
Sreeet! Sreeet! Albert membopong tubuh Ella pindah ke kursi belakang, sembari memperhatikan kanan dan kiri. Sesekali Ella meronta, membuat Albert kesulitan untuk memasukkan gadis itu ke dalam mobil.
"Duh, aku nggak kelihatan kayak pelaku penculikan, kan?" ujar Albert cemas.
Jalan raya di depan ruko itu cukup ramai, terutama saat siang hari begini. Siapa pun bisa melihat aktivitas Albert yang terlihat sangat mencurigakan. Meskipun ruko itu tutup, tidak menutup kemungkinan ada CCTV yang terpasang di bangunan dua lantai tersebut.
"Nomor yang anda tuju ..."
"Argh, kenapa robot mulu sih yang jawab? Ghina ke mana sih? Waktu dibutuhkan malah ilang." Albert hampir saja membanting ponselnya, saking kesalnya.
"Oh iya, kenapa aku nggak teringat untuk meneleponnya?" pikir Albert.
Rrrr! Ceklek! "Halo, bos?"
"Gabriel, apa kamu sedang bersama Ghina?" tanya Albert pada supir pribadi sang istri.
"Tadinya iya, bos. Tapi sekarang Bu Ghina lagi bersama Galena di butik milik temannya. Saya disuruh pulang duluan," kata jawab Gabriel.
"Sama Galena, ya?" ulang pria muda itu. "Trims, Gabriel. Aku tutup teleponnya."
"Baik, bos," sahut Gabriel.
Rrrrr! Rrrrr! Albert mencoba menelepon adik iparnya tersebut beberapa kali, namun tidak juga diangkat. Kedua bola mata Rangga melirik melalui spion tengah. Ella masih terlihat gelisah di belakang sana.
"Halo, Kak? Ada Apa?" tanya Galena.
"Ghina sedang bersamamu, kan? Cepat berikan HP ini padanya," perintah Albert. Suaranya terdengar dingin dan ketus.
"Siapa?" terdengar suara Ghina berbicara dengan sang adik.
"Kak Albert. Sepertinya dia marah," bisik Galena.
"Halo, Al?" ujar Ghina.
"Di mana HP-mu? Kenapa nggak bisa dihuhungi," ujar Albert seraya menginjak gas mobilnya dengan kecepatan penuh.
__ADS_1
"HP-ku habis baterai, dan aku lupa membawa power bank," jawab Ghina.
"Kenapa bisa kamu seceroboh itu? Apa kamu tahu Ella menghubungimu puluhan kali? Ketika dia membutuhkanmu, kamu nggak ada di sisinya? Gimana kalau dia diganggu orang jahat?"
Ghina terkejut mendengar bentakan Albert. Tubuhnya gemetar. Selama ini pria itu tidak pernah memarahinya sekeras itu.
"Sa-sayang, aku minta maaf. Ada apa dengan Ella? Dia mana dia sekarang?" ujar Ghina terbata-bata. Dia merasa bersalah, sekaligus panik.
"Dia sekarang bersamaku, tapi keadaannya nggak baik. Sepertinya dia demam tinggi. Pulanglah segera," ujar Albert dengan dingin namun tegas.
"I-iya, aku pulang sekarang," kata Ghina.
...🥀🥀🥀...
Bruk! Albert merebahkan tubuh Ella ke atas kasur. Napasnya sesak, karena membopong tubuh Ella seorang diri, dari depan rumah. Tubuh Ella semakin menghangat. Sesekali dia meracau tidak jelas.
Grep! Kedua tangan Ella menarik bahu Albert, sehingga tubuh pria itu condong ke arah Ella. Hampir saja dia menghimpit tubuh remaja yang mulai beranjak dewasa itu. Namun Albert yang terbiasa berolahraga, segera menopang tubuhnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa menjauh, sih? Sini, aku butuh teman." Ella kembali meracau dengan nada manja.
Sayangnya usaha Albert itu gagal. Cengkeraman gadis itu sangat kuat. Albert yang kini menopang tubuhnya hanya dengan satu tangan pun kehilangan keseimbangan. Kakinya terpeleset, dan tubuhnya terhempas ke samping Ella.
Kejadian itu menjadi kesempatan emas bagi Ella. Tanpa dia sadari, kedua lengannya memeluk tubuh pemuda yang telah menikah tersebut. Kini posisi keduanya saling berhadapan.
"Kenapa kamu terus menjauh, sih? Segitu nggak sukanya sama aku? Pernah nggak sih, sekali aja kamu melihatku sebagai wanita?" ujar Ella melantur. Dada pria itu berdegup keras, tatkala melihat bibir mungil Ella dari dekat.
Bruk! Albert mendorong tubuh Ella menjauh dengan cukup keras. "Cukup, Ella! Aku tahu kamu saat ini lagi nggak sadar! Tapi ini udah sangat berlebihan!" bentak Albert yang berusaha untuk tetap waras.
Ella tidak terpengaruh dengan amukan ayah tirinya barusan. Dia hanya tertawa, sambil berusaha mengejar Albert. Tapi kemudian tubuhnya terhuyung, dan kembali terjatuh ke kasur.
"Gadis gila! Tunggu di sini sampai mamamu pulang," ujar pria itu. Albert lalu meninggalkan kamar Ella, dan mengurungnya di dalam.
"Fuuh, bisa gila beneran aku kalau kayak gini terus," ujar Albert sambil membenarkan posisi benda miliknya di dalam celana. Bagaimana pun juga, dia adalah pria normal. Saat ini keimanannya sangat diuji.
...🥀🥀🥀...
__ADS_1
"Sayang, di mana Ella?" tanya Ghina yang baru saja sampai di rumah. Wanita itu mengatur napasnya yang sesak, karena berlari mencari sang suami dan putrinya.
"Di dalam kamar. Ini kuncinya," ujar Albert yang terbaring lemas di sofa. Pria itu telah menghabiskan dua gelas air, demi mengisi kembali tenaganya yang terkuras.
"Loh, kok kamu kunci dari luar?" ujar Ghina. Walau pun bingung, wanita itu tetap melangkahkan kaki menuju ke kamar sang buah hati.
"Ya karena tadi dia ..." Albert mendadak menghentikan kalimatnya. "Astaga! Aku lupa! Tadi kan Ella masih memakai kemeja dan jas milikku! Gimana kalau Ghina jadi berpikir macam-macam?" batin Albert cemas.
"Albert! Kamu apain putriku?" Keadaan berbalik. Ghina yang tadi ketakutan, kini berubah menjadi
Wajah Ghina memerah, melihat Ella tertidur di ranjang hanya dengan kaos singlet dan celana legging. Rok sekolahnya telah tergeletak di lantai. Di sudut lainnya, wanita tiga puluh lima tahun itu juga melihat ikat pinggang, jas dan baju kemeja milik suaminya.
"Argh, sial! Rupanya bocah itu sudah melepaskan semuanya," rutuk Albert dalam hati.
"Sa-sayang, jangan marah dulu. Jadi tadi itu, anu ... Gini ceritanya," Albert mendadak gugup ketika melihat wajah Ghina bak macan betina yang kelaparan.
"Ya, kamu memang harus jelaskan semuanya padaku," ujar Ghina sambil menutupi tubuh Ella dengan selimut, agar Albert tidak dapat melihat tubuh molek putri mereka. Dia lalu memunguti kain yang berserakan di lantai itu.
"Hei, di mana seragam sekolah Ella?" tanya Ghina.
"Jadi sebenarnya gini," Albert lalu menceritakan kronologi kejadian hari ini. "Sayang, kamu harus percaya padaku," ucap Albert ketika mengakhiri ceritanya. Wajahnya terlihat sangat cemas.
"Jadi gitu, ceritanya?" Ghina menatap Albert dengan tajam. "Maafkan aku, sayang. Aku percaya padamu, kok. Kamu kan bukan orang yang seperti itu," ujar Ghina menyunggingkan senyum kecil di wajahnya.
"Beneran? Aku takut kamu berpikiran macam-macam," ujar Albert.
"Awalnya iya, tapi setelah diingat-ingat lagi rasanya nggak mungkin, deh. Soalnya kamu aja marah-marah padaku di telepon, karena sangat mencemaskan anak kita. Jadi untuk apa kamu menyakitinya?" kata Ghina.
"Terima kasih udah percaya sama aku. Maaf tadi aku memarahimu." Albert memeluk tubuh sang istri dengan erat.
"Jadi, di mana baju seragam Ella? Dan kenapa Ella jadi seperti ini?" tanya Ghina. Beberapa hal masih mengganjal di hatinya.
"Aku juga nggak tahu. Apa kita perlu memanggil dokter? Kalau baju seragam Ella, kayaknya ketinggalan di mobil, deh," jawab Albert.
(Bersambung)
__ADS_1