
Sore itu mata indah yang tengah terpejam pun terbuka perlahan. Memperlehitkan raut kernyitan yang terlihat jelas oleh sang tuan muda yang tengah duduk bersandar seraya melihat kearahnya.
Saat sudah terbuka sempurna, sang tuan muda yang kala itu menungguinya pun tersenyum simpul kearahnya. Dan sang gadis yang terbaring itu pun mulai sedikit melenguh menahan pening yang terasa sampai ke tulang gigi dan mendengung ke telinga.
"Apa yang kamu rasakan Mira. Dapatkah kamu berbicara sedikit ?". Tanya Yash lembut.
"Ke, pala ku tuan. Ra sanya sa kit sam pai ke telinga". Ucap Mira sedikit terputus-putus.
Yash yang melihatnya pun mulai merasa iba dan bersalah. Sungguh entah setan apa yang tengah memasukinya kala itu. Sehingga membuatnya mendorong tubuh Mira dengan kuat dan sialnya bersamaan dengan kaki sialannya yang tersandung pula.
"Kamu begini karena aku Mira. Tolong maafkan aku". Ucap Yash dengan nada menyesal
"Sa ya...Tidak Me ngerti tu ahnn". Ucap Mira bingung.
"Saat itu, ketika aku mengetuk pintu kamar Raina dan kamu yang membukanya. Aku dengan tanpa aba mendorong pintu yang menutupi tubuhmu". Ucap Yash mulai menjelaskan.
"Aku merasa. Sangat kesal saat melihat kau bepose dengan mengenakan handuk kimono dan di foto oleh Raina". Ucap Yash jujur.
"No na Raina mem foto diriku ?". Tanya Mira bingung.
"Iya, dia menfotomu dan mengirimkannya kepadaku. Malah fotomu di pajang di status washaapnya dengan caption kau adalah calon kakak iparnya". Ucap Yash memberitahu. Membuat Mira langsung memejam dan menyebut nama Raina dengan rasa gemas.
"Lebih tepatnya dia itu cemburu Mira". Ucap Vikram yang entah sejak kapan sudah berada di hadapan Yash dan Mira yang tengah mengobrol itu.
Mira pun sedikit mengernyit atas ucapan tuan Vikram kepadanya. Dan bertanya-tanya dalam hatinya tentang apa yang membuat tuan muda Yash cemburu. Mungkin jika merasa kesal itu wajar. Toh Mira bukan siapa-siapa bagi Yash lalu nona Raina dengan seenaknya mengirimkan foto itu tanpa izinnya kepada seseorang yang tidak menyukainya atau yang memiliki perasaan biasa saja kepadanya. Tentu saja kan tuan Yash merasa sekesal itu. Begitulah menurut pemikiran dari Mira.
"Kau ini...Mulai lagi. Siapa yang ku cemburui dan buat apa aku cemburu Vik. Diam lah tidak usah berbicara yang bukan-bukan". ucap Yash kesal dan menatap tajam Vikram.
Vikram yang di tatap setajam itu oleh seorang Yash pun hanya mengendikan bahu dan acuh. Lalu ia pun mendekat kesisi kiri Mira lalu duduk di sebelahnya.
"Hai. Apa kau baik-baik saja. Bagaimana keadaanmu ?". Tanya Vikram lembut.
"A ku baik tu an. Hanya sedikit pu sing". Ucap Mira jujur.
"Kalau begitu kau harus meminum obatmu dengan baik. Aku tidak sanggup melihat patner ku sampai seperti ini" Ucap Vikram lagi dengan nada sedih.
"Ciihhh dasar kadal buaya kau Vik". Batin Yash merasa kesal.
"Kau benar-benar sedih karena memang melihat Mira lemah tak berdaya atau sedih karena merasa Mira tidak bisa beelatih dan sempurna di malam pesta pernikahan itu huh ?". Tanya Yash penuh selidik.
"Dua-duanya". Ucap Vikram santai seraya melihat kearah Mira yang tengah melihatnya.
"Maaf tuan, a ku...". Ucapan Mira terhenti saat Vikram menempelkan jari telunjuknya kearah bibir Mira.
"Kau tidak perlu meminta maaf kepadaku. Ini bukan salahmu dan kau tidak bersalah apapun. Jangan fikirkan hal itu ya. Jika kau kuat kita lakukan sebisanya saja. Dan jika kau tidak kuat, aku bisa melakukan sendiri". Ucap Vikram lembut.
Bagi Mira perhatian seorang Vikram Davis kepadanya layaknya seorang kakak kepada adiknya. Namu lain bagi seorang Yash. Hatinya tiba-tiba merasa panas dan perasaanya juga merasa kesal yang luar biasa. Mengapa Vikram yang notabenya sangat cuek itu bisa sedekat itu dengan Mira. Bahkan dia yang saat berlatih sangat tegas itu pun bisa selembut itu berbicara kepada Mira. Seberapa menakjupkannya pesona dari seorang Miranda Nur. Pikir Yash dengan heran.
"Hati-hati saja Mira. Vikram Davis itu terkenal mematahkan hati setiap wanita". Ucap Yash dengan menyilangkan kedua tangannya diatas perut.
"Apa bedanya dengan kau Yash. Kau juga lebih terkenal membuat semua hati wanita patah oleh sikap dinginmu dan ucapan pedasmu". Ucap Vikram telak membuat Yash langsung terdiam kesal.
"Sial..". Batin Yash geram.
Mira yang tidak ingin kedua orang itu bertengkar lebih jauh pun mulai sedikit menggerakan tubuhnya untuk duduk. Namun tindakkanya itu di cegah oleh Yash dan Vikram dengan rau khawatir.
"Kau mau apa Ra ?". Tanya Yash dan Vikram berbarengan. Membuat mereka pun saling pandang.
"Aku....Ingin duduk bersandar tu an. Punggung ku ra sanya pa nas". Ucap Mira mengutarakan keinginannya.
"Mari kita bantu". Ucap Yash lembut. Dan Mira pun mengangguk.
"Maaf merepotkan tuan". Ucap Mira yang sejujurnya merasa tak enak.
Yash pun hanya mengangguk dan mengarahkan kedua tangan Mira untuk merangkul pundak Yash dan satu tangan Yash ia selipkan di punggung atas Mira. Sementara Vikram menata bantal agar bisa nyaman untuk Mira bersandar.
Saat sudah merasa nyaman Mira pun mulai bernafaa lega dan merasa sangat enak dengan posisi duduk menyandar. Tubuhnya merasa tak panas dan pusingnya pun sedikit berkurang.
Tak berapa lama masuk lah Jio dan paman gun bersama dua pelayan yang membawakan makanan untuk Yash dan Mira. Tak lupa ada suster Sita yang datang mengontrol seraya membawakan obat-obatan resep dari dokter Jordan.
__ADS_1
"Makan malamnya tuan, nona". Ucap paman Gun sopan.
"Maaf tuan Vikram. Anda ditunggu di ruang makan oleh yang lainya". Ucap Jio sopan.
"Baik lah, Mira. Jangan lupa diminum obatnya. Semoga lekas sembuh ya". Ucap Vikram lembut seraya beranjak dari tempat tidur.
"Terima kasih tuan". Ucap Mira dengan teesenyum lemah.
Vikram pun akhirnya berjalan keluar dengan santai dan menuju keruang makan bergabung dengan yang lainnya yang telah nenunggu.
"Nona, sesuai arahan dari dokter Jordan. Malam ini menu makan malam anda sup ayam dan nasi tim ya. Saya buat tidak hambar ko dan enak. Dihabiskan ya, nanti setelah itu di minum obatnya juga di kompres lagi kepalanya". Ucap Sita menuturkan arahan.
"Kenapa harus nasi tim sus ?". Tanya Yash sedikit tak suka.
"Karena bisa di pastikan untuk mengunyah pun rasanya sakit tuan. Maka dari itu saya buatkan nasi Tim yang teksturnya mendekati seprti bubur ayam. Kalau nasi saja itu perlu dikunya dulu pasti nona Mira tidak akan sanggup tuan. Supnya pun saya buat sedikit cair agar dapat memudahkan nona Mira untuk menelannya". Ucap suster Sita menjelaskan dengan sabar dan penuh kehati-hatian.
"Biar aku yang menyuapi dan mengurusnya. Kalian pergi saja. Nanti jika sudah selesai akan aku panggil kalian". Ucap Yash memerintah.
"Tetapi tuan muda belum menyentuh apapun sedari pagi. Setidaknya makanlah dulu tuan. Biar suster Sita yang mengurus nona Mira". Ucap salah satu pelayan yang entah nengapa bisa seberani itu mengucapkan perhatiannya.
Yash yang mendengarnya pun menatap tajam kearah pelayan itu. Dan ia ingat jika pelayan itu juga terkadang sering memperhatikannya dari jauh dengan tatapan memuja yang sangat nenggelikan bagi Yash.
"Siapa kau sanpai berani mengaturku. Kau adalah seorang pelayan. Maka bersikaplah layaknya seorang bawahan". Ucap Yash pedas sehingga membuat pelayan yang jio ingat bernama Zizi itu pun menunduk dengan mata yang berkaca-kaca.
Jio yang tahu kondisi dan situasi itu pun lalu menyela dan mumohon izin untuk keluar dengan tertunduk sopan diikuti oleh beberapa pelayan dan suster Sita yang menyimpan nampan makanan dan obat di atas nakas sebelah Yash.
Saat di luar kamar, Jio pun langsung menghardik Zizi dengan tegas dan paman Gun pun memperingati dengan tegas pula.
"Jika ingin bekerja lebih lama disini. bersikap baiklah dan fokus saja pada pekerjaanmu Zi". Ucao Jio tegas.
"Iya tuan Jio, maafkan saya". Ucap Zizi dengan menunduk takut.
"Kau beruntung tuan Yash tidak langsung memecatmu seketika. Jangan ulangi perbuatanmu. Fokus saja pada pekerjaanmu. Kau inginkan jika pengobatan ibumu berlangsung". Ucap Paman Gun mewanti-wanti membuat Zizi harus mengubur dalam-dalam harapanya.
Jangankan mengambil hati sang tuan muda. Mendekati nona Raina saja sulit. Setidaknya jika ingin kakaknya, maka dekati dulu adiknya kan. Tapi semua itu harus pupus saat melihat penolakan sang tuan muda yang sangat jelas di matanya itu.
"Sudah. Kembali lah bekerja. Datang lagi kemari saat tuan Yash dan nona Mira selesai makan malam". Ucap Jio memberi perintah.
Saat di ruang lain kelima pelayan itu pun mulai berbincang dan mengerubungi Zizi yang kala itu tengah berjalan menunduk.
"Kau ini Zi, berani sekali mengatakan hal itu kepada tuan muda pertama". Ucap salah satu pelayan yang diketahui bernama Itha.
"Aku hanya tidak ingin saja tuan mudaku sakit karena terlalu fokus mengurus nona itu". Ucap Zizi merengut.
"Wajar lah Zi, nona Mira kan begitu karena tuan muda sendiri. Malah aku salut tuan muda pertama itu ternyata bertanggung jawab sekali. Dia tidak lari dari kesalahannya. Jarangkan seorang tuan muda seperti itu". Ucap Itha membela.
"Iya kamu benar sih Tha, tapi aku merasa jika tuan muduku itu menyukai nona itu. huh aku sangat kesal. Aku yang lebih dulu mengincarnya. Malah nona itu yang dekat dengan tuan mudaku". Ucap Zizi kesal.
"Cantik juga engga tuh orang. Pake pelet kayanya deh. Kalau engga mana mungkin tuan mudaku bisa sedekat itu dengan nona itu". Ucap Zizi dengan mengerut kesal.
"Hmmm gini nih kelakuan orang yang udah cinta tapi buta. Otaknya tumpul jadinya. Nona Mira itu berjasa besar buat putri bungsu tuan besar. Kesayangan tuan muda Yash juga. Jika tidak begitu mana mungkin tuan besar dengan tuan muda berbuat baik sama nona Mira. Lagian Zi kmu berjasa apa sama mereka sampai bermimpi mau bersanding dengan tuan muda Yash. Bangun lah Zi, jangan kelamaan mimpinya".
Ucap Itha lalu berlalu pergi sambil mertetawai mimpi seorang Zizi yang tidak pernah mungkin itu di ikut oleh keempat pelayan lain. Meninggalkan Zizi yang berdiri kesal seraya merengut itu.
Zizi yang kesal pun akhirnya berjalan cepat dan menerobos keempat pelayan yang tengah berjalan mertetawainya. Dan dengan sekali sentak, kermpat pelayan itu pun sedikit terhuyung dan lalu meneriaki Zizi dengan omelan serta sumpah serapah yang pedas.
Sementara di kamar Yash, Mira pun sudah disuapi dengan lembut oleh Yash yang dengan sabarnya mengurus Mira.
Mira yang merasa tak sanggup untuk menghabiskan makananya itu pun menggeleng lemah kearah Yash. Dan Yash pun hanya bisa menghela iba.
"Sesakit itu ya sampai untuk mengunyah dan menelanpun terlihat kesakitan". Ucap Yash memandang perihatin. Mira pun hanya menunduk sedih di tempat. Membuat Yash yang melihatnya pun langsung menggenggam erat tangan Mira yang berkeringat dingin.
"Maaf ya, aku telah membuatmu sampai seperti ini". Ucap Yash merasa bersalah dan Mira pun hanya tersenyum lemah.
"Sesakit apapun dia, tetap senyuman itu akan tersungging dengan indah. Jika boleh ditukar, biar aku yang menanggung sakitnya. Mengapa aku selalu teringat ucapan nona Mayya. Mira begitu banyak membawa perubahan baik di keluarga yang penuh dengan konflik ini. Tetapi aku, selalu membuatnya kesakitan. Sengaja atau tidak, tetap saja ia selalu sial jika di dekatku". Ucap Yash dengan batin dan fikirannya yang kacau.
"Anda ke napa tu an ?". Tanya Mira saat nelihat Yash yang menatapnya dalam.
"Hmm, tidak apa-apa. Diminum obatnya ya. Engga apa-apa tidak dihabiskan juga makananya. Yang penting ada beberapa suap yang masuk kedalam perutmu". Ucap Yash panjang lebar membuatnya sedikit mengernyit lucu saat ia mampu berkata banyak terhadap Mira.
__ADS_1
Mira pun hanya mengangguk lemah dan Yash pun meminumkan obat yang mungkin sudah di tumbuh halus menjadi bubuk dan tinggal Yash larutkan beberapa tetes air kedalam sendok yang terisi bubuk obat lalu meminumkannya kepada Mira.
Mira pun meminumnya dengan mata yang terpejam seperti menahan rasa yang luar biasa. Yash pun lalu memberikan minum hangat kepada Mira dan diterimanya lalu di teguknya dengan sedotan.
"Ekspresinya seperti menahan rasa sesuatu. Mungkinkah obatvitu rasanya sepahit itu ya". Batin Yash merasa penasaran.
Ia pun lalu mencoba sendok yang tadi di buat untuk menyuapi obat bubuk kepada Mira. Saat ujung lidah itu tertempel sempurna. Yash pun lalu menrinding merasakan pahitnya obat itu yang seperti mencekik tenggorokannya. Sehingga membuatnya kalang kabut dan mengambil orange jus yang tersedia di meja sofa lalu meminumnya dengan rakus.
Mira yang melihatnya pun seketika tersenyum lebar saat nelihat kelucuan Yash yang mencicipi obat dari dokter Jordan.
"GILA. Itu obat atau racun. Pahit sekali rasanya. Kamu pasti sangat teesiksa Mira. Sebentar aku sepertinya mempunyai permen". Ucap Yash dan langsung mencarinya di laci nakas.
Dan akhirnya Yash pun langsung menemukannya satu botol permen mint pereda tenggorokan yang soft dan ringan. Sepertinya cocok jika dimakan oleh Mira pikir Yash kala itu.
"Syukurlah, aku menemukanya". Ucap Yash dan lalu duduk kembali di sebelah Mira.
"Tu an, obat nya". Ucap Mira mengingatkan jika masih ada dua obat bubuk dan satu botol obat sirup.
"Aisss itu semua pasti pahit Mira. Kau sanggup meminumnya. Haahhh besok akan aku complain dokter tua itu". Ucap Yash kesal dan langsung mengambil obat selanjutnya untuk di minum Mira.
"Bagaimana. Apa rasa obatnya pahit semua ?". Tanya Yash memastikan saat kesemua obat yang di resepi oleh dokter Jordan telah di minum Mira.
"Yang terakhir manis". Ucap Mira jujur.
Merasa tidak percaya Yash pun mencicipinya dan sekali lagi Yash di buat mual oleh rasa obat yang seprti muntahan itu. Rasanya asam, pahit dan sedikit aneh.
"Astaga MIRA, aku benar-benar akan mengcomplain dokter tua itu besok". Sungut Yash yang lalu mengeluarkan beberapa permen Mint dari botol sedang dan memakannya. Tak lupa Mira pun ikut memakan permen itu.
Setelah itu Raina pun datang dengan Vikram yang sudah menyelesaikan makan malamnya itu. Ia pun lalu mendekat dan duduk di tempat tidur sebelah Kiri Mira. Sedangkan Vikram duduk di sofa tak jauh dari tempat tidur itu.
"Kak Yash makan malam dulu gih. Biar aku yang mengompres kepala belakang kak Mira". Ucap Raina dengan nada perhatian.
"Suapi kakak Rain. Kakak malas makan". Ucap Yash mencari peehatian sang adik.
"Ck tidak mau. Aku mau mengurus kak Mira". Tolak Raina dengan merengut dan lalu mengambil baskom yang berada di tangan Yash.
"Hhhh, kau ini". Ucap Yash dan akhirnya beeanjak pergi mendekati meja sofa yang tersedia banyak makanan.
Raina pun lalu mengompres kepala belakang Mira dan lalu berceloteh ria menceritakan semua kejadian saat Mira mulai tak sadarkan diri lalu Yash dan Jio yang panik sampai mengapa dirinya bisa berada di dalam kamar Yash.
Dan tanpa sadar Mira yang merasa mengantuk setelah meminum obat dari dokter pun mulai memejamkan matanya secara teratur. Sementara Raina yang tak sadar pun masih bercerita banyak swhingga Vikram yang melihatnya pun tertawa geli.
"Terus...Eh loh. Kak, kak Mira ko diam ?". Tanya Raina yang terkejut saat melihat Mira sudah memejamkan matanya.
Mendengar itu, Yash yang tengah makan dengan lahap pun langsung menengok kearah tempat tidur yang terdapat Mira dan Raina di sana.
Yash pun lalu buru-buru meminum air putih dan melangkah kearah Mira dengan khawatir yang teramat sangat.
"Apa yang terjadi Rain, kamu apa kan Mira ?". Tanya Yash drngan paniknya.
"Aku hanya bercerita sambil mengompresnya kak. Tahu-tahu kak Mira sudah terpejam". Ucap Raina bingung.
"Dia tertidur Yash. Betulkan saja posisi tidurnya agar nyaman. Dan biarkan ia beristirahat. Mungkin obat yang di minumnya ada yang membuat kantuk". Ucap Vikram santai.
Yash yang mendengarnya pun membenarkan ucapan Vikram dan sedikit bernafas lega. Dan ia pun lalu memposisika tidur Mira dengan baik. Sementara Raina pun turun dari tempat tidur Yash lalu berjalan menuju kearah Yash.
"Kak, aku mau mengerjakan tugas kuliah dulu ya. Nanti ayah juga kesini menemani kakak menjaga kak Mira". Ucap Raina meminta izin saat sudah berada di hadapan Yash dan lalu mengecup pipi kiri Yash dengan singkat.
Cup
"Selamat malam kak. Semangat ya jagain kak Mira". Ucap Raina setelah mengecup pipi Yash singkat.
"Belajar yang rajin". Ucap Yash seraya mengacak rambut Raina dengan lembut.
"Aye aye kaptain". Ucap Raina dengan penuh semangat dan beranjak keluar dari kamar Yash.
"Aku juga pamit pulang Yash. Ada masalah kecil di klub malam ku. Sampaikan salamku buat Mira". Ucap Vikram dan lalu pergi saat mendapat anggukan dari Yash.
Dan Yash pu memanggil kembali Jio dan paman Gun untuk membereskan piring makannya. Tak berapa lama kemudian datang lah Jio dengan paman Gun dan beberapa pelayan.
__ADS_1
Setelah masuk para pelayan pun langsung sigap membereskan semuanya dan keluar dengan paman Gun. Tinggallah Jio di ruangan itu.
"Bagaimana laporan perusahaan hari ini ?". Tanya Yash tegas dan Jio pun langsung melaporkan beberapa rincian, keuntungan, kesalahan dan lain-lainya kepada Yash yang kala itu tengah membuka buku laporan yang diberikan Jio.