
Sejak pagi tadi, Ella mengurung diri di kamar. Meski rumah dipenuhi hiruk pikuk, ia sama sekali nggak bergeming dari kamarnya. Gadis itu mematut wajahnya di depan cermin. Berulang kali dia mengompres matanya yang sembab dengan es batu, namun bengkaknya tidak juga heran.
"Ella bodoh! Kenapa sih kemarin kamu menangis kayak orang gila? Padahal hari ini ada acara besar. Ini mata bengkak mau ditutupin pakai apa?" Gumamnya bingung.
Kemarin sore setelah dia menumpahkan semua sesak di dadanya, ketiga temannya mengajak makan bakso lava super pedas dan membatalkan kerja kelompok mereka. Ketiga temannya tersebut kompak tidak menanyakan, apa masalah yang sedang dia hadapi. Tetapi mereka menghibur gadis itu hingga kembali tersenyum ceria.
Tok! Tok! Tok! "Ella, apa kamu udah siap? Sebentar lagi kita berangkat ke hotel," panggil Galena dari luar kamar.
"Sebentar, Tante. Aku mau ke kamar mandi dulu," sahut Ella.
"Oke, jangan lama-lama, ya," ucap Galena.
Sebenarnya ke kamar mandi hanyalah sebuah alasan. Ella hanya butuh waktu sedikit lagi untuk menenangkan hati dan pikirannya.
"Hari ini aku harus siap."Ella kembali mematut dirinya di depan cermin. Berulang kali ia mengusap air matanya, lalu memoleskan bedak tipis di wajahnya.
Pernikahan Ghina dengan Albert akan dilangsungkan di sebuah hotel, dengan hanya mengundang para kerabat dekat. Sejak tadi malam, sang calon pengantin wanita telah menginap di sana. Sebenarnya Ella juga di ajak untuk menginap di hotel, tetapi gadis itu langsung menolaknya.
__ADS_1
Ceklek! Ella membuka pintu kamarnya. Tante Galena sudah menunggunya di depan sana, dengan mengenakan baju kebaya.
"Wow, gaun kamu bagus banget. Pas di badan kamu," puji Galena mengomentari penampilan keponakannya.
"Terima kasih, Tante," sahut Ella.
"Lho, tapi kok belum pakai make up, sayang?" Protes adik kandung Ghina tersebut, ketika melihat Ella hanya mengenakan bedak tipis, dan sedikit riasan di area mata.
"Nggak usah, Tante. Gini aja," ucap Ella lirih. Dia memalingkan wajahnya dari Galena.
"Ah, yang menikah kan mama," kata Ella. Sebenarnya tadi dia juga berniat untuk make up, tetapi kemudian dia urungkan. Toh, dia menunjukkannya untuk siapa?
"Kamu kan harus tampil cantik juga. Sini Tante bantu." Galena mengusap pipi Ella yang tirus. "Lho, kamu nangis, Nak?"
"Ng-nggak, kok," bantah Ella. Remaja itu memaksa senyum di wajahnya.
"Apanya yang nggak? Mata kamu nggak bisa berbohong." Galena memeluk putri tunggal kakaknya tersebut.
__ADS_1
"Kamu tenang aja. Mendiang papa kamu nggak akan marah, kok. Mama menikah lagi. Apalagi bersama orang baik seperti Al," bisik Galena. Hati Ella semakin pedih mendengarnya.
"Papa kamu pasti bahagia di sana, kalau kamu dan mama bahagia di sini," sambung Galena lagi. Ella menangis tersedu-sedu.
"Nggak apa-apa. Nangis lah di sini, di pelukan Tante. Tapi kamu harus ikhlaskan mama kamu untuk mencari kebahagiannya. Nantinya semua ini untuk kamu juga, kok." Hibur Galena lagi.
"Ma-ka-sih, Tan-tante." Ella bicara terbata-bata di sela tangisannya.
"Sekarang kita make up dulu, ya. Biar kamu makin cantik. Bekas nangisnya ilang."
"Aku make up sendiri aja, Tante," ujar Ella.
Setelah selesai make up, mereka lalu bergegas menuju ke hotel, yang berjarak sekitar dua puluh menit dari rumahnya. Ella langsung menemui Ghina di kamarnya. Sementara Galena dan kerabat lainnya langsung menuju ke ruang pernikahan di aula utama.
"Loh, ternyata penampilan Mama jauh lebih sederhana dari pada aku?" gumam Ella ketika melihat penampilan sang ibunda yang juga calon pengantin wanita. "Gimana dengan penampilan Albert nanti, ya?" Dada Ella bergemuruh membayangkannya. Ingin rasanya dia menghindari pesta pernikahan itu, agar mereka tidak saling bertemu.
(Bersambung)
__ADS_1