Luluh

Luluh
sakit tiba-tiba


__ADS_3

" Mata kamu merah. Kenapa, kurang tidur?" Kata Sari, melihat mata Amel sedikit merah, wajah terlihat lesu dan beberapa kali melihat Amel menguap.


" Hhmm, iya." Jawab Amel sambil menganggukan kepala. bersandar di lemari locker dan memejamkan mata, kala matanya tak kuat lagi untuk di pertahankan lebar.


Efek dari kerja sampai malam, hingga lupa waktu.


Tapi uang hasil kerja ojeknya terkumpul dan bisa menggantikan uang bank yang harus di setornya hari ini juga.


Nasib, pinjam bank. Dan harus semangat untuknya mengambil surat rumah satu-satunya yang di miliki keluarganya. Tidak mau rumah orang tuanya di sita bank dan tidak mau nasib orang tua serta adik-adiknya bagaimana bila tidak lagi tinggal di rumahnya.


" Semalam ngojek?" Tanya Sari, lagi-lagi Amel mengangguk sambil menutup mata.


Sari berdecak sebal, menghembuskan nafas kasar melihat sahabatnya ini. " Kenapa gak pinjam aku saja sih Mel! Kalau begini kamu kan juga jadi susah sendiri." Kata Sari.


Prihatin dengan sahabat satunya ini, dimana dia harus banting tulang demi orang tua dan adik-adiknya. Sari sedikit tau tentang penderitaan Amel, tau apa yang sedang Amel perjuangkan saat ini. Dan tau bagaimana kegigihan Amel dalam bekerja. Bukan untuk kesenanganya saja, tapi juga demi orang tua dan adik-adiknya.


Lelah pasti, tapi dia tidak pernah mengeluh pada siapapun. Termasuk sahabatnya.


" Takut gak sanggup bayar aku, kalau hutang ke kamu." Kata Amel.


" Ya gak usah di bayar, kalau gak sanggup. Buat apa gunanya sahabat kalau bukan saling tolong menolong."


Mendengarnya pun Amel tersenyum tanpa mau membuka mata.


Ya, apa gunanya sahabat. Bila bukan saling membantu suka dan duka. Tapi bukan berarti memanfaatkannya juga kan?


Janganlah sampai membuat sahabatnya itu kecewa nanti atau marah-marah karena uang. Uang bisa membuat kita dekat dengan orang dan juga bisa menjauhkan kita dari orang.


Jangan jauh-jauh membuat contoh. Contohkan saja kerabat kamu bila kamu sedang mengeluh tentang uang. Bagaimana reaksinya.


Mengejutkan, hingga membuat kita pastinya Kecewa.


Karena uang berpengaruh dalam kehidupan.


" Bukan tipe ku memanfaatkan sahabat meskipun aku sedang susah." Kata Amel.


" Dan aku merasa tidak di manfaatkan oleh sahabatku. Justru aku senang, aku bisa berguna dalam persahabatan." Jawab Sari, membuat Amel kembali tersenyum.


Selalu ada jawaban dari Sari, meskipun dia gadis yang manja dan cengeng.


" Sudah sana pulang." Usir Amel.


" Ngusir, kalah debat."


" Bukan kalah, tapi mata sama bibirku sudah gak kuat buat melek atau debat sama kamu Sar! Aku mau tidur sebentar. Pusing ini kepalaku." Kata Amel. sudah tak tahan dengan omelan Sari. Karena kepala yang berdenyut nyeri akibat kurang tidur.


" Ya sudah tidur sana, aku telpon nanti dua jamman. Biar gak kebablasan sampai malam kamu di sini." Ucap Sari, hanya di anggukkan Amel dan mulai berbaring di lantai alas kardus yang setiap hari akan di buat tidur oleh karyawan lain yang sedang istirahat atau tidak enak badan.

__ADS_1


Bukan dua jam tertidur, tapi melebihi setangah hari Amel tertidur pulas di alas kardus ruang loker. Tidur Amel seperti di bius oleh obat dan terasa sulit sekali mata untuk di buka meskipun sudah ada banyaknya temannya yang mencoba membangunkannya.


Hanya gumaman yang iya jawab, dan lanjut lagi tidur di dengan pulas.


" Amel masih di ruang loker pak?" Kata Dinda pada Akbar.


" Ruang loker?" mengerutkan kening mendengarnya.


" Tidur, sulit di bangunin." Timpal yang lain.


" Padahal tadi sudah bangun, tapi kembali lagi tidur." Imbuh yang lain.


" Ya sudah kalian pulang saja dulu, biar saya yang coba bangunkan." Kata Akbar, membuat para karyawan saling menatap dan menganggukkan kepala.


Merasa juga sangat lelah dan tak mungkin harus menunggu satu karyawan saja untuk pulang telat.


Membuka ruang loker, mengerutkan kening kala melihat Amel yang duduk sambil memijat kepala.


Sedikit terperanjat kala pintu terbuka dan melihat Atasannya.


" Pak Akbar." Gumam Amel, mencoba berdiri tapi sayangnya tubuhnya sedikit terhuyung. Dan cepat Akbar memegangi ke dua lengannya.


" Duduk dulu." Perintah Akbar, menuntun Amel di kursi loker.


" Badan kamu panas." Imbunya lagi, sempat merasakan lengan Amel yang panas dan tanpa di suruh, Akbar menempelkan tangannya ke kening Amel.


" Barusan, belum." Jawab Amel pelan, masih memijat dahinya. mencoba mengurangi sakit kepala yang melandanya tiba-tiba.


" Saya antar pulang, sekalian kita mampir ke rumah sakit."


" Enggak usah, makasih pak. Aku bawa mot-,"


" Jangan ngebantah, tinggal saja motor di sini dulu. Mana bisa kamu nyetir dengan keadaan seperti ini." Tukas Akbar.


Benar apa yang di bilang atasannya, gimana caranya ia mengendarai motor dengan keadaan yang sakit seperti ini. Bukannya selamat dalam perjalanan, malah membuat keadaan semakin buruk. Dan bisa di pastikan akan menambah beban lagi.


" Ayo saya antar pulang." Kata Akbar, seperti tak boleh di bantah kala masih berada di area pekerjaan.


****


" Mas?" Panggil Yanna.


" Hmm, iya." Jawab Rama, mengalihkan tatapan laptop ke arah istrinya.


" Sudah malam." Tegur Yanna.


" Sebentar lagi selesai. Sini, temani aku." Tarik tangan Yanna dan mendudukkannya di pangkuannya.

__ADS_1


" Anak-anak sudah tidur."


" Hhmm, sudah." Jawab Yanna, sambil mengalungkan ke dua tangannya di leher Rama.


" Minggu depan ibu sama sigit mau ke sini."


" Naik apa?" Tanya Rama, merengkuh pinggang istrinya sambil memijat-mijat pelan. membuat Yanna sedikit menggeliat.


" Naik bis katanya. Ibu takut kalau naik motor ke luar kota sama Sigit."


" Biar di jemput supir toko saja kalau gitu, dari pada naik bis."


" Ibu gak mau Mas." Jawab Yanna. " Tangannya ini di kondisikan dulu, ih!" Imbuhnya, memukul tangan Rama yang sudah mulai menggerilya kemana-mana.


" Mangkanya jangan gerak-gerak. Aku kan jadi gak fokus Yan."


" Mas dulu yang mulai." Cibir Yanna, membuat Rama tersenyum.


" Tangannya diam dulu."


" Iya." Pasrah Rama, hanya menyentuh pinggang istrinya saja tanpa mengusap-usap pinggangnya.


" Ibu kenapa gak mau?"


" Enggak enak mungkin sama mas."


" Kayak apa saja enggak enakan segala. Kan ibu sudah aku anggap ibu sendiri, gak perlu sungkan gitu. Biar nanti, aku yang ngomong sama ibu." Kata Rama.


Mertuanya bukan sembarang mertua seperti di sinetron-sinetron. Ibu mertuanya, tak pernah menggantungkan hidupnya pada dirinya atau pada putrinya yang sudah menikah dengannya.


Mertuanya selalu menolak pemberian ung bulanan dari dirinya. Karena ibu mertuanya, pernah bilang, bila masih sanggup untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.


Bukan sombong, mungkin memang tak enak hati dengan sikap baik menantunya. Putri dan cucunya saja sudah di berikan kebutuhan lengkap, rasanya sudah bersyukur. Dan tak perlu ibu juga harus di berikan kebutuhan oleh mantunya itu.


" Gimana hasil ujian Sigit."


" Sudah keluar, Sigit lulus."


" Ya sudah, nanti sekalian cari tempat kuliah yang bagus buat Sigit di sini." Kata Rama, membuat Yanna tersenyum


.


.


.


.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃


__ADS_2