
Sore itu di kala hujan yang begitu deras. Tinggalah Mira yang tengah berdiri sendirian di halte bis. Salahnya yang menolak ajakan temannya Shila untuk pulang kerja bersama demi menunggu seseorang yang berjanji untuk mengantarnya pulang namin tak kunjung datang.
Saat tengah asyik memandang hujan bunyi suara ponsel yang bergema membuyarkan lamunan Mira. Dengan cepat pun Mira mengambil ponsel itu dan membukanya.
1 Message from Menejer Er.
"Mira, maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang. Martha memintaku untuk mengantsrnya pulang. Kamu sudah pulang belum. Jika sudah jangan lupa beristirahat, joka belum berhati-hati lah. Aku menunggu jawaban darimu".
Begitulah isi pesan dari sang menejer kepada Mira. Dan lagi-lagi Mira harus menghela lelah sembari bersandar pada tiang.
Memang siang itu Erlangga meninggalkannya di cafe dengan terburu-buru. Saat itu Erlangga di telfon oleh seseorang yang katanya ada meething penting yang ia lupakan dan tidak bisa di batalkan.
Erlsngga pun pamit kepada Mira dan berjanji akan menagih jawaban dari Mira saat pulang bersama nati saat usai bekerja. Tetapi sekarang semua itu hanyalah sebuah janji yang hanya dapat membiat Mira merasa sedih dan sedikit kesal.
"Belum menjalin hubungan saja rasanya sudah seperti ini. Bagaimana nanti kedepannya. Mampukah aku menjalaninnya dengan rasa yang seperti ini". Batin Mira berucap menimang jaeaban yang sudah mantap ia berikan tadinya kepada Erlangga.
Mira pun berdiri di pinggiran halte. dengan tangan kiri yang ia julurkan kearah hujan deras yang turun secara berjatuhan.
Perlahan Mira pun meresapi dinginnya air hujan dengan mata terpejam. Dan tersenyum beberapa menit kemudian saat sudah merasa tenang dan damai. Mira pun membuka mata dan melihat rintikkan air hujan dengan mata yang berbinar senang.
Dan tanpa Mira sadari semua yang di perbuat Mira diperhatikan dengan intes oleh sepasang mata tajam yang sedari tadi tak henti-hentinya memandang Mira.
Semua yang Mira lakukan dengan hujan mengingatkannya terhadap dua orang yang ia sayangi. Bahkan kisah cinta Mira dengan lelaki itu pun hampir mirip dengan kisah cinta salah satu orang yang ia sayangi itu. Entah apa yang membuatnya harus repot dengan masalah hidup wanita yang berdiri di depannya itu. Tubuh dan hatinya selalu saja ingin mengikuti kemana langkah gadis yang baru ia kenal beberapa minggu ini.
Seseorang itu pun akhirnya berdiri mendekat kearah Mira dan berdiri disamping Mira seraya menjulurkan tangan kanannya tepat berjejeran di samping tangan Mira dan menghadap kearah Mira yang menyampinginya.
"Bagaimana rasanya apa sudah tenang". Ucap seseorang itu tepat dibtelinga kiri Mira.
Mira pun sedikit terkejut dengan ucapan seseorang itu dan melihat ketangan yang terjulur sama dengannya. Merasa penasaran Mira pun akhirnya menengok kearah kiri guna melihat siapa seseorang itu. Orang lain kah atau orang yang membuat hatinya kesal.
"Tu...Tuan muda Yash". Ucap Mira dengan raut terkejut namun mata yang tersirat sedikit kecewa.
"Aku fikir dia....". Batin Mira sedikit kecewa.
Ya seseorang itu adalah si tuan muda leonard. Pada saat ia berada di dalam mobil peribadinya yang sedang melaju tak sengaja Yash melihat Mira yang tengah duduk sendirian di halte bis saat hujan turun dengan derasnya. Hati Yash pun merasa tergerak untuk berjalan mendekati Mira yang kala itu tengah melamun seorang diri.
Saat itu Yash yang mengenakan jaket kulit hitam, topi hitam dan maker hitam itu duduk disamping Mira yang anehnya saking asyiknya melamun memandangi rintikan hujan sampai-sampai tak menyadari jika ada seseorang yang duduk di sampingnya.
Yash juga sempat melihat pesan yang di baca Mira pada ponselnya dan dari situ Yash juga tahu seperti apa suasana hati Mira. Dan pantas saja jika Mira terlihat murung dan lesu.
"Kau suka hujan ?". Tanya Yash tepat di hadapan Mira.
Mira pun mulai menurunkan tangannya yang menjulur itu dan menunduk menghindari kontak mata yang terasa,sangat aneh dirasa oleh Mira. Mata jernih yang memiliki manik hitam legam itu terasa kelam untuk dinaungi.
"Kau tidak pulang ini sudah hampirvpetang tidak baik berada disini sendirian". Ucap Yash mengingatkan.
"Busvyang saya tunggu belum datang tuan muda". Ucap Mira memberi tahu.
"Apa kendaraan di dunia ini hanya ada bus saja. Masih ada kan kendaraan online. Kau bisa memesannya untuk pulang". Ucap Yash dengan nada serius.
Mira pun sedikit terkejut dan malu akan ucapan dari sang tuan muda. Ia pun membenarkan ucapan sang tuan mudan dan merasa bodoh akan sikapnya itu.
"Benar juga. Mengapa aku menjadi sebodoh ini". Batin Mira berucap.
Yash yang melihat tingkah Mira yang sedikit canggung dengan muka memerah itu pun merasa lucu dan sefikit tersenyum ringan.
"Dasar bodoh". Lirih Yash drngan nada gemas dan menjidak kening Mira sedikit keras.
"Aww !. Tuan kening ku". Ucap Mira mengaduh seraya mengusap keningnya yang sedikit memerah.
Yash yang melihatnya pun menjadi merasa bersalah dan reflek ikut mengusap kening Mira dengan lembut. Dan aksi saling pandang diantara mereka pun terjadi selama beberapa menit tak kala saat bunyi suara perut Mira yang berdemo meminta diisi itu.
Kruuuukk kuukkk !!!
Mira yang sadar akan ketidak maluan perutnya pun itu pun menunduk dengan malu dan memejamkan matanya merasa bodoh bercampur malu.
"Bunyi apa itu ?". Tanya Yash dengan raut menahan tawa setengah nati.
"Ituu...Bunyi perut saya tuan". Ucap Mira seraya menggigit bibir bawahnya dan menunjukan mata memelasnya.
Yash pun akhirnya tersenyum dengan tingkah Mira yang terkesan menyenangkan untuknya.
"Saya juga lapar. Kau tahu tempat makan yang enak di daerah sini ?". Tanya,Yash kepada Mira.
"Tempat makan terdekat... Enak...Kalau fersiku sih di rumah makan mang unang. Tapi apa itu cocok di lidah sang tuan muda". Batin Mira berucap seraya berfikir keras.
Yash pun menunggu dengan tangan yang menyilang di dada sembari memandangi wajah Mira yang terlihat berfikir itu.
"Sudah ?". Tanya Yash yang mulai tak sabaran.
"Itu..Di rumah makan mang unang tuan. Pilihan meninya banya dan enak tapi...". Ucapa Mira terpotong saat Yash berucap duluan.
"Ok let's go".
Ucap Yash tanpa bantahan seraya menggeret Mira dengan menaruh tangan kirinya di bahu kanan Mira. Mira yang sedikit terkejut itu pun melihatvkearah yash dan tangan Yash secara bergantian. Namun lebih banyak pandangannya terpaku pada wajah Yash yang terlihat rupawan dari samping.
"Masuk lah". Perintah Yash kepada Mira.
Mira yang tersadar akan keterpakuanya pun mulai memasuki mobil Yash yang terasa mewah dan elegan itu.
"Jalan". Ucap Yash kepada sang supir saat mereka sudah ada di dalam mobil.
Yash pun mulai membuka jaketnya yang basa dan menaruhnya di kursi belakang mobil. Sementara Mira duduk dengan anteng memandangi jalanan kita yang lengang sedikit setelah hujan.
"Nanti berhenti di rumah makan mang unang. Saya dan nona Mira akan makan malam di sana". Ucap Yadh kepada sang supir.
"Baik tuan muda". Ucap sang supir dengan hormat.
Di sepanjang perjslanan hanya ada keheningan diantara mereka. Mira dengan lamunannya dan Yash dengan laptopnya. Menyelesaikan pekerjaan yang tengah dibuatnya.
"Sudah sampai tuan". Ucap sang supir memberi tahu.
Yash pun mulai mematikan telfonnya dan melihat kesekeliling dengan baik.
"Benar, ini tempatnya ?". Tanya Yash kepada Mira memastikan.
"Benar tuan". Ucap Mira membenarkan.
Yash pun mulai turun dari mobil dengan memakai topi hitan di susul oleh Mira. Mereka pun memasuki rumah makan yang bergaya sunda dengan tatanan dekorasi yang apik dan rapih.
Mira pun meng hampiri meja menu yang sudah berdiri dua orang untuk melayani dan kebetulan sang pemilih rumah makan tengah berdiri di meja menu.
"Eh neng Mira, Kemana bae ko baru kelihatan". Sapa mang Unang dengan ramah dan suara khas orang sunda.
"Iya mang, lagi banyak banget pekerjaan soalnya". Ucap Mira tak kalah ramah.
"Tumben atuh neng datengnya berdua inih. Teman-temannya teh kemana. Kan biasanya da rame-rame atuh". Ucap mang Unang menanyakan teman-teman kerja Mira.
"Tadi Mira pulangnya belakangan Mang, terus kejebak hujan akhirnya laper mampir deh kesini heehee". Ucap Mira memberi tahu.
"Oohh, mangga atuh sok pilih mana bae yang neng sama pacarnya suka. Euuhh mamang buati yang super enak khusus buat neng cantik". Ucap mang Unang sedikit merayu.
Mira pun sedikit terkejut dan tak enak dengan kata-kata mang Unang tentang fikirannya yang menganggap Mira dan Yash adalah sepasang kekasih.
"Disini yang sepesial apa Mang ?". Tanya Yash mencairkan suassna seraya membuka masker.
"Uluh-uluh neng, pacarnya cakep pisan. Cocok lah kalau sama neng Mira heeehhh. Banyak jang menu sepesialnya disini. Ada ikan bakar sama ayam bakar madu, Ada gulai kambing, sate kambing dan sate sapi, sate taican, bebek goreng, pindang iga sapi, Sup babat, ceker mercon, Kepiting dan udang saus padang sama saus asam manis, mangga dipilih jang".
Ucap mang Unang menyebutkan menu-menu sepesial yang sering kali habis dan banyak orang pesan.
"Saya pesan nasinya satu bakul dan lauknya saya mau ayam bakar madu, kepiting dan udang saus asam manis yang mediun ya dan minumnya saya pesan es teh manis dua gelas". Pesan sang tuan muda dengan santainya membuat Mira sedikit terkejut dibuatnya.
__ADS_1
"Itu apa bakalan habis ya ?". Batin Mira dengan muka melongonya.
"Kamu mau pesan apa ?". Tanya,Yash kepada Mira.
"Han ap...Apa..Oooh Sa saya sate taican sama ceker mercon saja mang". Ucap Mira menujukan pesanannya.
"Siaaap lah, ditunggu ya neng ya aa mangga cari tempat duduk yang pas dan enak". Ucap Mang Unang dengan ramah.
Mira pun mencari sport tempat duduk yang nyaman namun Yash tiba-tiba menghentikan jalannya dan menghadap kearah Mira.
"Di atas kayanya enak ayo". Ucap Yash dan langsung menarik tanga Mira.
Sesampainya di atas Yash pun merasa puas dengan instingnya. Benar saja di atas tempat makannya lebih apik dan tenang. Ada banyak lampion warna warni dan tempatnya sedikit terbuka dengan meja makan kota yang pendek yang hanya dapat duduk di bawah seperti meja makan orang jepang. Disertai dengan lilin aromaterapi menambak kesan rapi dan romantis.
Yash pun mulai mmenarik Mira lagi untuk membawanya duduk di tempat duduk yang berada di ponggiran yang bisa melihat kerlap ketlip lampu kota dan kendaraan yang berlalu lalang.
Mira pun duduk di pojokan disusul yash yang duduk di samping Mira. Mereka pun saling diam dengan Mira yang memandangi kerlap-kerlip lampu kota yang terkesan indah.
"Sering makan disini ya ?". Tsnya Yash memulai pembicaraan.
"Iya tuan bersama keempat teman kerja saya". Ucap Mira.
"Yang menjenguk mu di rumah sakit ?". Tanya Yash memastikan.
"Iya tuan". Ucap Mira dengan tersenyum.
"Mereka seperti menyayangimu. Kau beruntung memiliki teman-teman seperti mereka". Ucap Yash dengan merenawang jauh.
Mira pun sedikit merasa,aneh akan ucapan sang tuan muda yang seperti tengah memendam seduatu itu.
"Anda pun juga memiliki banyak teman kan. Nona Raina pun pasti kebih banyak temannya dari pada saya. Sebab nona Raina itu sangat ramah, ceria dan cantik". Ucap Mira dengan nada senang.
Yash yang mendengarnya pun hanya tersenyum singkat. Andai Mira tahu seperti apa hidup sebagai seorang tuan muda dan nona muda.
Selain di tuntut dengan kedisiplinan mereka pin memang di kelilingi dan didekati oleh orang banyak namun dari sekian banyak orang hanya,satu yang tulus dan itu pun sangat langka.
"Aku hanya memiliki dua orang teman. Itu pun yang satu menghilang yang satunya lagi sangat gila kerja. Aku dan kedua orang sahabatku adalah orang-orang yang terlahir malang". Ucap Yash dengan tatspan sendu.
"Vikram Davis adalah anak dari mafia ternsma. Hidupnya selalu dibayang-bayangi oleh kematian. Sementara Arnando Stevan anak dari orang terpandang yang gila akan hormat dan junjungan. Hidupnya selalu dibayang-bayangi oleh rasa kurang puas dan cemas. Sementara Aku sendiri menyandang gelar Leonard yang paling aku benci. Hidup ku selalu dibayang-bayangi akan permusuhan dan saling melenyapkan. Aku di kelilingi oleh orang-orang palsu dan memuakan. Terlebih oleh seseorang yang sudah ku anggap sebagai pamanku sendiri". Ucap Yash yang tanpa terasa mengucapkan segala unek-uneknya kepada Mira.
"Semengerikan itu kah hidup mereka". Pikir Mira tentang hidup mereka.
"Sebenarnya, Vikram sahabt ku adalah kekasih dari calon tunangan menejer itu. Siapa namanya eee ?". Ucap Yash sedikit tak ingat.
"Nona Martha". Ucap Mira dengan raut terkejut.
"Ya dia adalah kekadih dari Msrtha. Hubungannya tak di setujui oleh kedua orang tua Martha. Sebab yaaah orang tua mana yang mau menikahkan anannya dengan orang biasa seperti Vikram". Ucap Yash dengan tersenyum sinis.
"Loh bukannya tuan Vikram itu...". Ucap Mira sedikit ragu.
"Seorang tuan muda sama seperti ku".
Ucap Yash menyambung kata-kata Mira yang sempat tak jadi diucapkan. Mira pun mengangguk membenarkan ucapan dari Yash itu.
"Tidak banyak yang tahu tentang Vikram. Identitasnya selalu di sembunyikan guna memberi keamanan untuknya. Mereka hanya tahu jika Vikram Davis hanyalah seorang penyanyi cafe yang hidup serba sederhana dan terlihat gembel". Ucap Yash dengan tersenyum jengah divakhir kalimat.
"Berarti nona Martha juga tidak tahu siapa sebenarnya kekasihnya itu ?". Ucap Mira bertanya
"Bisa jadi". Ucap Yash dengan santainya.
"Kau sendiri, apa kau benar-benar mencintai menejer itu ?". Tanya Yash dengan santainya seraya mengeluarkan ponselnya dan mengecek notif.
Mira yang ditanyakan seperti itu pun mulai canggung dan terheran-heran akan pertanyaan sang tuan muda.
"Bagsimana dia bsa tahu ?". Pikir Mira dalam hatinya.
Tak ada jawaban dari Mira Yash pun mulai memandang Mira dengan serius. Tatapannya pun menusuibkedalam manik mata Mira. Membuat Mira serasa tengah menghadapi orang yang tengah cemburu dan itu terasa aneh untuk Mira.
"Ekhem..Ya saya memang menyukainya tuan". Ucap Mira dengan jujur.
Membuat Mira yang ditanyai seperti itu drngan ekspresi dan lirikan sesadis itu benar-benar seperti Mira tengah ketahuan selingkuh dari Yash.
"Ekhem...Ya tuan dia mencintaiku dan tadi siang dia memintaku untuk menjalin hubungan secara rahasia". Ungkap Mira dengan raut seperti kucing yasng ketshuan mencuri ikan.
"Lalu kalian menjalaninya ?". Tanya Yash dengan tegas.
"Emm...Saya belum mengatakan apa pun tuan". Ucap Mira seraya bergerak-gerak gelisah.
"Kau itu wanita dewasa Mira. Saya yakin sikap dan fikiran mu pun juga sangat dewasa. Jawab lah yang terbaik untuk dirimu dan hidupmu kedepannya. Jangan sampai kau menyesal atas jawabanmu itu". Ucap Yash dengan nada serius itu.
"Karena aku tidak ingin kau bernasib sama seperti ibu Rianthi. Mencintai seseorang yang tidak di setujui oleh keluarga seseorang itu. Terlebih kedua orang tuanya. Dan aku menyaksikan sendiri seperti apa hidupnya". Batin Yash dengan menatap Mira dengan sendu.
"Mira..". Panggil Yash kepada Mira.
Sementara Mira yang merasa sang tuan muda menyebut namanya pun mulai menengok kearsh Yash dan sedikit terpaku oleh mata kelam sekelam malam milik Yasha.
"Hidup lah dengan seseorang yang mau berjuang secara terbuka untuk mu. Yang sanggup menerjang rintangan seberat apapun itu dan mampu melindungimu dengan baik". Ucap Yash dengan tatapan seolah memohon.
Mira pin sedikit tersentuh oleh perkataan sang tuan muda dan mulai berfikir kemvali mengingat kembali seperti apa sikap Erlangga kepadanya.
"Permisi tuan, nona, pesanan anda sudah siap". Ucap sang pelayan wanita dengan ramsh.
"Atur saja di meja". Ucap Yash yang madih setia memandang Mira dengan intens.
Sementara Mira itu mengatur semya makanan. memisah antara pesanannya dan pesanan sang tuan muda.
"Selamat menikmati Tuan, nona. Kami permisi". Pamit sang pelayan dengan sopan
"Iya, terimakasih". Ucap Mira dengan tersenyum ramah.
Mira pun menengok kearah sang tuan muda yang tak kunjung mengambil makanan yang tersedia di meja. Dan ternyata Yash tengah bermain ponsel dengan serius.
"Tuan, anda tidak makan ?". Tsnya Mura mengingatkan.
Yash pun hanya memandang semua makanan tanpa bergerak sedikit pun. Membuat Mira seketika berinisiati bertsnya terlebih dulu.
"Mau saya,ambilkan tuan ?". Tanya Mira menawarkan diri. Membuat yash langsu berbinar seketika dan mengangguk singkat.
Mira pun mengambilkan satu sendok nasi kearah piring.
"Segini cukup ?". Tanya Mira memastikan.
"Tambah dua lagi". Pinta Yash kepada Mira. Mira pun menambahkan dua sendok nasi kearah piring Yash.
"Lauknya mau ambil sendiri atau diambilin ?". Tanya Mira.
"Ambilan saja". Ucap Yash dengan santai.
Mira pun mengambilkan satu potong ayam bakar madu bagian paha kepiring Yash. Serta udamg saus asam manis.
"Anda sangat menyukai udang ya tuan". Tanya Mira dengan terkekeh seraya mengupaa kulit udang yang hendak Yash makan.
"Dulu mendiang ibu sambung ku sering memasakanku udang saus asam manis, udang saus tiram, dan udang goreng tepung. Dia selalu menemaniku makan dan selalu membantuku untuk memisahkasn kulit udang dari dagingnya. Karena aku tidak suka kulit udang yang selalu terasa menyangkut di tenggorokan ku jika aku memakannya". Jelas Yash dengan tersenyum sumbang di akhir kalimatnya.
Mira yang mendengarnya pun menghentikan aktifitas mengupas kulit idangnya dan merasa jika mungkin yang dipakuoannya mengingatkan Yash akan mendiang ibu sambungnya.
"Kenapa berhenti ?". Tanya Yash kepada Mira.
"Tidak tuan, tak apa". Ucap Mira lalu mengupas kembali udang itu.
Setelah selesai akhirnya Mira dan Yash makan dengan khidmat di tempat itu. Tak jarang merekapun saling mencicipi pesanan yang mereka pesan masing-masing dan mengobrol dengan nyamannya.
__ADS_1
Satu jam kemudian mereka pun sudah menghabiskan semua makanan yang mereka pesan tanpa sisa sedikit pun.
Setelah itu mereka pun turun dari lantai atas rumah makan untuk membayar semua makanan sekaligus pulang kerumah.
"Pulangnya biar aku yang antar dan semua makanan tadi biar aku yang bayar". Ucap Yash dengan tanpa bantahan.
"Terima kasih tuan". Ucap Mira dengan sopan dan sedikit canggung.
"Berapa semuanya mang ?". Tanya Yash dengan mengeluarkan dompet tebalnya yang simpel dan elegan merek Hugo Boss keluaran jerman.
Mira yang melihatnya pun sedikit terpaku dengan keunikan dompet dari sang tuan muda.
"Semuanya jadi tiga ratus lima puluh ribu jang". Ucap mang Unang dengan sopan.
Yash pun mengambil uang empat ratus ribuan dan menyerahkannya kepada mang Unang. Memang uang tunai yang Yash simpan di dompet tidak lah banyak. Ia hanya menaruh uang lima ratus ribu dengan tiga buah kartu kredit di dalam dompetnya yang berwarna black, gold dan silver.
"Nuhun jang, sebentar ya mamang ambil kembaliannya". Ucap Mang Unang seraya membuka laci kasir.
"Tidak usah mang, ambil saja kembaliannya. Masakan mang unang enak saya suka. Lain waktu saya pasti akan mampir lagi kemari".
Ucap Yash dengan tersenyum ramah. Membuat Mira dan beberapa pelayan wanita di rumah makan mang Unang pun terpesona akan swnyuman Yash.
"Terimakasi atuh jang, Sudah ganteng, baik pula eleh sama kaya neng Mira yang cantik". Ucap Mang Unang memuji.
Mira yang dipuji oleh mang Unang pun sedikit tersipu malu. Memang pemilik rumah makan ini selalu saja berlebihan.
"Pamit ya Mang". Ucap Yash dan Mira berbarengan.
"Mangga jang kasep, neng cantik". Ucap mang Unang mempersilahkan.
Saat sudah berada di luar dan tepat di depan mobil luminus milik Yash. Sang supir pun dengan sigap membuka pintu mobil secara otomatis. Dan Mira pun masuk duluan kedalam mobil atas perintah Yash. Baru setelahnya Yash yang menyusul untuk masul kedalam mobil.
"Jalan pak. Kerumah Mira ya". Ucap Yash memberitahu kan.
"Baik tan muda". Ucap sang supir dengan hormat.
Menjadi supir dari sang tuan muda seperti Yash memanglah tak mudah. Kadang jika tidak pintar-pintar mengambil tindakan. Bisa-visa besoknya ia sudah tidak diperbolehkan lagi menjadi supir sang tuan muda. Oleh karena itu, selain harus tahu jalan dan cara mengendarai mobil dengan benar ia pun harus selalu terhubung dengan jio sang asisten pribadi tuan Yash guna menannyakan sebuah tujuan yang sang supir tidak tahu atau belum tahu.
Contohnya seperti rumah makan mang unang ia harus menggunakan aplikasi google maps dulu untuk mencarinya sembari mengendarai mobil. Begitupun dengan rumah nona Mira. Dari tempat makan itu sang supir sudah berinisiatif duluan dengan mempertanyakan alam rumah nona Mira atau tempat yang di tinggalinya. Beruntungnya juga sang supir tahu jika nama wanita cantik itu adalah nona Mira. Jika tidak ia pun harus menanyakan lagi kepada tuan Jio.
Akhirnya mereka pun memasuki mobil dan pulang menuju rumah Mira. Dalam perjalanan yang sunyi setelah hujan. Mira pun tertidur di dalam mobil Yash. Ia tak sengaja menyenderkan kepalanya di bahu kanan Yash. Membuat Yash yang di senderi pun melihat kearah Mira yang tengah terpejam.
Bulu mata yang lentik akibat maskara yang dikenakan serta riasan make up yang natural membuat Mira terasa semakin cantik dipandang dari dekat.
Yash pun tak henti-hentinya memandang bibir ranum Mira yang terlihat menarik dimata Yash. Yash pun semakin mendekatkan wajahnya kearah wajah Mira namun saat beberapa centi lagi suara sang supir membuat Yash tersadar akan perbuatannya yang tanpa sadar hendak mencium anak orang.
"Sudah sampai tuan". Ucap sang supir dengan sopan.
"Ekhem...Ya". Ucap Yash seraya berdehem menormalkan rasa terkejutnya itu.
Sang supur pun mulai membunyikan klakson mobil agar pintu di buka oleh satpam rumah yang Mira tinggali. Namun di rumah Mira tidak memiliki satpam. Hanya satu pembantu yang hanya bekerja di pagi sampai sore. dasn tukang kebun saja yang kerjanya pun sama dari pagi sampai sore.
Akhirnya sang supir pun turun dari mobil untuk membuka sendiri pintu gerbang yang tak terkunci itu. Dan kembali masuk kedalam mobil guna melajukan mobilnya untuk masuk kepelataran rumah yang Mira tinggali.
Setelah sampai sang supir pun akhirnya membukakan pintubotomatis pada mobil Yash dan Yash pun menciba untuk membangunkan Mira dengan lembut seraya menepuk pielan pipi gembul Mira.
"Miranda, bangun lah. Kita sudah sampai". Ucap Yash kepada Mira.
Namun seolah sebuah mantra yang apik Mira pun bukannya bangun malah semakin tenang terjatuh kedalam alam mimpi. Nembuat Yash lagi-lagi merasa gemas dengan Mira.
"Tidurmu lelap sekali". Lirih Yash dengan sedikit terkekeh.
"Hhhh, baik lah tak ada cara lain". Ucap Yash dan lalu menggendong Mira di drpan ala bridal dan berjslan menuju pintu.
Sang supir yang sigap pun akhirnya mengikuti Yash dan membantu Yash untuk memencet bel rumah yang terletak di samping pintu bagian atas.
Setelah beberapa kali bel berbunyi akhirnya ada seseorang yang membuka pintu dengan tergesa.
"Ya siap...".
Ucap seseorang dengan sedikit terkejut dan tidak melanjutkan kata-katanya setelah melihat Mira yang tengah di gendong oleh Yash.
"Selamat malam nona Mayya". Sapa Yash dengan sopan.
"Ma..malam tuan muda. Ke..Kenapa dengan Mira tuan ?". Tanya Mayya dengan raut khawatir.
"Ketiduran. Tadi kami makan malam bersama. Dan saat perjalanan pulang Mira tertidur di dalam mobil". Ucap Yash menjelaskan.
"Bisa,tolong tunjikan dimana kamarnya. Biar saya yang membawanya". Ucap Yash kepada Mayya.
"Oh, kemari tuan". Ucap Mayya berjalan menunjukan letak kamar Mira.
Yash pun mengikutinya. Ia pun menaiki tangga lantai dua dan berbelok ke kiri pintu berwarna putih adalah kamar Milik Mira berada.
Mayya dan Yash pun mulai memasuki kamar Mira yang bernuansa elegan dan rapih. Ia pun menidurkan Mira pada tempat tidur. Sementara Maya melepas sepatu fantofel yang di kenakan Mira dan menyelimutinya.
"Dia pasti sangat kelelahan". Ucap Mayya dengan raut khawatir.
"Sejujurnya saya sangat enggan membiarkannya bekerja di butik itu. Madam itu selalu saja memberatkan pekerjaan Mira. Dia selalu pulang dengan raut lelah. Saya merasa tak tega jika melihatnya seperti ini". Ucap Mayya mengelukan kecemasannya terhadap Mira.
Yash pun mendengarkan dengan baik ungkapan Mayya sebagai seorang kakak. Ia pun sangat paham akan kecemasan Mayya. Karena ia pun juga seorang kakak yang juga memiliki seorang adik perempuan yang sangat ia cintai.
Saat keduanya saling diam Mayya pun mendengar suara Lili anak keduanya yang menangis mungkin terbangun mencarinya.
"Saya permisi dulu tuan, anak saya menangis". Ucap Mayya berpamitan dan berjalan keluar setelah Yash menganggukan kepalanya.
Yash pun melihat-lihat kesekeliling kamar Mira yang tertata dengan rapih. Rak buku novel bergenre campur, meja rias dengan berbagai macam alat rias,dan perawatan, rak sepatu dan sendal serta kursi duduk berbentuk ayunan berwarna hijau almond yang berada,di samping jendela kamar Mira.
Yash pun melihat foto Mira bersama keluarga Royan dan Mayya, foto bertiga Mira dengan kedua kakaknya juga foto Mira yang tengah berpose sendirian. Yash pun memandang foto itu dengan lekat dan intens.
Setelah puas memandangi foto Mira, Yash pun mulai mendekati Mira dan menyelimuti Mira sebatas leher dan mencium keningnnya dengan lembut. Entah lah mengapa ia memperlakukan Mira sesepesial ini. Yang jelas memang saat ini tubuh dan hatinya selalu saja merespon Mira dengan baik.
Setelah itu Yash pun akhirnya keluar kamar Mira dan menutupnya desngan pelan. Saat Yash berbalik ternyata dari ujung tangga atas Royan sudah melihatnya keluar darivkamar Mira.
Dengan tatapan sedikit terkejut Royan pun akhirnya mendekat kearah Yash dan menyapanya dengan sopan.
"Selamat malam tuan muda Yash". Ucap Royan dengan sedikit raut dingin.
"Selamat malam Tuan Rahardian. Anda baru pulang bekerja ?". Tanya Yash sedikit basa-basi.
"Ya tuan muda". Ucap Royan membenarkan.
"Loh mas sudah pulang ?". Tanya,Mayya dari ujung pintu kamar Lili.
Yash dan Royan pun menengok kearah Mayya denga tatapan mading-masing. Yash dengan tatapan santai sedangkan Royan menatap Mayya dengan menuntut penjelasan.
"Tadi Mira diantar pulang oleh tuan muda Yash Mas. Mereka makan malam bersama dan Mira ketiduran di mobil. Tahu sendirivkan kalau Mira sudah kelelahan pasti susah untuk dibangunkan. Dan akhirnya tuan Yash yang membawa Mira ke kamar. Tadi ditemani saya kok Mas, tapi Lili menangis jadi saya tinggal sebentar". Jelas Mayya dengan detail krpada sang suami.
Membuat Royan sedikit bernafas lega di tempat dan mengutuk habis-habisan fikiran buruknya tentang istri dan adik iparnya.
"Kalau begitu saya ucapkan terima kadih tuan atas kebesaran hati anda kepada adik ipar saya". Ucap Royan dengan sopan dan hormat.
Yash pun hanya tersenyum maklum dan mengangguk ringan.
"Saya pamit pulang dulu tuan Rahardian. Selamat beristirahat". Ucap Yash dengan sopan.
"Biar saya antar tuan muda". Ucap Royan lalu berjalan beriringan menuju luar rumah.
"Sebaiknya anda memperkerjakan seorang satpam tuan Rahardian. Agar dapat memudahkan anda krdepannya". Ucap Yash menadihati saat sudah berada di luar rumah.
"Terima kasih tuan muda atas sarannya. Aksn saya fikirkan nanti". Ucap Royan dengan sopan.
__ADS_1
Yash pun hanya mengangguk atas ucapan dari Royan dan berjalan memasuki mobilnya dan nelaju denga sedang.
Sementara Royan mulai mengunci gerbang seraya menimang perkataan dari Yash. Sebagai seorang yang pencemburu berat. Seorang Royan tidak pernah ingin ada orang asing yang tinggal di rumahnya termasuk lelaki. Makannya para pekerja pun hanya bisa bekerja pada pagi sampai sore hari saja.