
Keesokan harinya Ella berangkat pagi-pagi sekali ke sekolah. Dia bukan hanya menghindari Ghina, tetapi menjalankan misi yang sangat penting.
Sesampainya di sekolah, Ella berdiri di depan pintu sambil memperhatikan para siswa yang memasuki kelas, layaknya seorang guru.
“La, jangan berdiri di situ, dong. Lu menghalangi jalan, tahu,” protes para murid laki-laki yang hendak masuk ke kelas.
“Yee, apaan sih? Pintunya masih lebar begitu, kok,” sahut Ella sewot. Bukannya berpindah tempat, dia malah menyilangkan kedua tangannya dan mengangkat dagunya dengan angkuh.
Ella memang tidak memiliki teman akrab cowok. Tetapi dia bukanlah gadis yang pendiam. Remaja cantik itu dikenal sebagai cewek pemberani dan agak tomboy di kelasnya.
“Ya udah kalau Lu masih mau berdiri di situ. Jangan salahkan kami kalau nanti kesentuh,” ucap para siswa itu sambil melirik ke arah baju seragam Ella yang putih bersih.
“Cih, dasar cowok-cowok mesum,” gerutu Ella sambil bergeser dari pintu kelas. Kedua mata Ella membesar, ketika melihat seseorang di antara kermunan siswa lainnya.
“Selamat pagi, Mel,” sapa Ella dengan senyum mengembang di wajahnya.
“Pagi, La. Udah sehat kamu?” Balas Imelda, teman sekelas Ella.
“Aku udah baikan, kok,” sahut Ella.
“Ehem, La. Di sini ada kami juga, loh,” kata Maira dan Naya pura-pura merajuk, karena tidak di sapa Ella.
“Duh, apaan sih gaes? Kita kan biasanya pagi-pagi berantem. Bukan saling sapa,” celetuk Ella tanpa rasa bersalah. “Oh iya, Mel. Kamu sibuk nggak pagi ini?” tanya Ella pada Imelda.
__ADS_1
“Hmm, lumayan. Aku rencananya mau bikin PR Fisika,” kata Imelda sambil tertawa kecil. “Emang ada apaan, La?” tanya gadis berdarah Batak Tionghoa tersebut.
“Salin PR punyaku aja, gih. PR-ku udah kelar.” Ella memberikan Imelda contekan dengan sukarela.
“Serius?” tanya Imelda tidak percaya.
“Iye … Ayo cepetan, sebelum bel masuk,” desak Ella.
“Tumben Lu baik? Aku nyalin PR-mu juga, ya,” celetuk Naya.
“Cih, enak aja. Lu saban hari udah nyontek sama gue, sesekali bikin PR sendiri, dong,” tolak Ella sambil tertawa.
“Huh, dasar pelit. Pilih kasih banget sih, Lu,” omel Naya.
“La, kok tumben kamu mau ngasih contekan gratis?” tanya Melda curiga.
Imelda menatap Ella dengan alis bertaut. Dia menghentikan Gerakan tangannya, yang sedang menyalin PR Fisika. “Udah ada yang isi kemarin. Memangnya kenapa, La? Siapa yang lagi butuh kerja?” tanya Melda.
"Mmm, sebenarnya ..." Ella menggantung kalimatnya. Dia sempat ragu, harus bicara jujur pada temannya atau tidak.
“Ah, kalau mau ada satu posisi lagi di Gudang. Khusus untuk cowok,” ucap Imelda kemudian.
“Pekerjaan itu untuk aku, Mel,” jawab Ella jujur.
__ADS_1
“Untukmu? Kenapa tiba-tiba?” Tanya Melda, beserta Naya da Maira yang juga ikutan nimbrung.
“Nggak tiba-tiba, kok. Cuma aku lagi butuh uang aja,” kata Ella.
“Pantesan kamu dari kemarin murung terus? Rupanya lagi ada masalah besar, ya? Maaf ya, La. Kami nggak peka banget jadi temanmu,” ucap Maira.
“Ini bukan salah kalian, kok. Aku aja yang malu mau cerita sama kalian,” sahut Ella sambil memaksakan senyum di wajahnya.
“Tapi papaku nggak memperkerjakan anak sekolahan, La. Minimal anak kuliah semester tiga,” imbuh Imelda.
“Oh, gitu ya. Kira-kira kalian tahu lowongan kerja di tempat lain, nggak? Yang nerima anak SMA kayak aku,” tanya Ella. Ketiga temannya kompak menggelengkan kepala.
“Sorry kalau aku ikut campur, La. Tapi masalah ini apa ada hubungannya sama cowok ganteng kemarin? Kayaknya kamu semakin sedih sejak dia datang ke sekolah,” tanya Maira penasaran.
“Ih, Maira. Cakep-cakep kok dicurigain,” protes Naya.
“Maira benar, kok. Ini emang ada hubungannya dengan orang itu,” jawab Ella sambil menghembuskan napas kesal.
“Hah? Jadi beneran?” seru Naya kaget.
“Emangnya dia siapa, sih?” tanya Maira pula.
“Debt Collector,” jawab Ella sesuka hatinya. Wajahnya menunjukkan kebencian terhadap pria itu.
__ADS_1
"Masa sih?" gumam ketiga temannya masih tidak percaya.
(Bersambung)