
"Sayang, kamu udah bangun?" Ghina mengetuk pintu kamar putrinya berkali-kali, tetapi dia tidak mendengar jawaban dari dalam.
"Nak? Ayo bangun. Ini udah subuh," panggil Ghina lagi.
Kamar Ella masih sunyi dan tampak gelap. Ghina memutar kenop pintu dan mencoba membukanya. Rupanya pintu kamar Ella tidak dikunci.
"Nak, ayo bangun. Sekarang udah subuh," ujar Ghina dengan lembut. Tangannya membuka selimut yang menutupi tubuh Bitna, untuk membangunkan remaja tujuh belas tahun tersebut. Ella menggeliat dan berusaha membuka kelopak matanya yang terasa lengket.
"Eh? Kamu tidur pakai seragam sekolah? Badan kamu panas banget?" kata Ghina terkejut.
"Ugh, Mama," gumam Ella. Dia nenyipitkan matanya, ketika Ghina menyalakan lampu kamar.
"Kamu hari ini izin aja. Nanti Mama telepon wali kelasmu," ujar Ghina pada buah hatinya.
"Nggak, aku harus sekolah. Hari ini ada ulangan kimia dan Bahasa Indonesia. Nggak enak kalau besok ulangan susulan di ruang guru sendirian," kata Ella.
"Badanmu demam, La. Gimana kamu mau ikut ulangan?" tanya Ghina.
"Nanti kalau minum obat pasti baikan, kok." Ella bersikeras pergi ke sekolah.
"Beneran? Kamu tadi malam nggak lupa minum obat, kan?" Ghina mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar anak gadisnya. Tiba-tiba mata Ghina melotot, melihat bungkusan plastik di atas meja belajar putrinya tersebut.
"Ella, kamu tadi malam nggak makan? Terus kamu juga nggak minum obat?" tanya Ghina sedikit marah.
"Duh, aku ketiduran, Ma," kilah Ella.
"Ketiduran? Harusnya kamu segera makan malam dan minum obat sebelum tidur. Kamu nggak tahu? Kemarin Mama khawatir banget waktu Al bilang kamu pingsan. Dokter bilang kamu sakit karena sering telat makan, kan?" Ghina mengomel pada putrinya. Ella hanya tersenyum melihatnya.
"Ella, dimarahin kok malah senyum-senyum?" protes Ghina.
__ADS_1
"Aku suka lihat Mama mengomel lagi kayak gini. Aku kangen Mama," kata Ella dengan wajah polos.
"Apa, sih? Aneh, dimarahin kok malah suka. Mama ini serius loh, La. Kamu pikir mengomel itu nggak ngabisin energi?" ujar Ghina sambil mendengus kesal.
Ella merangkul pinggang sang ibunda dengan erat. "Maafin aku, Ma. Selalu bikin Mama marah dan khawatir," bisik Ella.
Ghina mengusap rambut putrinya yang halus. "Maafin Mama juga, ya. Mama kayak gini karena sayang sama kamu," kata Ghina. "Sekarang kamu ganti baju dan sholat subuh dulu sana. Abis itu kita panaskan lagi nasi goreng ini," ajak Ghina.
"Aku nggak mau nasi goreng, Ma. Tadi malam Al yang memaksaku untuk beli," ujar Ella. "Aku mau makan mi rebus pakai telur aja dan cabe rawit yang banyak," imbuhnya.
"Ya udah, biar Mama yang masakin. Abis itu janji kamu minum obatnya, ya," kata Ghina. Ella mengangguk.
...🥀🥀🥀...
Pagi harinya di sekolah. Ella dan teman-teman sekelasnya sibuk belajar kimia dadakan untuk ulangan nanti. Mereka duduk di bawah pohon di samping kelas mereka.
"What?" jawab Ella.
"Tuh, lihat ke halaman depan," kata Maira lagi.
Ella memutar lehernya dan melihat ke halaman sekolah. Para siswa yang baru datang hilir mudik memarkirkan kendaraannya. Sedetik kemudian kelopak mata Ella melebar.
"Astaga. Ngapain dia di sini?" seru Ella kesal.
"Cie... Ciee... Cie... Ella... Siapa, tuh? Cakep banget," sorak teman-teman sekelas gadis itu.
Ella setengah berlari menuju ke halaman depan sekolah, untuk menemui Albert. Dia merasa malu disorakin seperti itu. Apalagi jika teman-temannya tahu, cowok ganteng itu adalah calon ayah tirinya.
"Hai." Albert memperlihatkan senyum manisnya pada Ella. Kemeja putih lengan panjang yang digunakannya, membuatnya semakin menawan.
__ADS_1
"Ngapain, sih ke sini?" kata Ella dengan ketus.
"Kok gitu ngomong sama ayahnya?" tegur Albert.
"Ayah? Ayah apa? Belum sah juga." Ella memasang wajah jutek.
"Belum sah? Jadi udah direstuin dan bakalan sah, nih?" Albert tergelak melihat wajah Ella yang masam.
Jeder!!! "Ya Tuhan. Jantungku bisa meledak kalau menatapnya kayak gini," gumamnya dalam hati. Ella tidak sempat menampik ucapan Albert, karena sibuk menenangkan jantungnya.
Pria di hadapan Ella semakin bertambah ganteng ketika tertawa. Lengan bajunya yang dilipat hingga ke siku, membuatnya terlihat casual tapi juga fasionable.
"Nih, bukumu ketinggalan di mobil." Albert menyershkan sebuah buku paket kepada Ella.
"Kan bisa kamu titip sama mama?" balas Ella.
"Takutnya ntar kamu pakai. Makanya langsung ku antar ke sini. Nih, aku bawain resoles sama getuk goreng. Kalau kamu nggak mau, bagiin ke teman-teman aja," ujar Albert.
"Tumben beli gorengan sama getuk? Biasanya kue-kue mahal?" celetuk Ella.
"Aku penasaran sama selera kamu. Mungkin aja kamu udah bosan sama kue-kue mahal itu, makanya nggak pernah dimakan," ujar Albert.
"Thanks, ya. Ella menerima kantong plastik berbau harum tersebut. Besok-besok jangan ke sini lagi," pinta Ella.
"Nggak janji. Hehehe ... " Sahut Albert sambil tersenyum jahil. "Udah, ya. Aku pergi dulu. Semangat ya belajarnya," sambung pria itu. Dia lalu beranjak dari hadapan Ella.
"Ghin, aku udah dari sekolah Ella, nih. Kayaknya dia aman-aman aja." Albert menelepon Ghina, setelah sampai di mobilnya. Ella tidak tahu, jika Ghina lah yang meminta Albert untuk mengecek keadaannya di sekolah.
(Bersambung)
__ADS_1