Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 57. Tiga Hati Dua Cinta


__ADS_3

"Kamu boleh kerja, kok. Tapi ingat yang Mama bilang tadi. Pulangnya juga nggak boleh lebih dari jam enam sore," timpal Ghina.


"Loh, kok malah nambah lagi peraturannya?" protes Ella.


Ghina terbahak melihat putrinya yang tidak terima dengan syarat yang dia ajukan. "Terserah kamu, mau ikutin syarat dari Mama, atau nggak boleh kerja lagi," ucap Ghina. "Udah cepat mandi sana. Katanya tadi udah laper," tambah wanita itu.


"Ah, kalau gitu aku pulang dulu, ya," ujar Albert.


Ghina dan Ella menoleh ke arah Albert secara bersamaan. Mereka berdua benar-benar lupa, kalau ada seorang pria yang memperhatikan mereka berdua dari tadi. Ella bahkan sampai menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, karena Albert melihatnya dalam keadaan yang super berantakan dan belum mandi.


"Kamu nggak makan dulu?" tanya Ghina, mencegah pria itu untuk pergi.


"Aku ada janji makan malam sama Mama di rumah. Kapan-kapan kita makan sama-sama, ya," tolak Albert dengan halus.


"Oh, baiklah. Salam untuk Nyonya, ah maksudku Ibu," ujar Ghina.

__ADS_1


"Terus tadi kamu ngapain ke sini?" celetuk Ella. Ghina menatap putrinya dengan tajam, dan menyeringai tipis. "Anu, maksudku kakak ada keperluan apa tadi ke sini?" Ella buru-buru meralat kalimatnya.


"Astaga! Aku lupa! Tadi aku datang untuk memberikan ini. Tadi ketinggalan di mobilku." Albert mengambil sebuah goodie bag kecil berwarna cokelat, dari tepi dinding. Tadi ketika dia datang, buru-buru menyimpan benda itu di sana, karena melihat Ella dan Ghina bertengkar.


"Ah, itu bukan ketinggalan. Tapi memang kubelikan untuk kamu," ujar Ghina.


"Apa isinya?" Albert mengambil sebuah kotak yang dibungkus kertas berwarna biru polos dari dalam goodie bag tersebut.


"Ah, jangan!" Ghina sontak menggenggam tangan pria muda itu, dan melarangnya membuka bungkusan tersebut. "Bukanya di rumah aja. Itu hadiah untukmu," bisik Ghina.


"Ah, maaf. Nanti aku buka di rumah. Makasih ya, sayang," ucap Albert sedikit mengeraskan suaranya, agar Ella bisa mendengarnya dengan jelas. Hal itu sengaja dia lakukan, agar Ella bisa menyadari sepenuhnya, kalau hubungan mereka saat ini adalah calon ayah dan calon anak. Albert tidak membiarkan benih-benih asmara tumbuh di antara mereka.


...🥀🥀🥀...


"Ella, makan yuk. Kamu udah siap mandi apa belum?" Ghina mengetuk pintu kamar putrinya berkali-kali. Hening, tidak ada jawaban dari dalam.

__ADS_1


Ghina lalu membuka pintu kamar putrinya yang tidak terkunci. Dia mendapati Ella tengah bersembunyi di balik selimut dengan mata terpejam dan bengkak.


"Ah, pasti dia kecapekan karena sekolah dan pekerjaannya. Harusnya kamu jangan bekerja, Nak. Cukup Mama aja yang menanggung bebannya, karena itu memang tugas Mama sebagai ibu rumah tangga dan kepala keluarga," ucap Ghina seraya mengelus rambut putrinya yang terlelap.


Butiran air mata menetes di pipi remaja cantik tersebut. Suasana kamar yang gelap, membuat Ghina tidak menyadari jika putrinya belum benar-benar tertidur. Ella tadi sengaja mengurung diri di kamar untuk menenangkan hatinya. Dia masih belum sepenuhnya merelakan pria yang pernah mengisi ruang hatinya tersebut.


...🥀🥀🥀...


Srak! Albert membuka kertas kado pembungkus kotak hadiah tersebut dengan beberapa kali tarikan. Dia sangat penasaran dengan pemberian calon istrinya tersebut.


"Parfum?" gumam Albert. Dia tersenyum melihat hadiah dari Ghina. Parfum itu cukup mahal dengan wangi tahan lama.


Albert langsung teringat pada kejadian beberapa waktu lalu, ketika Ella menggumam tentang bau parfumnya. "Ini adalah wangi parfum kesukaan Ella. Tapi mungkin mulai dari sekarang, akan jadi wangi yang paling dibencinya," ujar Albert.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2