
Pov. Yanna.
Aku tidak tau harus cemburu atau bagaimana. Aku baik-baik saja, tapi tidak dengan hatiku. Seperti cemburu, tapi entah dengan siapa.
Yang aku cemburuin pun tidak ada orangnya, dan dia tidak ada ada di dunia atau di sisi mas Rama. Bertemu denganya pun aku tidak pernah, melihat fotonya juga tidak pernah. Entah Mas Rama menyembunyikan dariku atau memang sudah mengubur semua kenangannya bersama dia, Ibunya Nana.
Untuk pertama aku melihat kemarahan mas Rama yang sesungguhnya. Melihat kilatan amarah dan juga kebencian dari matanya untuk orang di masa lalunya.
Masa lalu yang membuatnya hancur bersama wanita yang di cintainya.
Kemarahan itu sangat jelas, dan membuatku seperti... Entahlah, aku bingung harus menjelaskan hatiku ini. Dan aku tahu ini resikonya diriku menjadi istri Mas Rama, yang sangat mencintai wanitanya dulu.
Setelah aku menidurkan anak-anakku. Aku menggantikan lampu tidur dan menutup pintu kamar anakku setelah aku memastikan kembali anak-anakku tidur dengan nyenyak.
Bukan aku mendiamkannya. Mas Rama sendiri yang mendiamkanku sepulang dari swalayan. Makan malam pun mas Rama tidak seperti biasanya. Diam, tidak banyak bicara atau bercanda dengan anak-anak.
Nana pun juga sama, wajahnya sangat murung dan diam.
Jangan di tanya aku tau dari mana ayah dan putrinya diam seperti ini. Ibu Mertuaku, mengirim pesan pada ku.
" Yanna, apa Rama sama Nana baik-baik saja?"
Awalnya aku tak tau kenapa mama mertuaku mengirim pesan, seakan putra dan cucunya dalam kesedihan.
Apa ini nalusi seorang ibu. Mangkanya beliau tau.
" Tadi istri Ryan cerita sama mama. Kalau dia dan Ryan bertemu sama Rama dan Nana di swalayan."
" Apa itu benar Nak?"
Mataku melebar sempurna, membaca pesan mama. Itu artinya ... wanita yang sempat aku tabrak keranjang belanjaannya adalah istri kakak iparku. Suaminya, Kakak iparku dan juga Ayah kandungnya Nana.
Oh Tuhan ... Pantas saja, Mas Rama dan Nana menjadi berubah moodnya.
Untuk pertama kali, aku melihat wajah kakak iparku. Dan ternyata, dia sangat mirip dengan Nana.
Aku yang belum sempat menceritakan tentang curahan serta keinginan mama mertuaku pada Mas Rama. Kini mas Rama sendiri sudah tau tanpa aku beritahu.
Aku yang ingin mencoba membicarakan ini. baik-baik dengan Mas Rama. Justru mas Rama mendapatkan kejutan yang sangat tak terduga dan begitu langsung saling bertatapan.
Yang aku pikirkan saat ini adalah Nana. Bagaimana dengan perasaan putriku ini, pastinya sangat kecewa dan juga marah. Diamnya Nana membuatku juga ikut sedih serta mengerti.
Betapa terkejutnya bertemu dengan Ayah kandungnya. Aku hanya bisa menenangkannya, sedikit memberi pengertian pada putriku.
Biarkan nanti Mas Rama yang akan menentukannya.
Aku masuk ke dalam kamar, melihat Mas Rama yang sudah berbaring di ranjang menutup matanya dengan lengan tangan.
__ADS_1
Sebegitukahnya Mas Rama marah.
Aku tutup dengan pelan, naik ke atas ranjang dengan pelan. Aku tatap Mas Rama yang tidak bergerak sama sekali dengan kehadiranku.
Apa aku harus membangunkannya?
Tidak?
Aku selimuti tubuh mas Rama, ikut membaringkan tubuhku di samping mas Rama. Entah kenapa, dada seperti tertindih batu, begitu sesak dan ingin memberontak.
Aku berbalik memunggungi mas Rama, kala air mataku tiba-tiba mengalir begitu saja. Menahan isak tangisku agar tidak terdengar. Sungguh sakit rasanya.
Aku enggak tau, seberapa cinta mas Rama dengan ku. Tapi kamu ... Kamu sangat beruntung, hingga sampai sekarang mas Rama masih mencintai kamu."
Ku usap air mataku, mencoba menghembuskan nafas lewat bibir. Mengurangi rasa sesak di dada yang begitu dalam. Dan aku sedikit tersentak kala tangan kekar melingkar di perutku, serta beberapa kali menciumi punggungku.
" Maaf. Aku minta maaf sudah mendiamkan kamu." Lirih Mas Rama. Semakin erat mendekapku.
" Maaf Yang." Imbuhnya lagi, tanpa terasa dadaku kembali sesak dan air mataku kembali turun.
" Sudah malam, kenapa Mas belum tidur." Tanyaku, mengusap air mata dan masih memunggunginya.
" Aku tidak mencintainya lagi. Semua sudah aku kubur tentangnya, saat aku menyebut nama kamu di depan penghulu dan keluarga kita. Kini hanya kamu Yan, yang aku cinta." Kata mas Rama, semakin membuatku terisak.
Entah itu jujur atau hanya menghiburku saja. Agar aku tidak sedih, kala mas Rama menyadari juga sikapku malam ini.
" Aku marah, aku kecewa bukan berarti aku masih mencintainya Yan. Aku marah karena perlakuannya pada wanita dan dia dulu tidak mau menerima Nana. Tidak mau mengakui bila itu anaknya." Imbuhnya dengan suara serak.
Mas Rama bila sudah membahas tentang anak, begitu sensitif, terutama Nana. Aku tau Mas Rama tak ada ikatan darah dengan Nana. Tapi hati Mas Rama sudah menyatu dengan putri yang di rawatnya dari kecil.
Aku berbalik badan menghadap mas Rama. Suamiku memang pria yang sulit sekali menunjukkan kesedihannya pada orang. Tapi tidak denganku. Suamiku sangat terbuka dan aku mengerti bila hati suamiku sangatlah perasa.
Aku usap pipi dan ke dua mata mas Rama yang mengembun dengan dia yang kembali memelukku. dan membuatku berada di dalam dekapannya.
Suara detak jantung yang begitu cepat.
" Maafin aku Yan." Ucap mas Rama, mencium puncak kepalaku.
" Maafin aku juga mas, sempat ragu dengan cinta mas." Jawabku, memeluk erat mas Rama, menelenggamkan wajahku di dada mas Rama.
Sungguh aku sedikit menyesal. Meragukan cinta suamiku sendiri.
" Cinta kamu Sayang, cinta mamanya anak-anak. Cinta yang namanya Yanna" Ucap Mas Rama.
Membuatku mengulum senyum dan memukul kecil dadanya. Hingga Mas Rama tertawa kecil mengeratkan pelukannya, seperti gemas denganku.
****
__ADS_1
" Mel?" Panggil dengan lirih, sambil menepuk-nepuk pelan pipi Amel.
" Hmm?" Gumam Amel, mulai mengerjabkan matanya.
" Bangun. Kamu enggak mau pulang. Sudah malam, semua teman kamu juga sudah pulang. " Kata Akbar. membuat Amel sedikit mengerutkan kening kembali tersadar bila dirinya tertidur di ruangan atasannya.
Amel mulai duduk dari tidurnya, melihat di jam dinding menunjuk angka sepuluh malam. lagi-lagi membuatnya terkejut, tidur begitu lama di ruang atasannya.
" Bapak kenapa enggak bangunin saya." Panik Amel. " Teman-teman gimana, past-."
" Sudah saya bilang, kalau kerjaan kamu belum selesai. Mereka juga sudah pulang dua puluh menit yang lalu." Sela Akbar, mengambil tasnya di atas meja kerja. " Ayo pulang, sudah malam. demam kamu juga sudah menurun, gak mungkin juga tidur di sini?" Imbuhnya, membuat amel cepat menggeleng dan berdiri dari duduknya.
" Saya tunggu di sini, cepat ambil tas kamu." Perintahnya dan lagi, Amel mengangguk. Sedikit berjaan cepat mengambil tasnya dan kembali menuju Akbar yang sedang menunggunya di luar.
" Makasih pak." Ucap Amel,
" Untuk?"
" memberikan waktu istirahat saya cukup banyak."
" Sama-sama, sekarang gimana. Masih pusing? "
" Sudah agak mendingan, dari pada yang tadi." Jawab Amel, sambil berjalan menuju area parkir.
" Ini?" Akbar menyerahkan bungkus plastik putih pada Amel. " Besok kamu libur, istirahat dan minum obatnya teratur."
Bungkusan plastik, berisi obat untuk Amel. Yang membuat Amel lebih membaik.
" Iya, makasih." Jawab Amel, tanpa menolak. karena dirinya tau memang sedang membutuhkan menyembuhkan tubuhnya.
" Saya antar pul-," Ucapan Akbar terpotong kala. mendengar dering suara ponsel di tas Amel.
Segera merogoh, dan melihat siapa yang menelponnya. " Hmm, iya. Tunggu sebentar." Kata Amel dan mematikan telponnya.
" Saya permisi pulang dulu pak. Makasih sekali lagi, dan maaf bila merepotkan." Pamit Amel, sedikit membungkuk sebelum pergi meninggalkan Akbar.
Hanya bisa tersenyum kecil, sedikit menggelengkan kepala melihat kepergian Amel tanpa menunggunya terlebih dulu bertanya.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃
__ADS_1