
"Kakak ada perlu apa ke sini? Mau jumpa sama siapa?" tanya Kiki.
"Ah, kayaknya aku terlambat datang, ya. Anak-anak udah pulang sekolah semua. Tadinya aku mau bertemu sama Kiki dan Dewi dari kelas dua belas," ujarnya.
"Siapa sih pria ini? Kenapa mau bertemu sama kami?" pikir Dewi curiga.
"Kak, aku Kiki. Pas banget kita ketemu di sini," ujar Kiki bersemangat. Sementara Dewi mendelikkan matanya, memberi isyarat pada Kiki agar berhati-hati.
Melihat Dewi dan Kiki sibuk dengan pria tampan itu, gadis lugu yang hampir dibully tadi pun langsung kabur. Pria yang menyadari hal itu, sengaja membuat Kiki dan Dewi semakin lengah.
"Oh, ya? Kiki Noor ... ?" Pria itu mengingat-ingat sebuah nama.
"Kiki NoorJane, maksud kakak? Itu aku. Lalu ini temanku, Dewi Fatima. Tapi kakak siapa, ya?" tanya Kiki lagi. Gadis remaja itu rupanya tidak menangkap sinyal dari Dewi barusan. Ketampanan pria di hadapannya telah melenyapkan rasa waspadanya.
"Ah, jadi kamu beneran anaknya Jade Ronald yang pengusaha otomotif itu? Aku Albert Candra Putra, rekan kerja ayahmu," kata pria itu.
"Beneran? Tapi kenapa mencariku ke sini?" tanya Kiki dengan polos.
"Hah, itulah dia. Sebenarnya aku ingin mengundang ayahmu ke sebuah acara bisnis. Tapi dia malah nggak bisa dihubungi, setelah menjalin kerja sama dengan perusahaan asal negeri seberang. Katanya mereka menggelapkan uang investasi," kata Albert.
"Ah, i-itu ..." Kiki membeku di tempatnya. "Gimana dia bisa tahu tentang berita papa? Padahal Papa udah capek-capek sembunyi dari publik," batin Kiki.
"Tapi aku nggak yakin berita itu benar. Jade yang ku kenal itu sangat idealis dalam berbisnis," imbuh Albert.
"Iya, itu memang cuma gosip," sahut Kiki dengan cepat. Wajahnya yang tadi pucat, kembali normal.
"Sst, jangan langsung percaya. Bisa aja dia berbohong, dengan memanfaatkan wajah tampannya. Coba aja pastikan identitasnya pada ayahmu." Dewi mengirim pesan pada Kiki.
"Terus, maksud Kakak apa mencariku? Kakak nggak punya maksud lain, kan?" kata Dewi yang semakin curiga.
__ADS_1
"Hmm? Aku cuma penasaran, secantik apa sih anak dari selingkuhan pengacara terkenal dan salah seorang pejabat itu? Rupanya kamu benar-benar cantik. Jauh lebih cantik dari ibumu," puji Albert.
"Hah? Ibunya Dewi itu selingkuhan?" batin Kiki, yang baru saja mendengar hal itu. Sebenarnya pria ini siapa, sih?" Diam-diam Kiki memotret Albert, dan menanyakan identitas pria itu pada papanya yang bersembunyi di suatu tempat. Sesuai dengan saran dari Dewi tadi.
"K-kok dia bisa tahu hubungan mama dengan pria yang mengaku sebagai ayahku itu?" batin Dewi.
"Bicara Kakak nggak sopan. Itu cuma gosip. Ibuku bukanlah wanita simpanan," bantah Dewi kemudian.
"Ah, di mananya yang nggak sopan? Kan aku cuma mengatakan sesuai gosip yang beredar," kata Albert.
"Gosip dari mana? Selama ini aku nggak pernah mendengar hal sekeji itu. Ya itu sama aja memfitnah orang lain. Kakak bisa dihukum jika mencemarkan nama baik seseorang," tegas Dewi.
"Oh, jadi gitu? Menuduh dan memfitnah orang lain sembarangan bisa terkena pasal pencemaran nama baik, ya? Kalau begitu kalian juga bisa kena, dong. Kalian kan juga pernah memfitnah seseorang," kata Albert sambil menaikkan sebelah alisnya. Bibirnya menyeringai tipis. Dia terlihat tampan, sekaligus mengerikan.
"Maksud Kakak apa? Kami nggak pernah berbuat seperti itu," tanya Dewi dengan wajah bingung.
"Apa-apaan ini? Siapa yang merekamnya? Ini salah paham," ujar Kiki dan Dewi tidak terima.
"Oh ya? Cuma salah paham? Jadi video ini cuma fitnah?" pria itu menarik kembali HP-nya.
"I-iya, itu cuma fitnah," ujar Kiki dan Dewi bersamaan.
"Ah, aku baru ingat! Kakak cowok yang sering datang ke sini buat cari Ella, kan?" pekik Dewi ketika menyadari siapa pria di hadapan mereka saat ini.
"Benar. Aku Albert Candra Putra, bodyguard Ella saat ini. Jadi siapa pun nggak bisa berbuat macam-macam padanya," ujar pria itu.
"Bo-bodyguard? Cewek kayak gitu, ah maksudku Ella punya bodyguard?" ulang Dewi.
"Iya. Aku bodyguard pribadinya," kata Albert sambil menaikkan alisnya. "Kalian memang cantik, tetapi aku nggak tertarik. Karena kecantikan hati kalian adalah palsu," jelas Albert.
__ADS_1
Glek! "Mampus aku. Kayaknya dia bukan orang sembarangan, deh," kata Kiki dalam hati. Wajahnya semakin pucat. "K-kak, maaf. Maksud kamu nggak gitu. Kami cuma ingin bercanda. Tetapi Ella malah menanggapinya dengan serius," ujar Kiki membela diri.
"Iya, benar. Waktu pengambilan video ini juga nggak tepat, jadi seakan-akan kami yang salah," timpal Dewi.
"Ah, jadi begitu? Berarti aku yang salah paham?" kata Albert. "Tapi kalau ngomongnya di belakang Ella, apa tetap bisa dianggap bercanda? Aku juga punya bukti videonya, lho," ancam Albert dengan senyuman misterius di wajahnya.
"Sialan! Siapa sih yang berani ngerekam dan nyebarin video ini? Awas aja nanti. Akan ku laporkan pada mama dan tunggu aja akibatnya," batin Dewi dengan kesal.
"Akh, astaga!" Tanpa sadar Kiki memekik, ketika mendapat balasan dari papanya.
"Kenapa, Ki?" tanya Dewi panik. "Dia bukan wartawan, kan?" bisik remaja itu.
"D-dia bos papaku," balas Kiki dengan berbisik pula. Tubuhnya gemetar hebat. Pria di hadapannya saat ini adalah salah satu korban penggelapan uang dari papanya. "Kenapa Ella bisa punya hubungan sama orang ini? Sebagai bodyguardnya pula," batin Kiki dengan cemas.
"Kenapa, Ki? Udah tahu siapa aku sekarang?" tanya Albert dengan suara yang sangat lembut.
"Huhuhu ... Maafkan aku. Aku janji nggak bakalan berbuat hal itu lagi. Tolong jangsn penjarain aku dan ayahku," tangis Kiki sambil memohon ampunan.
"Ck, gak semudah itu. Hari ini Ella sampai nggak masuk sekolah karena mentalnya down, tapi kalian malah enak-enakan di sini," kata Albert. "Belum lagi kalian udah bikin mobilku lecet. Bahkan gaji mama kamu aja nggak bisa menggantinya," kata Albert sambil menatap Dewi.
"Aku nggak takut. Yang aku bicarakan itu nggak salah. Kalau kakak mau menuntutku, mamaku nggak akan tinggal diam." Berbeda dari Kiki, Dewi justru menantang Albert tanpa rasa takut.
"Wi, udahlah. Minta maaf aja. Jangan bikin masalah semakin runyam," bisik Kiki.
"Aku tuh nggak penakut kayak kamu. Orang tuaku juga bukan kriminal kayak papamu yang menggelapkan uang," balas Dewi dengan angkuh.
"Nggak masalah kalau kamu nggak minta maaf. Berarti aku boleh menyimpan foto dan video ini, dong. Waktu di Bali kemarin, nggak sengaja aku bertemu mereka." Foto yang ditunjukkan Albert, berhasil membuat mata Dewi dan Kiki terbelalak.
(Bersambung)
__ADS_1