
“Lena, nomor telepon dan alamatnya fiktif,” ujar Albert melalui telepon.
“Apa? Jadi mereka semua penipu? Lalu gimana kabar kakakku?” ujar Galena semakin cemas.
“Tenang dulu. Aku akan cari cara lain. Nanti aku hubungi lagi,” ujar Albert. Pria itu lalu menutup teleponnya dan memeras otak sekuat tenaga.
“Apa aku harus lapor polisi untuk melacak keberadaan Ghina? Tapi polisi baru menerima laporan orang hilang setelah lebih dari dua puluh empat jam, kan?” Albert masih belum menemukan cara untuk menemukan Ghina.
Tiba-tiba dari kejauhan, Albert melihat seorang wanita berambut cokelat, berjalan di halaman hotel Salsa di kompleks Sakura Square tersebut. “Itu Ghina,” serunya.
Albert langsung memutar mobilnya memasuki halaman hotel bintang tiga tersebut. Namun dia kehilangan jejak. Ghina sudah tidak terlihat lagi.
Tidak mau menyerah, Albert pun memarkir mobilnya, lalu memasuki hotel dan menanyakan keberadaan wanita berambut cokelat dan berbaju abu-abu yang tadi dilihatnya. Para pegawai hotel pun dengan kompak menjawab, mereka tidak menerima tamu dengan ciri-ciri tersebut.
“Sial, aku kehilangan jejak mereka,” ucap Albert. Saat ini dia hanya bisa berharap, semoga calon istrinya baik-baik aja. "Aku pasti akan menemukan Ghina dalam keadaan baik," tekad Albert.
...🥀🥀🥀...
“La, nanti jadi bikin tugas di warnet?” tanya Maira.
Ella hanya termenung sembari memandang layar HP miliknya yang bersih dari notifikasi apa pun. Gadis itu tidak bergerak sama sekali, ketika Maira memanggilnya berkali-kali. Desah napasnya yang berat terdengar jelas, bagaikan orang putus asa.
__ADS_1
“Kenapa belum ada kabar dari Al, ya? Apa dia belum bisa menghubungi dan menemukan mama?” pikir Ella cemas. Baru kali ini dia sangat menunggu kabar dari pria itu. “Terus, apa rencanaku dengan mama untuk ziarah ke makam hari ini juga batal?” Ella terus bergumam dalam hati, sambil menghembuskan napas panjang.
“Azura Auristella!”
“Eh, iya? Apaan sih, Ra? Jangan teriak-teriak, dong,” kata Ella sambil menggosok telinganya yang panas, karena teriakan Maira tadi.
“Ya kamu sih, dari tadi diajakin ngomong melamun aja,” sahut Maira sewot.
“Sorry,” jawab Ella sambil menyengir.
“Haaah, aku bingung lihat kamu. Sejak teleponan di kantin tadi, kamu murung terus. Ada masalah lagi?” tanya Maira.
“Iya. Mungkin aku beneran butuh tempat curhat,” kata Ella. “Ngomomg-ngomong Naya mana?” lanjut gadis itu.
“Hari ini mamaku janjian ketemu sama rentenir. Dan sampai sekarang nggak bisa dihubungi. Aku jadi khawatir,” kata Ella.
“Rentenir? Mas-mas ganteng yang kamu panggil debt collector waktu itu?” Maira balik bertanya.
Ella menggeleng. “Kali ini beneran rentenir. Hutang mama masih sangat banyak, karena membiayai aku di sekolah mahal gini. Aku jadi merasa bersalah. Apa aku seharusnya dulu sekolah di tempat biasa aja, ya?” ucapnya.
“Jangan ngomog gitu, La. Mamamu kayak gini, pasti ingin melihatmu sukses. Hargai aja semua usaha mama kamu. Terus jangan lupa berdoa, semoga mama kamu baik-baik aja.” Naya yang baru aja datang, ikut memberikan komentarnya.
__ADS_1
“Tapi aku masih cemas, karena mama masih belum bisa dihubungi,” bisik Ella. Dia yang biasanya nggak pernah menolak kelezatan siomay Mang Ujang depan sekolah, kali ini justru nggak selera melihatnya.
Tling! Sebuah pesan masuk ke HP Ella. Remaja cantik itu buru-buru memeriksanya. “Maaf Mama baru sempat membaca pesan kamu. Kayaknya kita tunda dulu ziarah ke makam papa. Mama lagi ada urusan penting,” tulis Ghina.
Ella langsung menekan tombol call. Ada banyak sekali yang ingin dia tanyakan kepada mamanya. Tetapi gadis itu justru terkejut, karena Ghina menolak teleponnya. “Apa yang terjadi sama mama, sih?” bati gadis itu.
“Mama di mana? Kenapa teleponku di-reject?” Ella mengetik pesan dalam kecepatan penuh.
“Mama sibuk, sayang. Nanti kita ketemu di rumah aja, ya,” balas Ghina.
“Ck, aku masih curiga sama mama dan para renternir itu. Semoga aja nggak ada yang aneh-aneh,” pikir Ella. Tanpa sadar, dia menggigit jari kukunya hingga rusak.
“La, ada apa?” tanya Maira dan Naya. Mereka berdua ikutan cemas.
“A-aku ada janji dengan mama. Kalian bikin tugas duluan aja. Besok aku bikin sendiri,” ucap Ella dengan gugup.
“Kamu beneran nggak ada masalah?” tanya Naya lagi.
Ella mengangguk. “Aku pergi duluan, ya,” ucapnya. Tanpa menunggu jawaban dari kedua temannya, Ella pun berlalu pergi.
“Duh, Albert ke mana, sih? Teleponnya nggak di angkat, pesanku juga nggak di balas,” kata Ella sambil berlari mencari angkot.
__ADS_1
(Bersambung)