
"Aku tuh nggak penakut kayak kamu. Orang tuaku juga bukan kriminal kayak papamu yang menggelapkan uang," balas Dewi dengan angkuh.
"Nggak masalah kalau kamu nggak minta maaf. Berarti aku boleh menyimpan foto dan video ini, dong. Waktu di Bali kemarin, nggak sengaja aku bertemu mereka."
Foto yang ditunjukkan Albert, berhasil membuat mata Dewi dan Kiki terbelalak. Seorang pejabat yang akan mencalonkan sebagai bupati, tampak bercengkrama dengan wanita cantik yang mengenakan pakaian pantai.
Ini bukan pertama kalinya Dewi melihat mamanya bermesraan dengan pria lain. Tetapi entah kenapa saat ini hatinya terasa sangat malu. "Untuk apa Kakak menyimpan foto seperti itu?" tanya gadis itu sambil menyembunyikan jemarinya yang menggigil.
"Untuk jaga-jaga, kalau kalau kalian melanggar janji," ucap Albert dengan wajah serius.
"Aku minta maaf, aku nggak akan mengulangi lagi," ucap Dewi tiba-tiba.
"Oke, aku terima permintaan maaf mu," jawab Albert. "Tetapi foto ini tetap akan kusimpan," sambungnya lagi.
"Loh, kenapa? Aku kan sudah meminta maaf," tanya Dewi yang tidak terima. "Tolong hapus foto itu di hadapanku sekarang juga," ucapnya lagi.
"Wah, lihatlah. Anak kecil ini sudah pandai memerintah ku rupanya." Albert tertawa sinis. "Aku akan menghapus foto ini, setelah kamu meminta maaf dengan tulus pada Ella," jelas Albert.
"Aku pasti akan melakukannya," janji Dewi.
"Nggak semudah itu untuk mempercayai ucapanmu, bocah," kata Albert Sambil tertawa. "Aku harus melihatnya sendiri," kata pria itu lagi.
"Gimana caranya? Kami pasti akan melakukannya," ucap Kiki yang sedari tadi diam saja.
Dewi mendengus kesal. Sikap yang angkuh itu, tidak mudah membuatnya untuk meminta maaf pada orang lain. sejak dulu dia terbiasa yang diperlakukan bagai Ratu oleh ibunya.
"Gimana masih mau bersifat angkuh? Dengan satu kalimat dari ku saja, pasti media akan langsung percaya. Kamu nggak terima dengan tuduhan ini, kan? Sama, Ella juga tidak pernah menerima perlakuan seperti ini," kata Albert.
"Kak, aku mohon maafkan kami. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi," ucap Kiki berkali-kali.
"Baiklah. Aku akan mengampuni kalian, kalau kalian datang ke alamat ini nanti sore," ujar Albert.
Seraya memberikan sebuah alamat restoran Jepang yang terkenal. "Kita ketemuan di sini nanti sore pukul lima. Kalau kalian datang terlambat, tunggu saja akibatnya," ucap Albert. Kiki dan Dewi saling berpandangan, lalu menatap Albert penuh curiga.
__ADS_1
"Kalau kalian ragu, kalian boleh minta temani siapapun, kok. Ditemani sama orang tua kalian juga boleh," ucap Albert. "Pokoknya aku tunggu kedatangan kalian berdua, gadis manis," sambung Albert sambil menebarkan pesonanya.
...🥀🥀🥀...
Sore itu, pukul lima kurang lima belas menit. Dua orang bocah remaja berdiri dengan wajah bingung, di depan restoran Jepang yang terkenal. Mereka menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari seseorang. Teriknya sinar matahari membuat tubuh mereka bermandikan peluh.
Suasana restoran cukup ramai. Kiki dan Dewi kesulitan mencari seorang pria yang membuat janji pada mereka tadi siang. Dinding kaca restoran itu, membuat mereka bisa memantau keadaan dari luar.
"Selamat sore, Dek. Ada yang bisa dibantu?" tanya salah seorang petugas keamanan.
"Kami sedang menunggu seseorang," ucap Dewi.
"Silakan tunggu di dalam saja," kata petugas keamanan itu.
"Ah, enggak usah. Kami tunggu di sini aja," kata Dewi. Bocah SMA yang berdandan cantik itu sedikit menyesal, karena tidak ingat untuk menanyakan nomor Albert. Lalu bagaimana caranya menghubungi pria itu saat ini?
"Sebenarnya kami datang ke sini, karena disuruh oleh seorang pria yang bernama Albert. Tapi kayaknya suka sekarang batang hidungnya juga belum muncul, deh." kata Kiki ceplas ceplos.
"Astaga! Rupanya keliling adalah tamu yang ditunggu-tunggu oleh Tuan Albert? Beliau sudah menunggu kalian dari tadi. Kalau boleh tahu siapa nama kalian?" kata petugas keamanan itu.
"Mari ikut saya ke ruangan Tuan Albert," ucap pria itu.
...🥀🥀🥀...
Ruangan yang indah dan luas dengan dekorasi modern. Pendingin udara dengan aroma Sakura yang menyegarkan. Serta seorang pria tampan yang duduk manis di sofa, membuat Kiki dan Dewi seakan-akan berada di dalam sebuah drama Korea.
"Akhirnya kalian datang juga. Berani juga kalian. Ku pikir kalian akan datang ditemani orang tua," ucap Albert sambil tersenyum sangat manis. Berbeda dengan tadi siang, tampilannya begitu maskulin dengan pakaian semi formal. Pria itu terlihat lebih dewasa dan memukau.
"Ah, iya begitulah," kata kiki dengan canggung. Tubuhnya yang mungil dibalut dengan dress mini yang sangat cantik. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai, dengan disematkan jepit di salah satu sisinya.
Sementara Dewi tampil dengan sedikit tomboy dengan celana panjang berpotongan lurus dan sebuah blouse off soulder yang memperlihatkan bahunya yang jenjang. Rambutnya yang hitam dan panjang diikat dengan model ponytail.
"Duduklah, aku punya sidang istimewa untuk kalian," kata Albert.
__ADS_1
"Tapi aku lagi diet," tolak Dewi secara terang-terangan.
"Tenang aja, aku udah memilih kan menu yang sangat ramah bagi para gadis. Makanan ini rendah kalori, tapi tetap enak kan pasti suka," bujuk Albert.
"Tidak perlu, langsung aja katakan. Mengapa kakak menyuruh kami ke sini?" tegas Dewi.
"Jangan suudzon dulu. Aku nggak minta kalau ngapa-ngapain, kok. Masa jauh-jauh datang ke restoran Jepang cuman duduk aja?" desak Albert.
"Ya okelah, aku akan makan dulu. Lalu Kakak harus menepati janji untuk memaafkan kami," pinta Kiki.
"Aku janji," kata Albert. Senyuman yang manis membuat kedua gadis itu meleleh. Tidak ada yang tahu jika dia sebenarnya telah menikah.
Tidak lama kemudian beberapa menu pun datang memenuhi meja makan. Meskipun sudah sering mencicipi menu masakan Jepang, tetap saja hidangan kali ini membuat air liur Kiki dan Dewi meleleh.
"Makanan ini tidak diracun, kan? tanya Dewi masih merasa curiga.
"Hei, hei suudzon mulu. Padahal aku mau menemani kalian makan juga." Albert lalu mengambil mangkok dan mengisinya dengan segumpal nasi. Kiki dan Dewi pun akhirnya mengikuti gerakan pria itu. Mereka berdua makan dengan perasaan bingung dan malu.
"Gimana? Enak nggak masakannya," tanya Albert.
"Ini enak banget. Aku suka belut bakarnya. Tapi kenapa kakak tiba-tiba mentraktir kami, ya? Aku pikir malah bakalan di suruh membuat video klarifikasi," ucap Kiki.
"Makanan yang kalian cicipi sekarang, adalah makanan yang kalian hina tempo hari," kata Albert.
"K-kok bisa?" Tiba-tiba Kiki dan Dewi sulit untuk menelan makanan yang sedang dikunyahnya.
"Asal kalian tahu, gadis itu memang berpenampilan sederhana, tetapi dia bukanlah orang sembarangan. Aku adalah Bodyguard pribadinya dan restoran ini adalah miliknya."
"Uhuk!" Dewi tersedak mendengarnya. Sementara Kiki hanya menundukkan kepala, menahan malu.
"Nih, minum. Lain kali hati-hati kalau makan."
"Ella?" Pekik Kiki yang terkejut dengan kehadiran teman sekelasnya itu. Sementara Dewi masih berjuang untuk bernapas, karena tersedak tadi.
__ADS_1
(Bersambung)