
Kedua tangan Ella mengepal erat. Jantungnya berdegup kencang. Udara dingin dari AC tidak mampu menyaingi dinginnya hati remaja itu. Kamar pengantin berhiaskan bunga calla lily dan bunga baby’s breath putih itu itu terasa sanga hening, meski dua orang wanita berada di sana.
Ella duduk di belakang sang calon mempelai wanita dengan bibir terkatup rapat. Wajahnya terlihat sangat mendung di hari pernikahan sang mama. Dia tidak bisa mundur lagi dari keputusannya. Tiga puluh menit lagi, ah tidak, lima menit lagi semuanya akan berubah. Percuma juga dia menarik izin pernikahan tersebut. Hal itu akan membuat dirinya menjadi gadis dengan attitude yang buruk.
Sebuah layar kaca memperlihatkan aula hotel yang dijadikan sebagai tempat akad nikah. Seorang pria dengan jas hitam dan kemeja putih duduk di hadapan Pak Penghulu. Setangkai bunga sweet pea putih yang melambangkan kesenangan dan harapan baik yang baik tersemat di dadanya. Wajahnya yang tampan bak pangeran Disney itu tampak tegang namun sumringah.
“Alhamdulillah, sah!” Semua orang di ruangan itu berseru gembira, setelah sang mempelai pria menjawab kalimat dari wali nikah dengan satu tarikan napas. Terpancar senyuman di wajah pria dua puluh lima tahun tersebut.
Ghina menangis terharu melihat momen itu melalui layar kaca. Bibirnya berulang kali mengucapkan rasa syukur. Bersamaan dengan itu, Ella pun menumpahkan air mata kepedihan. Usai sudah kisah asmara yang terpendam, pada pria bernama Albert Candra Putra tersebut.
“Ah, dasar cengeng. Aku nggak boleh menangis. Ini hari bahagia Mama,” batin Ella buru-buru mengusap air matanya, sebelum Ghina menoleh. Ella lalu mengulurkan tangan Ghina dan mengenggamnya dengan erat.
Ghina Delisia, sang pengantin wanita berjalan didampingi oleh putri tunggalnya untuk menemui sang suami. Semua pasang mata menyambut kedatangan sang pengantin dengan berdecak kagum. Wanita tiga puluh empat tahun itu terlihat sangat cantik dengan riasan natural. Gaun pengantin berbahan satin putih dengan model sabrina-shoulder gown, memancarkan aura sang pengantin. Rambutnya yang cokelat dan panjang, di tata dengan model Half up Braid yang elegan. Sebuah tiara bertabur berlian turut mempermanis tampilannya.
__ADS_1
Ghina memang sengaja memilih riasan sederhana di hari spesialnya tersebut. Statusnya sebagai seorang janda beranak satu, membuatnya lebih selektif dalam memilih tampilannya yang tidak terlalu mencolok. Namun hal itu tidak meredupkan aura cantiknya sebagai sang pengantin dari Nyonya Albert.
Albert mengangkat wajahnya, menantikan kedatangan sang istri. Wajahnya bersemu merah menatap wanita dalam balutan gauh putih tersebut. “Sudah kuduga, dia akan terlihat semakin cantik hanya dengan polesan make up sederhana,” batin Albert.
Sesaat kemudian bola mata pengantin pria tersebut bergeser ke arah kiri. Sang pendamping pengantin wanita yang bergaun biru itu terlihat sangat memukau. Rambutnya yang dia kepang model Fishtail Braid disemat menggunakan jepit rambut hadiah dari Cleo semalam. Wajahnya yang manis, tampak semakin cantik dengan make up flawless ala korea. Matanya yang bengkak disamarkan dengan sentuhan simmer dan glitter berwarna pink sakura.
Albert buru-buru mengalihkan pandangannya. Dadanya berdegup kencang melihat Azura Auristella yang kini resmi menjadi anak gadisnya. Baru kali ini dia melihat gadis remaja itu tampil cantik memukau. Darah Albert berdesir, kala gadis manis itu berjalan melalui punggungnya, untuk mengantarkan Ghina kepadanya.
“Ella, disalam dong mama dan ayah barunya. Kok malah melamun gitu,” tegur Tante Galena.
“Eh, iya.” Ella yang duduk di antara kursi tamu itu memandang ke depan. Ternyata acara kutbah pernikahan dan tanda tangan buku nikah telah usai. Ella pun berjalan mendekati mamanya dengan canggung.
“A-anu, selamat ya, Ma,” bisik Ella hampir tidak terdengar. Rasanya aneh, memberi ucapan selamat pernikahan pada mamanya sendiri.
__ADS_1
“Iya, sayang. Terimakasih, Nak.” Ghina memeluk putrinya dengan erat. “Mama janji akan menjadi Ibu yang lebih baik lagi untuk kamu,” imbuh wanita itu.
Ella hanya menganggukkan kepalanya tanpa bisa berkata-kata. Pandangannya bertemu dengan Albert, ayah baarunya tersebut. Pria itu pun membalas tatapan Ella dengan sebuah senyuman.
“Semoga kita menjadi keluarga yang utuh dan bahagia, ya. Gimana pun juga, sosok ayah terbaik adalah Avel Erlangga. Tetapi aku tetap berusaha menjadi sosok dan ayah bagimu,” ucap Albert.
Hati Ella pedih melihat pria itu berbicara tanpa canggung. “A-ayah?” batin Ella. Meski ini bukan pertama kalinya Ella mendengar kata-kata itu dari Albert. Tetapi kali ini rasanya benar-benar berbeda. Albert telah resmi menjadi ayah sambungnya.
Lalu, apa yang harus Ella lakukan setelah ini?
(Bersambung)
__ADS_1