
Sesuai janji Mira dan Erlangga di minggu siang untuk bertemu dengan kedua orang tua Erlangga saat makan siang.
Mira yang sedari tadi gelisah menunggui kedatangan Erlangga di ruang tamu dengan memangku satu kotak berisi kue lapis surabaya buatan Mayya sang kakak.
Sementara Royan yang tengan santai sambil membaca rincian laporan dari asistennya di rusng tamu itu pun sesekali melihat Mira ysng terlihat gelisah.
Sejujurnya Royan pun merasa tidak yakin dan tak setuju akan tindakan Mira yang seolah mengemis cinta dan perhatian dari kedua orang tua Erlangga. Bagi Royan jika sudah tidak bisa ya sudah jangan lah di paksakan. Perjuangan cinta macam apa jika yang berjuang hanyalah Mira seorang. Sedangkan Erlangga hanya mampu meyakinkan saja tanpa ada hasil apa pun. Lalu bagaimana nanti jika hati Mira terluka oleh perbuatan kedua orang tua Erlangga.
Dan Royan pun sedikit kesal kepada Mayya sang istri yang malah memberikan dukungan untuk Erlangga tanpa memikirkan akibatnya. Biar bagaimana pun silsilah hidup Mira hanyalah orang biasa dan ini buruk di mata mereka yang haus akan kedudukan sosial.
Secantik apa pun Miranda dan sesempurna apapun ia. Tidak akan bisa mengubah pemikiran kaum atas akan silsilah hidupnya. Dulu pun Mayya sempat dianggap seperti itu oleh keluarga besarnya. Meskipun Mayya adalah wanita karir yang sukses dan mumpuni di usia muda. Serta memiliki krcerdasan yang luar biasa. Tetap saja keluarganya merasa keberatan akan silsilah hidup Mayya yang tidak ada keturunan darah birunya.
Namun dengan kegigihan Royan dan cara Royan yang luar biasa itu. Akhirnya mereka pun mensetujui Mayya menjadi anggota keluarganya. Istri dari Royan Rahardian. Tentu semua itu tidak lah mudah. Royan hsrus memutar otak untuk bisa mengendalikan semua orang dan berusaha untuk menjadikan Msyya sebagai seseorang yang terbaik dalam hidupnya.
Dan setelah melihat perjuangan dari Erlangga yang hanya memohon dari kedua orang tuannya tanpa memutar otak untuk meminimasir hal-hal buruk kedepannya. Membuat Royan merasa tak yakin akan perjuangan cinta dari pemuda itu.
Dan jika di teruskan akan berat di Mira. Ia harus siap mental untuk menjalani kehidupannya dengan Erlangga. Karena Royan tahu betul seperti apa marga dari Firmansyah itu.
"Kamu yakin akan keputusanmu ini Ra ?". Tanya Royan dengan serius kepada Mira sang adik ipar.
Mira pun hanya menghela dengan lembut guna menetralkan rasa gelisahnya itu.
"Entah lah kak. Aku hanya percaya jika semua akan baik-baik saja". Ucap Mira dengan raut lesunya.
"Jika mereka menyakitimu telfon kakak secepatnya". Suruh Royan dengan raut seriusnyan
"Tentu". Sshut Mira dengan tersenyum.
Tak lama Mayya pun datang dengan membawa nampan berisi teh hangat dan dua piring cemilan cireng dan kue bolu ubi ungu.
"Ada cireng...Siapa yang bikin". Tanya Royan seraya mengambil cireng yang tertata rapih di piring.
"Nooh orangnya yang lagi dag dig dug seer nungguin pujaan hati datang". Ucap Mayya seraya menunjuk Mira dengan ekor matanya.
"Apa sih kak". Ucap Mira dengan memberengut lucu.
"Enak loh cirengnya Ra, apa lagi dimakannya pas hujan-hujan gini uuh sedep. Tuh Ayub aja sampe rebutan sama Lili". Ucap Mayya seraya memakan cireng buatan sang adik.
"Ya setelah beberapa kali aku gagal. Akhirnya bisa juga bikin cireng". Ucap Mira dengan tersenyum.
Mayya pun menjadi tertawa terbahak jika mengingat perjuangan Mira serta kegagalan yang dialaminya saat membuat cireng.
"Ketawa aja terus kak". Ucap Mira dengan sakratis
Royan pun hanya tersenyum melihat keributan kecil yang di timbulkan oleh sang istri dan sang adik iparnya itu.
"Udah lah Ra, jangan gelisah gitu. Mungkin Erlangga kejebak macet atau hujan tuuh lihat hujannya aja deras gitu". Ucap Mayya mencoba menenangkan.
"Nih makan cireng dulu kita nyemil-nyemil siang".
Ucap Mayya seraya menyodorkan piring berisi cireng. Dan Mira pun memakannya dengan bersendau gurau bersama. Tak lupa juga Ayub dan Lili yang ikut bergabung.
Setelah satu jam menunggu akhirnya Erlangga pun datang dengan muka sedikit panik dan bersalah. Mira pun segera membukakan pintu rumah dan menyambut Erlangga dengan tersenyum.
"Maaf ya aku terlambat. Tadi dijalan ada masalah sedikit". Ucap Erlangga dengan lembut.
"Iya. Emmm mari masuk aku buatin teh hangat dulu". Ajak Mira dengan penuh perhatian.
"Tapi kita engga lama kan udah mau jam dua belas soalnya". Ucap Erlangga yang seperti terburu-buru dan tidak sabaran.
"Engga ko..". Ucap Mira lalu masuk kedalam terlebih dahulu dan disusul oleh Erlangga.
"Ehhh udah datang kamu Er". Ucap Mayya dengan ramah.
"Iya kak maaf telat. Selamat siang tuan Rahardian". Sapa Erlangga denfan sopan.
"Siang. Silahkan duduk". Ucap Royan dengan kalemnya.
"Sayang, main-main dulu di atas ya. Disini lagi ada tamu". Titah Mayya kepada kedua anaknya dengan lemnut.
Ayub yang mengerti pun langsung menggendong sang adik dan membujuknya untuk menggambar di atas.
"Mereka itu keponakanya Mira, anak-anak kami". Ucap Royan dengan nada dingin. Membuat Erlangga tersenyum maklum.
"Kok aku merasa kaya lagi kedatangan calon mantu bukan calon adik ipar. Dan mas Roy adalah ayah dari Miranya. Apa nanti saat Lili dewasa dan memiliki kekasih. Mas Roy bakalan seover ini". Batin Mayya merasa lucu akan tingkah sang suami.
Mira pun datang dengan membawa segelas teh hangat dan satu piring cemilan dari dapur.
"Diminum dulu mumpung masih hangat". Ucap Mira kepada Erlangga.
Erlangga pun menuruti ucapan Mira. Ia pun meminum teh hangat yang dibuatkan oleh Mira dengan perlahan.
Sejujurnya Erlangga merasa canggung sekaligus bersalah kepada Mira dan Mayya serta Royan yang telah begitu baik menerimannya. Terutama Mayya yang terlihat sangat ramah kepadanya. Erlangga merasa takut seketika. Bagaimana jika kedua orangtuanya juga keluarganya tidak menerima Mira. Malah menyakiti hati dan perasaannya.
Mengingat jika ayahnya sangat menyayangi Martha dari pada anaknya sendiri dan ibunya hanya bisa mengikuti kehendak dari sang ayah.
Namun Erlangga selalu menepis rasa takutnya dengan kepercayaan bahwa kekuatan cinta dan kegigihan pasti akan melumpuhkan kekerasan hati dari orang tuanya. Mungkin jika mereka sudah melihat Mira dan tahu sifat-sifatnya. Mereka akan luluh dan mau menerima hubungan yang akan mereka jalani.
"Sudah siap ?". Tanya Erlangga kepa Mira.
Mira pun membalas pertanyaan Erlangga dengan anggukan pasti. Dan Erlangga pun tersenyum senang di buatnya.
"Kak kami pamit dulu ya ?". Izin Mira kepada kedua kakaknya.
"Hati-hati ya sayang. Semangat berjuang. Semoga kalian mendapat hasil yang baik ok". Ucap Mayya dengan cerianya.
"Iya kak". Ucap Mira dengan tersenyum.
"Ingat pesan kakak". Ucap Royan dengan nada dinginnya.
"Tentu kak". Jawab Mira dengan tersenyum.
Dan merekapun akhirnya pergi menaiki mobil menembus rerintikan hujan menuju kediaman Erlangga.
Didalam mobil mereka pun hsnya saling diam memikirkan nadib masing-masing. Dan Erlangga pun mencoba berinisiatif untuk menggenggam tangan kanan Mira menggunakan tangan kirinya.
Genggaman erat Erlangga pun sukses membuyarkan lamunan Mira dan Mira pun menengok kearah Erlangga yang terlihat ganteng dari samping.
"Engga usah takut, ada aku disini". Ucap Erlangga dengan lembut. Membuat Mira bersemu merah.
Setelah tiga puluh menit perjalanan merekapun akhirnya sampai di rumah besar keluarga Erlangga yang bergaya classic moderen dua lantai.
Dengan berpegangan tangan seolah saling menguatkan. Mereka pun akhirnya memasuki ruang makan yang sudah terdapat kedua orang tua dari Erlangga,
"Mah pah kenalin ini Miranda Nur. Wanita yang Er inginkan untuk hidup Er". Ucap Erlangga memperkenalkan dengan to the poin.
"Duduk lah nak kita makan bersama". Ucap Yohana Eveline ibu dari Erlangga dengan tersenyum lembut kepada sang putra.
Erlangga pun langsung menarik kursi yang ada di dekatnya dan menyuruh Mira untuk duduk di sana. Mira pun hanya mengikuti ajakan dari Erlangga dan duduk di kursi makan yang telah di persiapkan oleh Erlangga. Sedangkan Erlangga sendiri duduk di kursi samping Mira.
Merekapun memakan makan siangnya dengan hening dan teratur. Seperti ada beban tersendiri di pikiran masing-masing orang yang ada di sana.
"Kau bawa apa itu nak ?". Tanya Yohana dengan lembut kepada Mira.
"Saya, membawa kue lupis surabaya untuk tuan dan...".
__ADS_1
"Panggil saja saya tante Hana semua yang mengenalku memanggil ku Hana". Ucap Yohana menyela.
"Emm...Iya..Tante". Ucap Mira dengan gugup.
"Saya terima ya kuenya. Terima kasih banyak". Ucap Yohana dan lslu menaruh kotak kue itu di kursi samping.
"Jadi dia yang kau inginkan Erlangga ?". Ucap Fredi Firmansyah ayah dari Erlangga.
"Iya pah". Ucap Erlangga dengan tegas tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Cantik dan terlihat anggun". Ucar Fredi memuji dengan raut serius.
Membuat Erlangga sedikit bernafas lega dan merasa semua akan baik-baik sajja. Sebab selain ibunya dan Martha. Tidak ada yang mampu membuat sang ayah mau memuji seseorang.
"Mari kita pindah keruang keluarga agar suasananya lebih enak untuk mengobrol".Ajak Yohana dengan lembut.
Mereka pun akhirnya berjalan keruang keluarga dan duduk dengan santainya disana. Di temani beberapa gelas orange jus dan kue lupis yang tadi Mira bawa untuk buah tangan.
"Kau membeli dimana kuenya nak. Ini sangat enak dan sangat legit ?". Tanya Yohana dengan antusiasnya.
"Kakak ku yang membuatnya tante. Dia juga menitipkan salam untuk om dan tante". Ucap Mira masih dengan rasa canggungnya.
"Waah salam balik ya untuk kakakmu itu. Pasti dia sangat cantik". Ucap Yohana dengan senangnya.
"Cantik lah mah, adeknya juga cantik. Mamah tahu Catering dan WO yang terkenal itu. Sanggi catering & WO. Dia lah orangnya yang buat kue ini. Kakak kandungnya Mira". Jelas Erlangga dengan semangatnya.
"Benarkah itu ?". Tanya Yohana tak kalah hebohnya.
"Iya tante". Ucap Mira dengan tersenyum tulus.
"Dia wanita muda yang berbakat. Cerdas lulusan terbaik di universitas ternama. Cantik, mandiri, dan juga istri dari Royan si pria sukses dan berbakat pula. Hmmm pasti bibitnya unggul-unggul nih". Oceh Yohana dengan mata berbinar.
"Kamu sendiri masih kerja atau kuliah nak. Pasti jejak sang kakak juga kamu ikuti ya kan ?". Tanya Yohana lagi.
"Saya hanya lulusan SMA tante. Dan saya sudah bekerja di butique sebagai pelayan". Jawab Mira dengan santai.
Yohana pun sedikit mengerjab mendengar ucapan dari Mira. Dia seakan tak percaya akan apa yang Mira katakan. Sungguh wanita,secantik dan seberkelas seperti Miranda hanya lulusan SMA dan hanya bekerja sebagai pelayan butique.
Jelas semua itu berbanding terbalik dengan sang kakak perempuanya itu. Apa mereka tidak pernah menawarkan pekerjaan yang layak untuk adik dan adik iparnya itu. Secara Sanggi Catering & WO serta usaha properti yang mereka jalan kan sangat lah terkenal dan mumpuni.
"Apa kamu serius dengan yang kamu katakan itu nak ?". Tanya Yohana dengan raut serius.
"Ya tante. Saya serius. Saya hanya ingin mandiri dan tidak bergantung atas nama besar dari kedua kakak dan kaka ipar saya". Ucap Mira dengan serius dan penuh keyakinan.
"Kau dengar itu Erlangga. Kau sudah tahu apa alasannya papah dan mamah tidak merestui mu atau menentang hubungan yang akan kau jalani dengannya". Ucap Fredi sang ayah.
"Selain karena perjodohanmu sudah papah tetapkan sedari kau masih bayi. Dia wanita ini tidak memiliki strata sosial yang baik dan kesuksesan yang bagus. Papah dan mamahmu ingin memiliki menantu yang memiliki strata sosial yang baik. Lain halnya jika kau membawa Mayya kemari. Mungkin papah akan berfikir ulang". Ucap Fredi dengan tanpa rasa belas kasihan.
"Dia memiliki apa untuk di bawa kemari. Orang tua, jelas dia tidak punya orang tua. Jika pun mereka masih hidup mampukah mereka memiliki derajat yang sama dengan papah mamahmu. Kesuksesan, dibidang apa dia sukses untuk bisa di banggakan". Ucap Fredi dengan raut seperti menahan amarahnya.
"Mira memiliki kemandirian serta kegigihan hidup yang tinggi pah. Dia baik, dewasa dan anggun. Dia cerdas meskipun hanya seorang pelayan. Dan aku sangat mencintainya". Ucap Erlangga dengan bersungguh-sungguh.
"Kami tetap tidak mengizinkannya. Bagi kami Martha adalah calon istri yang tepat untuk mu Er. Dia memikiki garis keturunan baik dari keluarga baik-baik. Dia juga tidak kalah cantik dari Mira. Dia pintar dan memiliki karir yang bagus dan bisa untuk di banggakan. Setidaknya bibit, bebet, dan bobot mu dan Martha akan baik". Ucap Fredi dengan nada sedikit meninggi.
"Mama juga setuju dengan papamu Er. Maaf nak Mira bukannya kami menghinamu atau menjelekan mu hanya saja kami ingin kamu menyadari bahwa tidak lah muda menjadi bagian dari keluarga kami. Tante tidak ingin kau nantinya akan menyesal jika tetap kekeh dengan hubungan kalian". Ucap Yohana membela sang suami.
"Tapi mah pah...". Ucapan Erlangga terpotong sebab Mira mencegah dengan menggenggap tangan Erlangga.
"Cukup Er...Aku sudah sangat paham dan yakin jika ini tidak lah mungkin. Sejak awal aku sudah tahu diri akan hubungan ini. Terlebih saat mendengar kau di jodohkan dengan Nona Martha". Ucap Mira dengan sedikit berkaca.
"Dan aku rasa ini sudah lebih dari cukup. Perkataan kedua orang tuamu itu benar. Kau lelaki yang mapan, berpendidikan dan berasal dari keluarga baik-baik. Akan sangat lucu jika aku yang hanya orang awan yang tidak memiliki kedua orang tua dan tidak jelas status sosialnya bersanding denganmu yang...hhhh". Ucap Mira sedikit gamblang diakhir kalimat.
"Tidak...Yang akan menikah aku yang menjalani juga aku. Aku tidak akan lagi menurut jika seperti ini. Selama ini apa yang kalian inginkan selalu aku turuti. Aku hanya meminta satu permintaan untuk pertama kalinya dalam hidupku. Biarkan aku hidup dengan orang yang aku Cintai". Ucap Erlangga dengan raut merah padam dan berdiri menentang.
"Jangan sekali-kali kau menyentuhnya !!". Triak Erlangga dengan murka.
"Erlangga !!". Bentak Yohana kepada putri semata wayangnya itu.
"Begini caramu berbicara kepada ayah mu sendiri. Kau sudah lupa akan sikap hormat mu itu". Tegur Yohana dengan muka marahnya.
"Jika kau terus saja memberontak fikirkan lah dia". Ucap Yohana seraya menunjuk kearah Mira. yang sedari tadi merasa bingung dan ketakutan.
"Nasibnya, kehidupanya juga ketenangannya akan berubah menjadi lebih buruk. Kau luupa dengan siapa kau mmelawan". Ucap Yohana lagi mencoba mengingatkan sang anak.
Tak masalah bagi seorang Yohana Eveline tentang siapa menantunya nanti. Asalkan dia baik dan mampu membahagiakan anak semata wayangnya itu.
Namun lain halnya bagi seorang Fredi Firmansyah. Lelaki ambisius itu sangat ingin menantu yang sempurna. Tidak hanya sempurna fisik namu sempurna dalam kehidupan sosial. Dia sangat tak suka jika memiliki sesuatu yang biasa-biasa saja. Dan jika ambisinya tidak terpenuhi. Maka siap-siap saja untuk menerima ancaman dari seorang Fredi Firmansyah.
"Aku tidak perduli akan siapa lawanku. Jika kau memiliki ambisi yang begitu besar. Jangan lupakan bahwa aku ini adalah keturunanmu. Ambisimu adalah ambisiku". Ucap Erlangga tanpa menyerah.
"Jika itu mau mu. Kita akan lihat ambisi mu atau ambisiku yang akan kalah". Ucap Fredi dengann sorot mata mematikan.
"Sudsh lah Er aku tidak ingin semuanya berakhir konyol. Jika sudah tidak bisa lagi untuk apa di pertahankan". Ucap Mira mencoba membujuk.
"Aku tidak ingin karena diriku Erlangga menjadi melawan orang tuanya". Batin Mira merasa gelisah.
"Tidak Ra. Ini sudah cukup bagiku untuk menuruti semua kehendak mereka. Aku sudah lelah menjadi boneka mereka dan dikendalikan oleh mereka". Ucap Erlangga dengan penuh emosi.
Erlangga pun menarik tangan Mira dengan lembut menggenggamnya dengan erat dan berjalan keluar membawa Mira pergi dari rumah yang seperti penjara baginya.
"Er kita belum selesai berbicara. Tidak baik jika...". Ucapan Mira terpotong saat Erlangga menghentikan jalannya dan melihat kearah Mira.
"Percuma Ra, mereka tidak akan pernah bisa untuk mengalah. Maaf karena perkataan kedua orang tuaku yang menyakitkanmu". Ucap Erlangga dengan pandangan mata bersalahnya.
Mira yang tak tahu harus apa pun hanya diam membisu. Jujur jika dikatakan sakit ya memang sakit hanya saja mereka pun juga ada benarnnya. Mira tidak akan mampu bersanding dengan seorang Erlangga.
"Ayo masuk Ra, biar aku antar pulang. Jangan hiraukan mereka yang tidak mmensetujui hubungan kita. Aku sungguh-sungguh ingin berjuang demi kamu". Ucap Erlangga dengan lembut.
Melihat kesungguhan hati dari seorang Erlangga tak ayal membuat Mira semakin tersentuh dan merasa bimbang. Tadinya ia sudah sangat yakin untuk menyerah. Namu saat melihat kesungguhan dan krgigihan dari Erlangga membuat perasaannya pun kembali bangkit walau pun ada sedikit rasa cemas di hatinya.
Akhirnya mereka pun pergi menggunakan mobil pribadi Erlangga menembus jalan menuju kediaman Rahardian. Tempat dimana Mira tinggal.
"Kau...Benar-benar akan melakukannya ?". Tanya Yohana kepada fredi sang suami.
"Tentu..". Ucap Fredi dengan simrik menakutkan.
"Jangan keterlaluan. Mira adalah wanita baik. Jangan sampai kau salah langkah". Tegur Yohana.
"Kau tahu betul Ana. Aku selalu bisa mendapatkan apa yang ku inginkan dengan cara apa pun. Dan baik buruknya keadaan Mira. Semua tergantung pada putramu sendiri". Jawab Fredi dengan angkuhnya.
Fredi pun langsung mengambil ponselnya dan menelfon seseorang di seberang sana.
"Ada tugas untukmu Zoe. Seperti biasa namun ini untuk putraku dan wanita yang bersama putraku". Ucap Fredi dengan senyum evilnya.
"Kau sungguh-sungguh dengan ini ?". Tanya seseorang yang bernama Zoe di seberang telfon.
"Tidak. Aku hanya ingin memberikan sedikit pelajaran kepada putra semata wayang ku. Karena sudah berani melawan. Juga terhadap wanita itu sebab sudah berani berada di sisi putraku. Aku ingin membuatnya menjauhi putraku". Ucap Fredi dengan sorot msta penuh ambisi.
"Baik lah". Ucap Zoe dengan santai.
"Ya kerjakan dengan baik untuku Zoe". Ucap Fredi lagi dan langsung mematikan sambungan telfonnya.
"Aku akan pergi dulu. Jaga rumah dengan baik. Ingat Ana. Jangan coba-coba kau memberi tahu kan rencanaku kepasa anak pembangkang itu. Jika kau mencobanya, maka aku tidak akan pernah yakin jika wanita itu gadis mandiri itu akan baik-baik saja. Ingat itu". Acam Fredi kepada sang istri.
Membuat Yohana langsung mengangguk meng iya kan pesan dari sang suaminya itu. Dan Fredi pun pergi bersama enam orang bodyguardnya setelah mencium kening sang istri dengan sayang.
__ADS_1
"Fredi dan ambisinya tidak pernah bisa di percaya. Aku harus memperingati Erlangga. Hah untung saja aku memiliki pembantu setia". Ucap Yohana dan langsung berjalan kearah dapur.
"Mbok yan". Ucap Yohana saat berada di dapur.
"Ya nyonya, ada apa ?". Tanya Suryanti pembantu rumah yang selalu bisa Yohana andalkan.
"Tolong pinjamkan aku ponsel untuk menghubungi Erlangga. Ada masalah besar". Ucap Yohana dengan raut buru-burunya.
"Iya nyonya silahkan". Ucap Mbok Yan sersya menyershkan ponsel jadulnya.
Yohana pun langsung menghubungi nomor putranya. namun sepuluh kali ia menelfon tidak ada satu kali pun sang putra menjawabnya.
Sedangkan di mobil Erlangga yang tahu jika ada panggilan masuk dari ponselnya yang bergetar pun mengabaikannya dan justru malah langsung mematikan ponselnya.
"Ko di matin ?". Tanya Mira heran.
"Engga penting sayang". Ucap Erlangga dengan lembut membuat Mira bersemu merah atas ucapan dari Erlangga.
"Aku ingin bertanya sesuatu". Ucap Mira dengan malu-malu.
"Tanya apa sayang ?". Ucap Erlangga dengan senyuman menggodanya.
"Kamu kan anak dari keluarga Frimansyah, memiliki pendidikan yang tinggi. Tapi kenapa kamu malah jadi Manager butique ?". Ucap Mira heran.
Pertanyaan Mira pun sukses membuat Erlangga tertawa lucu.
"Awalnya juga aku engga ngerti sama jalan pikiran papah. Dia rela nguliahin aku sampai ke jerman. Namu setelah aku lulus terbaik dan balik ke indo bukannya di tempatin di perusahaan papah atau mencari ketja sendiri malah aku disuruh jadi manager. Di butique pula". Cerita Erlangga dengan kesal.
"Namun semakin kesini aku semakin paham. Papah ingin aku dan Martha semakin dekat dan bisa melancarkan perjodohannya. Tapi sayangnya aku malah terpikat dan jatuh sedalam-dalamnya pada pesona sang pelayan butique yaitu kepada seorang Miranda Niur". Ucap Erlangga dengan tatapan penuh cinta. Dan Mereka pun saling tatsp untuk beberapa detik.
**Bruuummmm !!!
CiiiiTTTzzzz !!!
"Erlangngga awas !". Seru Mira dengan raut syoknya.
Beruntung Erlangga dapat mengerem mobilnya dengan baik sehingga insiden tabrakan pun tidak terjadi. Namun saat ia ingin menanyakan keadaan dari Mira. Justru keluarlah orang-orang yang berada di dalam mobil yang menghadang mereka.
"TURUN KALIAN !!!". Seru salah satu orang yang mengerumuni Mira dan Erlangga.
"Er, mereka siapa. Apa mau mereka ?". Tanya Mira dengan raut ketakutan.
"Tenang lah Ra, ada aku disini. Coba kamu ambil ponsel mu dan hubungi kakakmu. Minta lah bantuan. Satu lawan dua puluh itu tidak seimbang". Ucap Erlangga yang telah menghitung berapa banyak orang yang mengerumuninya.
Erlangga pun mencoba melihat keadaan sekitar dan merasa sangat sial saat menyadari jika mereka tengah berada di kawasan yang terkenal sepi dan terdapat gedung terbengkalai disana.
"Cepat KELUAR KALIAN !!". Ucap orang itu lagi dengan garangnya.
"Kenapa tidak ada yang mengangkat telfon ku". Lirih Mira merasa kesal.
"Aku harus menghubungi siapa lagi". Batin Mira dengan berfikir keras.
"Raina". Batin Mira merasa ragu.
Menelfon sang kakak Marko percuma dia pun sedang tak ada kabar juga tak tahu dimana. Menelfon teman kerjanya juga tak mungkin ini jamnya mereka bekerja tidak mungkin ada yang akan menjawab panggilan telfonnya. Satu-satunya nomor yang belum ia hubungi ia lah nomor telefon Raina.
Tanpa pikir panjang Mira pun langsung memencet nomor Raina dan menungu ada ysng menjawzbnya atau tidak.
"Hallo kak Mira". Ucap Suara di sebersng telfon.
Erlangga yang tak tahan pun mulai keluar dan langsung menyuruh Mira untuk mengunci mobilnya. Ia pun langsung berkelahi dengan lima orang.
"Ha...Halo Rain". Ucap Mira sedikit terbata.
"Kamu kenapa kak suaramu ko gitu ?". Ucap Raina merasa sedikit khawatir.
"To..To..Tolong aku Rain". Ucap Mira lagi.
"HEEHH Cepat KeLUAR !". Seru seeseorang dari sambungan telfon Mira membuat Raina seketika langsung memanggil nama Yash dengan lantang.
"Kak Yash !!'. Teriak Raina.
Yash yang saat itu tengah berdiskusi dengan Jio masalah perusahaan pun langsung menengok kearah Raina yang tengah duduk di kursi tamu dengan raut panik.
"Ada apa Rain ?". Tanya Yash saat sudah berada di dekat Raina.
Raina pun langsung mengaktifkan tombol volume speaker pada ponselnya guna membuat Yash dan Jio mendengar percakapan di seberang sana.
"KELUAR KAU...HeH...KELUAR !". Ucap suara bas yang terdengar di telfon.
"Suapa ?". Tanya Yash dengan alis bertaut.
"Miranda dia dalam bahaya kak". Ucap Raina.
Jio pun langsung dengan sigap mengambil laptonya dan mengetik sesuatu. Sementara Yash masih setia mendengar percakapan di seberang telfon.
"Ada masalah apa ini ?". Batin Yash merasa resah dan terusik.
"Rain tokong, Bisa kah kau menyuruh siapapun itu. Untuk datang kerumah dan memberitahukan kak Roy atau kak Maya bahwa aku dalam masalah besar. Mereka susah aku hubungi". Ucap Mira dengan paniknya.
Yash pun langsung merebut ponsel Raina dan mulai berbicara kepada Mira.
"Kelamaan...Aktifkan selalu ponselmu. Dan kirim lokasi tempat kamu berada. Sekarang ". Ucap Yash kepada Mira.
Mira yang sedari tadi panik pun langsung dapat mengontroll kepanikannya dan mulai mengetik sesuai yang Yash ucapkan.
"Kode milik nona Miranda tidak terdeteksi tuan. Kemungkinan ia tidak mengenakan kalung itu. Kode akan bisa terakses jika kalung itu berada dekat dengan pemiliknya". Ucap Jio dengan raut bingung.
"Bodoh". Lirih Yash dengan kesal.
Yash pun langsung melihat notif di ponsel Raina dan tepat Mira telah mengirimkan lokasinya.
"Minggir..". Ucap Yash kepada jio.
Jio pun langsung bangkit dari duduknya dengan raut bingung. Sementara Yash langsung duduk di depan laptoop dan mulai mengetikkan sesuatu. Lima menit berkutat akhirnya Yash pun dapat meretas ponsel milik Mira dan dapat mengetahui posisi dimana Mira berada melalui titik merah yang berada di ponselnya.
Duukkkk !!!
BRAKKK BRRAAKK !!
Prangggg !!
"Aaaaaaaa !!!". Terdengar suara pecahan kaca dan teriakan Mira dari sebrang telfon.
Membuat Yash langsung mengarah ke ponsel dengan raut haus akan pertarungan.
"Jio..". Ucap Yash dengan dinginnya.
"Ya tuan muda". Sahut Jio dengan sopan.
"Let's go".
Ucap Yash dan lalu beranjak pergi meninggalkan Raina yang tersenyum bangga kepada sang kakak.
"Semoga Kak Mira baik-baik saja". Ucap Raina dengan penuh ketulusan.
__ADS_1