Luluh

Luluh
Episode 44


__ADS_3

Satu hari pun sudah berlalu. Namun Mira hanya duduk terdiam seraya memandangi kesemua foto beserta data diri yang tergeletak di atas kasurnya itu.


"Hufff.... Kesemuanya justru membuat ku pusing". Ungkap Mira seraya menggigit jarinya.


Mira pun mengambil salah satu foto yang menurutnya sangat tidak masuk akal sekali. Foto seorang pria muda yang bernama Dion Praharja.


"Usianya bahkan lebih muda lima tahun dari ku". Lirih Mira dengan tatapan kesal.


Mira pun menjadi mondar-mandir sendiri di dalam kamarnya. Tak lama ponselnya pun berdeeing nyaring menandakan ada telefon masuk. Dengan malas ia pun melihat layar ponselnya dan tertera nama Raina di layar ponselnya itu.


Mira pun menjadi serba salah dibuatnya dan menatap layar ponselnya lama. Ia merasa di ambang di lema saat ini. Satu sisi ada janji yang sudah ia sepakati dan disisi lain ada seseorang yang tak bersalah dan tak tahu apa pun ikut terkena imbas dari janji yang telah ia sepakati.


Di lain tempat ada Raina yang berdiri gelisah dengan mondar-mandir di dalam kamarnya. Ia merasa bshwa ada yang aneh dengan Yash dan Mira. Mereka berdua seperti menjauhinya. Sikap Yash pun menjadi aneh akhir-akhir ini. Kakak sulungnya itu tiba-tiba saja pergi keparis tanpa pemberi tahuan apa pun.


"Memang sih, kak Yash pergi keparis untuk bekerja. Tetapi rasanya aneh. Tidak seperti biasanya. Ini lagi kak Mira kenapa juga ikut-ikutan aneh. Pesan ku juga belom di baca. Padalah terkadang online". Ucap Raina merasa kesal.


Saking lelahnya menduga-duga dan merasa penasaran akhirnya Raina pun tertidur pulas di tempat tidurnya setelah lama panggilan telfonnya tidak diangkat satu pun oleh Yash atau pun Mira.


Di tempat Mira pun sama. Ia pun tert8dur dengan puluhan kertas dan foto yang membuatnya merasa semakin pening.


Namun tak lama Ayub dan Lili pun memasuki kamar Mira setelah lama mereka mengetuk pintu kamar Mira namun tidak kunjung di buka oleh si empunya kamar.


Ayub dan Lili pun melongok ke dalam kamar dan mendapati Mira yang tengah tertidur di atas kasurnya dengan tumpukan kertas dan foto seraya memeluk ponsel di perutnya.


"Kak Miranya tidur kak". Ucap Lili sembari berbisik pelan. Takut jika suaranya akan mengganggu tidur Mira yang terlihat nyenyak itu.


"Iya Li. Eh itu kertas sama foto apaan ya ?". Tanya Ayub penasaran.


Mereka berdua pun mendekat kearah Mira dan melihat foto-foto lelaki ganteng dengan beragam ekspresi wajah dan pose. Serta data diri yang tertera di bali* foto itu.


Ayub yang sudah mulai mengerti pun mengernyit dalam. Ia merasa heran kepada kesemua foto itu dan dan melihat Mira yang tert8dur pulas.


"Itu apa sih kak ? Kenapa banyak foto om ganteng ya ?". Tanya Lili polos dan tak mengerti.


"Mungkin tante Mira lagi ada kerjaan baru kali Li. Kita turun yuk, samperin papa". Ucap Ayub mengajak adik perempuanya turun dan membawa satu lembar foto beserta data diri lelaki yang menjadibkoleksi tantenya itu.


Ayub berniat untuk memberi tahukan sang ayah tentang foto ini. Ayub merasa bahwa tantenya itu sedang dalam masalah berat. Terlihat dari cara tidurnya yang terlihat berkerut seolah tak nyaman.


Kedua anak itu pun turun dari lantai dua menuju ruang makan yang terdapat Royan sang ayah yang tengah menunggu kedua anaknya beserta adik iparnya untuk makan siang bersama.


"PAPAAA...!". Seru Lili seraya berlarian.


Royan pun tersenyum menimpali seruan dari putri kecilnya itu. Namun keningnya berkerut saat Ayub berjalan sendirian seraya membawa kertas dan foto yang entah apa itu isinya.


"Kemana tante Mira Frans ?". Tanya Royan kepada sang ana Frans Ayubia Rahardian.


"Tidur pah. Kasian kak Mira kaya lelah banget". Ucap Lili mewakili sang kakak menjawab pertanyaan ayahnya.


Royan pun mengernyit heran. Setahunya setelah sarapan pagi. Mira tidak pernah lagi keluar dari kamarnya. Biasanya di hari libur kerjanya dia rajin beberes rumah membantu mbok Inah pembantu mereka yang bekerja dari pagi hingga sore. Namun tadi setelah sarapan. Royan tidak melihat Mira beraktifitas seperti biasanya.


"Pah. Ayub nemuin ini di tempat tidur tante. Ini Ayub bawa satu. Masih banyak lagi di atas pah kira-kira ada lima puluhan dan seluruhnya seperti ini semua". Ucap Ayub melapor.


Royan pun menerima kertas dan foto itu dengan mengernyit. Ia pun lalu membaca kertas yang di bawa Ayub dengan detail.


"Data diri ?". Ucap Royan setengah penasaran.


"Dion Praharja, 20 tahun. Anak pertama dari pengusaha kaya bernama Budiatmoko Praharja". Lirih Royan seraya membaca keseluruhan dari kertas itu.


Royan pun menghela nafas setelah membaca data diri dari seorang Dion itu. Dalam benaknya ia pun sudah menduga. Namun kepastiannya hanya ada pada Mira seorang.


"Ayo kita makan siang dulu. Karena mama tidak bisa makan sisng bareng kita dirumah dan tante kalian pun madih tertidur. Jafi kita makan siang bertiga saja OK ?". Ucap Royan kepada kedua anaknya.


"Ok papa !".Seru Lili bersemangat dan Ayub pun hanya mengangguk saja.


"Nanti akan kita tahu jawabannya setelah makan siang Frans. Sudah jangan terlalu di fikirkan. Temani papa untuk kekamar tantemu. Membawakan makan siang sekaligus mempertanyakan ini". Ucap Royan kepada Ayub yang lagi-lagi hanya mengangguk saja seraya mengambil beberapa lauk.


"Lili boleh ikut ?". Tanya Lili dengan tatapa memohon.


"Tentu boleh dong sayang". Ucap Royan lembut. Dan Lili pun tersenyum senang. Mereka pun makan siang dengan kidmad.


Setelah itu sesuai dengan ucapannya tadi. Royan pun memerintahkan bi Inah untuk menyiapkan makan siang untuknya bawa ke kamar Mira.


"Biar Ayub yang mengambilkan Pah". Ucap Ayub dan langsung sigap mengambil lauk yang menjadi kesukaannya Mira.


Memang anak sulungnya ini begitu sangat menyayangi Mira sekaligus memperhatikan penuh keadaan Mira. Layaknya seorang adik lelaki yang begitu menyayangi Mira layaknya kakak kandungnya sendiri.


Ayub itu memang terkadang pendiam dan tidak suka bertele-tela. Spontan dan kurang bisa berbicara hangat. Namu perhatiannya dan kepekaannya patut diacungi jempol. Terlebih terhadap orang-orang yang ia sayang. Meski pun usianga baru 14 tahun dan tingginya sudah hampir menyamai sang ayah 170cm.


Ayub pun mengambilkan satu centong munjung nasi, lauk balado telor dan kentang seeta bala-bala udang dan Sup ayam di mangkuk. Satu gelas air putih dan dua buah jeruk limau. Lihat begitu ayub menjelma menjadi seorang adik idaman.


"Sudah ?". Tanya Toyan kepada sang anak.


"Sudah pah". Jawab Ayub seraya membawa nampan.


Dan mereka pun berjalan menuju kamar Mira.


Royan pun membuka pintu kamar Mira dan membiarkannya terbuka lebar. Ayub pun masuk duluan seraya menaruh nampan berisikan makan siang Mira di atas meja rias Mira. Lalu Ayub pun duduk di kursi ayun dekat jendela seraya memainkan ponsel pintarnya. Bermain game among.


"Benar apa kata Frans. Mira terlihat sangat lelah. Ini tidak baik dengan kondisi psikisnya". Batin Royan seraya berjalan mendekati tempat tidur Mira lalu duduk diujung pinggiran tempat tidur seraya melihat-lihat kesemua foto dan data diri para pria yang terpampang jelas itu.


Sementara Lili sudah asyik tenggelam dalam gambarannya yang ia guratkan di atas kertas gambar yang ia bawa dari kamarnya. Tak luput juga beberapa boneka yang berada di sisinya.


Merasa lapar dan hidungnya pun mencium bau makanan yang menggugah selera. Mira pun mulai menggeliatkan badannya dan sedikit membuka matanya.


Samar-samar iapun melihat seperti ada yang duduk di ujing tempat tidurnya dan memandangnya dengan tatapan yang Mira kenali. Dan saat tahu jika itu adalah kakak iparnya. Mira pun langsung mendudukan badannya dengan kaget.


"Kak Roy !". Tanya Mira setelah penglihatannya sudah benar-benar jelas. Royan pun tersenyum lucu dan mengangguk menanggapi seruan dari Mira yang terlihat syok itu.


Mira pun mengedarkan pandangannya dan melihat pintu kamarnya yang terbuka lebar serta keberadaan Lili yang tengah asyik menggambar serta Ayub yang duduk di kursi ayunnya seraya bermain game.


Dalam hatinya Mira pun sedikit bernafas lega. Setidaknya ada pihak lain yang berada di dalam kamarnya tidak hanya Royan seorang.


"Makan siang dulu Ra. Ayub sudah membawakannya dan menyiapkannya untuk mi". Ucap Royan mencoba membuka suara.

__ADS_1


"Iya kak. Aku cuci muka dulu sebentar". Ucap Mira dan bergegas pergi ke kamar mandinya.


Setelah selesai dengan mencuci mukanya dan dirasa bahwa wajahnya sudah fres kembali. Mira pun keluar dari kamar mandinya dan berjalan menuju meja riasnya mendudukkan diri di kursi rias dan meminum satu gelas air putih hingga tandas.


Mengetahui jika gelas air minum Mira sudah habis. Ayub pun mengambil satu botol air mineral yang ia bawa dan menuangkannya di gelas Mira. Mira pun tersenyum berterima kasih kepada Ayub yang di balasi anggukan serta senyum tulus dari ayub.


"Aku makan ya". Ucap Mira canggung dan di balasi anggukan dari Ayub dan Royan.


15 menit berlalu dan Mira pun sudah menghabiskan makanannya dan mengupas jeruk limau sebagai pencuci mulut.


"Bisa kamu jelaskan tentang ini semua Mira ?". Tanya Royan dengan serius.


"Nah kan, aku sudah menduga ini pasti akan di pertanyakan. Lalu bagaimana aku memulai. Bagaimana jika kak Roy tidak satu pemikiran dengan kak May". Ucap batin Mira merasa bimbang.


"Semua ini kak Maya yang merekomendasikan kak". Ucap Mira jujur.


"Untuk ?". Tanya Royan penasaran.


"Untuk aku pilih sebagai calon suami ku". Ucap Mira memberi tahu.


Royan pun sedikit tertegun di tempat. Dalam benaknya sangat menyayangkan kelakuan Maya yang selalu saja memaksakan kehendaknya itu.


"Kamu sungguh-sungguh ingin memilih calon suami dari biro perjodohan ini Ra ?". Tanya Royan memastikan. Mira pun terdiam di tempat dan menunduk bingung.


"Lalu bagaimana kamu dengan tuan muda Yash ?". Tanya Royan memastikan.


"Akuu... Kami tidak ada yang bagaimana kak". Ucap Mira merasa bingung akan ucapannya.


"Kau ini bercanda. Setelah kalian berciuman di malam itu. Bagaimana mungkin tidak ada apa-apa dan tidak bagaimana Ra". Ucap Royan merasa lucu. Dan pipi Mira pun mulai memerah.


"Jadi kak Royan melihat". Lirih Mira malu.


"Bukan hanya aku. Tetapi kakak mu juga lihat". Ucap Royan dengan tersenyum simpul.


"Itu....Aku". Ucap Mira ragu-ragu. Royan pun menatap Mira dengan penuh tanya.


"Setelah aku membantu tuan Vikram. Kak May sangat tidak ingin aku berurusan lagi dengan mereka. Jadi kak May imgin aku berjanji untuk menjauhi mereka kak. Malam itu adalah malam terakhir ku bersama tuan Yash. Dan aku pun tidak mengerti mengapa tuan Yash menciumku malam itu". Ucap Mira memberi tahu.


"Lalu. Apa yang di katakan olehnya ?".Tanya Yash setelah cukup lama terdiam.


"Menjauhlah semampu mu. Aku ingi. tahu seberapa keras kau menjauhiku". Ucap Mira menirukan ucapan Yash. Royan pun tersenyum singkat dan menghela.


"Laki-laki jika sudah bertindak pasti sulit untuk diartikan dan di mengerti Mira". Ucap Royan dengan tersenyum penuh arti.


"Dia adalah seoeang Aryasha Leonard Mira. Dia pasti memiliki maksud lain. Apa lagi dia sudah bertindak. Kamu atau pun Maya tidak bisa melawannya atau pun berperang dengannya". Ucap Royan menasehati.


"Hhh...Ya sudah. Pilih lah mana saja yang kau suka". Ucap Royan lalu berjalan menyibak gorden kamar Mira dan membuka jendelanya.


Royan pun melihat kearah jalanan yang terdapat si tukang bersih-bersih jalan yang begitu rajin selama dua hari ini. Dan tersenyum penuh makna kearah si petugas kebersihan itu yang terkadang sesekali memastikan keadaan sekitar.


"I see you". Lirih Royan seraya melihat kearah Roni yang menyamar menjadi petugas kebersihan.


"Apa kak Roy dan Ayub bisa membantuku untuk memilihnya ?". Ucap Mira mencoba meminta bantuan.


"Kak Maya menyuruhku memilih sepuluh orang. Untuk di uji kelayakannya menjadi seorang suami". Ucap Mira seraya memandang kesemua foto ittu dengan tatapan bingung.


Royan pun sedikit tertawa lucu mendengar perkataan Mira tentang uji kelayakan seorang suami. Sungguh memang perempuan seribet itu.


"Aku tidak setuju kalau tante memilih Dion Praharja sebagai kandidat calon suami tante". Ucap Ayub berbicara serius dan entah sejak kapan ia pun sudah mematikan ponselnya.


"Kenapa ?". Tanya Mira penasaran.


"Dia itu idiot". Ucap Ayub santai.


Mira dan Royan pun mengernyit heran. Bagaimana bisa Ayub berbicara seperti itu. Kenal kah Ayub dengan seorang Dion Praharja.


"Coba katakan dengan detail Frans. Papah ingin tahu. Tantemu juga sepertinya ingin tahu". Ucap Royan kepada anaknya itu.


"Hhhhh....Ok". Ucap Ayub seperti terpaksa dan enggan.


"Papa tahu kan teman ku yang bernama Leonel Adi Wiguna ?". Tsnya Ayub kepada sang papa.


"Ya papa tahu. Ayahnya juga papa cukup tahu dan kenal". Ucap Royan kepada Ayub sang anak. Ayub pun mengangguk mendengar jawaban dari Royan.


"Dion Praharja adalah keponakannya Leonel. Memang usianya lebih tua dari Leonel. Tetapi dia itu idiot. Sikapnya seperti bocah umur lima tahun. Kekanakan dan sangat manja". Ucap Ayub bercerita yang sejujurnya.


"Kata Leonel itu terjadi karena rasa terahuma yang dia alami pada saat usianya 10 tahun. Kisahnya misterius fan memilukan. Adiknya tewas bersama ibunya di jurang karena mobil yang mereka tumpangi terjun bebas ke jurang dan meledak". Ucap Ayub dengan serius. Mira yang mendengarnya pun menutup mulutnya karena syok.


"Yang selamat hanya dia dengan luka-luka dan kepala yang berdarah. Dia juga sempat koma sela 3 bulan dan satu bulan masa pemulihannya. Sikapnya berubah menjadi seorang anak kecil. Dan sering sekali kalap dan mengamuk".Ucap Ayub lagi melanjutkan ceritanya.


"Aku juga awalnya sempat mengira bahwa dia itu normal pada saat ia berada di kediaman Leonel. Tetapi ternyata di luardugaan. Malah dia memanggil aku, Leonal dan yang lainya kakak. Dan Leonel pun menceritakan hal itu ke aku dan kelima teman ku yang lainnya". Ucap Ayub mengakhiri cerita.


Mira pun terduduk diatas tempat tidurnya. Ia pun mulai memilih kembali dan tenggelam dalam bacaan data diri yang baru ia baca sebagian.


Ponsel Mira pun kembali berdering dan nama Raina pun kembali muncul di layar itu. Mira hanya meliriknya sebentar dan mencoba acuh dengan ponselnya. Hal ituvpun tak luput dari pandangan Royan dan Yash.


Royan pun menghela nafasnya dan mendekat kearah ponsel itu lalu mengambilnya dan menekan tombol hijau. Membuat Mira langsung memelototkan matanya dan hendak mencegah namun terlambat. Royan sudah membawanya menjauh keluar kamar dan Mira pun menghela pasrah.


"Ya halo ?". Ucap Royan setelah menekan tombol hijau pada ponsel Mira.


Raina yang mendengarnya pun sedikit mengernyit dan melihat layar ponelnya. Dia mengira jika ia salah menefon. Namun setelah memastikan bahwa nama yang tertera di layar ponselnya adalah nama Mira. Akhirnya ia pun mencoba berbicara.


"Halo, emm ini siapa ya. Ko anda yang mengangkat panggilan ku. Bukannya kak Mira ?". Tamya Raina dengan penuh hati-hati.


"Ohh, saya Royan kakak iparnya Mira. Ponselnya sedari tadi berbunyi di atas meja makan. Makannya saya angkat. Siapa tahu penting". Ucap Royan santai.


"Aaaa, begitu. Maaf ya kak Royan saya tidak tahu". Ucap Raina canggung.


"Ya, tak apa". Ucap Royan santai.


"Kak Miranya ada ?". Tanya Raina lagi.


"Dia sedang pergi bersama kedua keponakannya. Mungkin dia lupa membawa ponselnya. Apa ada sesuatu hal nona Rain ?. Biar nanti saya sampaikan ke Mira". Tanya Royan dengan nada santai dan ramah.

__ADS_1


"Aaa...Ya kak. Sampaikan saja kalau aku tadi menelfon. Emm dan tolong untuk telfon balik ke saya". Ucap Raina ragu-ragu.


"Ya nanti saya sampaikan. Ada lagi ?". Tanya Royan.


"Itu saja ka. Terimakasih". Ucap Raina lembut dan Royan pun mengiyakan ucapan Raina. Panggilan itu pun berakhir. Royan pun menghela dan berbalik. Ternyata Maya sudah ada di belakangnya. Berdiri memandangnya dengan tatapan curiga.


"Kenapa ponsel Mira ada padamu mas ?". Tanya Maya penuh selidik.


"Hanya mengangkat telfon dari seseorang yang tidak ingin Mira angkat". Ucap Royan santai lalu memasukan ponsel itu kesaku celananya.


"Siapa ?". Tanya Maya penasaran.


"Nona Raina". Ucap Royan lalu berjalan mendekati sang istri lalu menyelipkan anak rambut yang menjuntai ke telinga Maya.


"Oh, syukur lah Mira ternyata menepati janjinya". Ungkap Maya dengan tersenyum bangga.


"Apa kau bahagia ?". Tanya Royan yang mendekat kearah sang istri yang tengah duduk di kursi riasnya.


"Ya, tentu saja. Aku menjadi tidak khawatir lagi akan keselamatan Mira. Karena setiap Mira berada dekat dengan tuan Yash berserta keluarganya. Pasti dia selalu tidak baik-baik saja". Ucap Maya menyuarakan rasa khawatirnya.


"Apa lagi tuan Yash juga memiliki teman seorang mafia. Hhhhh....Aku benar-benar semakin khawatir". Ucap Maya seraya menyenderkan badannya ke tubuh depan Royan.


"Sayang, kau ingat malam itu. Tuan Yash sudah menyuarakan Mira menjadi miliknya. Kau tahu Maya. Tidak mudah untuk mu menentang seorang Aryasha Leonard". Ucap Royan mencoba mengingatkan dan menasehati sang istri.


"Aku kan memiliki kamu mas. Seorang Rahardian. Mas mau kan membantuku untuk menentangnya ?". Tanya Maya seraya bergelayut manja.


"Jika itu buka Yash. Aku akan senang hati membantumu Maya. Sulit bagiku untuk menentangnya. Apa lagi jika tuan besar sudah bertindak. Coba lah untuk mengerti Maya, kau salah memilih lawan. Percayalah kepadaku". Ucap Royan dengan lembut.


"Mas, aku tidak akan membiarkan Mira terus-terusan dalam bahaya. Bersama Yash dan orang-orang di sekitarnya. Kemungkinan besar untuk Mira terluka itu sudah pasti. Belum lagi Mira yang seolah di takdirkan untuk terus berkorban demi putri bungsu keluarga itu. Memangnya adikku itu memiliki nyawa sembilan apa". Keluh Maya dengan menyilangkan kedua tangannya di atas perut dengan kesal.


"Mira juga sudah dewasa. Umurnya sudah matang mas. Sudah waktunya dia menikah. Tidak selamanya kan Mira harus ikut kita terus". Ucap Maya lagi.


Tanpa mereka ketahui. Mira yang tadinya hendak mengetuk pintu untuk meminta ponselnya kembali. Mengurungkan niatnya saat mendengar suara Maya yang tengah berbicara itu.


"Aku tidak keberatan. Mira bebas tinggal disini. Kita adalah keluarga satu-satunya bagi Mira. Lsgi pula selama ini dia banyak membsntu dan tidak menyusahkan. Justru kamu, yang terkadang menyulitkannya Maya". Ucap Royan mulai tidak mengerti akan istri cantiknya itu.


"Mas, aku tidak menyulitkannya. Semua itu aku lakukan demi kebaikan Mira. Justru karena dia adikku satu-satunya. Aku ingin ysng terbaik untuknya". Ucap Maya mencoba membela.


"Yang terbaik menurutmu. Belum tentu itu yang terbaik untuk Mira". Ungkap Royan dengan nada tegas.


"Mira itu adik ku. Biarlah aku yang menentukan hidupnya". Ucap Maya tegas.


"Mira juga adik ku. Didalam hidupnya kita sudah seperti orang tua kedua untuknya. Kau ibu kedua bagi Mira dan sku ayah kedua bsgi Mira. Aku berbicara kepadamu bukan sebagai seorang kakak. Melainkan seorang ayah bagi Mira. Kau adalah seorang ibu Maya. Untuk masalah jodoh hidup Mira. Lihatlah Mira layaknya anakmu sendiri.. Karena menututku kau terlalu memaksaksn kehendakmu kepada Mira". Ucap Royan dengan tajam dan dingin membuat Msya sedikit merasa takut melihatnya.


"Kau selalu saja menentangku mas. Kau tidak pernah mendukungku jika menyangkut Mira. Kau juga selalu berkata bahwa aku memaksakan kehendakku terhadapnya. Kau terlalu memanjakannya mas !". Teriak Maya dengan marah.


"Apa kau cemburu dengan adik mu sendiri Maya ?". Tanya Royan telak.


Membuat Mira yang berada di balik pintu terkejut akan perkataan sang kakak ipar mengenai kakaknya yang cemburu kepadanya.


"Perlakuanmu terhadap Mira itu berbeda mas. Aku takut jika Mira salah mengartikannya. Kau itu milik ku mas, hanya milik ku". Ucap Maya terus terang.


"Kau yang salah mengartikannya Maya. Rasa cemburumu itu sungguh membutakan hati dan fikiranmu. Aku sungguh-sungguh tidak percaya ini". Ucap Royan geram dan terduduk di pinggiran tempat tidur dengan hati yang seperti tertohok.


"Bagian mana yang membuatmu merasa demikian Maya. Haruskah aku tidak memperdulikan Mira. Sementara di pusaran mendiang orang tuamu. Aku telah berjanji akan menjaga mu dan Mira. Aku berjanji akan membuat Mira bahagia bersama mu. Dan berusaha menjadi orang tua kedua baginya". Batin Royan dengan tertunduk sedih.


Maya yang melihatnya pun sedikit tercubit. Akan rasa kecewa dan sedih yang kentara pada air muka sang suami. Namun rasa cemburunya mengalahkan rasa ibanya.


"Hhhh....Terserah kau Maya. Aku sudah mencoba memperingatimu. Jika suatu hari nanti kau menyesal dan merengek bahkan merangkak pun. Aku tidak akan perduli. Semua sudah kau putuskan. Jika kau merasa ragu, fikirkan perkataanku baik-baik. Berperanlah layaknya seorang ibu kedua bagi Mira. Pasti kau akan mengerti nanti". Ucap Royan dan beranjak pergi menuju pintu kelyar kamar.


"Aku tetap pada keinginanku Mas". Ucap Maya kekeh dan Royan pun hanya bisa mengangguk dan membuka pintu.


Tepat pada saat itu Royan pun berhadapan dengan Mira yang berdiri mematung di luar kamar. Royan sejujurnya sedikit terkejut dan bertanya-tanya apakah Mira mendengar semua obrolannya dengan Maya. Namun fikiran Royan pun tengah kacau saat ini.


"Maaf kak, aku hanya ingin meminta ponselku yang tadi kak Roy bawa". Ucap Mira dengan sedikit nada yang berbeda.


Royan pun menghela dan merogoh kantung celananya dan menyerahkan ponsel itu ketangan Mira yang menggantung seperti orang yang tengah meminta itu. Royan pun lalu berlalu pergi dengan rau kusut. Sementara Msya yang sudah berada di dekat pintu kamarnya pun memandang Mira dengan enggan.


"Kakak cape Ra. Bisakah kamu tinggalkan kakak sendiri ?". Tanya Maya ketus membuat Mira sedikit tersenyum dan mengangguk lalu.


BRAAKKK !!!


Pintu itu pun tertutup dengan kencang di hadapan Mira. Dengan menunduk sedih ia pun mengguman dengan lesu.


"Lagi-lagi aku membuat kak Royan dan kak Maya bertengkar".


Tanpa Mira sadari ada Ayub dan Lili yang melihatnya. Ayub pun menghela menyayangkan sikap ibunya yang over thingking dan egois itu. Sedangkan Lili menatap tak mengerti kepada ibunya yang sepertinya marah dengan tante cantiknya itu.


"Kasihan kak Mira. Momy marah sampai membanting pintu". Ucap Lili dengan murung.


"Li tidur siang gih biar ntar engga sakit. Besok kan ada lomba menggambar. Kakak temani". Ucap Ayub mencoba mengalihkan fikiran sang adik dan beruntungnya sang adik mensetujuinya. Dan Ayub pun membawa sang adik kekamarnya.


"Momy benar-benar memberi contoh yang tak baik. Lagi pula kenapa momy harus cemburu kepada tante Mira. Selama ini kan tante Mira lah yang banyak membantu. Aku harus mencari ide untuk membantu tante Mira". Bati Ayub seraya berjalan memasuki kamar sang adik.


Di taman belakang. Ada Royan yang tengah meroko dengan bersandar pada gazebo taman dan melihat kolam dengan pandangan suram. Mira yang melihatnya pun mendekati Royan dan duduk di sebelahnya.


Menyadari ada Mira yang duduk di sebelahnya. Royan pun langsung membuang rokok yang baru beberapa kali ia hisap itu. Dan memandang Mira dengan tatapan bertanya.


"Biarlah kak Maya yang menentukannya kak. Aku ingin membuat kak Maya bahagia. Kebahagiaan kak Maya adalah kebahagianku. Begitu pun sebaliknya. Tolong jangan menentangnya dan berbaikanlah dengannya agar aku tidak semakin merasa bersalah". Ucap Mira dengan mengatupkan kedua tangannya di depan Royan.


"Aku hsnya ingin mencobs menyadarkan istriku Mira. Dia keliru dan egois yerhadapmu. Dia tidak memberikanmu kesempatan untuk menata hati". Ucap Royan dan menunduk lesu.


"Aku baik-baik saja ka". Ucap Mira dan tersenyum lembut.


"Mira, jika kau adalah adik kandungku dan bukan adik kandung Maya. Aku sudah pasti akan membelamu mati-matian. Sungguh aku menyayangi mu seperti adik kandungku sendiri. Namun Maya menyalah artikannya. Saat ini kau pasti juga merasakan sakit yang sama denganku". Ucap Royan seraya menatap Mira yang terdiam dengan perasaan yang berkecamuk.


"Hari ini nona Mira sedang sangat bersedih tuan. Kakak dan kakak iparnya bertengkar karenanya". Lapor Roni yang dengan susah payah berusaha menguping dan mencari tahu perdebatan diantara keluarga itu.


Yash yang membacanya pun terdiam. Ia merasa jika istri cantik dari tuan Royan itu benar-benar batu dan kekeh. Sungguh sesuatu yang menyenangkan mendapat lawan yang begitu keras kepalanya sepertinya.


"Menarik". Ucap Yash yang tengah duduk menyesap kopinya menikmati udara dingin di paris.


__ADS_1


Royan Rahardian.


__ADS_2