Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 104. Wanita Kuat


__ADS_3

"Jadi Mama mau pindah ke sini?" ujar Albert terkejut. Dia bahkan sampai menumpahkan jus jeruk dalam gelasnya.


"Iya. Seminggu aja, sampai Ella sehat," ucap Sang Nenek.


"Seminggu? Tapi Ella kan udah sembuh? Mama nggak lihat, dia tadi makan banyak sampai nambah," kata Albert.


"Sayang, kenapa sih? Bagus dong kalau Mama tinggal di sini. Toh di rumah sana Mama juga sendirian. Kenapa cuma seminggu, Ma? Pindah selama aja ke sini," kata Ghina.


"Betul, Nek. Pindah sini aja. Terus rumah Nenek kan bisa disewakan," celetuk Ella.


"Hilih, sok bijak kamu. Padahal kamu sendiri nggak sabar, mau pindah ke rumah sendiri kalau udah renovasi," sindir Albert pada putrinya. "Lagian rumah Nenekmu itu kalau dikontrakkan siapa yang bakal sewa?" ujar Albert.


"Kamu belum ke rumah Nenek ya, sayang? Nanti kapan-kapan tidur di rumah Nenek, ya," kata ibunda Albert tersebut.


"Eh, emang rumah Nenek kenapa? Serem, ya? Atau banyak barang-barang antik?" ujar Ella bergidik ngeri.

__ADS_1


Ghina tertawa mendengarnya. "Ini rumah Nenekmu, coba aja bayangkan berapa harga sewanya?" kata Ghina menunjukkan sebuah foto pada Ella.


Klang! Gadis itu menjatuhkan sendoknya ke lantai, melihat sebuah rumah mewah bak istana. Rumah mewah milik Albert masih belum ada apa-apanya.


"Nggak usah, Mama menginap selama satu minggu aja. Lagi pula Mama mau ziarah ke makam papamu dan ayahmu, sekalian acara di panti sosial," ucap ibunda Albert.


Deg! Albert mendadak menghentikan aktivitasnya mengunyah makanan. Raut wajahnya pun sedikit berubah menjadi lebih sayu. Ella menatap ayah tiri dan neneknya secara bergantian. Suasana mendadak kembali canggung.


"Kenapa Mama nggak ajak aku? Aku kan juga mau ikut," ujar Albert dengan suara lirih dan bergetar.


"Kamu mau ikut? Boleh aja. Mama senang banget. Tapi apa kamu nggak sibuk? Letaknya kan di luar kota."


"Aku akan luangkan waktu dua hari, Ma. Kamu mau ikut juga kan, sayang? Udah lama banget aku nggak ke sana. Aku pikir Mama baik-baik aja, karen selalu tersenyum," kata Albert menyembunyikan wajahnya.


"Jadi sejak berapa lama Papa dan ayah tiri dia meninggal dunia? Rupanya di depanku ada dua wanita hebat. Sama-sama single mom," batin Ella. "Jikq aku kemarin nggak mengizinkan mama untuk menikah, apa mama akan kerja banting tulang sampai tua dan memendam rasa sakitnya sendirian?"

__ADS_1


"Ella, kenapa kamu nangis?" tanya Ghina dengan tatapan heran.


"Eh?" Ella mengusap pipinya yang basah. Rupanya gadis yang beranjak dewasa itu tanpa sadar telah meneteskan air matanya.


"La, lain kali aja ya kamu ikut ziarahnya. Sekolah kamu kan lebih penting," ujar Albert yang salah paham tentang perasaan Ella barusan.


"Iya, aku ngerti, kok," jawab Ella membiarkan mereka tetap salah paham. "Ma, aku punya permintaan," kata Ella kemudian.


"Apa itu?" tanya Ghina seraya mengumpulkan piring kotor di meja makan.


"Malam ini aku boleh tidur sama Mama, nggak?" ujar Ella malu-malu.


"Hahaha, tumben?" Ghina tertawa mendengar permintaan putrinya. "Boleh banget dong, sayang. Nanti Mama mengungsi ke kamar kamu, deh," sambung Ghina.


"Lalu besok malam aku ingin tidur sama Nenek juga," ujar Ella lagi. Sang Nenek hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ternyata nggak buruk juga dapat keluarga baru. Kalau kemarin aku ngikutin egoku, pasti menyesal," ujar Ella dalam hati.


(Bersambung)


__ADS_2