
Dengan langkah tegas dan kokoh Yash pun masuk kedalam gedung rahasia yang sebelumnya di jadikan markas rahasia ayahnya untuk berdiskusi masalah Helena.
Semua anggota yang hadir pun berdiri dan menunduk hormat kearah Yash. Sedangkan Yash yang sudah duduk di kursi besarnya pun mengisyaratkan kepada semua anggota yang hadir untuk duduk kembali.
"Bagaimana tentang kondisi dari Helena. Apa dia masih hidup atau sudah tiada ?". Tanya Yash kepada salah satu tim yang di tugaskan Yash untuk mencari tahu tentang kondisi Helena.
"Jasadnya sudah diketemukan tuan. Sayangnya kecelakaan yang Helena alami terendus pihak kepolisian. Sehingga jasadnya dibawa oleh pihak kepolisian untuk di periksa lebih lanjut". Jelas salah satu ketua tim.
"Tubuhnya hampir 79"% hangus terbakar tuan. Kemungkinan sulit untuk dikenali. Dan pihak kepolisian pun tengah mencari identitas dari jasad Helena". Jelas ketua tim lagi.
Yash pun hanya terdiam dengan tenang mendengar laporan dari ketua tim mengenai jasad dari Helena. Bagi Yash, Helena pantas mendapatkan kematian yang mengenaskan seperti itu. Sebab perbuatanya yang diluar nalar dan hampir melenyapkan nyawa orang lain melalui para tangan kanannya sungguh tidak bisa ia maafkan.
"Lalu bagaimana dengan kondisi dari Jio Ron ?". Tanya Yash kepada Roni.
"Sebelum saya tinggal kemari. Jio tengah beristirahat tuan. Lukanya pun mendapat lima jahitan. Beruntung dia tidak sampai kehilangan banyak darah. Jio dirawat di rumah sakit kecil dekat dari daerah sini tuan". Lapor Roni kepada sang tuan mudanya.
"Selanjutnya tentang penembak misterius itu. Apa ada yang melihat atau mengenalinya ?". Tanya Yas kepada semua anggota yang hadir.
Kesemuanya pun hanya diam membisu karena tidak ada yang tahu satu pun dari mereka tentang si penembak misterius itu.
Yash pun hanya menghela nafasnya seraya memijit pelipisnya merasa lelah dan penat.
"Tidak bisakah masalah ini selesai dengan cepat. Penghianatan paman Bram, kondisi Raina, penyelidikan itentang keterlibatan ibu Yasmine dalam masalah ini, penembak misterius dan.....Keadaan gadis itu". Batin Yash berkata dengan lelahnya.
"Tuan ada yang ingin bertemu dengan anda". Lapor salah satu ajudan Yash.
Yash pun hanya melirik ke sang ajudan dan menghela nafas lalu menyuruh sang ajudan untuk memanggil orang yang ingin bertemu dengannya melalui isyarat kepala.
Sang ajudan pun mulai pamit untuk membawa seseorang yang menemuinya itu. Dan masuklah dua orang pria berwajah tampan dengan balutan jeans hitam , baju polos hitam dan jaket kulit hitam di sertai masker penutup mulut dan hidung warna hitam.
Yash yang merasa tak asing dengan salah satu orang diantara mereka pun mencoba untuk mempertajam ingatannya guna menebak siapa salah satu orang yang berada diantara kedua orang itu.
"Selamat pagi menjelang siang tuan ku". Ucap tegas salah satu orang yang ingin bertemu dengan Yash itu.
Dan akhirnya meskipun si pemilik suara itu membuat suaranya sedikit berbeda namu ingatan dan insting dari seorang Yash tidak pernah salah. Ia pun kini tahu siapa salah satu dari kedua orang itu.
Yash pun hanya mengangguk singkat memanggapi sapaan hormat dari kedua orang itu.
Marko Manuel". Ucap Yash dengan suara rendahnya.
Marko pun tersenyum kecut dibalik penutup mulutnya dan berfikir jika benar apa yang dikatakan orang-orang jika seorang Yash janganlah pernah dianggap remeh. Ingatannya tajam dan instingnya pun kuat seperti ayahnya.
"Aku hampir saja melupakanmu dalam misi ini". Ucap Yash dengan santai.
"Jadi ada dimana kau saat misi itu berlangsung. Aku mendengar dari Jio. Kau akan menyusulku tetapi aku tidak melihatmu ada di gerombolan". Ucap Yash dengan penuh selidik.
"Anda sudah nelihat saya tuan di antara dua pohon diatas bukit". Ucap Marko setelah melepas penutup mulutnya.
"KAU.....". Ucap Yash dengan penuh penekanan.
Marko pun mengangguk kepada sang tuan muda dengan berani dan angkuh tanpa rasa bersalah.
"Aku dan Erik teman ku adalah dua orang penembak misterius itu tuan". Ucap Marko dengan jujur.
"Saya memang sengaja untuk tidak bergabung dengan anda karena saya memiliki rencana lain dan ini pun sudah di setujui oleh tuan besar". Jelas Marko kepada Yash.
"Apa kau siap menerima konsekuensi dari yang kau lakukan tuan Manuel. Selain kau akan berurusan kembali dengan Yosa Maravin, kau pun juga akan berurusan dengan Tom Gerald ayah dari Helena". Ucap Yash memberitahu Marko akan konsekuensi yang akan ia hadapi kelak.
"Jika Tom Gerald sampai tahu kau yang menembak mobil putrinya sampai terbakar di dalam jurang bukan hanya hidup mu tetapi hidup dari ketiga adikmu akan terancam. Terlebih jika Yosa yang turun tangan". Ucap Yash lagi dengan pandangan mata tajam menusuk kearah Marko yang terlihat santai.
"Apa kau sanggup melindungi kedua adik kandung mu dan adik ipar mu ?". Tanya Yash dengan sungguh-sungguh.
"Helena pantas mendapatkannya. Wanita tak waras itu sudah membuat adikku terluka dan hampir mati. Tidak perduli itu sengaja atau tidak. Bagi ku nyawa harus dibayar dengan nyawa tuan. Dia membuat adikku berada diambang kematian maka aku pun bisa membuatnya berada dikematian". Ucap Marko dengan tegas dan penuh kebencian.
Yash pun diam-diam merasa senang atas ucapan Marko dan tindakannya. Karena mungkin jika Marko dan temannya tidak menembak mobil Helenna sampai terpental dan jatuh terbakar kedalam jurang. Bisa saja saat itu Helena berhasil lolos dari pengejarannya. Dan bisa dipastikan keselamatan adiknya terancam juga teror-teror itu pun akan datang menghantui adik kesayangannya.
"Selama identitasku sebagai si penembak misterius tidak terendus dan terlacak oleh mereka aku dan keluargaku aman tuan". Ucap Marko dengan santai.
"Tuan besar sudah menjanjikan perlindungannya kepada ku dan identitasku. Jadi aku sedikit lega untuk saat ini. Setidaknya aku tidak lagi memberikan mereka masalah dalam kehidupannya". Ucap Marko lagi dengan sedikit rasa sedih.
"Aku pun juga ingin membalaskan dendamku kepada mereka. Terutama Yosa Maravin. Lelaki sialan itu harus tunduk didepanku. Itu sebabnya mengapa aku berani mengambil konsekuensi ini". Jelas Marko lagi.
Yash pun mulai tersenyum bangga kepada marko dan mempersilahkannya untuk ikut bergabung di meja bundar.
"Kalian semua dengar itu terutama kau Sam. Jangan lanjutkan penyelidikan tentang dua penembak misterius itu. Dan untuk semua yang hadir. Rahasiakan hal ini dari siapapun". Perintah Yash kepada semua anggota.
"Baik tuan muda Yash". Ucap. kesemua anggota dengan hormat dan tegas.
"Kalau begitu saya mohon undur diri tuan muda Yash. Sekarang waktunya saya untuk bergantian menemani Mira yang masih keritis keadaannya". Ucap Marko meminta izin kepada Yash.
Yash pun memgizinkannya dengan satu kali anggukan dan Marko bersama temannya pun mulai pergi meninggalkan gedung tua itu.
"Mengapa keadaanya masih keritis juga. Tidak bisakah dia sadar dan melewati masa keritisnya". Batin Yash yang entah mengapa merasa gusar.
"Permisi tuan muda". Ucap seseorang membuyarkan lamunan Yash.
"Ekhm..Ya Sam ?". Ucap Yash sedikit terkejut atas sapaan dari Sam.
Melihat respon dari sang tuan muda. Sam pun mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya dan memberikannya kepada Yash.
"Kalung...?". Ucap Yash sedikit bingung.
"Kalung itu berkode AN111152MN tuan milih nona itu. Saya menemukannya tergeletak di atas lantai atas pada saat kejadian itu. Mungkin terjatuh dari saku celana Helena tuan". Jelas Sam kepada Yash.
"Biar aku simpan. Kerja yang bagus Sam". Ucap Yash dengan bangga kepada Sam sang pengawalnya.
"Ok untuk pertemuan kali ini saya sudahi dulu. Silahkan kalian kembali ke tempat masing-masing dan next time kita akan kumpul lagi guna menyelidiki Paman Bram dan juga ibu Yasmine atas keterlibatanntanya dengan Helena dan para Random X".
Ucap Yash mengakhiri pertemuan dan diskusi tentang masalah yang tengah ia hadapi.
Yash pun pulang ke mansion utama milik ayahnya guna mengistirahatkan badan dan fikirannya yang terasa lelah di dampingi dengan Sam dan Riena.
__ADS_1
Didalam mobil Yash pun tak henti-hentinya memandangi kalung berlian yang memiliki bandul berbentuk huruf L itu. Entah mengapa bagi Yash saat ini memandangi kalung milik Miranda Nur lebih menarik dari memejamkan mata yang terasa lelah itu.
Sam dan Riena yang melihatnya dari kaca depan mobil pun dibuat heran akan tingkah sang tuan mudannya itu. Memandangi kalung seperti tengah menemukan satu permainan baru.
Karena biasanya sang tuan muda akan tertidur dengan lelap saat kondisinya tengah merass lelah dan fikirannya terkuras.
Sesampainya di mansion utama Yash pun turun dan langsung masuk melalui pintu kedua yang terhubung menuju kamarnya langsung tanpa menemui ibu tirinya dan ketiga adik tirinya.
Sesampainya di kamar Yash pun disambut oleh beberapa pelayan wanita dan paman Gun sang kepala pelayan.
"Selamat sore tuan muda Yash". Ucap paman Gun seraya menunduk hormat.
Yash pun hanya mengangguk singkat lalu duduk pada kursi santai dekat ruang tidurnya. Paman Gun yang mengerti betul kebiasan sang tuan mudanya itu pun langsung menuangkan secangkir teh hangat untuk sang tuan muda.
"Silahkan tuan muda". Ucap paman Gun seraya menyerahkan secangkir teh hangat.
Yash pun menerimanya dan langsung meminumnya dengan penuh nikmat. Seakan beban yang ia rasakan sedikit berkurang Yash pun mulai merasa relax dikursi santainya.
"Anda terlihat lelah sekali tuan muda". Ucap paman Gun dengan sopan.
"Yeah begitu banyak sekali masalah yang harus diselesaikan paman Gun".
Ucap Yash dengan suara lelahnya seraya mengeluarkan kembali kalung berlian milik Mira yang tadi ia simpan di saku celananya.
Ia pun memandangi lagi kalung itu seraya membayangkan wajah Mira yang kala itu saat di pesta saat pertama kali ia bertemu Mira tanpa sengaja, ekspresi Mira yang terlihat tenang saat menghadapi Jimiy, dan perbuatan tak terduga Mira untuk memberikan Jimiy pelajaran. Membuat Yash sedikit tersenyum kala mengingatnya.
Hal itu pun sukses membuat paman Gun dan para pelayan wanita tertegun melihat senyuman manis khas orang yang tengah kasmaran yang diperlihatkan Yash tanpa sengaja itu. Sebab biasanya sang tuan muda itu kerap menampilkan sikap dingin dan cuek kepada siapapun terkecuali nona Raina.
Paman Gun pun mulai menerka-nerka kalung milik siapa kah gerangan yang mampu membuat sang tuan mudanya menjadi seperti itu.
Tak mau ambil pusing akan sikap tuan mudanya yang aneh. Paman Gun pun akhirnya menyuruh para pelayan untuk menyiapkan air hangat untuk mandi sang tuan mudan lengkap dengan aromaterapi dan yang lainnya guna membuat majikan mudanya itu senang.
Dan beberapa menit kemudian saat para pelayan sudah selesai dengan tugasnya, Yash pun masih setia dengan kalung itu bahkan raut muka yang terlihat seperti tengah berminat kepada kalung itu pun sukses membuat para pelayan menjadi ketar-ketir.
Yash yang masih setia dengan lamunannya terhadap seorang Miranda Nur pun mulai tersadar akan ekspresinya yang mungkin saja bisa berubah. Ia pun lalu menyudahi memandangi kalung itu dan melihat kearah paman Gun dan para pelayan wanita yang saat itu tengah menampilkan ekspresi lucu melihat sang tuan mudanya.
"Ekhem...Apa yang kalian lihat ?". Tanya Yash merasa sedikit canggung dan malu namun dibuat dengan ekspresi dingin.
Suara dingin yang Yash keluarkan pun sukses membuat para pelayan wanita menunduk takut dan Paman Gun tersenyum senang.
"Tida tuan muda, kami hanya menunggu perintah dari anda. Para pelayan sudah menyiapkan air untuk anda mandi tuan muda. Apa ada yang tuan muda butuhkan lagi ?". Ucap paman Gun memberi tahu sekaligus bertanya.
"Tidak...Keluarlah". Peeintah Yash dengan nada dinginnya.
Mendengar perintah dari sang tuan muda. Paman Gun pun akhirnya pamit undur diri di ikuti oleh para pelayan wanita.
Saat berada di dapur keempat pelayan wanita pun mulai berkomentar tentang tuan mudanya yang terlihat berbeda itu.
"Kalian merasa aneh ngga melihat tuan muda yang sekarang ?". Tanya pelayan 1.
"Iya, senyum-senyum sendiri kaya orang lagi jatuh cinta". Ucap pelayan 2 dengan senyum senangnya.
"Apa lagi tuuh yaa pas liatin kalung berlian yang berbandul hutuf L itu. Ya ammpun penuh minat banget kaya lagi ngeliatin cewe sexsi. Lututku sampai lemes rasanya". Ucap pelayan 3 dengan ekspresifnya.
"Engga mungkin itu milik nona Raina. Aku sering lihat ko nona Raina memakai kalung berlian tapi bandulnya bukan huruf L melainkan RA". Ucap pelayan 2.
"Terus tuh kalung milik siapa ya duuh penasaran nih aku. Siapa si orang yang sanggup bikin si tuan muda yang terkenal dingin itu jadi kaya gitu. Demagenya ya ampuuunnn". Ucap pelayan empat dengan ekspresi senang diikuti oleh ketiga pelayan yang lain.
Paman Gun yang saat itu tengah duduk di bar dapur dengan secangkir kopi hitamnya,pun ikut tersenyum dengan perkataan keempat pelayan itu. Ia pun membenarkan ucapan para pelayan yang melihat perbedaan dari tuan mudanya. Paman Gun merasa senang jika ada seseorang yang bisa mengalihkan pikiran tuan mudanya dari noba Raina sang adik tiri yang sangat dicintai oleh tuan mudanya.
Paman Gun sangat tahu betul perasaan sang tuan mudanya itu. Mengingat ia sudah puluhan tahun bekerja pada ayah dari tuan besar. bahkan ia pun tahu perjalanan hidup tuan besar yang penuh liku dan ketidak adilan dari kedua orang tuanya.
Sedangkan Yash yang kala itu tengah mandi dengan air dingin di bawah shower pun merasa kesal atas fikirannya yang selalu kepada Mira. Entah mengapa sejak ia keluar dari rumah sakit itu fikirannya selalu tertuju kepada gadis pemberani itu.
Terkadang ia pun selalu melampiaskan kesalnya kepada air yang mengalir pada shower. Sekuat apapun ia mengalihkan fikirannya kepada Mira justru semakin jelas bayangan Mira pada otaknya. Cara ia tersenyum dikala Mira dan Marko menemuinya dan keluarganya, dikala ia menghadapi Jimiy dengan raut tenang, dikala ia mengigit jari Jimiy dengan raut polosnya, dikala wajah canggungnya saat berhadapan dengan Yash, dikala dansa yang membuatnya bisa melihat wajah Mira dari dekat.
Bentuk wajahnya, lekuk tubuhnya, rambut cepolnya yang tercium wangi mint yang menyegarkan, dan bau tubuhnya yang memabukkan. Yash pun serasa ada sensasi tersendiri saat didekat Mira.
Dan semua hal itu membuat Yash terkadang merasa aneh dan bersalah. Yash fikir jika ia selalu membayangkan atau memikirkan Mira gadis yang baru ia kenal itu akan menghianati cintanya terhadap Raina. Yash tak ingin kisah cintanya seperti ayahnya yang selalu kehilangan orang yang ia cintai karena ketidak berdayaaanya terhadap kedua orang tuanya.
Bagi Yash yang namanya cinta itu harus diperjuangkan, dijaga dan dihormati. Ia tak ingin menjadi bodoh seperti ayahnya dulu. Yang harus kehilangan cintanya dan menyakiti cintanya yang lain.
Yash juga tak ingin semua penderitaan ibu dari Raina berpindah kepada Raina. Karena bagi Yash sudah cukup ia melihat ketidak adilan yang diterima ibu Rianthi dan Raina. Ketidak adilan dari kakek neneknya, dari ayahnya dan dari orang-orang yang menentang hubungan ibu Rianthi dan ayahnya.
Saat itu memang Yash masih tergolong muda tapi semua orang telah salah menilai masa kecil dan mudanya. Semua orang selalu beranggapan anak kecil itu tahu apa, hanya tahu main dan belajar. Padahal sejatinya seseorang yang paling bagus untuk mengerti dan mengamati adalah seorang anak kecil.
Jadi Yash pun sudah paham akan semua yang ia lihat dan ia dengar tentang masa lalu ayahnya dengan ketiga istrinya itu. Dan menurut Yash meskipun ibu Rianthi itu memiliki perbedaan keyakinan dan kasta yang rendah. Namun kasih sayangnnya patut diacungi jempol. Berbeda dengan ibu tirinya yang sekarang mama Yasmine yang selalu membuat masalah dan permusuhan. Sejak kecil ia pun memang membenci wanita yang bernama Yasmine.
Lelah dengan fikirannya yang tertuju kepada Mira. Yash pun menyudahi ritual mandinya. ia pun mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk dan berjalan hendak keluar. Namun langkahnya terhenti ketika ia mrlihat air hangat yang sydah mulai mendingin pada bathrub. Yash akhirnya pun mendesah lelah dan merasa bodoh untuk sore ini. Bida-bisanya ia mandi air dingin pada shower sementara tadi paman Gun sydah mengatakan jika air hangat untuk ia mandi sudah siap.
"Mata mu ditaruh dimana Yash, fikiranmu juga di tempatkan dimana". Lirih Yash dengan geram kepada dirinya sendiri.
Dengan rasa kesal dan dongkolnya ia pun keluar kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya dan mulai mencari pakaian santai untuk ia kenakan.
Setelah rapih ia pun tak lupa mengenakan penyegar wajah untuk menyegarkan kulit wajahnya juga memberikan efek dingin dan nyaman. Setelah itu ia pun menghubungi paman Gun melalui remot kecil yang tergeletak di nakas samping tempat tidur.
Setelah bunyi suara klik pada remot Yash pun mulai berbicara kepada paman Gun.
"Aku ingin istirahat paman. Jangan biarkan siapapun memasuki kamarku". Ucap Yash dengan nada tegas tanpa bantahan.
"Anda belum makan tuan". Ucap Paman Gun mengingatkan di seberang telfon.
"Aku sedang tidak lapar".
KLIKKK
Ucap yash dengan nada tanpa bantahan dan langsung memutuskan panggilan.
Dan Akhirnya Yash pun mulai merebahkan dirinya pada kasur besar lalu mulai terlelap tidur menuju kealam mimpinya.
Sementara paman Gun menggelengkan kepalanya atas kekeras kepalaannya sang tuan muda yang belum berubah itu.
__ADS_1
Setelah beberapa jam terlelap kedalam alam mimpi Yash pun mulai gelisah dalam tidurnya. Di mimpinya ia merasa berada di tempat asing dan ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Tak mau ambil resiko Yash akhirnya berlari dengan sekuat tenaga. Terdengar suara tawa besar seseorang yang seperti mengerikan ditelinga Yash. Juga rasa sesak yang mendalam akibat lari tak tentu arahnya membuat Yash hampir kehilangan kesadarannya dan terjatuh.
Uniknya saat Yash membuka matanya ia pun terpaku melihat Mira yang tengah duduk memangku kepalanya seraya membelai rambutnya dengan lembut.
"KAU....". Ucap Yash sedikit keras dihadapan Mira.
Mira pun hsnya tersenyum lucu dan meneruskan usapannya kembali di rambut Yash.
"Apa yang sebenarnya terjadi. Kau sudah sadar dari masa keritismu. Dan tempat apa ini ?". Ucap Yash bertubi-tubi kepada Mira.
Mira pun tidak menjawab ia hanya mengelus rambut Yash dengan lembut dan tatapan mata teduhnya. Merasa Mira tak kunjung menjawab, akhirnya Yash memegang tangan Mira yang ia gunakan untuk mengusap rambutnya. Dan cara itu pun berhasil. Mira mulai memandang Yash dengan serius.
Namun sialnya mata Yash tidak pernah bisa fokus untuk melihat wajah penuh Mira. Karena saat Yash melihat kedalam manik mata Mira seaakan Yash tengah berselancar dengan bebas di laut lepas, menyelam di laut dalam dan terjun bebas diatas tebing yang tinggi. Begitulah perasaan Yash saat melihat msnik mata Mira.
Dan saat Yash melihat bibir ranum dari Mira. Otak Yash pun mulai bertrafeling tak tentu arah. Ada rasa ingin untuk mencoba menikmati rasa dari bibir itu. Membuat Yash langsung memejamkan matanya mengusir pikiran buruknya itu.
"Tolong aku Yash". Ucap Mira seraya membingkai pipi kiri Yash dengan tangan kanannya.
"Apa yang bisa ku bantu". Ucap Yash bertanya dengan raut bingung.
"Rasanya sakit Yash, aku ingin menyerah. Aku ingin bersama kedua orang tuaku. Tetapi DIA tidak mengizinkan ku. DIA mengatakan jika kau mampu untuk membantuku menghilangkan rasa sakit ini". Ucap Mira dengan raut muka sedih.
"Kau kesakitan....Ya...Yang mana yang sakit. Apa yang membuatmu sakit Mira ?". Tanya Yash sedikit cemas.
Mira pun tidak menjawab kecemasan Yash dia hanya diam dengan raut murung seperti menahan sesuatu.
"Apa luka tembak mu yang sakit huum".
Tanya Yash lagi dengan lembut seraya memeriksa kedua sisi bahu bawah Mira. Namun Yash merasa aneh, sebab tak ada satu pun luka yang ada di bahu bawah Mira.
"Luka tembak itu...Dimana Mira, dimana luka tembakmu ?". Tamya Yash dengan bingung.
Namun perlahan tapi pasti tubuh Mira seakan berguguran dari bawah seperti daun yang turun di musim gugur dan sebagian tubuhnya seolah menghilang. Yash yang tak percaya dengan yang ia lihat pun berusaha menyentuh tangan kiri Mira. Namun seolah rapuh tangan Mira pun lebur dan menghilang.
" Apa-apaan ini". Ucap Yash dengan rasa frustasinya.
"Tolong aku...Tuam muda Yash". Lirih Mira dan mulai menghilang.
"AKU HARUS APA MIRA...KATAKAN....!!!". Teriak Yash dengan berbagai rasa. Cemas, aneh, tak masuk akal dan takut.
Saat tubuh Mira sudah menghilang sepenuhnya Yash pun mulai panik dan meneriaki nama Mira dengan begitu keras sampai ia terbangun sendiri di dalam tidurnya dan merasa linglung.
Ia pun melihat kesekeliling kamarnya dengan perasaan cemas dan keringat bercucuran yang seolah telah berlari maraton.
TOK TOK TOK
Suara ketukan pintu yang begitu keras membuat Yash sedikit terlonjak kaget dan menghela kesal saat tahu suara yang mengagetkannya berasal dari pintu kamarnya yang diketuk dari luar.
Dan masuk lah paman Gun dengan wajah paniknya kala ia tak sengaja mendengar teriakan sang tuan muda dari luar ruangan.
"Ada apa tuan muda. Apa ada masalah ?". Tanya paman Gun dengan cemas.
"Hanya mimpi buruk. Siap kan mobil dan bilang kepada Sam untuk ikut denganku". Perintah Yash kepada paman Gun dan di balasi anggukan oleh sang kepala pelayan.
Yash pun pergi ke kamar mandinya untuk membasuh wajah guna menyegarkan wajahnya juga fikirannya. Setelah itu ia pun keluar dari kamar mandi lalu mengambil jaket serta kalung berlian milik Mira dan memasukannya pada kantong celana jeans hitamnya.
Setelah merapikan sedikit rambutnya ia pun mulai keluar kamar dan berjalan menuju keluar rumah tempat dimana Sam da sopirnya menunggu.
Sayangnya saat ia berada di ruang makan Yash berpapasan dengan kakek nenek, ibu tirinya, ayahnya, Jasson serta Artaniel dan Attalarick. Yang tengah makan malam bersama. Mereka semua melihat kearah Yash dengan tatapan bingung.
"Kau sudah pulang Yash. Duduklah kita makan malam bersama". Ajak sang kakek kepada Yash.
Namun Yash tidak menghiraukan ajakan sang kakek ia justru melihat kearah lain mengacuhkan sang kakek.
"Kau mau kemana nak ?". Tanya sang ayah.
"Rumah sakit". Ucap Yash dengan singkat.
"Apa aku boleh ikut kak. Aku juga ingin menjenguk Raina". Ucap Jasson meminta izin.
"Sebaiknya besok saja. Aku tahu kau pasti tengah lelah dengan tugas kuliahmu. Dan kau berdua dengan pekerjaan kalian. Aku tahu mana yang benar-benar sibuk dan mana yang hanya berpura-pura sibuk". Ucap Yash setengah menyindir kepada seseorang.
Ucapan Yash pun sukses mengundang berbagai ekspresi dari semua orang. Ada yang tersenyum senang, ada yang ingin tertawa namun ditahan, ada juga yang merah padam karna merasa tersinggung namun tertahan.
"Kau belum memakan sesuatu setidaknya makanlah dulu sebelum pergi Yash. Jangan biarkan perutmu kosong". Ucap sang Nenek dengan penuh kelembutan.
Yash hanya membalas dengan senyuman jengah dan berkata.
"Aku bukan lagi anak kecil nenek. Saat aku merasa lapar aku pasti akan makan. Dan aku bukan boneka mu yang bisa kau kendalikan dan kau atur. Aku memiliki aturanku sendiri". Ucap Yash dan berlalu pergi meninggalkan semua orang yang berada disana.
"Anak itu benar-benar". Geram sang kakek merasa tak dihomati dan dihargai oleh Yash cucunya sendiri.
"Sispa dulu yang mendidiknya. Wanita yang tak ada etitut sama sekali yaa sifat jeleknya pun menurun". Ucap Yasmine dengan pongah.
Ucapan Yasmine pun sukses membuat Jonathan langsung hengkang dari tempat makan seraya membanting sendok dengan keras dan berlalu menuju keruang kerjanya.
Sementara ketiga anak Yasmine mulai menunjukan ekspresi tak sukanya terhadap ucapan sang ibu.
"Terus saja kau menghindar Jhon. Memang benarkan mendiang istri keduamu itu murahan dan tak ada etitutnya". Ucap Yasmine dengan bemcinya.
"Jaga bicaramu bu. Setidaknya orang yang kau bilang murahan itu lebih baik dari mu". Ucap Jasson dengan raut muka yang mulai merah padam.
"Benar, lagi pula kau seharunya berterima kasih kepadanya. Karena telah membesarkan anak-anakmu dengsn baik. Sementara kau yang hanya mengandung dan melahirkan kami. Ada dimama saat kami butuh kau. Di luar negri, bersenang-senangŲ kumpul-kumpul dengan teman, berfoya-foya dan apa lagi". Ucap Attalarick dengan bencinya kepada sang ibu.
"Jika boleh memilih, aku enggan berada di dalam rahimu dan dilahirkan oleh wanita sepertimu. Menjijikan". Ucap Artaniel lalu beranjak pergi ke dalam kamar disusu oleh Attalarick dan Jasson.
Ucapan dari ketiga anaknya pun sukses membuat Yasmine sedikit tertohok dan merasa kesal.
"Kalian berdua lihat kan pengaruh buruk yang perempuan murahan itu lakukan terhadap ketiga anak-anakku. Mereka semua tidak menganggapku dan menghormatiku. Haaahh sudah mati pun masih saja membuat hidupku tak tenang".
Ucap Yasmine dengan amarah yang meluap membuat kedua orang tua Jonathan hanya bisa diam membisu.
__ADS_1
"Kau benar Yasmine. Perempuan itu memang benar-benar membawa petaka. Dia berhasil mempengaruhi Jonathan dan Yash juga ketiga anakmu untuk tidak lagi menghormati kami sebagai kakek neneknya". Ucap sang kakek yang ikut merasa marah.
Mereka bertiga pun akhirnya terdiam di tempat masing-masing dengan perasaan marah dan dongkol yang kentara.