Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 26. Aneh


__ADS_3

“Apa maksudmu, Nak?” tanya Ghina.


“Aku tahu, Mama sangat membutuhkan Albert di sisi Mama,” ucap Ella lirih. Dia mengigit bibirnya rapat-rapat, agar suara tangisannya tidak keluar.


“Ella, Mama nggk pernah memaksakan hal itu,” ucap Ghina. “Kalau pernikahan ini hanya membuatmu sedih, Mama nggak akan lanjutkan,” imbuhnya.


“Tapi Mama tetap berjalan bersama Albert meski aku membencinya, kan? Apa akan seterusnya begitu jika aku melarang Mama menikah?” seru Ella. Gadis itu benci mengingat kembali senyuman mama dan Albert yang sangat bahagia berjalan berdua.


“Nak …”


“Aku memang masih belum ikhlas menerima rencana pernikahan ini. Tapi, aku juga nggak mau Mama kenapa-kenapa,” ujar Ella dengan segenap keberanian yang dia kumpulkan.


“Kamu yakin bicara seperti ini? Hubungan kita nggak semakin menjauh ‘kan setelah ini?” balas Ghina. Dia masih tidak yakin dengan keputusan putrinya.


“Mama sayang papa, kan?” tanya Ella. Ghina menundukkan kepalanya sembari menahan tangis.


“Aku tahu Mama sangat menyayangi papa.” Ella menjawab sendiri pertanyaannya. “Duh, nggak tahu, deh. Pokoknya aku cuma nggak mau Mama kenapa-kenapa. Aku nggak bisa jagain Mama setiap saat. Tetapi bukan berarti aku mengizinkan pernikahan ini,” kata Ella lagi.


Blam! Ella masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya rapat-rapat. Ghina yang belum sempat menjawab pertanyaan Ella, tercengang melihat sikap buah hatinya tersebut.


“Apa maksudnya tadi? Dia baru aja mengizinkan aku? Atau aku menambah luka baru di hatinya?” gumam Ghina bingung. Wanita itu menatap pintu kamar Ella dengan air mata mengalir di pipi.


Ting! Sebuah pesan singkat masuk ke HP milik Ghina. Wanita itu segera memeriksanya.

__ADS_1


“Apa kamu udah sampai di rumah?” tulis Albert.


“Ya, aku udah sampai di rumah,” balas Ghina. Layar HP Ghina tiba-tiba menyala terang. Rupanya pria itu langsung meneleponnya.


“Gimana? Ella suka cake-nya?” tanya Albert antusias.


“Hum … Aku nggak tahu. Dia belum memakannya,” sahut Ghina sambil berbisik.


“Ghin, kamu menangis?” tanya Albert.


“Nggak, kok,” jawab Ghina sambil mengusap pipinya yang basah, dengan selembar tisu. Dia lalu berpindah ke kamar, agar lebih leluasa berbincang dengan Albert.


“Jangan bohong. Suaramu terdengar parau. Apa kalian bertengkar lagi?” tanya Albert dengan perasaan khawatir.


“Nggak, kok. Kami baik-baik aja. Tapi …” Ghina menggantung kalimatnya.


“Ku rasa Ella semakin aneh dibandingkan sebelumnya,” kata Ghina.


“Aneh gimana?” tanya Albert semakin tidak mengerti.


“Dia nggak terlalu menentag ubungan kita seperti dulu,” ungkap Ghina.


“Beneran?” ujar Albert tidak percaya.

__ADS_1


“Iya. Aneh, kan? Aku malah takut, dia menyimpan luka dan dendam yang sangat besar di dalam hatinya,” kata Ghina menumpahkan kegundahannya. “Aku takut setelah melihat kita semakin dekat, dia melukai dirinya sendiri dan meninggalkan kita.”


“Jangan berpikir seperti itu, Ghina. Ella nggak akan berbuat hal bodoh seperti itu. Dia anak yang pintar,” ucap Albert menenangkan kekasihnya.


“Tapi, Al. Bukan cuma itu keanehan dia hari ini?” lanjut Ghina.


“Terus? Apa lagi?”


“Aku mencium bau rokok dari tubuhnya beberapa hari ini. Biasanya dia nggak pernah seperti itu,” ucap Ghina dengan ragu. “Apa dia melampiaskan kemarahannya pada hal lain?” pikir Ghina cemas.


“Rokok? Kamu yakin itu bau rokok?” tanya Albert meyakinkan Ghina.


“Iya, aku yakin banget. Bahkan baunya masih menyengat, meskipun dia udah mandi. Baju seragamnya juga bau rokok, Al,” lapor Ghina. “Kamu paham kan maksudku?”


“Iya, aku paham. Kamu pasti berpikir, dia melampiaskan kekesalannya dengan cara brutal dann bertemu dengan teman-teman yang salah, kan?” ujar Albert. “Tapi apa kamu udah bertanya langsung padanya?” imbuh pria itu.


“Aku nggak berani. Aku takut kamu bertengkar dan saling menjauh lagi seperti kemarin, padahal kita baru aja baikan,” kata Ghina.


“Hah, gimana ya?” tanya Albert. “Kita nggak bisa menebak-nebak sembarangan. Bisa aja di dalam angkot dia bertemu pria yang merokok, kan?” Albert berusaha menjauhkan pikiran buruk dari Ghina.


“Ya, semoga aja gitu. Tapi aku tetap khawatir,” bisik Ghina lemah.


“Tenang, sayang. Nanti aku akan cari tahu masalahnya,” janji pria itu.

__ADS_1


“Ugh, benar kata Ella. Lagi-lagi aku bergantung padamu. Apa aku bisa hidup tanpa kamu?” ucap Ghina dengan perasaan sangat lelah.


 (Bersambung)


__ADS_2