Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 20. Tentang Ghina (1)


__ADS_3

Terik matahari begitu menyengat hingga ke lapisan endodermis. Sinarnya yang berwarna kuning keemasan menemani seorang gadis mungil berjalan di antara gang sempit. Sekumpulan bocah lelaki berlarian mengejar sebuah bola yang berpindah dari kaki ke kaki. Beberapa bocah berlari sembari menyeruput minuman sari buah yang mereka beli di warung kecil.


“Gluk!” Ella menelan ludahnya, melihat es segar berwarna warni yang ditenteng bocah-bocah itu. “Huh, kok panas banget ya hari ini? Padahal udah jam setengah enam sore. Kayaknya enak deh, kalau tinggal di pegugunungan gitu,” gumam Ella sambil menyeka keringatnya. Dia mempercepat langkahnya menuju ke rumah.


Ella mematung di depan rumahnya. Dia melihat sepasang sendal yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Samar-samar terdengar suara orang bercakap-cakap di dalam rumah. “Siapa yang datang?” pikir Ella penasaran.


Gadis remaja itu berjalan mengendap-endap, di antara rerumpunan bunga yang tumbuh di depan rumahnya. Dia mendengarkan percakapan Bibi Sri dengan mamanya. Cukup lama dia duduk di sana, mendengarkan semua isi hati sang mama, yang terucah kepada Bibi Sri.


“Aku tahu hidup mama berat, tapi aku nggak menyangka sebesar itu yang beban ditanggung mama seorang diri,” gumam Ella dalam hati. “Aku juga nggak pernah perhatikan, apakah mama sehat-sehat aja, atau bahkan nggak makan seharian,” lanjutnya lagi.


Ella menggenggam lembaran uang yang diberikan Daniel tadi. Jumlahnya tidak genap lagi tiga puluh ribu, karena sebagian sudah dipakai untuk ongkos pulang.

__ADS_1


“Aku yang mencari kerja seharian untuk uang jajan aja udah merasa hebat, gimana dengan mama yang bekerja belasan tahun demi menjadi tulang punggung keluarga?” gumamnya.


Ella menghela napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya kembali. Dia terus bergelut dengan pikirannya sendiri. Hati kecilnya tidak ingin bertengkar dengan mama, tetapi sebagian kecil hatinya yang lain juga masih belum menerima Albert sebagai calon ayah tirinya.


Tiba-tiba Ella mendengar sebuah fakta mengejutkan. Apa? Mama dan Albert sudah menjalin hubungan selama delapan bulan?” geramnya. Air mata haru yang diteteskan Ella, berubah menjadi air mata kebencian. Gadis itu merasa dikhianati oleh Albert. Segala simpatinya pada Ghina lenyap seketika.


“Ella, mau sampai kapan kamu bersembunyi di situ?” tanya Sri di hadapan rumpun bunga bougenvil. Bibirnya mengukir sebuah senyuman manis di wajahnya.


Ella tampak terkejut dengan kehadiran Sang Bibi yang tiba-tiba. Ella tenggelam dalam lamunannya sampai tidak menyadari kehadiran Bibi Sri di sana. Gadis itu menyeka air matanya lalu menundukkan kepala. “Apa kabar, Bi?” ucapnya lirih. Dia juga mengulurkan tangan untuk menyalami bibi.


Ella menganggukkan kepala. Dia tahu, ajakan itu hanyalah alasan Bibi untuk mengajaknya bicara berdua. tetapi Ella tetap mengikuti langkah kaki wanita itu.

__ADS_1


***


“Ella, apa kamu tahu kalau mama kamu masih terlilit hutang?” tanya Sri sambil menunggu pesanan datang.


“Eh? Bukannya udah lunas, Bi?” Ella balik bertanya. Gadis itu tahu jika mamanya memiliki pinjaman di bank, untuk membiayai pengobatan ayahnya dulu.


Bibi menggeleng. Beberapa waktu lalu memang akan dilunasi. Tetapi uangnya lagi-lagi dipakai untuk sekolah kamu. Itu aja masih ditambah sama Ganendra,” kata Sri menjelaskan duduk perkaranya.


Ella menangkat wajahnya dan menatap bibinya cukup lama. Remaja itu memahami, jika biaya sekolahnya sangat mahal, meski sudah dapat sedikit bantuan beasiswa berprestasi. Belum lagi biaya yang tiba-tiba diperlukan, seperti uang praktek.


“Mama kamu juga beberapa kali sakit typus karena kelelahan. Dia memaksakan diri bekerja di beberapa tempat sekaligus utuk memenuhi kebutuhan kalian,” imbuh Sri.

__ADS_1


“Terus? Aku sepertinya tahu, arah pembicaraan Bibi ke mana?” ujar Ella sedikit merajuk. “Tidakkah seorang pun yang memihak kepadaku?” gumamnya dalam hati.


(Bersambung)


__ADS_2