
"Pacar kamu siapa sih? Kok aku nggak pernah lihat?" tanya Albert dengan wajah serius.
Ella menoleh ke arah pria di sebelahnya. Tatapannya benar-benar menusuk, seakan bisa merobek kulit dada pria itu. "Kamu beneran nggak tahu, atau pura-pura nggak tahu?" ujar Ella dengan gigi rapat.
"Aku beneran nggak tahu," tanya Albert sambil menahan senyum.
"Aku nggak punya pacar," jawab Ella kemudian.
"Ah, masa sih? Cewek secantik kamu masa nggak punya pacar?" tanya Albert sambil tersenyum jahil.
"Kalau dibilang nggak ada ya nggak ada. Kepo banget sih?" sahut Ella sambil mengamuk. "Ck, padahal dia tahu banget aku suka sama siapa. Tapi malah sok-sokan tanya. Kenapa dia hobi banget mengorek rasa lukaku, sih?" gerutu Ella dalam hati. Bibirnya mengerucut ke depan hingga beberapa sentimeter.
"Biasa aja, dong. Jangan ngegas. Kan aku cuma tanya," ujar Albert sambil tersenyum tipis. Bola matanya yang berwarna cokelat terang melirik ke arah gadis di sampingnya.
"Damn! Dia ganteng banget, sih?" gumam Ella dalam hati. Matanya menatap pria itu selama beberapa detik tanpa berkedip.
"Kenapa lihatin aku kayak gitu? Aku ganteng, ya?" ujar Albert sambil terkekeh.
__ADS_1
Ella menghembuskan napas dengan kesal sambil membuang muka ke arah kiri. Deretan pepohonan yang dihiasi lampu-lampu terlihat sangat indah. Beberapa pasang anak muda tampak berkendara berpasang-pasangan menggunakan sepeda motor.
"Padahal bukan malam minggu. Tapi kenapa banyak banget sih yang pacaran?" ucap gadis itu dalam hati. "Kayak apa sih rasanya pacaran?" batinnya lagi. Dia kembali melirik pria di sebelahnya. Beruntung, Albert sedang fokus memandang ke depan untuk mengarahkan kemudinya.
"Move on dong, La. Banyak cowok yang lebih cocok untuk kamu. Jangan cuma mikirin satu cowok doang," celetuk Albert tiba-tiba.
Ella buru-buru mengalihkan pandangannya ke depan. "Hah? Kamu bilang apa? Jangan Ge'er. Gak semua orang naksir sama kamu. Apalagi kalau tahu sikap kamu yang ngeselin gitu," tukas Ella.
"Oh? Kamu beneran naksir aku? Padahal tadi aku nggak ada bilang, kalau kamu naksir aku. Aku kan cuma bilang, jangan mikirin satu cowok doang. Berarti yang dalam pikiranmu selama ini tuh aku?" sahut Albert sambil terkekeh.
Ella menurunkan rambutnya yang panjang, untuk menutupi wajahnya yang memerah. Pipinya bersemu merah. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Ingin rasanya dia menghilang dari sana detik itu juga.
"Bagus deh kalau kamu nggak punya pacar. Tugasnya pelajar itu kan menuntut ilmu," ujar Albert sok bijak. "Kalau temen cowok nggak punya juga?" Albert mulai melancarkan aksinya untuk menyelidiki lingkaran pertemanan Ella.
"Banyak, dong. Emangnya kamu yang cuma temenan sama laptop dan HP doang?" kata Ella. Dia memang tidak pernah melihat Albert berkumpul dengan teman-temannya. Sepulang kerja, pria itu memilih beristirahat di rumah.
"Gini-gini aku dulu cowok paling populer loh di kampus," sahut Albert.
__ADS_1
"Cih, nggak percaya." Cibir Ella.
"Kapan-kapan ku tunjukkan deh foto-fotoku zaman kuliah. Kamu pasti bakal terpana," kata Albert.
"Nggak usah, nggak tertarik," sahut Ella dengan cepat. "Mendingan aku main sama teman aku, daripada kepoin foto orang," imbuhnya.
"Emang kalau pulang sekolah mainnya ke mana? Paling juga nongkrong di taman kota sambil jajan cilok?" ujar Albert. "Kalian pulang sekolah jam berapa sih? Kok masih sempat main?" Selidik pria itu.
"Ih, kepo," ujar Ella tidak terpancing.
Albert menghela napas panjang. Tidak semudah itu menginterogasi remaja cerdas di sebelahnya. Dia harus cari cara lain untuk mengetahui, dari mana bau rokok itu beeasal.
"Kayaknya kamu udah sembuh, ya? Dari tadi udah bisa melawanku," ujar Albert. "Udah lama banget kita nggak ngobrol kayak gini," imbuh pria itu.
Ella hanya memandang Albert dengan sekilas tanpa merespon ucapan pria itu. Hati kecil Ella terasa kosong. Albert adalah satu-satunya teman dekat dia di rumah. Biasanya Ella suka sekali bercerita tentang kehidupan sekolahnya dengan pria itu. Tapi sekarang, memandangnya saja sudah merasa canggung.
"La, kamu harus janji. Jangan pernah suka padaku, ya. Sampai kapan pun," ucap Albert tiba-tiba.
__ADS_1
"Apaan sih? Memangnya kapan aku suka denganmu?" sahut Ella dengan memaksakan senyum di wajahnya. Mata pria itu bisa melihat butiran air di sudut mata gadis belia tersebut.
(Bersambung)