Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 52. Belum Ikhlas


__ADS_3

"Mbak, aku mau bayar billing nomor empat dan biaya print-nya." Dua orang bocah berseragam SMP berdiri di hadapan meja kasir dan memasang wajah sebal.


"Oh, bayar billing? Se-sebentar." Ella yang baru aja kembali ke alam nyata, terasa malu dan ingin menghilang dari sana. "Aku habis ngoceh apa sih, tadi?" ujar Ella dalam hati.


"Billing empat enam ribu. Kalian print-nya berapa lembar?" tanya Ella.


"Lima belas lembar, Mbak. Yang warna ada tiga," jawab salah satu bocah SMP itu. Ella pun sibuk menghitung jumlah nominalnya dengan jari.


"Mbak habis putus sama pacarnya, ya?" celetuk bocah itu tiba-tiba.


"Eh, apa? Enak aja," kilah Ella yang merasa tertohok.


"Ya abisnya dari tadi nangis, terus dipanggil-panggil nggak dengar," balas Mereka.


"Apaan sih, bocil sok tahu?" ujar Ella dengan bibir manyun. "Total bayarnya tiga puluh empat ribu," imbuhnya.


"Hah, kok mahal banget? Kami cuma bawa uang dua puluh ribu," kata mereka dengan wajah memelas.


"Ella, kamu salah hitung. Maaf ya, adek-adek. Total bayarnya lima belas ribu," ujar Daniel yang muncul di belakang Ella.

__ADS_1


"Terima kasih, Bang. Untung aja ada abang, kalau nggak, kami terpaksa ngutang, deh," ujar para bocah itu sambil mengerlingkan matanya pada Ella.


"Huh! Dasar bocah-bocah! Salah hitung dikit kan wajar," seru Ella kesal.


"La, kamu kenapa, sih? Dari tadi aku lihatin ngelamun terus?" Daniel duduk di sebelah Ella, dan menatap teman sekolahnya itu dengan tajam.


"Apa maksudmu? Aku cuma lagi bosan aja. Taruhan main game, yuk," ajak Ella.


Daniel menggeleng. "Main game itu emang jalan pintas untuk menghilangkan bosan, tapi itu bukan cara yang tepat untuk membuang semua masalah di dalam hati," kata cowok itu.


"Maksudmu apa, sih? Kalau ngomong jangan muter-muter, dong," protes Ella.


"Duh, kenapa semua orang ngomongin dia, sih?" geruru Ella.


"Emangnya kalau bukan dia siapa lagi? Kayaknya hubungan kalian bukan saudara, bukan pacar juga. Tapi masalah di antara kalian cukup berat, ya," ujar Daniel.


"Kamu mau bikin suasana hatiku membaik atau tambah buruk, sih?" gerutu Ella.


"Kamu nggak akan bisa membaik, selama kamu terus menyangkalnya," kata Daniel.

__ADS_1


Ella terdiam mendengar kalimat itu. "Iya, aku masih belum ikhlas mereka akan menikah. Aku juga nggak kuat, melihatnya di depan mataku setelah dia menikah nanti. Kenapa dia mencampakakkanku? Memangnya aku sejelek itu ya jadi cewek?" Ella menumpahkan air matanya, yang sejak tadi tertahan.


"La, kamu nggak sejelek itu, kok. Aku ngerti kamu saat ini sakit dan kecewa. Aku juga nggak punya kata-kata mutiara untuk menghiburmu," ucap Daniel. "Tapi, kalau kamu nggak sanggup kenapa kamu nggak menjauh aja dari hadapannya?" kata Daniel lagi.


Ella masih terisak. Beberapa kali dia mengambil tisu, untuk membuang tumpukan lendir dalam hidungnya. Matanya yang indah tampak memerah dan sayu. Daniel sungguh iba melihatnya.


"Maaf, mungkin usulku tadi terdengar seperti pengecut dan kekanak-kanakan, ya?" gumam Daniel.


"Aku nggak peduli, apakah itu alasan yang sangat pengecut atau kekanak-kanakan. Masalahnya, aku nggak bisa menjauh dari hadapannya. Selamanya aku akan melihat dia dan wanita pilihannya jika dia jadi menikah," bisik Ella. Suaranya terdengar parau.


"Aku mengizinkan mereka menikah, karena tak memang tidak ada pilihan lain selain itu. Albert tidak akan pernah memilihku," sambung Ella.


"Maaf kalau aku ikut campur. Tapi memangnya siapa wanita yang akan dia nikahi? Saudaramu?" tanya Daniel penasaran.


"Ibuku," jawab Ella singkat.


"A-apa?" Daniel terperanjat mendengar jawaban Ella barusan.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2