Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 70. Jangan Nakal


__ADS_3

"Apa dia sengaja melakukan ini untuk menghindariku?" pikir Albert penasaran.


Kelopak mata pria itu tidak berkedip, melihat gadis cantik di sebelahnya. Albert mengulurkan tangannya, hendak merapikan rambut Ella yang menutupi sebagian wajahnya.


Grep! Albert mendadak menghentikan gerakannya. "Nggak boleh, dia putriku sendiri. Akulah yang harus menjaganya," ucap Albert di dalam hatinya.


Tin! Tin! Tiba-tiba sebuah mobil di sebelah kiri membunyikan klaksonnya. Ella menutup bukunya untuk melihat apa yang terjadi. Hampir saja Albert menabrak mobil putih tersebut. Posisi mobilnya menutup jalan kendaraan di sebelah kanannya, yang sudah mepet ke bahu pembatas jalan.


Pengusaha muda itu pun mendadak menekan pedal rem secara penuh, untuk menghentikan laju kendaraannya. Albert lalu menurunkan kaca mobilnya untuk meminta maaf.


"Hei, kalau bawa mobil itu fokus, dong! Jangan meleng kanan kiri! Hampir aja kamu nyerempet mobilku," bentak pengemudi mobil putih tersebut.


"Maaf, Pak," ucap Albert berkali-kali.


"Kamu kenapa? Nggak biasanya kayak gini?" tanya Ella, setelah Albert kembali ke posisi duduknya.


"Ah, nggak apa-apa. Lagi ada pikiran aja tadi. Maaf udah ngganggu waktu belajarmu tadi," ujar Albert dengan tangan masih gemetar. Dia lalu menginjak gas mobilnya, mengantarkan Ella ke depan minimarket dekat sekolah.


"Terima kasih udah mengantarku dan juga bekalnya. Tapi besok nggak usah gini lagi, ya. Aku tiap pagi masak sarapan, kok," ucap Ella seraya mengembangkan senyuman di wajahnya.


"Ayah nggak masalah kok nganterin sarapan tiap pagi," jawab Albert.


"Nggak perlu. Aku ingin mandiri. Ah, kalau gitu aku pergi dulu, ya," kata Ella sambil melambaikan tangannya.


Setelah beberapa langkah memasuki gerbang, Ella menoleh ke belakang secara perlahan. Dia tidak lagi melihat mobil ayahnya berada di sana.


Bruk! Hah, ngapain aja sih aku tadi? Aku pikir udah bisa mengatasi hatiku dengan mudah, tapi tetap aja deg-degan kalau ketemu langsung dengannya?" ucap Ella sambil memegang dadanya yang berdebar kencang. "Nggak, aku nggak boleh begini! Aku harus tahan banting! Cowok kan nggak cuma dia. Dia tuh ayahku, aku nggak boleh menaruh rasa lagi padanya," tekadnya dalam hati.


"Hoi! Ngapain jongkok di sini? Kebelet pup?" seru Naya mengagetkan Ella.

__ADS_1


"Astaga, Nay. Mau bikin aku mati jantungan?" balas Ella sambal mengatur napasnya.


"Ya abisnya, ngapain ngintip-ngintip dari sini. Kalau ada yang mau diomongin ya langsung aja, ga usah gengsi," ujar Naya.


"Ngintip-ngintip apanya?" bantah Ella.


"Halah, pake nggak ngaku. Kamu tadi ngintipin mobil biru yang mewah itu, kan? Kamu juga udah dua hari ini dianterin dia terus, kan? Udah baikan sama dia?" cerocos Naya tepat sasaran.


"Ya, anggap aja gitu. Ke kelas yuk. Aku bawa bubur ayam, nih," kata Ella.


"Buburnya dari dia juga?" tebak Naya.


"Iya. Kamu mau, kan? Aku udah kenyang," jawab Ella.


Naya menggeleng sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Aku nggak mau. Kamu harus mulai belajar menghargai pemberian orang. Kalau kamu sudah kenyang, bisa dimakan nanti," tegas Naya.


"La, ada yang cariin kamu tuh di depan sekolah," ucap beberapa murid laki-laki yang baru saja kembali dari kantin depan sekolah.


"Hah, siapa?" tanya Ella pada teman-temanya. "Apa dia balik lagi ke sekolah?" batin Ella.


"Nggak tahu, deh. Pokoknya cewek cantik. Bening banget kayak artis," ujar mereka.


"Siapa, sih? Anak sekolah bukan?" pikir Ella semakin penasaran. Dia pun pergi berjalan ke tempat yang dikatakan para cowok tadi, diikuti oleh Naya.


"Hah, La. Itu kan cewek yang waktu itu di mall!" bisik Naya, ketika dia melihat seorang wanita cantik duduk manis di sebuah kursi kayu taman sekolah.


"Cleopatra!" gumam Ella.


"Kamu tahu namanya?" bisik Naya.

__ADS_1


"Hu'um. Kamu tunggu di sini sebentar, ya," pinta Ella.


"T-tapi ..." Naya masih berpikir, kalau cewek itu adalah pengganggu hubungan di antara Ella dan Albert.


"Tenang aja. Nggak bakalan ada perang dunia, kok," ucap Ella meyakinkan.


"Ya udah deh, kalau gitu. Fighting!" Naya mengepalkan sebelah tangannya.


"Kak Cleo? Ah, aku harus panggil apa ya, yang benarnya? Bibi? Tante?" ucap Ella malu-malu.


"Oh, Ella. Sini duduk di sebelahku. Kamu boleh panggil apa aja sesukamu," ucap wanita cantik berbalut celana kulot dan blazer peach itu. Rambutnya yang panjang dia ikat model ponytail.


Ella pun duduk di sebelah Cleopatra. "Ada apa ya? Waktu istirahatku tinggal sepuluh menit lagi," ucap Ella.


"Nggak ada hal yang penting, kok. Besok aku mau kembali kerja di Korea. Aku cuma mau titip sepupuku aja. Jagain dia jangan sampe nakal. Kadang-kadang dia suka khilaf karena terlalu cakep," ucap Cleo sambil tertawa kecil.


"Kok titipnya sama aku? Harusnya ke mama aku, dong? Lagian terbalik. Seharusnya kan orang tua yang jagain anaknya biar nggak nakal?" kata Ella.


"Aku juga udah bilang dengan Ghina, kok. Tapi aku baru bisa lega kalau cerita ke kamu juga," kata Cleo. "Aku suka dengan sikapmu yang kuat dan dewasa itu," sambungnya lagi.


"Hah? Kakak salah. Aku sama sekali nggak dewasa dan sekuat itu," bantah Ella.


"Menangis itu wajar. Tapi sejauh ini kamu bisa nengatasinya dengan baik, patut diacungi jempol," kata Cleo.


"Apa aku seperti itu, ya?" ucap Ella yang tidak yakin oada dirinya sendiri. "Ah, tunggu. Jadi kakak sudah tahu apa yang terjadi antara aku dan Alb, maksudku ayah?" kata Ella dengab wajah memerah.


"Menurutmu?" balas Cleo tersenyum penuh rahasia.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2