Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 40. Keputusan Ella


__ADS_3

"Ma, aku mau ngomong," kata Ella saat makan malam. Dia meremas gelas dengan erat, untuk mengumpulkan keberanian.


"Ya, Nak. Mau ngomong apa?" tanya Ghina. Dia memandang wajah putrinya dengan senyuman manis.


"Setelah tamat SMA nanti, aku ingin kuliah di jurusan Farmasi. Kalau bisa melalui jalur beasiswa. Tadi siang aku baru aja dipanggil oleh Bu Guru," ujar Ella.


"Wah, bagus tuh. Mama setuju. Walaupun nggak melalui jalur beasiswa, Mama tetap mendukungmu," ujar Ghina dengan senyum manis merekah di bibirnya. Sudah lama Ella tidak melihat wajah ceria Mama yang seperti itu. "Tapi kamu daftar di kampus mana?" Mendadak wajah Ghina menjadi gelisah.


"Aku ambil universitas di kota ini aja kok, Ma. Ada dua kampus yang aku tuju," ujar Ella sambil tertawa kecil. "Aku tahu, Mama pasti kangen aku kalau kuliah di luar kota," imbuh remaja itu.


"Nggak, tuh. Mama nggak bakal kangen sama kamu. Mama cuma khawatir aja, apa kamu bisa hidup mandiri tanpa Mama?" timpal Ghina.


"Bisa, dong." Ella mencibir tanda tidak setuju. Gadis itu lalu meminum segelas air putih, dan menegakkan punggungnya. "Terus, ada satu lagi yang mau aku bilang. Aku ... Mengizinkan Mama menikah dengan Al," ujar Ell dengan suara gemetar.


Ghina terkejut mendengar pernyataan anaknya. Ella tampak menghembuskan napas lega, setelah mengatakan kalimat itu. Dia bukan serta merta mengizinkan pernikahan itu. Butuh waktu yang panjang dan gejolak hati yang cukup pelik untuk membuat keputusan tersebut.


"Kamu serius, Nak? Kalau kamu keberatan, Mama bisa membatalkannya. Kebahagiaan kamu yang paling penting," ujar Ghina.


Ella menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. "Aku udah memikirkannya baik-baik. Mengingat kejadian sama rentenir kemarin aku sadar, kalau Mama butuh seorang pendamping. Dan kurasa, Albert adalah orang yang tepat. Dia mau menerima Mama apa adanya," ujar Ella.

__ADS_1


"Terima kasih, sayang. Tetapi Mama tetap akan memikirkannya sekali lagi," ujar Ghina.


"Tapi aku punya satu permintaan." Ella menjeda kalimatnya sejenak, lalu mengambil napas panjang. "Aku ingin pergi ziarah ke tempat papa bersama Mama," pinta bocah SMA itu.


"Baiklah. Nanti kita atur waktunya. Mama juga kangen banget sama papa kamu," sahut Ghina. Dia mengusap matanya yang bassh dengan jemarinya.


...🥀🥀🥀...


Keesokan harinya, sepulang sekolah. Seperti biasa, Ella langsung pergi bersama Daniel untuk bekerja di warnet. Sementara Naya dan Maira di halte depan sekolah, menunggu bus dan jemputan mereka masing-masing.


Sebuah mobil mewah merk bvrgatti menepi di dekat halte. Kendaraan roda empat tersebut menjadi pusat pemandangan para siswa, termasuk Naya dan Maira. Seorang pria tampan berbaju kaos hitam dan celana jeans turun dari mobil dan mendekati kedua sahabat Ella tersebut.


"Bisa, sih. Tapi sebentar lagi kami dijemput," jawab Maira. Sementara Naya tidak bisa memalingkan pandangannya dari wajah pria tersebut. "Ssst, Nay," bisik Maira.


"Oh, eh. Apa tadi?" tanya Naya gugup.


Albert tertawa melihat tingkah bocah SMA tersebut. "Kita bicara di sini aja, sampai kalian dijemput," ucap Albert. "Aku cuma penasaran, ke mana Ella pergi setelah pulang sekolah?" Selidik Albert.


Maira dan Naya saling berpandangan. Mereka ragu untuk menjawab pertanyaan Albert. "Apa motif pria ini menanyakan keadaan Ella?" pikir mereka.

__ADS_1


"Tenang aja, identitas kalian aman ditanganku. Jadi, Ella di mana saat ini?" ujar Albert mulai mengintimidasi kedua bocah SMA tersebut.


"Maaf, Kakak ini siapanya Ella?" tanya Maira hati-hati.


"Aku ... Orang yang peduli dengan keadaan Ella. Aku datang ke sini atas permintaan ibunya," ujar Albert. Dia menunjukkan secara sekilas, isi pesan Ghina padanya.


"Oh, gitu ya. Tapi janji ya, jangan bilang pada Ella kalau kami yang membocorkan rahasianya. Dia bisa menghajar kami kalau membocorkan rahasianya," ujar Maira.


"Maira!" seru Naya tidak setuju.


"Nggak apa-apa. Ini demi kebaikan Ella juga," ujar Maira. Dia lalu membisikkan sebuah tempat kepada pria tampan itu.


"Oh, jadi dia di sana? Trims infonya, ini untuk kalian." Albert mengangkat kedua alisnya, sambil tersenyum puas.Dia lalu mengeluarkan dua lembar kertas dari kantong celananya.


"Maaf, kami nggak menerima sogokan," tolak Maira dan Naya bersamaan.


"Ini bukan sogokan. Tapi ucapan terima kasih dariku, karena udah membantuku dan Ella," kata Albert. "Voucher belanja ini sah milik kalian berdua," kata Albert sambil mengedipkan sebelah matanya.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2