Luluh

Luluh
keluarga hangat


__ADS_3

Akbar menepati ucapannya malam itu. Membawa Amel ke rumahnya tanpa ragu. Dengan pakaian Amel seperti biasa dirinya pergi bersama teman-teman. Tidak peduli itu ke rumah calon mertua atau tidak, yang terpenting pakaian Amel masih sopan dan layak untuk di pakai. Bukan berarti tidak menghargai pertemuannya dengan ke dua orang tua Akbar.


Tapi memang dirinya tidak suka yang berlebih-lebihan. Seperti membeli baju dress agar terlihat feminim atau terlihat lebih cantik. Padahal bila tidak pakai mini dress pun sudah terlihat cantik dan manis. Yang terpenting kan penilaian cara orang menghormati yang lebih tua. Ya walaupun entah penilaiannya bagaimana nanti orang tua Akbar padanya.


Tidak bisa mengharap lebih. Karena akan takut bila nanti dirinya akan mendapatkan jawaban yang tidak mengenakkan di hati. Tau sendiri kan, antara orang kaya dan orang miskin seperti dirinya dan Akbar. Sangat berbeda jauh, dan lebih jauh dengan kasta keluarganya.


Sore hari selalu macet. Jalanan tak pernah sepi akan pengendara lalu lalang entah kemana. Yang pasti tujuannya adalah rumah. Seperti Amel yang sudah duduk manis di samping Akbar sedang mengemudikan mobilnya.


Akbar memang bukan tipe pria yang romantis, dan Amel juga bukan wanita yang manja. Seperti pasangan yang lain bila di dalam mobil. Harus mengamit lengan kekasihnya atau sekedar saling berpegangan tangan. Tidak.


Ah.. Tunggu, bukannya mereka belum jadian. Mangkanya mereka malu untuk saling interaksi lebih. Hanya sekedar bertanya dan menjawab saja.


Cukup lama menghabiskan waktu di jalan di kala sore hari yang macet hingga tiba di rumah langit berubah warna hitam.


" Ayo turun." Ajak Akbar, melepas sabuk pengaman. dan menatap Amel yang masih memperhatikan rumahnya.


" Aku takut?" Lirih Amel. Tiba-tiba jantungnya berdetak kencang dan nyalinya mulai menciut saat melihat rumah orang tua Akbar yang lebih besar dari rumah anaknya sendiri.


" Jangan takut. Ada aku." Jawab Akbar. Untuk pertama kali berani menyentuh lengan Amel. Hingga membuat Amel menoleh ke arahnya dan melirik sekilas tangan Akbar mengusap lengannya.


Untuk pertama kali mereka bersentuhan, padahal sebelum-sebelumnya tidak pernah. Dan pernah, itupun saat Amel sakit di tolong oleh Akbar tanpa ada perasaan.


" Ayo?" Ajak Akbar, dengan senyum dan melepaskan sabuk pengaman dari tubuhnya.


Bukankah itu romantis sekali? Hingga jantungnya kembali berdetak kencang. Semoga saja, Akbar tidak mendengarnya.


Hanya mengangguk dan tersenyum. Mencoba menghirup udara lebih lama dan membuangnya secara perlahan. Dan perlahan turun dari mobil Akbar. Yang sudah terlebih dulu turun menunggunya di luar.


Entah keberanian dari mana. Akbar menggenggam tangan Amel yang sudah berada di sampingnya. Terlihat sangat gugup dan tangan sedikit dingin. Amel memberanikan diri membalas genggamannya dan berjalan beriringan menuju dalam rumah dengan pintu yang sudah terbuka lebar seperti menantikan kehadirannya.


Untuk ke dua kali.


" Mas Akbar." Sapa ramah ibu paruh baya. Asisten yang sudah lama mengabdi pada keluarga Akbar.

__ADS_1


" Mama sapa Papa ada mbok." Tanya Akbar.


" Mama di sini?" Sambut baik mama Akbar dari belakang pembantunya.


Amel semakin gugup dan malu kala Mama akbar berjalan ke arahnya. melepas genggaman tangan Akbar dan mengusap tangannya sendiri di celananya. Seakan takut tangannya kotor bila nanti bersalaman dengan orang tua Akbar yang terlihat sangat elegan. Berbeda dengannya.


" Ma?" Sapa Akbar dengan senyum hangat. Memeluk mamanya dan mencium ke dua pipinya.


" Apa kabar sayang. Lama kamu gak pulang ke rumah." Haru mama, mengusap lengan putranya. Yang entah kenapa semakin hari semakin membuatnya sangat rindu dengan putranya.


rindu akan kebersamaan keluarganya dulu.


" Baik ma." Ucap Akbar. " Aku ke sini mau ngenalin mama sama dia." Imbuhnya, tersenyum menatap Amel di ikuti Mama yang mulai menatap Amel.


Amel tersenyum sedikit mengangguk menyapa Mamanya Akbar yang tersenyum ramah padanya dan sedikit terkejut mendapat perlakuan manis dari orang tuanya.


Mengusap lembut lengan Amel. Dan berkata. " Amel ya."


" Iya, tante." Jawab setengah gugup serta kaku. Dan Menyalami mama Akbar yang menyambutnya dengan senyum hangat.


Tanyanya Mama akbar itu entah kenapa membuat Amel senang. Apa Akbar pernah menceritakan dirinya pada Mamanya. Bila iya. Itu sungguh dirinya seperti berarti bagi Akbar.


" Jangan manggil tante, manggilnya mama saja sama kayak Akbar. Ayo ke meja makan. Mama sudah siapin makan malam untuk kita." Sambil menggenggam tangan Amel mengajaknya masuk ke dalam rumah menuju meja makan.


Manis sekali. Untuk kesan yang pertama.


Tapi entah benar-benar tulus atau tidak. Tapi Amel bisa merasakan bila itu memang tulus.


" Mas? Lihat siapa yang datang!" Seru mama Akbar. membuat Papa akbar yang sudah duduk menoleh ke sumber arah.


Berdiri dari duduknya dan tersenyum ramah menatap putra serta gadis yang sedang di gandeng istrinya.


" Pa?" Sapa hangat Akbar, menyalimi papanya. Dan mendapat perlakuan manis dengan bahunya yang di tepuk-tepuk pelan oleh papanya.

__ADS_1


Entah kapan suami istri itu kembali akur.


Entah itu akur dan harmonis hanya di depan calon menantunya saja. Atau memang sudah tak seharusnya lagi bertengkar setiap hari demi putranya yang pernah mengeluhkan ke dua orang tuanya.


Tapi yang terpenting untuk saat ini, Akbar hanya benar-benar ingin suasana rumahnya hangat dan damai. Itu saja. Tidak lebih, meskipun ada atau tidaknya Amel.


Tapi berharap, semoga kehadiran calon menantunya bisa mempererat kembali ke dua orang tunya, Apa agi kehadiran cucu pastinya.


Amel sedikit mendekat, dan melakukan apa yang di lakukan Akbar. Menyalimi Papanya Akbar. Dan ternyata sama. Mendapatkan perlakuan hangat pada Papa akbar.


" Ayo kita makan dulu. Papa sudah lapar ini. Gak sabar makan masakan mama." Ajak Papa Akbar. membuat Amel tersenyum.


" Ayo-ayo sayang." Tuntun Mama Akbar menyuruh Amel untuk duduk di sebelah akbar. Dengan Papa akbar yang sudah kembali duduk sebagai kepala keluarga. Sedangkan mama Akbar duduk bersebrangan dengan meja dan menghadap ke arahnya.


" Mama gak tau kesukaan Amel apa. Jadi mama cuma bisa masakin kesukaan Akbar. Maaf ya Nak." Setelah mengambilkan makanan suaminya dan memperhatikan Akbar yang mengambilkan makanan untuk Amel.


Mungkin tau, gadis di samping putranya itu malu-malu. Dan ternyata benar, Amel sangat manis serta melihat penampilannya yang begitu sederhana sekali. Seperti kriteria putranya.


" Ini juga sudah cukup tan. Saya juga suka masakan tante ini." Jawab Amel tersenyum.


Melihat putranya tersenyum, membuat hati seorang ibu ikut tersenyum. Entah kenapa, dirinya merasa Amel wanita yang tepat untuk di jadikan istri putranya dan wanita yang akan mendampingi putranya dengan suka dan duka.


Cukup sudah, putranya itu menderita karena ke dua orang tuanya. Biarkan untuk sekarang dan seterusnya, putranya bahagia dengan pilihannya sendiri.


Apapun akan dirinya dukung. Demi putranya sekarang.


.


.


.


.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃


__ADS_2