Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 32. Papa Muda?


__ADS_3

“Ella sekarang ada sama saya. Tapi dia lagi nggak bisa bicara dengan Bapak,”


“Kenapa nggak bisa? Sebenarnya Ella kenapa?” bentak Albert, memotong ucapan pria tersebut.


“Tenang, Pak. Putri Bapak sekarang ada di klinik Tsabita. Dia lagi diperiksa dokter. Saya menelepon Bapak, karena dari tadi Banyak panggilan keluar dari Ella ke nomor Bapak,” ujar supir angkot tersebut.


“Klinik Tsabita itu ada di mana? Aku segera ke sana,” ujar Albert.


Setelah mendapatkan alamat klinik tersebut, Albert langsung memacu kendaraannya. Jalanan pinggiran kota yang cukup sepi, membuat pria itu leluasa mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pria itu juga mengabari Ghina melalui telepon.


“Ghina, aku udah tahu keberadaan Ella. Sekarang aku mau jemput dia,” ucapnya.


“Syukurlah,” ujar Ghina. “Keadaannya baik-baik aja, kan?” tanya wanita itu.


“Hmm? Y-ya, semoga,” sahut Albert gugup. Dia juga nggak tahu, gimana keadaan Ella sekarang.


“Kok jawabanmu ragu-ragu gitu? Emangnya Ella lagi di mana?” kata Ghina curiga.


“Dia nggak bilang apa-apa, cuma kasih tahu lokasinya. Nanti aku telepon lagi, ya,” kilah Albert.


Tluk! Telepon Ghina sudah terputus. Pria muda itu mengembuskan napas lega, karena Ghina tidak bertanya tentang Ella lagi. Tetapi pikirannya masih gundah memikirkan remaja tersebut.


“Klinik Tsabita itu berada di sekitar makam ayahnya. Berarti benar, tadi Ella menuju ke sana. Tetapi apa yang terjadi padanya? Kenapa dia bisa di bawa ke klinik bersama supir angkot? Apa dia kena tabrak kendaraan?” pikir Albert tidak sabar untuk bertemu calon putrinya.


...🥀🥀🥀...

__ADS_1


“Permisi, apa ada pasien bernama Azu- … Ah, maksud saya Ella?” Albert bertanya pada pasien resepsionis.


“Apa Bapak yang bernama Albert?” tanya resepsionis tersebut memastikan.


“Iya, saya Albert yang di telepon supir angkot tadi. Oh iya, biaya perawatan Ella berapa?”


“Sudah dibayar sama supir tadi, Pak. Mari ikut saya,” ucap resepsionis tersebut, lalu membawa Albert ke sebuah kamar rawat. Tepat di depan kamar tersebut, seorang pria duduk sambil memainkan ponselnya.


“Apa Anda supir angkot tadi?” tanya Albert.


“Iya. Anda siapa?” Pria itu mengerutkan keningnya, dan menatap Albert cukup lama.


“Oh, saya Albert. Ayah dari Ella yang Bapak telepon tadi,” jawab Albert sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Supir angkot itu tidak membalas jabatan tangan Albert. Apa benar kamu ayahnya? Tapi …” Pria itu tidak mempercayai ucapan Albert. “Dia ayahnya? Tapi kenapa malah lebih seperti abangnya? Pria ini pasti masih berumur dua puluhan,” gumam supir angkot tersebut dalam hati.


“Maaf, saya sudah mencurigai Anda,” ujar supir angkot tersebut. Dia lalu menjabat tangan Albert.


“Nggak apa-apa. Saya maklum, kok,” jawab Albert sambil tersenyum.


“Putri Anda baik-baik aja sekarang. Tadi dia pingsan di angkot saya. Kata dokter tekanan darah dan gula darahnya sangat rendah,” jelas supir angkot tersebut. “Tadi dia sempat sadar sejenak dan menyebutkan namanya. Tetapi sebelum mengatakan alamat rumahnya, dia keburu pingsan lagi,” lanjut pria itu.


“Terima kasih sudah menolong putri saya.” Albert lalu membuka pintu ruang rawat dan melihat Ella terbaring lemah di sana. Separuh tubuh remaja itu tertutup oleh selimut berwarna putih.


“Kalau begitu saya permisi dulu. Ini HP putri Anda saya kembalikan.”

__ADS_1


“Ah, tunggu! Ini ongkos Ella tadi,” ujar Albert sambil menyerahkan beberapa lembar uang berwarna biru.


“Waduh, ini kebanyakan, Pak. Anak sekolah ongkosnya cuma tiga ribu,” tolak supir angkot tersebut.


“Nggak apa-apa. Ini ongkos Ella sampai ke klinik dan juga mengganti biaya berobat di klinik, sekaligus ucapan terima kasih saya,” paksa Albert.


“Beneran, Pak?” tanya supir angkot tersebut ragu-ragu.


“Iya beneran. Kalau Ella bersama orang jahat, mungkin dia nggak berada di sini sekarang,” kata Albert.


“Kalau gitu saya terima ya, Pak. Terima kasih banyak,” ucap supir angkot tersebut.


Setelah sang supir angkot pergi, Albert pun berbincang sebentar dengan perawat di klinik tersebut. Kemudian dia masuk ke ruang rawat untuk mengecek keadaan Ella. “Kamu udah bangun? Gimana keadaanmu?” tanya Albert.


Ella memalingkan wajahnya ke arah dinding. “Kenapa kamu mengaku jadi ayahku?” ucap gadis itu. Suaranya terdengar berbisik dan hampir menangis.


“Ayo kita pulang. Kata perawat tadi kamu udah boleh pulang dan harus banyak istirahat,” ucap Albert mengabaikan kalimat Ella barusan.


“Al?” gumam Ella.


“Hmm?”


“Kenapa kamu mengaku sebagai ayahku?” Ella mengulangi pertanyaannya. “Kamu kan bisa aja mengaku sebagai abangku, sepupuku atau apalah. Kita juga nggak bakalan ketemu dengan supir angkot tadi, jadi berbohong dikit nggak apa-apa, kan? ucap Ella lirih. Nada suaranya seperti memendam kekesalan.


“Dia tahu kok hubungan kita sebenarnya. Aku majikan kamu, seperti yang namaku yang kamu simpan di sini,” kata Albert sambil menyerahkan ponsel milik Ella. “Sejauh itukah hubungan kita sekarang? Sampai kamu cuma menganggapku sebagai seorang majikan?” lanjutnya. 

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2