Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 71. Pengantin Baru


__ADS_3

Ghina memperhatikan setiap inchi wajah pria dihadapannya. Rambutnya yang hitam, hidung mancung, bibir tipis berwarna merah muda. Bahunya yang bidang lalu ...


"Astaga! Aku mikir apa, sih?"Jantung Ghina berdegup kencang. Wajahnya memerah dan terasa hangat. "Aku masih nggak percaya, cowok setampan ini mau menerimaku yang sudah janda beranak satu."


Ghina benar-benar bersyukur mendapatkan Albert. Tetapi bukan berarti dia melupakan cinta ayah kandung Ella, suami pertamanya. Avel Erlangga adalah pria yang telah membawanya keluar dari dunia yang keras dan kejam.


Albert tiba-tiba membuka matanya. Pria itu lalu menoleh ke arah sang istri. "Selamat pagi, sayang."


"Aih, kamu bikin aku terkejut," ujar Ghina. Pengantin baru itu malu, kepergok memperhatikan suami berondongnya.


"Jawab, dong." Albert memasang wajah imut bak idol Korea.


"Ih, nggak mau. Kekanakan banget, sih?" tolak Ghina sambil memalingkan wajahnya.


"Ih, padahal tadi kamu melihatku kayak mau ngapain gitu?" goda Albert.


"Hush, mana ada? Geer banget, sih? Justru aku mau bangunin kamu tadi," kilah Ghina tersipu malu.


"Ghina, kita udah resmi menikah selama tiga hari, lho. Aku udah halal jadi milik kamu. Jangan grogi terus, dong," bisik Albert di telinga Ghina.


"Aku tuh nggak grogi," bantah Ghina.


"Terus?" desak Albert.


"Udah, ih. Jangan bahas itu terus," kata Ghina.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, kapan nih kita honey moon?" tanya Albert seraya melingkarkan lengannya di pinggang Ghina.


"Shh... Honey moon apaan? Kita udah nggak muda lagi," ujar Ghina.


"Aku baru dua puluh lima tahun, sedangkan kamu tiga puluh empa tahun. Artinya kita masih muda," jelas Albert. "Cewek seumuran kamu itu biasanya sedang menikmati hidup. Nah, karena selama ini kamu udah kerja keras banting tulang, udah saatnya aku membahagiakanmu.


"Aku mana bisa tenang pergi honey moon kalau Ella masih kayak gini," ujar Ghina.


"Maksudmu menghindar dari kita?" tanya Albert. Ghina mengangguk. "Menurutmu, apa alasan dia seperti itu?" tanya Albert lagi.


"Mungkin dia berpikir, aku menghianati papanya. Memang di mana-mana pasti sulit untuk menerima orang tua sambung," kata Ghina.


"Cuma itu? Tapi menurutku masih ada alasan lainnya, deh," kata Albert.


"Apa emangnya?" tanya Ghina.


"Ih, apaan sih? Kesel, deh. Cepat bilang. Ada apaan? Kamu tau sesuatu?" tanya Ghina penasaran.


"Aku cuma menebaknya, kok. Kamu harus tanya sendiri padanya," ujar Albert seraya tertawa jahil.


"Iiiihhh! Awas kamu, ya." Ghina mengangkat sebuah bantal, lalu memukul lengan Albert berkali-kali.


"Awww! Itu sakit," ucap Albert sambil tertawa. "Oh, iya! Apa kamu tahu? Ella pernah bilang padaku, dia nggak mau adik lagi," celetuk Albert.


"Apa? Kapan dia bilang begitu?"

__ADS_1


"Hmmm... Awal kita menikah dulu," jawab pria itu. "Jadi gimana menurutmu? Kita harus mulai memikirkannya dari sekarang, kan?" sambungnya.


"A-aku nggak tahu. Aku belum terpikir ke sana," ucap Ghina.


"Kalau aku, tentu aja ingin punya anak darimu," tegas Albert.


"Ehem! Udah siang, cepetan mandi sana. Entar kamu telat ke restoran," kata Ghina buru-buru mengalihkan cerita.


"Kamu lupa sekarang hari apa?" ujar Albert.


"Hari rabu, kan?" sahut Ghina.


"Y-ya nggak salah, sih. Tapi maksudku sekarang tuh hari libur, tanggal merah. Aku sengaja menutup restorsan dan showroom hari ini dan meliburkan semua pegawai," kata Albert.


"Hah? Nggak apa-apa kayak gitu? Kemarin waktu kita menikah, kamu juga menutupnya," ujar Ghina.


"Ya nggak apa-apa, dong. Apa kamu mau aku kerja tanpa kenal waktu," tanya Albert.


"Bukan gitu, sayang," bantah Ghina.


"Karena libur, kita honey moon di rumah aja, yuk." Albert menarik tubuh Ghina ke dalam pelukannya.


"Aku lapar. Kamu mau roti atau waffle." Ghina melompat dari tempat tidur, menghindari Albert.


"Aku maunya kamu," jawab Albert dengan tegas.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2