
Grep! Albert memeluk Ghina dengan erat. "Makasih ya, sayang. Sudah bikin aku menjadi seorang ayah yang tampak hebat, walau pun aku masih harus banyak belajar," bisik Albert di telinga Ghina.
"Ada apaan sih tiba-tiba gini? Aneh banget?" tanya Ghina. Wanita itu menatap suaminya keheranan. Albert yang baru saja sampai di rumah, langsung memeluk dan mencium pipi Ghina dengan mesra.
"Pokoknya aku bersyukur banget, karena menikah denganmu," ujar pria itu semakin mempererat pelukannya.
"Justru kayaknya aku jadi merasa punya anak satu lagi deh, sejak sama kamu," kata Gina sambil tertawa.
"Hah? Beneran apa aku manja banget, ya?" Pria itu mendadak melepaskan pelukannya dari tubuh Ghina. Wajahnya yang putih, terlihat merona.
"Iya, kamu tuh manja banget!" kata Ghina sambil tersenyum jahil.
"Hilih, kamu bohong, kan? Kapan aku begitu?" ucap Albert tidak terima.
"Ini barusan. Pulang - pulang udah main peluk aja.Kenapa sih, hari ini aneh banget? Cerita apa tadi sama Ella?" selidik Albert.
"Kami nggak ada ngobrolin apa-apa, kok. Tadi Ella tiba-tiba mengucapkan terima kasih sama aku, karena sudah memberikan keluarga yang utuh padanya," ungkap Albert pada sang istri.
"Hahaha ... Ya ampun. Jadi gara-gara itu? Rupanya ayah sama anak sama-sama aneh." Ghina tertawa terbahak-bahak.
"Oh, jadi kamu ngatain aku sama Ella aneh? Awas kamu, ya." Albert mencubit pipi sang istri yang tirus. "Harusnya kamu bangga dong punya suami kayak aku," lanjut pria itu.
"Iya, iya, aku bangga, kok. Tapi tetap aja aneh. Dasar cowok baperan. Baru dipuji gitu aja sombongnya selangit," ucap Gina sambil membersihkan make up-nya.
"Ya bangga, dong," jawab Albert. Entah kenapa hatinya riang, mendengar Ella sudah mulai membuka hatinya kembali. "Lho, kok dihapus, sayang? Padahal aku baru aja mau memuji kamu, yang cantik kaya cewek Korea," protesnya.
"Huh? Memangnya kenapa? Maksudnya cewek Korea lebih cantik daripada aku?" tanya Ghina yang memanyunkan bibirnya.
"Bukan gitu, sayang. Maksudnya kamu cantik, sesekali menggunakan make up seperti cewek Korea begini," puji Albert sambil mengecup kening istrinya.
"Jadi Biasanya aku jelek?" ucap Ghina sembari menahan tawa. Dia pura-pura ngambek untuk menggoda suaminya.
"Bukan gitu! Astaga, kenapa susah banget sih ngomong sama cewek?" ujar Albert frustrasi.
__ADS_1
Ghina tak kuat lagi menahan tawanya, melihat ekspresi sang suami. "Tapi tadi aku mendengar sesuatu yang nggak menyenangkan di sekolah Ella." Ghina mengusapkan micelar water ke wajahnya.
"Bicara soal apa?" Wajah Albert mendadak serius.
"Tentang aku, yang dulu hanya pembantu rumah tangga, lalu sekarang mendadak jadi kaya raya. Banyak yang bilang kalau aku ini cewek simpanan. Ada juga yang bilang Ella adalah anak haram, karena aku hamil di luar nikah," cerita Ghina.
"Siapa yang ngomong gitu? Terus Ella bilang apa?" ucap Albert yang memendam rasa kesal.
"Ella nggak ngomong apa-apa. Karena mereka ngomonya di belakang Ella. Tapi aku nggak tahu sih, Ella dengar atau nggak," cerita Ghina panjang lebar.
Albert terdiam mendengar pengakuan istrinya. Dia tidak menyangka, di balik sikap Ella yang ceria di mobil tadi, bocah SMA itu ternyata menyimpan segudang luka. "Menurutku, itu yang merusak mood Ella tadi," kata Albert beberapa saat kemudian.
"Ah, benar juga. Pantas saja Ella murung sepanjang jalan. Dan mungkin itu juga yang membuat Ella dulu sempat menentang hubungan kita," ujar Ghina. "Apa yang harus kita lakukan? Dia bahkan nggak bertanya sama sekali tentang hasil rapat tadi," tanya wanita itu lagi.
"Coba kita lihat dulu beberapa hari ke depan. Kalau kondisinya tidak juga membaik, kita terpaksa turun tangan untuk mengatasinya," tegas Albert.
"Tapi gimana caranya? Apa kamu mau mengunjunginya di sekolah setiap hari untuk melihat keadannya?" Ghina terlihat resah. Ibu satu anak itu tidak terima jika putrinya dibully seperti itu.
"Serahkan semuanya padaku. Ella itu putriku, sudah kewajibanku untuk menjaganya," kata Albert sambil meraih tubuh Ghina di dalam pelukannya.
"Hei, guys. Kalian belum sarapan, kan? Aku bawa sesuatu yang spesial, nih," seru Ella yang baru aja memasuki kelas.
"Lho, tumben kamu bawa sushi? Emangnya ada restoran Jepang yang buka pagi gini?" tanya Imelda. "Atau kamu bikin sendiri?" lanjutnya.
"Ya kali aku bikin sendiri bisa secantik ini hasilnya?" ujar Ella sambil tertawa. "Makan aja. Ada banyak, kok. Aku udah makan banyak banget dari kemarin."
"Wow, ini kan dari restoran Jepang yang terkenal itu," seru Maira yang melihat label di bungkus makanan tersebut. "Ini bukannya mahal banget, ya?" sambung gadis itu.
Ella hanya tersenyum. Dia sendiri tidak tahu semua harga makanan yang dia makan kemarin. Itu adalah pertama kalinya dia menginjakkan kaki di restoran Jepang, serta mencicipi makanannya.
"La, ada dorayaki, nggak?" celetuk Naya yang baru muncul.
__ADS_1
"Idih, Nay. Udah dikasih, ngelunjak pula," kata Maira.
"Lho, kan aku cuma tanya," jawab Naya sambil terkekeh.
"Tumben Ella bawa makanan mahal? Biasanya juga ngebon di kantin?" ujar salah seorang siswi bernama Dewi dengan nyinyir. Sifatnya sangat berbanding terbalik dengan namanya yang indah.
"Eh, siapa itu yang ngomong? Mana pernah Ella ngutang di kantin?" Marah Maira. Gadis bertubuh tambun itu langsung membela sahabatnya. Sementara Ella mengepalkan tangannya menahan emosi.
"Ya mana kita tahu. Dulu kan ibunya cuma pembantu rumah tangga. Kok sekarang tiba-tiba jadi cantik dan kaya raya?" cibir Kiki, salah seorang siswi yang terkenal berasal dari keluarga menengah ke atas di kelas mereka.
"Ya tentu bisa. Ibunya kan simpanan pejabat. Jadi untuk apa lagi susah-susah bekerja jadi pembantu? Tinggal dandan cantik aja semuanya udah beres," ujar Kiki lagi.
"Siapa yang bilang kayak gitu? Kalian tahu dari mana?" tanya Ella dengan lantang.
"Loh, faktanya kan memang begitu. Ya kan, Wi?" ucap Kiki meminta dukungan pada temannnya.
"Eh, i-iya mungkin," sahut Dewi dengan tergagap.
"Loh, kok mungkin? Bukannya kamu duluan yang ngomong gitu kemarin?" tanya Kiki sedikit malu.
"Aku kan cuma menebaknya," ujar Dewi yang tidak mau disalahkan.
"Eh? Gimana sih ku pikir itu beneran?" balas Kiki dengan kesal.
"Semua tuduhan kalian itu nggak benar. Aku bisa membuktikannya," ujar Ella dengan lantang.
"Hahaha ... Apa deh kalian ini? Nggak jelas banget," cibir Naya, Maira dan Imelda bersamaan.
"Semua yang kalian tuduh itu nggak benar. Ibunya Ella bekerja keras dengan pekerjaan halal, demi membiayai sekolah Ella. Dan sekarang tinggal memetik hasilnya. Memangnya kalian tahu apa soal perjuangan seorang ibu?" ucap Daniel yang tiba-tiba muncul di kelas Ella.
"Loh, Daniel? Ngapain kamu di sini?" kata Ella.
"La, nanti kamu istirahat aja. Nggak perlu datang ke warnet. Aku hari ini menutup warnet, pengen belajar untuk try out besok," kata Daniel sambil mengedipkan matanya.
__ADS_1
(Bersambung)