Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 72. Mendapatkan Kembali Sosoknya


__ADS_3

"Hmm, harum banget. Kamu masak apa sih, sayang?" Albert menyusul sang istri ke dapur. Pria terlihat rapi dengan baju kaos putih dan celana pendek jeans.


"Kamu udah mandi? Pantesan aku mencium wangi sabun dan parfum," kata Ghina.


"Justru lebih harum masakanmu. Lagi masak apa, sih?" Albert melihat isi kuali dan beberapa menu yang telah tersaji di meja makan. "Astaga, Ghina. Kamu masak banyak banget?" ujar Albert.


"Apanya yang banyak? Aku cuma masak gulai cumi, ayam rica-rica sama capcay sayur," sahut Ghina. "Terus aku juga mau bikin bakwan jagung untuk cemilan kita. Aku bosen makan western food terus," sambung wanita itu.


"Bukannya tadi kamu bilang cuma mau masak wafle?" kata Albert.


"Rencana sih gitu. Tapi aku lagi senang banget hari ini, karena kamu libur," ujar Ghina. "Terus aku juga mau ngucapin terima kasih, karena kamu ingat jengukin Ella dan membawakannya lauk," kata Ghina.


Albert membeku di tempatnya, mendengar kalimat Ghina barusan. "Loh, Ghina kok bisa tahu? Apa Ella yang menceritakannya?" pikir Albert.


"Makasih ya, sayang. Berkat kamu, Ella bisa merasakan kasih sayang seorang ayah lagi. Aku yakin, lambat laun dia pasti menerima keberadaanmu," ucap Ghina dengan tulus.


"Aku masih belajar menjadi ayah yang baik, Ghina. Aku nggak sebaik yang kamu kira," sahut Albert kemudian. "Ah, tapi ini tetap aja kebanyakan. Gimana cara kita berdua menghabiskannya?" ucap Albert.


"Siapa yang bilang kita cuma menghabiskannya berdua. Karena sekarang hari libur, jadi aku menyuruh Ella ke sini," kata Ghina dengan wajah berbinar.


Deg! Jantung Albert hampir saja berhenti berdetak mendengarnya. Dia teringat kejadian kemarin, yang hampir saja mengusap rambut gadis itu. "Ella pasti ingin istirahat di hari libur gini. Apa kamu udah tanya padanya?"


"Udah, kok. Dia senang hati datang ke sini, sambil membawa buku pelajaran," kata Ghina.


"Baiklah. Kamu boleh melakukan apa pun yang bikin kamu senang." Pria muda itu memeluk Ghina dari belakang dan menggenggam jemarinya.


"Ghina, aku punya dua permintaan untukmu. Yang pertama, kamu nggak boleh mengerjakan pekerjaan rumah ini lagi. Dan yang kedua, besok sore ikut aku perawatan kulit di salon kecantikan," ucap Albert.


"Eh, kenapa tiba-tiba?"


"Sekarang kamu tuh istriku, bukan asisten rumah tangga lagi. Dan aku ingin kamu mulai merawat dan memanjakan tubuhmu, agar kulitmu halus bak remaja," jelas Albert. "Kamu udah cukup lama bekerja dan menderita seorang diri. Udah saatnya kamu istirahat," ucap pria itu.


...🥀🥀🥀...


"Udah lama banget ya aku nggak ke sini," Ella mematung di depan rumah sang majikan yang kini menjadi orang tuanya.

__ADS_1


"Pagi Ella."


"Astaga! Pak George, ngagetin aja," seru Ella sambil memegang dadanya, untuk memastikan jantungnya masih berada di tempatnya.


"Ya abisnya dari tadi Bapak lihatin, kamu cuma berdiri di luar pagar, sambil ngintip ke dalam," ujar petugas keamanan pribadi di rumah Albert tersebut.


"Hehehe, maklum Pak. Udah lama banget nggak ke sini. Kayaknya ni rumah tambah gede aja," kata Ella.


"Lah, sekarang kan juga udah jadi rumah Ella juga? Ah, apa saya juga harus panggil 'Nona' kayak.di film-film juga, ya?" ujar George.


"Duh, nggak usah, Pak. Aneh dengernya," kata Ella. "Ya udah. Saya masuk dulu ya, Pak," sambungnya. Gadis itu lalu berjalan menuju ke pintu samping.


"Loh, kok dia lewat situ? Kebiasaan kayak dulu, nih. Masuknya lewat dapur," gumam George.


"Ma, aku da ... tang." Bruk! Ella menjatuhkan barang yang dia bawa.


"Ella!" seru Ghina dan Albert bersamaan. Pria muda itu langsung melepaskan genggaman tangannya pada sang istri.


"Maaf aku mengganggu," ujar Ella


Ella mengambil benda yang tadi terjatuh. "Iya, Ma. Ini buku pelajaran yang harus ku baca," ucap Ella. Gadis itu meletakkan tumpukan buku yang dia bawa ke atas meja, lalu menyalami kedua orang tuanya.


"Hari ini kan libur? Kamu masih mau belajar juga? Kasih waktu kepalamu untuk istirahat dong, sayang," protes Ghina.


Bukannya merajuk, Ella malah tertawa ketika mendengar mamanya mengomel. "Mamaku, sayang. Aku sekarang udah kelas tiga. Bukannya Mama yang selalu ingatkan, biar aku fokus belajar?" kata Ella.


"Udahlah, sayang. Biarin aja dia belajar di sini," ucap Albert. "Dia bisa memilih belajar di kamarnya atau di taman belakang," sambung Albert.


"Huh? Kamar?"


"Iya, kamarmu. Kami udah renovasi satu ruangan khusus untuk kamarmu kalau tinggal di sini," ucap Albert.


"T-tapi aku belum siap untuk tinggal di sini. Jaraknya jauh banget dari sekolah," kata Ella.


"Nggak apa-apa, Nak. Kami nggak memaksamu, kok. Kamu boleh datang ke sini kapan aja. Al, kamu antaerin Ella ke kamar, ya. Aku mau mandi dulu," ujar Ghina.

__ADS_1


...🥀🥀🥀...


"Ella, kamu ceritain ke Ghina ya, kalau aku tiap pagi nganterin kamu sarapan?" tanya Albert, ketika keduanya berjalan menuju ke kamar Ella. Pria muda itu menenteng buku milik putrinya.


"Iya. Kita kan keluarga. Jadi aku nggak mau ada hal yang ditutup-tutupi antara aku dan mama," jawab Ella jujur. "Nggak apa-apa, kan?" sambungnya lagi.


"Nggak apa-apa, kok. Aku nggak masalah," jawab Albert. "Tapi kenapa kamu nggak bilang, kalau kamu nggak suka nasi kuning? Ayah bisa nembawakan yang lain untukmu," kata Albert.


"Nggak perlu segitunya. Aku kan sudah bilang ingin mencoba mandiri. Lagian setelah ku coba, rasa nasi kuning itu nggak buruk-buruk amat, kok," ujar Ella.


Langkah kaki pria itu berhenti di depan sebuah pintu. Dia lalu membukanya. "Ini kamarmu," ujarnya.


"Wah, luas banget," kata Ella. Gadis remaja itu terngaga melihat ruangan dengan dominasi warna putih dan biru di seluruh interiornya. Sesuai dengan warna favorit Ella.


Sebuah tempat tidur ukuran king berada di salah satu sisi ruangan. Di atasnya dilengkapi dengan dua pasang bantal, sebuah boneka karakter kartun, dan selimut tebal yang berwarna senada dengan spreinya.


Sebelah kanan dari tempat tidur mewah itu, terdapat lemari pakaian yang langsung menyatu dengan dinding dengan beberapa pintu.


Di sudut lainnya, terdapat meja rias dan meja belajar yang dilengkapi dengan rak buku. Sementara di bagian lainnya terdapat karpet dan kursi untuk bersantai yang menghadap ke jendela. Beberapa tanaman hias juga semakin mempercantik kamar gadis remaja tersebut.


"Apa ini nggak terlalu mewah?" ujar Ella.


"Untuk kamu dan Ghina, pasti akan aku kasih yang terbaik. Kalian keluargaku sekarang. Kebahagiaan kalian adalah tanggung jawabku," jelas Albert.


Ella mengepalkan tangan kanannya. Bocah SMA itu sudah lama tidak merasakan kehangatan dan kasih sayang dari sosok ayah seperti ini. "Inilah yang diinginkan Mama,


"Terima kasih," ucap Ella. Lidahnya masih terasa kaku untuk memanggil Albert dengan sebutan ayah. Dia pun kembali menyimpan kata-kata itu di dalam hatinya.


"Nah, kamu bisa susun bukumu di lemari itu. Kami sengaja membelikanmu rak buku yang besar, karena kamu suka membaca." Albert menunjuk ke arah lemari kaca yang terletak di samping meja belajar. "Oh, ya. Kamu juga harus lihat kamar mandinya. Pasti kamu suka."


"Terima kasih. Aku suka semuanya," ujar Ella.


Albert menatap wajah Ella lekat-lekat. "Nah, mulai sekarang kalau kamu butuh apa-apa, jangan sungkan untuk bilang padaku atau pun Ghina. Kamu putri kami satu-satunya," ucap pria itu. "Jadi kapan kamu mau pindah ke sini?"


"Ya, benar. Dia ayahku. Itulah maksud Cleo kemarin. Aku boleh saja menangis patah hati. Tetapi harus ingat, bahwa hubungan kami sudah berbeda," ujar Ella yang terus bertekad melupakan perasaannya pada pria itu.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2