Luluh

Luluh
Epusode 55


__ADS_3

Sore harinya Mira pun terbangun dan merasa terkejut saat membuka mata yang terlihat di hadapannya adalah wajah damai dari seorang Yash yang terlihat tenang. Mira pun memandangi wajah Yash dengan sedikit senyuman di wajahnya.


Ia pun dengan tiba-tiba menelusuri wajah Yash dengan tangannya. Dari kedua alis tebal, kedua mata, pipi, hidung dan bibir. Kesemuanya terlihat sempurna. Dan pada saat tangan Mira menyentuh bibir Yash. Tiba-tiba saja Yash mengecupnya dengan mata yang masih terpejam. Membuat Mira terkejut dan langsung menarik tangannya dengan cepat. Yash pun tersenyum dengan manisnya dengan mata yang masih terpejam.


"Sudah puas mengaguminya". Ucap Yash dengan tersenyum dan kali ini membuka matanya.


"Se...Sejak kapan anda terbangun tuan ?". Tanya Mira gugup.


"Huummh....Sejaak....Aku tak tahu. Sebab aku tidak tidur siang ini. Hanya memejamkan mata saja". Ucap Yash dengan tersenyum manis. Membuat Mira langsung mengerucutkan bibirnya merasa kesal.


"Itu artinya anda berpura-pura tidur". Ucap Mira dengan kesal.


"Sudah berapa kali ku bilang. Panggil aku Yash. Aku tidak suka kau memanggil ku dengan sebutan anda, tuan, tuan muda. Kau kan kekasih ku". Ungkap Yash dengan jujur


"Aaa...ahh, apa. Kekasih, sejak kapan ?". Tanya Mira bingung.Yash pun langsung memeluk Mira dengan gemas.


"Memangnya kau tidak ingin menjadi kekasihku ?". Tanya Yash sesikit menggoda.


"Aku sudah memiliki banyak calon suami tuan. Anda kalah cepat". Ucap Mira mengelak.


"Hmmm begitu ya. Lalu sebagai calon istri banyak orang. Mengapa kau berada di satu ranjang dengan lelaki lain". Ucap Yash dengan alis terangkat sebelah.


"Itu karena kau yang tidak memperbolehkanku berada di kamar pasienku". Ucap Mira sesikit kesal.


"Memang. Karena aku ingin berdua dengan calon istri orang". Ucap Yash menggoda. Membuat Mira langsung memukul pelan lengan kanan Yash dan beranjak hendak bangun dari tidurnya.


Yash pun tidak tinggal diam. Ia menahan tangan Mira hingga membuatnya terduduk dengan kesal. Yash pun langsung terduduk dari tidurnya dan mendekat kearah Mira lalu mengalungkan tangan kanannya di area dada Mira lalu menaruh kepalanya untuk bersandar di pundak kiri Mira. Yash pun memeluk Mira dari belakang dengan posisi duduk.


Mira pun langsung terdiam dengan raut terkejutnya. Merasakan debaran jantung yang sangat menggila menurutnya dan sedikit membuatnya sesak.


"Siapapu mereka, aku tidak akan perduli. Mau mereka itu kekasihmu, tunangan mu, calon suamimu bahkan jika mereka menjadi suamimu pun aku tidak perduli. Karena aku mencintaimu. Kau milikku dan selamanya akan menjadi milik Aryasha Leonard". Ucap Yash tepat di telinga kiri Mira dan menciumi pipi kiri Mira dengan lembut.


"Begitupun dengan hati mu. Dengan siapa pun itu. Hati dan fikiranmu tetap tertuju padaku. Karena kita itu satu. Dan berhentilah untuk terus mengelak. Sayang". Ucap Yash lagi dengan lembut dan langsung mencium bibir Mira dengan lembut dan dalam.


Mira pun tidak dapat memungkirinya. Karena sekuat apapun ia mengelak. Tetap hati, tubuh dan fikirannya tidak bisa berbohong. Dia memang sangat menginginkan Yash.


Mereka pun melepas ciumannya setelah merasa kehabisan nafas. Dan mereka pun saling tersenyum setelahnya. Yash pun semakin erat memeluk Mira dengan lembut. Biar lah hari ini berjalan begitu indah. Sebelum hari berganti menjadi esok. Dan entah apa yang akan mereka hadapi di hari esok.


Namun ketenangan dan kedamaian mereka terusik saat mendengar keributan di luar pintu ruangan. Mira pun memandang kearah Yash yang terpejam dengan kesalnya.


"Sudah saatnya kita menghadapinya Mira". Ucap Yash dengan kata-kata yang Mira tidak mengerti.


"Menghadapi. Siapa ?". Tanya Mira bingung.


"Kau akan tahu nanti". Ucap Yash dengan tersenyum misterius.


BRAAAK.....BRAKKK....BRAAKK !


Sebuah gebrakan dari luar pintuyang begitu keras pun sukses membuat Mira terjengit kaget. Yash pun langsung mengambil ponselnya dan menelfon Jio yang berada di luar pintu.


"Biarkan mereka masuk". Ucap Yash setelah panggilan telfonnya di jawab oleh Jio.


Dan tak lama kemudian masuk lah Maya dengan raut merah padam dan menatap marah kearah Yash dan menatap kecewa kearah Mira. Yang terlihat duduk saling berpelukan di satu ranjang.


"Kak Maya". Ucap Mira yang hendak turun dari ranjang. Namun di tahan oleh Yash.


"Begini caranya seorang pria terhormat seperti anda. Menahan seorang gadis yang sudah jelas memiliki beberapa calon suaminya". Ucap Maya dengan garang namun masih tetap terlihat cantik.


"Apa salahnya. Toh Mira juga calon istri ku dan aku juga calon suaminya". Ucap Yash santai.


"Heh Mimpi saja. Aku tidak sudi jika kau yang menjadi suami Mira. Ingat itu". Ucap Maya dengan mengacungkan telunjuknya kepada Yash.


"Ya. Aku akan selalu mengingatnya. Dan akan ku anggap itu adalah sebuah tantangan untuk ku. Camkan itu". Ucap Yash yang balik menuding Maya dengan jari telunjuknya. Dan aksi saling tatap sengit antara Maya dan Yash pun terjadi.

__ADS_1


Mira yang melihatnya pun semakin bingung di buatnya. Satunya adalah kakanya seseorang yang sangat ia hormati dan sayangi. Dan satunya adalah seseorang yang ia cintai dan harapkan dalam hidupnya.


Maya pun langsung menyudahi tudingannya dan berjalan cepat kearah Mira lalu menarik tangan Mira untuk turun.


"Ayo Mira kita pulang. Kau ini sedang menjalani perjodohan dan seleksi untuk para calon yang sudah kamu pilih. Kamu jangan membuat kaka malu. Cukup kali ini kamu membuat kakak kecewa Mira". Ucap Maya dengan tegas. Membuat Mira langsung merasa bersalah dan bingung. Ia pun beberapa kali menengok kearah Yash yang sedari tadi duduk diam memperhatikan.


"Ayo pulang Mira !". Seru Maya seraya menyeret Mira dengan kuat.


"Jika kau marah. Marahlah padaku. Jangan kau lampiaskan ke adik mu. Ingat dia itu saudari kecil mu. Dan dia juga sedang tidak baik-baik saja". Ucap Yash dengan tegas dan tajam seraya menarik Mira yang di seret oleh Maya kedalam pelukannya.


Tak berapa lama Royan pun datang dan mencoba menenangkan sang istri dan sedikit berdwbat kecil di pojokan ruangan.


"Yash...". Lirih Mira seraya mencengkram kuat merasa takut.


"Tenang lah, kakak perempuanmu sejatinya orang baik. Hanya saja mungkin ada yang mengganggu fikirannya". Ucap Yash menenangkan Mira seraya nemeluknya dan menciumi puncuk kepalanya.


"Apa sih mas. Aku ingin membawa Mira pulang dan jauh dari lelaki itu". Ucap Maya memberontak.


"Kau tidak ingin tahu tentang kesehatan Mira. Kenapa kau seegois ini jika berhadapan dengan tuan Yash. Ingat Maya, kau telah menggali kuburanmu sendiri". Ucap Royan merasa jengah akan sikap sang istri.


"Mas. Kamu lihat sendirikan. Setiap Mira bersama dia. Apa pernah baik-baik saja, hemm. Selalu saja berujung di rumah sakit". Ucap Maya dengan terisak dan sedikit membentak.


"Kita kan belum tahu masalahnya Maya. Setidaknya kita dengarkan dulu". Ucap Royan sedikit melembut.


"Sudah jelas. Semua sudah jelas dan tidak perlu kita mendengar apa pun. Mas, untuk yang pertama mungkin aku masih bisa tenang karena mungkin Mira memang kebetulan ingin menolong adiknya. Tapi untuk yang kedua, ketiga dan kesekian kalinya. Aku tidak akan bisa mentolelir itu semua mas". Ucap Maya begitu tegas.


"Aku tidak akan pernah membiarkan Mira bersama tuan Yash. Karena aku tidak ingin Mira dalam bahaya mas. Mira adalah adik ku mas, dia tanggung jawabku. Dan apa pun akan aku lakukan demi kebaikan hidupnya. Dem8 keselamatan nyawanya. Ingat itu mas". Ucap Maya dan langsung berlalu pergi keluar ruangan. Meninggalkan Royan yang berdiri mematung.


"Aku tahu kamu memang sangat menyayangi Mira. Tetapi caramu begitu egois menurutku Maya. Kita tidak pernah tahu jodoh yang telah tuhan kehendaki. Dan jika mereka sudah ditakdirkan bersama. Kau pun bisa apa Maya". Batin Royan yang merasa yakin jika semua yang terjadi kepada Mira dan Yash adalah takdir.


Yash dan Mira pun sejujurnya mendengar pertengkaran yang terjadi antara Maya dan Royan. Sekaligus kata-kata dari Maya. Keduanya pun saling terdiam dan merenung dengan saling merangkul satu sama lain.


"Mira...". Panggil Yash dengan nada yang mengambang. Mira pun langsung mendongak melihat kearah Yash.


"Tetapi anda selalu menyelamatkanku dan berusaha untuk melindungiku. Anda juga sangat bertanggung jawab kepadaku. Aku rasa, itu hanya sebuah ketakutan kak Maya saja". Ucap Mira jujur.


"Jadi, kau tidak takut bersama ku Mira ?". Tanya Yash dengan tatapan intensnya.


"Entahlah, hatiku merasa jika aku lebih takut jauh dari mu. Aku takut tidak bisa melihatmu. Mimpi itu sangat menyeramkan tuan". Batin Mira dan lalu menggeleng kearah Yash menjawab pertanyaan yang Yash lontarkan.


"Good girl". Ucap Yash lalu mencium kening Mira dengan sayang.


Royan pun berjalan mendekat kearah Yash dan Mira. Lalu ia pun sedikit merasa bersalah dan tak enak kepada Yash. Karena sungguh jika berita bahwa istrinya berani sekali membentak dan menunjuk kearah Yash sampai ke telinga tuan besar Jonathan. Maka tamat lah riwayatnya bersama keluarga besarnya itu.


Royan memang di kenal sebagai putra sulung dari keluarga darah biru terkaya. Namun posisinya sangat jauh dari seorang Yash yang sudah mendua. Dia begitu di takuti oleh kalangan mafia sebab memiliki intelejen kuat dan banyak di dukung oleh orang-orang penting. Bahkan agen khusus pun berada di bawahnya. Beberapa mafia kelas dunia pun berteman baik dengannya dan menghormati marga Leonard. Jika sudah turun tangan dan menjadi Leon itu lebih mengerikan lagi. Royan pun menjadi takut jika istrinya itu keterlaluan dan membuat Yash sakit hati. Dia tidak akan pernah bisa melindungi istrinya.


Awalnya Royan pun masih bersikap tegas dan menganggap Yash hanya seorang putra dari marga biasa. Maka di awal iya masih tidak menghormati Yash dan bersikap layaknya sworang ayah bagi Mira. Namun saat ia diam-diam menyeludiki semuanya. Maka begitu terkejutnya ia akan marga Leonard yang sudah turun temurun kekuasaanya dan terkenal kejayaannya.


"Tuan. Maafkan atas ketidak sopanan istri saya. Dia memang terkadang sangat kekanakan dan tidak bisa mengontrol emosi". Ucap Royan dengan sopan.


"Tak apa tuan Rahardian. Saya bisa mengerti. Saya sangat mencintai adik ipar anda. Tentu saya juga harus menerima orang-orang disekitarnya". Ucap Yash dengan sopan dan tegas


"Antaelah Mira keruangan rawatnya. Mintalah izin kepada dokter Jordan bila nona Maya tetap kekeh ingin membawanya pulang. Dengarkan kondisi dan sakit yang tengah Mira alami juga sebab akibatnya. Dan perhatikan betul-betul apa saja yang Mira konsumsi tuan". Ucap Yash dengan detail kepada Royan.


"Baik tuan, semua pesan anda akan saya ingat betul-betul". Ucap Royan dengan patuh. Yash pun langsung membelai surai rambut Mira dengan sayang dan menatapnya dengan lembut.


"Pergilah, dan turuti semua keinginan kakakmu. Tunggulah, aku akan fokus untuk menyembuhkan tanganku. Setelah sembuh akun akan datang menemuimu". Ucap Yash lembut.


"Anda akan kemana tuan ?". Tanya Mira seraya mencengkeram baju pasien milik Yash tanpa sadar seolah-olah takut untuk berpisah.


"Aku akan menjalani pemulihan dan pengobatan di jepang. Dan akan berangkat malam ini". Ucap Yash memberi tahun. Membuat Mira langsung terdiam di tempat.


Royan yang tahu dan mengerti situasi pun mencoba untuk menjauh dan berjalan menuju kearah jendela rumah sakit. Melihat pemandangan lampu rumah para penduduk di bawahnya.

__ADS_1


"Berapa lama tuan ?". Tanya Mira yang seperti ingin menangis.


"Kemingkinan tiga bulan lebih. Kita akan sering berkomunikasi nanti. Aku tidak akan membiarkanmu untuk tidak melihatku". Ucap Yash dan langsung memeluk Mira dengan hangat.


"Karena aku pun tidak bisa untuk tidak melihatmu. Miranda". Ucap Yash tepat di telinga Mira.


Selang lima menit, Yash pun mengurai pelukannya dan memandangi wajah Mira dengan int^ns. Membelai pipi kiri Mira dan langsung mencium bibir Mira dengan lembut. Mira pun sedikit terkejut dan untuk kali pertamanya Mira membalas ciuman Yash dengan asal seperti yang ia lihat di drama-drama romantis di ponselnya.


Yash pun sedikit terkejut saat Mira mau membalas ciumannya. Meskipun tidak beraturan dan sedikit kaku. Nbamun sangat membuat hati Yash merasa damai dan senang.Yash pun tersenyum senang dalam ciumannya.


"No bad, pemula yaang bagus". Ucap Yash setelah menyudahi berciumannya. Mira pun langsung mencubit perut Yash dengan kuat seraya menggigit bibir bawahnya. Membuat Yash sedikit terjengit merasakan sakit akibat cubitan dari Mira.


"Hati-hati ya, aku kembali keruanganku dulu". Ucap Mira lembut dan Yash pun mengangguk santai.


Mira lalu berjinjit kearah Yash dan membisikan sesuatu ketelinga Yash dengan lembut.


"Aku mencintaimu tuan Aryasha Leonard". Bisik Miran dan mencium pipi Yash dengan lembut lalu berlari kearah Royan sang kaka ipar sebelum sang tuan muda tersadar dari keterkejutannya.


Yash pun langsung tersenyum bahagia saat mendengar pengakuan dari Mira. Ia pun langsung mengedip genit kearah Mira yang diam-diam melihat kearahnya.


"Sudah ?". Tanya Royan memastikan. Dan Mira pun hanya mengangguk dengan pipi yang memerah. Membuat Royan sedikit mengerti dan memakluminya.


"Ayo kita kembali keruangan pasienmu dan bertemu dengan dokter Jordan. Kakak ingin tahu kejelasannya". Ucap Royan dan berjalan bersamaan.


"Tuan kami pamit. Semoga anda lekas sembuh". Ucap Royan berpamitan dengan sopan.


"Terima kasih tuan Rahardian. Semoga hari anda menyenangkan". Ucap Yash namun matanya terus tertuju kepada Mira yang menunduk malu.


Setelahnya keduanya pun keluar dari ruangan pasien yang Yash tempati. Setelah berada di luar sudah ada Maya yang tengah duduk terdiam. Dan Royan pun menghampirinya lalu mengajaknya untuk keruangan pasien yang Mira tempati..


Setelah sampai dan Mira pun terduduk bersandar di atas ranjang seraya mendengarkan sang dokter yang mulai membicarakan masalah kesehatanya juga penyebab dari lambungnya yang membengkak. Namun sejujurnya telinganya,saja yang mendengar. Hati dan fikirannya masih saja terngiang akan kepergian Yash.


Tak lama sebuah hellikopter pun terdengar terbang swperti melewati jendela pasien Mira. Membuat Maya dan Royan terdiam heran.


"Maaf ya jika nina dan tuan sedikit terganggu. Hellikopter itu milik seseorang pasien yang hendak di pindahkan kejepang". Ucap sang dokter memberi tahu sekaligus memberi kode ke Mira. Mira pun langsung memandangi hellikopter itu yang sudsh terbang menjauh keatas menaungi langit luas. Meninggalkan rasa yang mulai berkembang pada diri seseorang.


"Jafi dok, apa Mira sudah di perbolehkan untuk pulang dan dirawat di rumah ?". Tanya Maya dengan antusiasnya.


"Jiia anda mampu merawat nona Mira dengan baik seperti yang sudah saya anjurkan. Nona Mira bisa di perbolehkan untuk pulang". Ucap sang dokter dengan sopan.


"Syukurlah. Jadi kau tidak harus bertemu dengannya terus-menerus". Ucap Maya yang terlihat senang.


"Jika,yang kau maksud itu tuan Yash. Maka berbahagialah karena dia sudah bertolak kejepang menggunakan hellikopter yang barusan kita dengar Maya". Ucap Royan memberi tahu dengan sedikit nada sinis dan langsung mengantarkan dokter Jordan keluar ruangan.


"Terima kasih dokter atas kerja kerasnya terhadap adik ipar ku"m Ucap Royan sopan.


"Sama-sama tuan. Tolong perhatikan baik-baik apa saja yang harus dikonsumsi oleh Mira selama satu bulan ini ya tuan. Karena lambungnya masih dalam masa pemulihan. Nanti satu minggu sekali jika bisa bawa nona Mira kemari untuk cek kesehatan selama tiga bulan. Jika tidak bisa,maka saya yang akan kekediaman anda tuan. Ini termasuk perintah dari tuan muda". Ucap sang dokter memberi tahu.


"Iya dokter akan saya ingat selalu pesan dari dokter. Terima kasih". Ucap Royan sopan. Dan dokter Jordan pun keluar ruangan.


"Kau urus Mira dulu. Bersihkan tubuhnya agar segar dan pakaikan dia pakaian yang hangat. Aku akan mengurus administrasinya dulu". Perintah Royan kepada sang istri dan di balasi dengan anggukan santai dari Maya.


Selang lima belas menit akhirnya mereka pun pulang menuju kediaman Royan dengan Mira yang masih terdiam di jok bepakang seraya bersandar memandang jalanan gelap yang mereka lalui.


Terkadang ada yang membunyikan klakson mobil dari arah belakang mobil Royan. Membuat Mira sedikit mengernyit dan langsung menoleh. Dan terlihat lah mobil pajero hitam yang di sopiri oleh Roni dan Atta yang terswnyum kearah Mira. Dan Mira pun langsung tersenyum balik dan mengangguk.


"Ada apa Mira. Siapa mereka ?". Tanya Maya yang menyadari ada mobil yang membuntuti di belakang.


"Ah engga ka, aku juga tidak tahu". Ucap Mira berbohong.


"CK sudah lah May, mungkin mereka ingin menyalip kita atau mungkin tengah mabuk. Sudah tidak usah di bahas atau di perpanjang". Ucap Royan menengahi.


"Tuan, seberbahaya apa pun nyawaku jika di dekat anda. Aku tidak akan pernah takut. Karena anda benar-benar menjaga ku dengan baik dan memastikan keamananku dengan baik. Perhatian anda memang tak terlihat tetapi dapat dirasakan". Batin Mira dengan tersenyum lembut.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Mira pun di sambut hangat oleh keluarga Royan juga Ayub dan Lili. Dan setelah makan malam. Mira pun beristirahat di tempat tidurnya di temani Ayub dan Lili yang ingin tidur bersama Mira. Dan mereka bertiga pun terlelap dengan damainya kealam mimpi mading-masing.


__ADS_2