
“Uhuk! Uhuk!” Ella terbatuk-batuk sembari menatap ke layar computer. Napasnya terasa sangat sesak. Suara bising dari musik, memekakkan telinganya.
“Nih, minum dulu. Kamu beneran nggak apa-apa?” tanya Daniel khawatir. Pemuda itu telah berganti pakaian dengan baju kaos hitam polos. Rambutnya disisir acak. Imagenya jadi jauh berubah dibandingkan di sekolah. Yah, Bahasa sederhananya, dia terlihat lebih tampan.
“Aku nggak apa-apa, kok. Ini karena aku baru pertama kali mencoba. Tapi lama kelamaan pasti terbiasa,” ujar Ella sambil menerima air mineral yang diberikan oleh Daniel.
“Sebenarnya dari awal aku nggak mengizinkan mereka merokok di dalam bilik komputer. Karena yang menggunakan warnet ini nggak cuma orang dewasa, tetapi juga anak sekolah yang membuat tugas,” kata Daniel.
Ya, ke sini lah Daniel membawa Ella bekerja. Di sebuah warung internet alias warnet, yang dikelola oleh Daniel sendiri. Ella bekerja sebagai kasir dan menjaga mesin printer, menggantikan kasir sebelumnya yang mengundurkan diri. Pekerjaannya cukup sederhana, tetapi gajinya lumayan besar, yakni tiga puluh ribu per hari. Jika dikali dengan jumlah hari dalam sebulan, jumlahnya akan lebih banyak dari uang jajannya selama ini.
“Kamu tahu, nggak? Ini pertama kalinya aku mengajak cewek bekerja di sini,” kata Daniel dengan bangga.
“Ah, masa?” cibir Ella.
“Iya, beneran. Karena tempat ini selalu dipenuhi cowok yang bermain game, jadi aku juga memperkerjakan cowok di sini sebagai kasir dan operator. Dulu pernah sih adek sepupu aku jaga kasir di sini, tapi cuma tiga hari. Itu pun nggak digaji,” cerita Daniel.
Ella tersenyum mendengarkan cerita Daniel. Lara di hatinya sedikit terobati setelah berbincang-bincang dengan pria itu. Mungkin ini pertama kalinya Ella ngobrol santai dengan cowok di luar sekolah, selain bersama Albert.
“Ini juga pengalaman pertama aku jadi kasir. Eh, bukan. Pengalaman pertama aku bekerja,” ungkap Ella jujur. “Tetapi mungkin aku hanya bisa bekerja di sini selama senin sampai sabtu aja. Hari minggu aku nggak bisa,” lanjutnya.
“Karena ibumu, ya?” tanya Daniel. Ella mengangguk.
“Ya, tidak apa-apa. Aku mengerti. Lagian hari minggu aku kan nggak ada kegiatan, jadi bisa jaga warnet,” sahut Daniel. “Oh iya, dari pada bosen nungguin meja kasir, mau ku tunjukin sesuatu yang menarik, nggak?” tanya Daniel.
__ADS_1
“Apa tuh?” sahut Ella penasaran.
“Kamu pasti nggak pernah main game, kan? Aku punya satu game menarik untuk kamu,” ujar cowok itu seraya mengedipkan sebelah matanya.
“Yang benar? Aku belum pernah main game, lho. Jadi penasaran, nih,” ujar Ella.
Kedua remaja itu menjadi akrab dalam waktu singkat. Ella yang semula banyak termenung dan bersedih, sekarang sudah bisa kembali tersenyum ceria. Beberapa kali dia dan Daniel taruhan memenangkan game.
“Seru banget hari ini. Ternyata bermain game seseru itu, ya,” kata Ella.
“Aku nggak nyangka, ternyata kamu orang yang asik. Aku pikir selama ini kamu cuma anak teladan yang tahunya cuma belajar,” kata Daniel.
“Ah, kata siapa? Sebenarnya aku juga ingin senang-senang, kok. Tetapi cuma nggak punya waktu aja. Karena aku harus membantu mamaku,” sahut Ella. “Kayaknya ini pertama kalinya aku main bareng teman cowok, deh,” lanjut Ella sambil mengingat-ingat.
“Eh? Apa maksudmu?” tanya Ella.
“Kamu mungkin nggak tahu, aku sering perhatikan kamu kalau di kantin. Dan beberapa hari ini kamu kelihatan lesu banget. Terutama sejak cowok itu datang ke sekolah,” ungkap Daniel.
Ella menghembuskan napas dengan kasar. “Kelihatan banget, ya? Sampe kamu yang nggak sekelas sama aku aja bisa tahu,” kata Ella.
“Kamu itu anak yang ceria, La. Jadi kalau kamu tiba-tiba jadi murung dan pendiam, pasti ada sebabnya,” ujar Daniel. “Aku nggak akan bertanya siapa cowok itu. Aku nggak mau menganggu privasimu. Tetapi dia bukan debt collector, kan? Kamu bekerja di sini kayaknya untuk menghindari dia, deh?” tebak pemuda itu.
“Hahaha, kamu dengar itu dari mana?” Ella tertawa terbahak-bahak. “Ya jelas bukanlah. Ngapain debt collector datengin aku ke sekolah?” lanjut remaja berambut hitam kecoklatan itu.
__ADS_1
“Aku nggak sengaja dengar waktu kamu ngobrol bareng Melda tadi pagi,” kata Daniel.
“Daniel, kamu tahu nggak?” tanya Ella. Remaja itu melemparkan pandangannya keluar, menatap langit biru yang diselimuti gumpalan awan putih.
“Aku bukan dukun yang bisa menebak isi hatimu, La,” ucap Daniel sambil tertawa kecil.
“Hari ini aku senang banget. Bukan cuma karena dapat pekerjaan, tetapi juga dapat teman baru. Aku sering lihat kamu main ke kelasku, tapi sebelum ini kita nggak pernah saling sapa, kan?” ujar Ella. “Perasaanku juga jauh lebih tenang, setelah curhat denganmu. Mungkin setelah ini, aku harus lebih kuat menghadapi kenyataan,” ungkap gadis itu.
“Jadi mulai sekarang kita berteman, kan?” Daniel mengulurkan tangan kanannya.
“Tentu,” sahut Ella sambil menjabat tangan Daniel.
“Oh iya, ini gajimu.” Daniel menyerahkan beberapa lembar uang pada Ella.
“Loh, kok langsung gajian?”
“Khusus untuk hari pertama aja. Aku nggak mau lihat kamu pulang jalan kaki,” kata Daniel. “Untuk selanjutnya gajimu akan ku kasih seminggu sekali.”
“Wah, beneran?” Senyum mengembang di wajah Ella. Dia menerima uang itu dengan gembira. “Ah, tapi … Setelah ini aku harus pulang ke rumah.” Perasaan Ella mendadak jadi gundah lagi.
"Oh iya, La. Aku juga mau minta maaf. Sebenarnya aku membawamu ke sini karena ingin memanfaatkanmu," ungkap Daniel jujur.
"Maksudmu?" tanya Ella.
__ADS_1
(Bersambung)