Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 84. Berita Mengejutkan


__ADS_3

"Gaes, makasih ya udah bantuin aku tadi pagi," ucap Ella sambil membereskan buku-bukunya. "Lain kali bakal ku traktir makan di restoran," sambung gadis remaja itu.


"Santai aja kali. Tapi aku nggak menolak soal traktirannya," ucap Maira sambil terkekeh.


"Halah, kalo soal makanan aja Lu maju duluan," sindir Naya.


"Lah, emangnya kamu nggak? Kita kan satu frekuensi," tanya Maira sambil mencibir. "Oh iya, La. Emangnya beneran restoran Jepang itu punya kamu? Gimana ceritanya bisa tersebar di sekolah?" Maira mengalihkan pandangannya ke arah Ella.


"Ah, benar juga. Aku berhutang penjelasan sama kalian. Soal tadi pagi ... Aku harus mulai dari mana ya ceritanya?" Ella menggulung ujung rok-nya untuk menghilangkan rasa gugup.


"La, maafkan aku. Kalau kamu belum siap untuk cerita nggak apa-apa, kok. Tapi kalau ada masalah kayak tadi pagi, jangan sungkan untuk meminta bantuan kami," ujar Maira buru-buru, ketika melihat Ella gelisah dan kebingunan.


"Beneer, La. Soal tadi pagi jangan di ambil hati, ya. Kita kan sama-sama tahu, dua puluh persen murid di kelas kita itu isinya anak manja mental pembully," timpal Naya.


"Makasih ya gaes. Kalau nggak ada kalian, mungkin aku bakal sulit beradaptasi di sekolah ini," sahut Ella sembari menyeka air matanya. "Lalu aku mau ngomong sesuatu sama kalian."


Ella menjeda kalimatnya, dan menarik napas dalam-dalam lalu menatap sekeliling. Ruang kelas XII IPA 1 itu sudah kosong. Hanya ada beberapa siswa yang sedang piket di lorong kelas.


"Albert itu ayahku. Papa tiri aku. Dia dan Mamaku baru meninkah seminggu yang lalu," ungkap Ella dengan suara yang sangat lirih.


"What?" Serius kamu?" kedua temannya terperanjat mendengar pengakuan Ella barusan. "Kamu nggak lagi nge-prank kami, kan?" Bisik kedua sahabat itu dengan kompak.


Ella menggeleng kuat. "Aku serius. Dan aku ingin kalian mendengarnya dari bibirku sendiri. Jadi, restoran Jepang itu sebenarnya milik dia," kata Ella melengkapi penjelasannya barusan.


"Dia umurnya berapa, sih? Kok kelihatannya baby face?" tanya Maira penasaran.


"Umurnya baru dua puluh lima tahun," ujar Ella sambil menyeringai tipis.


"Astaga! Beruntung banget ibumu. Dapat cowok cakep, muda, kaya, baik hati. Lengkap deh pokoknya," cerocos Naya. "Ah, tapi di sisi lain aku patah hati, nih. Dia masih buka lowongan untuk calon istri nggak, ya?" sambung Naya asal ngomong.


"Nay, ini kita lagi pembahasan serius, loh. Becanda mulu," tegur Maira.


Bukannya marah, Ella hanya tertawa mendengar banyolan dari Naya. "Kamu nggak bakal lolos seleksi. Seleranya Albert itu sangat tinggi, cuma mamaku yang bisa memenuhi semua kriterianya," kata Ella.

__ADS_1


Jantung Ella berdebar kencang. Terselip rasa pedih di hatinya ketika mengatakan hal itu. Secara nggak langsung, dia mengakui kalau dirinya bukanlah wanita yang sesuai dengan kriteria pria itu.


"Ah, masa sih, La? Coba bilang sama ayahmu, dong. Turunin dikit kek spek-nya," ujar Naya dengan nada manja.


"Aku juga ogah punya ibu tiri kayak kamu," sambung Ella sambil tertawa.


"La, kamu galau waktu itu bukan karena patah hati, kan?" celetuk Maira tiba-tiba. Sorot matanya yang tajam menunjukkan kalau pertanyaannya benar-benar serius.


"Ih, apaan? Nggak lah. Aku cuma kaget aja karena tiba-tiba mama mau menikah lagi sama berondong. Mantan majikan kami pula," kilah Ella membuat alasan.


"Bagus, deh. Karena masih banyak cowok baik dan tampan lainnya untuk kamu di luar sana," kata Maira.


"Haha, ngapa jadi serius gini, sih?" gumam Ella gugup. Dia tak menyangka bahwa Maira bisa menebak masalahnya kemarin dengan tepat.


"La, kamu nggak piket? Nanti kamu pulang sendirian loh kalau nggak ikut piket sekarang," tegur salah seorang teman yang sibuk menyusun kursi.


"Ya ampun, aku hampir aja lupa. Kalian duluan aja, gaes. Aku piket dulu," ucap Ella. Siang ini adalah jadwal piket nya untuk bersih-bersih kelas.


"Daniel, tunggu!" Panggil Ella.


"Ada apaan?" tanya Daniel menghentikan langkah kakinya. Dia lalu menyuruh teman-temannya pergi terlebih dahulu.


"Kita barengan dong pergi ke warnetnya," pinta Ella yang masih memegang sapu.


"Loh, kamu masih kerja di warnet juga? Katanya sekarang udah jadi bos restoran Jepang?" goda Daniel sambil mencibir.


"Oh my ... gosipnya udah kesebar kemana-mana ya? Restoran itu bukan punyaku, tapi milik ayahku." Ella menepuk jidatnya dengan telapak tangan.


"Ayahmu? Yaelah, sama aja kali," balas Daniel.


"Pokoknya kamu jangan pergi dulu, ya. Tungguin aku sampai siap piket. Aku ikut ke warnet mu," paksa Ella.


"Iya, bawel. Ya udah, cepetan dong nyapunya. Aku udah laper, nih," sahut Daniel. "Eh, btw kapan kamu mau traktir aku di restoran milikmu?" tanya Daniel sambil mengunyah permen karet untuk mengganjal perutnya yang keroncongan.

__ADS_1


"Udah ku bilang itu restoran milik Albert. Nanti deh ku traktir, kalau abis perayaan kelulusan," kata Ella sambil menggerakkan tangkai sapunya untuk mengumpulkan sampah dan debu.


"Yah, masih lama, dong? Nggak bisa dipercepat aja?" gerutu Daniel.


"Yeee, udah minta traktiran masih aja protes. Mendingan bantuin aku ngumpulin sampah, nih. Biar kita cepat pulang," kata Ella. Kedua tangannya menyodorkan keranjang sampah plastik pada Daniel.


"Huu, gak sopan nyuruh-nyuruh bos," ucap Daniel. Tapi meskipun mengomel, Daniel tetap membantu Ella mengumpulkan sampah. Ella tersenyum geli melihat cowok yang mendadak patuh padanya itu.


...🥀🥀🥀...


"Oh, jadi begitu. Apa saja yang perlu kami lengkapi? Kira-kira kapan selesainya? Baiklah. Akan segera kami lengkapi hari ini." Bos pengusaha otomotif dan restoran Jepang itu tampak sibuk sejak pagi. Dia bolak-balik menelepon seseorang sambil membongkar semua isi lemari berkasnya.


"Sayang, kata petugas Dinas Kependudukan, berkas untuk mengurus surat-surat kita ada yang kurang," lapor Albert pada istrinya, setelah selesai menelepon.


"Bukankah kita udah melengkapi semuanya?" sahut Ghina.


"Kita harus melengkapi berkas untuk membuat kartu keluarga baru. Kamu ada nyimpan akte kelahiran Ella, nggak? Mereka butuh beberapa berkas lagi. Apa kamu bisa mengumpulkan berkasnya sendiri? Jam sepuluh nanti ada meeting dengan klien," pinta pria muda itu.


"Akte kelahiran Ella aja 'kan yang kurang?" tanya Ghina pada sang suami.


"Iya, sama ijazah SMP Ella," sahut Albert.


"Oke, anterin aku ke rumah sana. Biar ku cari berkasnya," ucap Ghina.


Ghina memang belum sempat membereakan semua benda dan surat-surat penting miliknya, ketika dia pindah kemarin. Beberapa berkas milik Ella masih disimpan di kediaman mendiang suaminya. Sesampainya di rumahnya, Ghina membongkar seisi kamar Ella lalu menurunkan sebuah Kotak kayu dari atas lemari.


Ceklak! Kotak kayu itu pun terbuka. Ghina mengecek isinya satu per satu. Dia masih belum menemukan berkas yang diperlukan.


"Astaga! Ini kan?"


Wanita itu justru menemukan benda lain di dalam kotak kayu tua peninggalan suaminya tersebut. Ghina tak mampu menahan tangis melihat benda bersampul biru yang dipegangnya kini. Dia juga menemukan beberapa amplop surat dengan kertas warna warni di dalamnya.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2