiran nona Rain. Biar bagaimana pun. Nona Rain juga cucuk kandung mereka. Aku jadi merasa kasihan. Belum lagi nyonya besar selalu kejam kepadanya". Ucap Mira merasa kesal.
"Yang kau lihat tempo hari itu adalah sebagian kecil Rain. Masih banyak lagi kejadian menyakitkan. Aku sampai ingin sekali melenyapkan kedua orang renta itu juga wanita iblis itu" Ucap Yash sambil mengepalkan tangan kirinya.
Mira pun hanya diam menanggapi ocehan Yash yang menurutnya sangat mengerikan itu. Namun dalam hatinya ia berharap jika Yash tidak melakukan hal itu.
"Hhhhh....Sepertinya sudah mulai larut. Mati aku antar kau pulang. Ini hari terakhir kita kan". Ungkap Yash dengan tersenyum jenaka setelah melihat jam di tangannya yang menunjukan puluk 12 malam.
"Tetapi tuan, tangan anda kan sedang terluka. Bagaimana kalau tuan panggil Jio saja". Ucap Mira merasa khawatir.
"Tak perlu, tangan kiriku masih bisa di pergunakan. Ayo". Ucap Yash dan berdiri lalu berjalan mendahului Mira.
"Lalu untuk apa tadi aku menyuapinya aiisss". Kesal Mira dan berjalan menyusul Yash.
Saat di kasir. Yash pun menanyakan nominal untuknya memesan makan dan memboking tempat untuknya dan Mira maka. Dan setelah di total, mang unang pun menyebutkan nominalnya.
__ADS_1
"Semuanya jadi dua juta rupiah jang". Ucap mang Unang dengan logat khasnya.
Yash pun mendekati Mira dan berbisik kepadanya dengan mendekat ke telinga Mira.
"Dompetnya ada di saku celana sebelah kanan. Bisa kau ambilkan. Tanganku susah". Ucap Yash meminta tolong. Namun seperti sebuah petir di siang bolong untuk Mira.
"Tuan". Lirih Mira dengan tatapan memohon.
"Ayo lah, biar urusannya beres. Dan kita cepat pulang". Bujuk Yash lagi.
Mira pun menggeleng menolak permintaan tolong dari Yash. Ia sangat takut untuk mengambilnya. Dan dia tidak tahu seberapa dalam saku itu.
"Ta sudah. Kalau begitu kau saja yang bayar". Ucap Yash menyerah dan tersenyum licik.
"Uangku tidak cukup tuan. Masih kurang satu juta lagi. Dan aku tidak membawa kartu ATM ku". Ucap Mira mengeluh.
"Lalu, apa rencana mu ?". Tanya Yash acuh. Mira pun hanya menggeleng pasrah dan menunduk.
Yash pun mendekati Mira dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Dengan tatapan acuh ia pun berkata.
"Ambil. Sebelum ada orang yang memperhatikan". Ucap Yash yang masih dengan tatapan acuhnya.
Dengan terpaksa Mira pun memberanikan diri untuk metogoh kantung celana Yash menggunakan tangan kanannya. Karena posisi Mira menghadap kasir sedangkan Yash membelakangi kasir.
Akhirnya Mira pun dapat mengeluarkan dompet kulit pria. Dengan tulisa Hugo Boss itu. Mira pun bernafas lega.
"Bukalah dan ambil kartu gold platinum itu. Serahkan kepada mang unang dengan kode 121220". Ucap Yash memerintah.
Mira pun langsung menuruti ucapan Yash dengan mengambil kartu gold platinum dan menyerahkannya ke mang Unang lalu menuliskan kode yang Yash beri tahu. Dan teransaksi itu pun akhirnya berhasil.
"Taruh dompetnya lagi di tempat semula. Karena saku celanaku hanya ada di sebelah kanan saja". Ucap Yash nemberi tahu. Dan Mira pun lagi-lagi harus menurutinya dan menahan malu.
"Ini yang terakhir pokoknya". Batin Mira berucap.
"Sudah ?". Tanya Yash memadtikan. Dan Mira pun mengangguk dengan malu-malu.
"Sejengkal lagi kau akan menyentuhnya Mira. Jarimu terlalu liar rupanya". Ucap Yash dengan tersenyum lucu.
Mira pun langsung terbengong di tempat dengan muka yang memerah seperti kepiting rebus. Ia pun mendengus seraya melurik Yash tajam. Merasa kesal di buatnya.
"Apa...Dia itu benar-benar....". Ungkap batin Mira dengan kesalnya.
"Aku tunggu di mobil. Lima menit tak juga datang. Maka terpaksa ku tinggal". Ucap Yash dan berlalu seraya memamerkan ponsel dan dompet Mira yang entah sejak kapan sudah berpindah ke tangan kiri Yash.
"Ehhh, itu kan.... Tuann". Ucap Mira yang menyadari sesuatu.
"Mang, makasih ya. Aku pamit dulu". Ucap Mira dan berjalan cepat menyusul Yash.
"Iya mangga neng". Ucap mang Unang seraya menggeleng lucu.
"Hadeuuhh dasar percintaan. Pokonya mah uwuuw". Ucap mang Unang.
Mira pun sampai di mobil Yash tepat waktu. Disana Yash sudah meningguinya seraya menyilangkan tangan di depan dada dan bersender pada pintu mobil yang tertutup.
Saat tahu Mira sudah berada di dekatnya, Yash pun lalu membukakan pintu mobil itu dan mempersilahkannya masuk. Setelah itu Yadh pun menutupnya lalu berjalan mengitari mobil lalu masuk ke kursi pengemudi. Menghidupkan mesin mobilnya dan mobil itu pun melaju dengan kecepatan sedang. Diperjalanan pun mereka saling diam menikmati keheningan masing-masing.
Sesampainya di depan rumah kediaman kakak dan kakak ipar Mira. Yash pun turun dari mobilnya dan memutari mobilnya. Membukakan pintu untuk Mira lalu mengantarnya sampai halaman depan.
Mira pun berbalik menghadap kearah Yash yang kala itu tengah mengekorinya. Ia pun menundul lalu menatap Yash kembali.
"Tuan, terima kasih sudah berkenan mengantarkan ku pulang. Dan terima kasih juga untuk makan malamnya.". Ucap Mira dengan tulus. Yash pun tersenyum mengangguk dan membelai surai rambut Mira dengan sayang.
"Sama-sama". Ucap Yash lembut dan tersenyum. Membuat Mira sedikot tertegun dan bertanya-tanya.
"Ada apa dengan tuan Yash ini. Terkadang menakutkan, lalu mengerikan, namun juga terkadang sangat menyenangkan". Batin Mira kerasa aneh.
Yash pun mendekat menunduk keatah Mira yang tengah terbengong lalu membisikan seduatu di telinga Mira.
"Terima kasih juga. Sudah menemaniku". Bisiknya lembut dan.
CUP
Kecupan itu tiba-tiba saja mendarat di pipi kanan Mira dengan tiba-tiba. Membuat Mira semakin melongo di buatnya. Dan ekspresi wajahnya pun sudah tak karuan.
"Terima kasih juga, sudah mau mendengar cerita ku". Bidiknya lagi dan
CUPP
Kecupan satu lagi mendarat di pipi kiri Mira dengan lembut dan penuh sayang. Membuat Mira semakin tegang di buatnya.
Yash pun lalu menatap mata Mira dalam sedangkan Mira pun sama menatap mata Yash dengan bibir yang sedikit terbuka karena terkejut.
Dan entah dorongan dari mana. Yadh pun sampai berani mencium bibir Mira dan sedikit mengulumnya rengan kuat membuat Mira semakin terkejut dan memelototkan matanya. Ia pun langsung berusaha mendorong tubuh Yash. Namun usahanya gagal karena tenaganya yang tidak sebesar tenaga Yash. Terlebih ciuman itu membuat Mira semakin lemas dan sedikit merasa aneh.
Ada rasa panas, gerah, berdeair dan banyak sensasi lainnya. Dan jantungnya pun berdegup hebat seakan ingin keluar dari tempatnya.
Merasa nafasnya hampir habis. Yash pun menyudahi ciumannya dan melepasnya dengan perlahan lalu menyatukan keningnya dan kening Mira. Keduanya pun bernafas dengan rakus.
Masih dengan menatap wajah ayu Mira. Yash pun tersenyum puas. Ia merasa sangat lega dan bersemangat untuk esok.
"Hhhh...Maaf"m Ucap Yash dan mencium kening Mira lama seraya meresapinya dengan mata terpejam.
"Mulai malam ini. Kau adalah milikku Mira. Milik Aryasha seorang". Batin Yash mengultimatum. Dan Yadh pun merengkuh tubuh lemas Mira kedalam pelukannya dengan penuh kehangatan.
Dan Yash pun langsung mendongakkan kepalanya kearah balkon atas yang terdapat Royan dan Mayya yang tengah melihat mereka dengan tatapan masing-masing.
Yash pun melihat kearah Royan dan memberikan isyarat kearahnya melalui ekor matanya. Mengatakan bahwa malam ini dan selanjutnya Mira adalah miliknya. Dan Royan pun hanya mengedip saja dengan diam-diam menunjukkan ibu jarinya kearah Yash.
Dan pada saat Yash mengarahkan pandangannya ke Maya. Dengan tatapan membunuh Maya pun menaruh tangannya kearah leher dan memajukannya seolah hendak memotong leher Yash hidup-hidup.
Aksi penolakan Maya pun dianggap remeh oleh Yash. Yang terpenting bagi Yash. Royan sudah mau mendukungnya. Tinggal ia yang membuntikan kepada Maya. Istri cantik Royan yang terkenal keras kepalanya itu.
Yash pun Mengurai pelukannya dan mengelus rambut panjang Mira kembali. Dengan tatapan lembut dan senyum andalannya.
"Setelah ini istirahat lah. Aku memberimu waktu satu minggu untuk mempersiapkan diri. Pikirkan cara yang baik untuk menjauhiku. Aku tunggu". Ucap Yash dengan tersenyum jenaka dan berbalik berjalan menuju mobilnya yang ternyata sudah ada Jio yang menungguinya. Berdiri di pintu tengah mobil dengan sigap.
"Hei...Sejak kapan Jio ada disana. Bagaimana jika...". Batin Mira merasa tak dapat berkata-kata karena malu yang luar biasa.
"Tuan". Sapa Jio sopan. Dan langsung membukakan pintu mobil setelah Yash merespon dengan anggukan.
Setelah menutup pintu mobilnya. Jio pun berbalik memutari mobil seraya tersenyum jenaka kearah Mira.
__ADS_1
Sedangkan Mira langsung buru-buru memaduki rumah dengan perasaan yang tak menentu. Sungguh hari ini adalah hari yang penuh kejutan yang luar biasa.
"Semoga ini hanya mimpi. Aku tak sanggup jika harus menjadi nyata. Aku tidak ingin melawan dan berdebat dengan kak Maya". Batin Mira berharap dengan penuh.