
"Ya ampun, La! Mata kamu kenapa? Kok udah kayak panda gitu? Kamu sakit, ya?" tanya Maira yang baru aja sampai di kelas.
"Nggak, kok. Cuma kurang tidur aja," kata Ella.
"Kurang tidur apanya? Wajah kamu pucat gitu. Kamu udah sarapan apa belum, sih?" tanya Maira lagi. "Nih, aku bawa bekal nasi goreng sosis," sambung Maira sambil menyodorkan kotak bekal yang berbau harum.
"Aku nggak apa-apa kok, Mai. Aku juga udah sarapan di rumah," kata Ella.
"Kamu kurang tidur apa nggak tidur semaleman? Muka kamu udah kayak papa aku kalau pulang ngeronda," kata Naya yang baru bergabung.
"Hehehe, sans aja gaes. Aku pasti cuma kecapekan aja. Hari minggu kemarin ada acara," kata Ella.
"Ya udah kalau gitu. Bel udah bunyi tuh," ujar Maira. Para siswa kelas tiga SMA itu langsung menuju ke lapangan sekolah untuk mengikuti upacara.
Langit terlihat indah membentang berwarna biru tanpa awan. Mentari bersinar cerah, memancarkan sinarnya yang kuning keemasan ke segala arah. Para siswa dan tenaga pendidik yang berbaris rapi di lapangan, melaksanakan upacara bendera dengan keringat bercucuran.
"Ugh, kok gelap, ya?" gumam Ella sambil mengedip-ngedipkan matanya berkali-kali. Kepalanya terasa berat, dan badannya terhuyung.
Bruk! "Ella!" seru teman-teman sekelasnya. Remaja itu pingsan, tepat di saat bendera merah putih dikibarkan.
...🥀🥀🥀...
"Pusing," batin Ella sambil membuka kelopak matanya. "Heh? Ini di mana?" Remaja itu terkejut melihat langit-langit berwarna putih bersih di atasnya.
"Kamu udah sadar, Nak?"
__ADS_1
Suara wanita yang sangat familiar di telinganya, membuat Ella menoleh ke samping. "Bu Elya?" seru Ella. Gadis itu semakin bingung.
"Tadi kamu pingsan di lapangan. Makanya dibawa ke UKS," jelas Bu Elya, seakan mengerti isi kepala siswinya tersebut. "Minum dulu tehnya. Kamu udah sarapan atau belum?"
"Saya udah sarapan, Bu," kata Ella setelah menyeruput teh manis dalam gelas.
"Gimana keadaan kamu sekarang? Mau berobat ke klinik? Atau pulang ke rumah? Biar Ibu telepon orang tua kamu?" ujar Bu Elya dengan lembut.
"Saya nggak apa-apa kok, Bu. Udah agak mendingan. Kemarin saya cuma kurang istirahat aja," kata Ella buru-buru. Dia tidak ingin Ghina dan Albert tahu, kalau dirinya pingsan di sekolah.
"Ya sudah kalaua begitu. Istirahat aja di sini sebentar. Nanti baru kembali ke kelas," kata Bu Elya.
"Maaf, Bu. Saya boleh bertanya?" ujar Ella.
"Ya, silakan. Mau tanya apa?"
"Kamu nggak ketinggalan pelajaran, kok. Upacara aja belum selesai. Kamu tuh pingsannya cuma sebentar. Kalau kamu pingsan selama satu jam pelajaran, udah pasti bangunnya nggak di sini lagi. Tetapi di rumah sakit," kata Bu Elya sambil tertawa.
"Eh, gitu ya?" Ella menundukkan wajahnya yang memerah karena malu.
"Ya udah, ibu tinggal dulu, ya. Nanti kalau upacara udah selesai, kamu boleh ke kelas," kata Bu Elya.
"Terima kasih, Bu," ucap Ella pada wali kelasnya.
"Duh, aku kok kayak gini, sih? Padahal aku udah janji akan baik-baik aja setelah dia menikah," sesal Ella. "Dia pasti akan mentertawakanku, kalau tahu aku pingsan di sekolah," batin gadis itu lagi.
__ADS_1
...🥀🥀🥀...
Sorenya sepulang sekolah dan bekerja di warnet, Ella mendapati mamanya dan Albert berada di rumah. Mereka berdua sibuk mengemas barang-barang ke dalam sebuah kardus. Ella merasa sangat canggung berhadapan dengan Albert yang telah berubah status.
"Mama, ada apa ini?" tanya Ella.
"Oh, kamu udah pulang, Nak? Makan dulu sana. Mama tadi ada bawa rendang dan ayam balado," kata Ghina. "Setelah itu kemasin barang-barangmu, ya," imbuh pengantin baru itu lagi.
"Kenapa? Kita mau ke mana?" tanya Ella.
"Lho, kita kan bakal pindah ke rumah Al," jelas Ghina.
"Aku nggak mau pindah," tolak Ella dengan tegas.
"Kenapa, sayang? Masa kamu mau tinggal di sini sendirian? Dan gak mungkin kan, Al yang pindah ke rumah kita yaNg sempit ini?" ucap Ghina.
"Tapi aku nggak mau pergi dari rumah ini." Ella bersikukuh pada keinginannya.
"Ella! Jangan membantah. Mama menikah bukan hanya untuk kebahagiaan Mama sendiri," ucap Ghina dengan nada suara yang mulai tinggi.
"Sayang, biarkan Ella memilih mau tinggal di mana," ujar Albert menengahi.
"Memangnya kamu berani tinggal di sini sendirian? Kalau kamu sakit, bangun kesiangan dan lain sebagainya, siapa yang akan merawatmu?" omel Ghina.
Ella menghela napasnya. "Ada benarnya juga kata Mama. Tapi apakah aku bisa bertatap muka dengan dia setiap hari? Tadi pagi aja aku sampai pingsan di sekolah, gara-gara nggak bisa tidur dan kepikiran terus?" pikiran Ella berkecamuk.
__ADS_1
(Bersambung)